8. Bleached White Hair (1)

1129 Kata
Chapter 8 : Bleached White Hair (1) ****** RASA penasaran membuat kucing terbunuh. Baiklah, peribahasa itu biasanya digunakan untuk memberitahu adanya bahaya kalau kau mencari tahu sesuatu lebih dalam atau melakukan percobaan yang tidak-perlu-dilakukan, tetapi ketahuilah, manusia pada dasarnya selalu kurang puas. Omong-omong soal melakukan ‘percobaan’, seharusnya Kanna mendengar pesan ibunya. Seharusnya Kanna lebih berhati-hati. Seharusnya Kanna tidak mendekati Riley sama sekali malam itu dan menjalani hidupnya seperti biasa. Oke, pesan ibunya itu tidak salah sama sekali. Itu wajar karena keselamatan adalah hal yang utama. Namun, meski mematuhi ibunya adalah keputusan yang terbaik, Kanna tentu tak bisa membiarkan Riley menggigil kedinginan di taman malam-malam begitu, terutama penampilannya saat itu terlihat sangat menyedihkan. Entah mungkin karena wajahnya yang tampan atau terlihat polos, intinya bagi Kanna saat itu Riley terlihat suci. Riley terlihat seperti orang baik yang mungkin kebetulan sedang ada masalah. Selain itu, Kanna juga tahu bahwa jika dia tidak mendekati Riley malam itu…maka kisah di antara mereka takkan pernah dimulai. Berbagai cerita yang mungkin akan muncul, berbagai perubahan hidup yang akan Kanna alami…semuanya takkan terjadi bila Kanna tidak mendekati Riley. Hidupnya akan kembali seperti biasa. Monoton dan melelahkan. Kerja, kerja, dan kerja. Sampai di sini, Kanna mulai bingung mana yang terbaik dan mana yang tidak. Hadirnya Riley jujur saja membuat Kanna merasa lebih bersemangat. Seperti mendapatkan motivasi baru. It’s a breath of fresh air; it’s exciting. Baru, berbeda, dan menyenangkan. Namun, sesuatu yang baru itu kini sedang menangis di depan Kanna. Kanna masih belum sempat menutup pintu. Ruang tamu rumah itu gelap, hanya dibantu oleh cahaya bulan yang sangat terang dari luar. Kanna baru sadar juga bahwa tadi lampu teras pun mati. Kanna masih berjongkok di dekat pintu, berhadapan dengan Riley yang tengah duduk bersimpuh. Riley masih memegang tangan Kanna ketika Kanna mulai mengusap air mata pemuda itu. Usapan Kanna terasa sangat pelan…dan hati-hati. Tatapannya begitu sarat akan simpati. Mendadak ia ikut sedih. “It’s okay, Riley…” bisiknya. “Jangan menangis…” Riley pelan-pelan mengarahkan tangan Kanna agar berada di pipinya. Ia mulai memejamkan mata, lalu menggesekkan pipinya ke telapak tangan Kanna; ia ingin merasakan sentuhan Kanna itu lebih dalam. “Your hand is warm…” puji Riley dengan suara lirih. “Aku suka.” Melihat pemandangan yang seperti itu, pipi Kanna kontan bersemu merah. Sial. Untuk sesaat, Kanna memang membenarkan perkataan sang ibu di dalam kepalanya. Namun, melihat Riley yang seperti ini, Kanna sekali lagi jadi ingat mengapa ia membawa Riley masuk ke rumahnya begitu saja. Riley terlihat seperti anak anjing yang telantar. Anak anjing yang langsung mampu merebut hatimu saat pertama kali kau menemukannya. Suaranya saat mengatakan ‘suka’ itu…lirih sekali. Serak…rendah…dan seksi. Oh, ya Tuhan. Kanna harus bisa menguasai dirinya sendiri. Takutnya malah dia yang akan menyerang Riley terlebih dahulu. Tidak, sih. Kanna tidak seberani itu, sebenarnya. Pikiran Kanna saja yang kadang-kadang lebih maju dua langkah. Riley akhirnya membuka mata. Kedua matanya yang berair itu kini menatap Kanna dengan tatapan memohon. “Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Riley…” Kanna mencoba untuk menenangkan Riley seraya tersenyum. “Kau tidak perlu sekhawatir itu. Aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi, ya?” Riley diam sejenak. Pemuda itu menatap Kanna dengan begitu intens. Begitu dalam…seolah mampu menembus jiwa Kanna. Ia seakan tengah mencari sesuatu di balik mata Kanna. Sesaat kemudian, akhirnya ia mengangguk pelan. “Hm. Baik, Kanna. I’ll listen to you.” ‘I’ll listen to you.’ Kanna melebarkan mata. Jawaban itu entah mengapa terdengar aneh di telinganya. Mengapa Riley menjawabnya seolah-olah ia baru saja memberikan sebuah perintah? Akan tetapi, akhirnya Kanna menggeleng. Ia tak ingin terlalu banyak berpikir. Lagi pula, saat ini keadaan Riley lebih penting. Mungkin, apa yang ia lakukan tadi—pulang terlambat tanpa memberikan informasi sebelumnya—telah men-trigger sesuatu di dalam diri Riley yang tak ia ketahui. Then again, Riley itu telantar. ‘Ditinggalkan sendirian’ mungkin telah menjadi masalah yang besar untuknya. Kanna tersenyum lembut. Pipinya masih memerah. Gagasan itu membuatnya sontak ingin lebih…memperhatikan Riley. Ia tak tahu keinginannya ini benar atau salah, tetapi… Riley agaknya terlalu berharga untuk dibiarkan. Belum sempat Kanna merespons ucapan Riley, tiba-tiba saja Riley kembali bersuara. Suaranya masih lirih…dan tatapannya pada Kanna masih sama. Namun, kali ini… …Riley tersenyum lembut. “You are very warm and kind, Kanna…” Saat Riley mengatakan itu, tak tahu apa sebabnya, Kanna mulai memperhatikan rambut Riley. Di antara cahaya rembulan yang sangat terang malam itu, rambut putih Riley tampak begitu bersinar. It glows in the dark. Rambutnya terlihat indah, lembut… Tanpa sadar, Kanna tak kunjung berpaling. Matanya fokus memandangi rambut Riley...dengan kagum. Riley begitu elok. Pipinya juga terasa lembut di tangan Kanna… Saat telah kembali ke kenyataan—berhenti mengagumi rambut Riley—Kanna pun akhirnya bersuara. “Terima kasih, Riley. Kau juga sangat baik dan hangat.” Mendengar pujian itu, kedua mata Riley mendadak berbinar. Senyumnya semakin merekah. “Benarkah? Aku senang mendengarmu berpikir seperti itu. Aku ingin kau berpikir baik tentangku…” Namun, Kanna tiba-tiba mengerutkan dahi. “Kau sangat baik, Riley. Namun, kupikir sebaiknya kau tidak mengatakan sesuatu seperti itu kepada orang yang baru saja kau temui.” Mata Riley melebar. Ia terlihat sangat polos. So pure. “Sesuatu…seperti apa, Kanna?” “Semuanya. Semua yang kau katakan tadi,” jawab Kanna langsung. Gadis itu menatap Riley dengan khawatir. “Tidak seharusnya kau mengatakan itu pada orang yang baru saja kau temui.” Riley menunduk. Tatapan matapan mendadak jadi nelangsa. Kelopak matanya agak turun; ia terlihat begitu menyesal sekaligus sedih. “Maafkan aku. I shouldn’t do this, should I? I don’t want to annoy you. I’m sorry.” Mata Kanna spontan membeliak. “No, no! Kau tidak menggangguku. Aku hanya terkejut. Aku tak menyangka bahwa kau akan benar-benar menungguku dan takut aku meninggalkanmu.” Jemari tangan Riley pelan-pelan bergerak lagi. Dia mencari jemari tangan Kanna, lalu menjalin jemari mereka. Digenggamnya tangan Kanna itu dengan lembut, lalu diarahkannya punggung tangan Kanna ke bibirnya. Setelah itu, dia mencium punggung tangan Kanna. Ciumannya terasa sangat lembut…selembut kapas. Ciuman kupu-kupu yang sanggup menggelitik perut Kanna sekaligus membuat jantung Kanna berdegup kencang. Sepertinya, ini adalah kali kedua Riley mencium tangan Kanna. Apakah dia…pernah melakukan ini sebelumnya? Atau mungkin seseorang telah mengajarinya sejak dia kecil? Dia terlihat seperti…melakukan sesuatu yang sudah-sepantasnya-dilakukan. Layaknya mengikuti pendidikan karakter di sekolah. It feels so natural. “You are my precious angel, Kanna. My savior. You believed in me…so I don’t want to lose you,” ujar Riley. “but I can’t do this, can I? I’m afraid you might lose interest in me and leave. I don’t want that to happen…” Kontan saja mata Kanna melebar. Mengapa Riley berpikir seperti itu? Dia takut Kanna kehilangan ketertarikan padanya dan meninggalkannya? Apakah ini…merupakan sesuatu yang normal untuk dikatakan kepada orang asing? Oke, mungkin mereka tidak begitu asing lagi, tetapi mereka baru saja bertemu! []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN