Chapter 7 :
Baisemain (4)
******
KANNA berjalan ke rumahnya dengan langkah gontai. Seluruh tubuhnya terasa begitu lelah, tulangnya seakan remuk semua. Begitu keluar dari kubikelnya tadi (setelah selesai lembur), Kanna sudah berjalan membungkuk dengan mata yang lelah. Dia betul-betul dibuat lembur hingga malam hari! Hari ini dia kerja bagai kuda sampai-sampai seluruh energinya habis. Dia bahkan sudah tak semangat lagi untuk berjalan kaki. Rasanya dia ingin langsung membanting tubuhnya ke kasur dan tertidur sampai besok siang. Sejak tadi ia sudah membayangkan betapa nikmatnya menjatuhkan tubuh letihnya itu ke atas ranjangnya yang empuk.
Aaaah, kapan sampainya ini? Mengapa rumah mendadak terasa jauh sekali?
Kanna melewati kompleks perumahan itu sendirian di dalam gelapnya malam, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan. Area kompleks perumahan itu terbilang aman. Jadi, Kanna tidak pernah menemui bahaya apa pun meskipun dia selalu pulang sendirian.
Begitu sampai di depan pagar rumahnya yang terbuat dari kayu, Kanna pun membuka pintu pagar itu dan menutupnya kembali. Ia melewati halaman rumahnya yang luas. Halaman itu hanya berupa tanah kosong biasa, tetapi di pangkalnya (tepat di depan teras rumah) ada beberapa pot bunga yang Kanna susun berjajar. Rumah itu adalah rumah minimalis biasa yang terbuat dari kayu dan memiliki satu lantai, tetapi halamannya luas.
Begitu naik ke teras rumahnya, Kanna pun langsung melangkah ke pintu depan rumahnya dan mulai memegang kenop pintu. Ia menekan kenop pintu itu ke bawah, lalu mendorong pintunya. Pintu itu tidak dikunci; ia memang meninggalkan kunci rumah karena kini di rumahnya ada Riley.
Akan tetapi, saat Kanna telah membuka pintu itu separuh, alangkah terkejutnya ia tatkala tiba-tiba saja pintu itu ditarik dengan kencang dari dalam. Ada tangan seseorang yang semakin membuka pintu itu agar pintu itu terbuka sepenuhnya. Kanna terperanjat, gadis itu sontak membulatkan matanya. Kanna langsung melihat ke bagian kanan bawah; ia ingin melihat orang yang tengah menarik pintunya, lalu menemukan Riley di sana yang sedang duduk berlutut sembari mendongak. Pemuda itu menatap Kanna dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua mata pemuda itu tampak melebar penuh, lalu ia berteriak, “Kanna!!”
Riley kelihatan seperti sedang duduk di balik pintu! Apa yang dia lakukan di sana?! Apa dia sudah duduk di sana sejak tadi?!
“Riley?!” panggil Kanna kaget, mata gadis itu masih membulat. Ia melepaskan kenop pintu yang tengah ia pegang, lalu langsung melangkah mendekati Riley. Kanna baru saja mau merundukkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Riley tatkala tiba-tiba Riley berdiri dan langsung memeluk tubuhnya.
Kini mata Kanna sudah memelotot sempurna. Riley memeluknya dengan erat, begitu erat, seakan-akan Kanna akan pergi atau kabur begitu saja apabila pelukan itu terlepas.
Apa…yang sebenarnya terjadi?
Kanna mengangkat kedua alisnya. Dahinya berkerut. Meski terbata-bata, Kanna tetap berusaha untuk berbicara, “Ri—ley? Apa yang—”
Belum sempat Kanna menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba saja tubuh Riley merosot ke bawah. Pelukannya ikut merosot ke bawah seakan-akan pemuda itu telah kehabisan energi. Tubuh Riley terus merosot ke bawah hingga sekarang pemuda itu jadi duduk bersimpuh di depan kaki Kanna. Kedua tangannya memegang betis Kanna dengan erat sampai-sampai Kanna merasa kalau betisnya sedang dicengkeram. Riley menunduk; kening pemuda itu bersandar pada paha Kanna.
Ada sebuah isakan yang keluar dari bibir pemuda itu.
“Ah…syukurlah. Syukurlah…” ujar Riley seraya terisak. Dahi pemuda itu berkerut, ia tampak begitu tersiksa karena pikirannya sendiri. Pikirannya begitu kacau. Ia terlihat sangat frustrasi; air matanya jatuh ke lantai. Suaranya bergetar, ia terdengar gelisah, takut, dan lega secara bersamaan. Dengan tangan yang gemetar—yang semakin mencengkeram betis Kanna—itu, ia pun melanjutkan, “Kupikir—kupikir kau telah meninggalkanku. Kupikir ada yang tak kau sukai dari sikapku hari ini sehingga kau tak mau kembali…”
Kanna spontan tergemap. Kedua matanya lantas kembali membulat; gadis itu menganga. Ia langsung berjongkok dan memegang bahu Riley dengan kedua tangannya. “Riley?? Apakah kau baik-baik saja?! Astaga, maaf—maafkan aku!”
Riley tampak masih mengeluarkan air mata. Kanna langsung mengusap air mata pemuda itu dengan panik; dahi Kanna berkerut dan ia jadi merasa bersalah sekali pada Riley. “Maaf, Riley. Aku hari ini ada lembur dadakan… Tadi ada tugas tambahan dari kantor. Maaf, sungguh. Maafkan aku, Riley.”
Kanna benar-benar merasa bersalah. Ia tadi juga bingung bagaimana caranya untuk memberitahu Riley soal lemburnya itu karena Riley tidak memiliki ponsel. Riley itu telantar, ingat?
Tepat satu detik setelah Kanna menjelaskan situasinya, perlahan-lahan Riley mulai mengangkat kepalanya. Pemuda itu mulai menatap Kanna dan air mukanya perlahan berubah. Kedua matanya mulai membulat polos; iris matanya berkilauan. Wajahnya mulai kembali memancarkan cahaya. Ia lantas bertanya kepada Kanna, “Really? You mean it?”
Kanna mengembuskan napasnya lega tatkala Riley berhenti menangis. Meskipun lega, ia masih kepikiran dengan apa yang Riley alami hari ini karenanya. Baru kali ini ia membuat seorang pemuda menangis.
Riley ternyata…setakut itu Kanna meninggalkannya. Pemuda itu langsung berpikir ke mana-mana hanya karena Kanna telat pulang. Mengapa Riley setakut itu? Bukankah…mereka baru bertemu?
Ada setitik perasaan aneh yang mampir di benak Kanna, tetapi Kanna mulai mencari-cari alasan yang tepat. Riley jadi seperti ini pasti ada hubungannya dengan apa yang telah pemuda itu alami selama hidupnya. Melihat Riley yang kemarin telantar sendirian, pasti kehidupannya selama ini tidak baik. Tidak layak. Dia pasti tersiksa.
Kanna jadi semakin bersimpati. Gadis itu pun lantas mengangguk. “Yes. I’m so sorry. Mengapa kau menangis?”
Riley mulai menghapus sisa-sisa air matanya, lalu ia menatap Kanna lagi dengan matanya yang lembap itu. “I’ve been thinking of you the whole day. I’m—I’m so worried. I’ve been wondering what you’ve been up to, whom you’re talking with, what you were talking about… I’m going crazy.”
Kanna terkejut bukan main; ia tertegun. Apa—apa-apaan yang sedang Riley bicarakan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Mengapa pikiran Riley sampai sejauh itu?! Pemuda itu bahkan sampai memikirkan apa saja yang Kanna lakukan dan dengan siapa saja Kanna berinteraksi!
“Riley, just what—”
“I miss you,” ucap Riley tiba-tiba. Riley langsung menggenggam sebelah tangan Kanna yang tengah memegang bahunya itu. Kedua mata indah milik Riley kini menatap Kanna dengan penuh permohonan. Matanya kembali berkaca-kaca. “Please don’t leave me, Kanna. Please…”
Kanna kontan membelalakkan mata. Tubuhnya mematung selama beberapa detik lamanya.
Ah, tiba-tiba Kanna jadi teringat sesuatu. Gadis itu ingat bahwa dulu sekali, ibunya pernah berpesan seperti ini padanya:
“Kanna, jangan membawa masuk sembarang orang ke rumahmu, ya. Kita tak tahu orang macam apa yang kau bawa masuk itu.” []