Sepasang kelopak mata Jean yang semula tertutup rapat kini dengan gerakan perlahan mulai terbuka, ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya saat ia merasa bahwa kesadarannya kembali ia lalu mengedarkan pandangannya ke segala ruangan, dan menemukan dirinya berbaring sendirian diatas sofa, tidak ada yang berubah masih sama seperti tadi malam, memangnya apa yang dia harapkan?
"Eh?"
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, kemudian sosok yang benar-benar tidak pernah disangka Jean muncul dari kamar mandi dengan handuk menggantung sembarangan di sekeliling pinggang, tubuhnya yang mengkilap karena jejak-jejak air juga rambut coklatnya yang basah tersibak ke belakang membuat Jean kehilangan fokusnya untuk sejenak.
Raiden Airlangga Javas sialan!.
Belum sempat Jean bangun dari keterkejutannya melihat Raiden berdiri di sana, Jantung Jean seolah ditendang melihat pemandangan luar biasa di depannya, Raiden sama terkejutnya, melihat Jean sudah terbangun dengan sepasang kelopak mata yang sedang menatapnya terang-terangan, terlebih lagi dalam keadaan tidak berpakaian.
"Pagi Jean." sapa Raiden canggung sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
“Sialan! Bagaimana bisa kamu?..."
Jean mencoba menenangkan hatinya sendiri ketika Raiden malah berjalan mendekat dengan tidak tahu malunya.
Gerakan responsif Jean melihat Raiden ada di depannya adalah duduk, memegang selimut yang menutupi tubuhnya dengan erat-erat dan menatap pria itu nyalang.
"Itu sapaan yang tidak biasa."
Kata Raiden, pria itu meraih pakaiannya yang ada di ranjang berada tepat di samping Jean, jaraknya hanya beberapa jengkal. Dari sini Jean benar-benar bisa melihat dengan jelas tubuh menggoda Raiden – tubuh atletis berkulit sedikit kecoklatan eksotis –
Jean kesulitan berbicara, dia ingin mengumpati Raiden tapi tidak ada satu kata pun keluar dari bibir Jean, Diam-diam Jean mengagumi bentuk tubuh Raiden Jean tidak munafik melihat Raiden seperti ini tidak ada diksi yang tepat untuk menggambarkan tubuh seorang Raiden Javas, intinya Raiden itu sempurna.
Pria itu tidak se mungil yang sering dibahas di fan site, ataupun di forum-forum laman komunitas fans yang mengatakan bahwa Raiden itu mungil, pendek tapi hei!! Mereka bahkan pasti belom pernah melihat penampilan Raiden yang seperti ini ditambah aroma body wash yang menguar dari tubuh Raiden membuat perutnya terasa berkontraksi – padahal Jean kan tidak hamil.
"Bagaimana bisa kamu ada disini?"
Jean kembali menemukan suaranya, suaranya terdengar serak, khas suara seseorang saat bangun tidur, bagi Jean penuh perjuangan agar tetap bisa fokus menatap wajah Raiden Javas bukan menatap yang lain, misalnya perut sixpack-nya?
"Kamu tidak dalam posisi dapat menanyakan sesuatu padaku Jean..."
Nada suaranya rendah namun terdengar mengancam, Raiden memakai kaosnya dengan acuh di depan Jean tanpa tahu malu.
"Sebaiknya siapkan alasan terbaik yang kamu miliki atas tindakanmu ini, aku akan memintanya segera."
setelah mengatakan itu Raiden berbalik membawa celana hitam panjangnya ke dalam kamar mandi.
Jean membatu, terdiam ditempatnya seperti orang bodoh seperti itu untuk beberapa menit ke depan, dia masih seperti itu hingga Raiden kembali dengan pakaian lengkapnya.
"Jadi katakan padaku apa alasanmu?"
Pria itu hanya melirik Jean sekilas sambil memakai jam tangan yang ada di meja rias dengan gerakan yang begitu keren jika Jean tidak salah, sekarang Raiden malah seperti Christian Grey – tokoh fiksi yang digandrungi banyak wanita dalam film Fifty Shades of Grey –
"Apakah kamu perlu diingatkan jika kamu adalah Jean Javas?"
"Aku bukan Jean Javas, istri Raiden Javas adalah Hera Hartanto."
Jawaban cepat yang meluncur dari mulut Jean tanpa bisa dicegah membuat Raiden kesal. Dan Jean mengutuk mulutnya kenapa bisa keceplosan, dia kan tidak ingin mencari masalah dengan Raiden Dia kan ingin ber diskusi dan tipe orang seperti Raiden harus lah dilakukan dengan pendekatan secara halus dan terstruktur tidak boleh gegabah dan tidak boleh emosional.
"Jean!"
Raiden menggeram tidak habis pikir bagaimana menyadarkan Jean, yang keras kepala sekali melebihi Jake Jeon – salah satu personil Seven Antres yang keras kepala dan bebal dari lahir –
“Kamu bahkan masih mengatakan hal seperti itu setelah tadi malam keluarga kita bertemu dan membicarakan pernikahan kita?!”
"Well, tidak ada kita disini. Aku adalah pengganti, kamu menikah dengan Hera, dan selamanya akan seperti itu. Lagipula aku yakin sebentar lagi Hera Hartanto pasti akan datang dan kalian bisa bersama ya seperti itu dan aku hanya aku Joe Jean yang bebas dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi, jangan khawatir aku bukan fansmu atau anti fans mu jadi rahasia pernikahan kalian akan aman."
Gadis itu segera terdiam saat memperhatikan sorot mata Raiden yang tajam sedang menatapnya, kelihatan benar-benar marah. Oh s**t. Ada apa sebenarnya? Bukankah yang dikatakan Jean semuanya benar begitu?. Jean mundur secara perlahan ketika Raiden Javas mendekatinya, naik ke atas sofa tanpa melepaskan tatapan tajamnya.
"Oke oke calm Raiden kita perlu waktu untuk ini."
Jean tertawa samar, jenis tawa yang dipaksakan. "Kalau begitu aku akan gosok gigi dulu." Jean segera melempar selimut yang membalut tubuhnya dan dengan gerakan yang terburu-buru dia bergerak turun dari sofa.
Namun belum sempat kaki Jean menapak lantai, tarikan kuat dari Raiden membuatnya jatuh kembali di atas sofa, Jean mendongak untuk memberikan tatapan tajam kepada Raiden ingin memarahi, namun ia malah menemukan pemandangan paling seksi di dunia sedang berada tepat di depan matanya.
"Katakan bagaimana membuat kamu mengerti Jean"
Tangan Raiden yang kokoh dan hangat masih berada di lengan Jean menyentuh kulitnya.
Jean nyaris kehilangan napas, ketika Raiden mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi membuat Jean memundurkan kepalanya hingga dia jatuh terlentang di sofa dengan Raiden diatasnya menatapnya dengan tajam.
"I understand, tapi faktanya seperti itu Raiden Kumohon jangan mempersulit ku. yang ku katakan masuk akal dan lebih rasional.”
"Bagian mana yang aku mempersulit mu, ini semua salahmu..." Jean meneguk ludahnya ketika Raiden menempatkan mulutnya tepat disamping telinganya.
"Harusnya saat itu kamu tidak pernah menggantikan posisinya, kamu mempersulit dirimu sendiri Jean, aku hanya ingin menikah siapapun mempelainya aku tidak peduli."
Nafas hangat yang menggelitik leher Jean membuat dia gugup setengah mati, dia tidak bisa berpikir jika dalam kondisi seperti ini.
"Mereka mengancam...akh!! Ya!!"
Jean setengah menjerit, terkejut karena tiba-tiba dia merasakan seperti cubitan kecil di lehernya, lebih tepatnya gigitan.
"Apa yang sedang kamu lakukan?!"
Jean memberontak tapi kedua tangannya bahkan entah sejak kapan sudah berada di atas kepalanya dicengkeram kuat oleh Raiden
"Raiden!" Jean mengigit bibirnya sendiri menahan suaranya.
"Apa?"
Raiden sepertinya berniat menggoda Jean, bukannya berhenti pria itu malah semakin meringsak ke perpotongan leher Jean mendaratkan bibir panasnya di sana.
“Berhenti..”
“Apa?”
Untuk sesaat Jean terbuai tapi akal sehatnya mengambil alih. Ini bukan yang di harapkan Jean, perlakuan Raiden yang seperti ini melukainya dia seperti jalang yang dapat di sentuh sesuka hatinya.
Karena dorongan amarah yang tidak dapat dibendung lagi Jean menahan laju air matanya dan mendorong tubuh Raiden dengan sekuat tenaga hingga pria itu mundur melepaskan diri. “KAMU!”
“Brengssek! Apakah seperti ini caramu memperlakukan perempuan.”
Amarah Jean meledak ia bangkit berdiri dengan kepalan tangannya.
“Ku ingatkan sekali lagi padamu sialan kamu bukan siapa-siapa! Aku masih Joe Jean!! Berhenti mengganggu ku just go away!” teriak Jean marah sebelum berbalik pergi keluar dari kamar dengan berlari karena air matanya yang mulai berjatuhan tanpa bisa ia cegah.