Minggu.
Ibu mengajakku ke salah satu pusat perbelanjaan. Kami berangkat setelah makan siang.
Aku meninggalkan pesan pada Syuja, meskipun aku tahu pesanku tak akan dibaca apalagi dibalas sampai hari Selasa nanti, karena dia sedang dikarantina.
Kami keliling di pusat perbelanjaan, melihat beberapa tas dan make up juga beberapa baju, tapi tidak memborongnya. Ya, Ibu dan aku hampir sama. Di pusat perbelanjaan, kami biasanya hanya membeli apa yang kami perlukan, selebihnya hanya sekedar melihat-lihat.
Puas berkeliling, Ibu mengajakku istirahat di food court. Setelah memesan minum, Ibu pamit akan ke toilet sebentar. Aku menunggu beliau sambil menjaga barang belanjaan kami.
"Maaf, permisi." Suara seorang wanita terdengar di sampingku ketika aku sedang asik dengan ponsel.
Saat aku mengangkat kepala, terlihat seorang wanita anggun berdiri di samping mejaku sambil tersenyum.
"Kamu temannya Syuja kan?" tanya wanita itu ramah.
Setelah mencoba mengingat, aku baru sadar dia wanita yang pernah kulihat saat bersama Syuja beberapa waktu lalu. Wanita yang disambut dingin oleh Syuja saat dia menyapa kami.
Aku menganggukkan kepala ragu pada wanita di depanku.
"Ternyata benar!! Apa kamu sendirian??"
Aku menggelengkan kepala, "ada Ibu, tapi sedang ke toilet," jawabku masih dengan ragu.
"Apa aku boleh duduk sebentar?" tanyanya.
Aku tahu, aku tak punya alasan menolaknya, dan juga itu akan terkesan sangat tidak sopan. Akhirnya aku mempersilahkan dia duduk.
"Namaku Jannet, panggil saja Jane," katanya sambil mengulurkan tangan setelah duduk di depanku.
Mau tak mau aku membalas uluran tangannya. "Kahiyang, panggil saja Kay," ucapku sopan, dia tersenyum.
"Kahiyang, kamu pasti bukan sekedar temannya Syuja kan?"
Jujur saja aku terkejut dengan pertanyaan wanita di depanku, juga tak tahu apa maksud pertanyaannya.
Dia siapa??
Apa dia salah satu penggemar Syuja??
Atau jangan-jangan dia wanita yang pernah dekat dengan Syuja??
Tapi usianya jauh di atas usia kami.
"Maaf kalau aku membuatmu terkejut, aku cuma ingin tahu saja," kata wanita bernama Jane itu ramah, "aku belum pernah melihat Syuja dengan teman perempuan. Apalagi kalian terlihat sangat dekat waktu itu."
Aku tak tahu bagaimana harus meresponnya.
"Jangan takut," Dia seperti membaca kekhawatiranku, "aku tahu kamu pasti seperti ini karena melihat reaksi Syuja hari itu kan? apa dia menceritakan padamu siapa aku?"
Aku sontak menggelengkan kepala, sementara Jane tersenyum melihat responku.
"Aku sekertaris pribadi Papanya, sudah 6 tahun lebih aku bekerja di perusahaan keluarga mereka," jelasnya, "kalau Syuja bersikap nggak ramah padaku, itu karena sedang ada salah paham di antara kami."
Aku menatap Jane dalam diam.
Salah paham??
Salah paham karena apa??
"Maaf, sebenarnya aku nggak punya banyak waktu. Boleh aku minta nomormu?? Aku ingin ngobrol lebih lama denganmu dan ... minta sedikit bantuan, bisa??"
"Bantuan??" tanyaku kian ragu dan garis-garis di kening yang bermunculan.
Jane mengangguk. Dia membuka tas mungilnya dan menyodorkan sebuah kartu nama.
Aku membacanya baik-baik. Dilihat dari gelar yang disandang di belakang namanya, Jane bukan wanita sembarangan.
"Bole aku minta nomormu?" tanya Jane lagi.
Kali ini aku yang mengangguk meskipun masih ada sedikit ragu. Dia menyodorkan ponsel dan aku memberinya nomorku.
"Terima kasih Kay, aku akan menghubungimu segera," katanya sambil berdiri dan bersiap pergi. "Oh ya, bisakah kamu merahasiakan pertemuan kita dari Syuja?"
Permintaannya membuatku menatapnya heran.
"Kamu sudah lihat sikap Syuja padaku, aku nggak mau dia memarahimu karena kita bertemu."
Kepalaku mengangguk pelan.
"Jadi, sampai ketemu lain waktu ya? Aku akan menghubungimu secepatnya," ucapnya ramah lalu setelah itu dia pergi.
Aku menatap kartu nama di tanganku cukup lama.
Jane, seperti apa sebenarnya hubungannya dengan Syuja sampai-sampai dia minta merahasiakan pertemuan kami??
4 hari kemudian, setelah pertemuanku dengan Jane.
Aku sedang bersama Syuja di teras siang itu. Ibu masih di kantor.
Syuja menceritakan apa saja yang dilakukan selama masa karantina.
"Apa Luthfi dan Bintang nggak dipisahin??" tanyaku saat Syuja bercerita bahwa Luthfi dan Bintang akan ada di satu pos kepanitiaan.
"Kayaknya nggak."
"Mereka semacam sepaket gitu ya?? Jadi kalau nggak barengan nggak bisa."
Syuja mengangguk. Ponsel Syuja yang diletakkan di meja bergetar. Dia menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.
"Telepon??" tanyaku.
Dia menganggukkan kepala.
"Nggak diterima??"
Syuja hanya diam.
"Dari siapa??" tanyaku lagi, dia masih diam tak menjawab dan mengabaikan ponsel yang terus bergetar.
"Cewek??"
"Bukan."
"Terus?? Kenapa nggak diterima??" tanyaku makin heran.
"Nggak penting."
"Siapa tahu buat yang telepon penting??"
"Enggak," jawabnya singkat.
Panggilan di ponsel Syuja berakhir. Dia menyandarkan punggung dan menghela nafas.
"Ada apa?" tanyaku yang dibuatnya penasaran.
Syuja menggelengkan kepala.
"Ada masalah??"
"Nggak ada."
Tentu saja aku tak langsung percaya dengan jawabannya, karena entah bagaimana aku merasa kalau dia sedang berbohong.
Ponselnya bergetar lagi, Syuja melirik sekilas lalu kembali mengabaikannya.
"Aku cuma capek," jawab Syuja sambil memejamkan mata.
Ponselnya berhenti bergetar, tapi sesaat kemudian bergetar lagi.
"Terima teleponnya," bujukku, dia membuka mata lalu menoleh padaku, "terima teleponnya, aku akan masuk kalau kamu nggak mau aku dengar percakapan kalian."
Aku tersenyum lalu berdiri usai mengatakannya. Mungkin yang dia butuhkan memang privasi.
Saat aku memasuki ruang tamu, aku bisa melihat Syuja akhirnya meraih ponsel yang ada di atas meja. Dia menatapnya selama beberapa detik lalu berdiri dan berjalan menuju taman kecil rumah kami.
Rasa penasaranku semakin menjadi. Mencoba meredamkan rasa penasaran dengan menuju kamar, sewaktu aku baru membuka pintu, terdengar ada pesan masuk di ponsel yang kutinggalkan di meja belajar.
Pesan dari Jane.
Jane :
02:16 PM
Bisa kita bertemu, Kay?
Aku membaca pesan itu berulang-ulang, ragu untuk membalasnya mengingat keberadaan Syuja.
Jane :
Ingat perkataanku waktu itu kan??
Aku butuh bantuanmu, dan aku akan mengatakannya sekarang.
Jadi, bisa kita ketemu?
Tapi tolong jangan bilang Syuja kalau aku mengajakmu bertemu.
Kahiyang :
Kapan?
Jane :
Sore ini bisa?
Kahiyang :
Di mana?
Jane :
Terserah, kamu bisanya di mana.
Silahkan pilih tempatnya.
Aku berpikir sejenak, di mana kira-kira aku bisa menemuinya.
"Ai'!"
Aku mendengar suara Syuja memanggilku dari luar.
Akhirnya aku memutuskan menemui Jane di cafe Appetite yang letaknya dekat rumah, termasuk jam berapa kami bertemu, dan Jane setuju. Setelah itu aku bergegas keluar kamar.
Syuja sudah berdiri di depan pintu, dia memakai jaket yang tadi diletakkannya di lengan kursi teras.
"Mau ke mana??"
"Aku harus pergi," jawabnya singkat.
"Boleh tahu ke mana??"
Dia diam menatapku. Seperti ada yang dia sembunyikan.
"Ya sudah, jangan lupa beri aku kabar," kataku mengalah dan tak ingin memberinya banyak pertanyaan.
Syuja menganggukkan kepala lalu mengacak poniku lembut.
"Aku telepon nanti," janjinya sebelum pergi, aku menganggukkan kepala dan tersenyum melepas kepergiannya yang entah ke mana.
Dua jam kemudian, aku sudah duduk di dalam cafe Appetite. Aku sengaja menunggu Ibu pulang baru pergi menemui Jane.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, aku melihat kedatangan Jane. Dia terlihat elegan, baik make up ataupun dress yang dikenakan.
Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, Jane langsung berjalan padaku setelah menemukan keberadaanku. Dia tersenyum sambil duduk di depanku.
"Apa aku membuatmu menunggu?" tanyanya ramah, aku menggelengkan kepala.
"Mau pesan minuman??" tawarku, ganti dia yang tersenyum dan menggeleng.
"Aku hanya sebentar," jawabnya, "jadi langsung saja, aku akan bilang ingin bantuan apa darimu."
Aku diam menatapnya. Sedikit terkejut dengan sikap to the pointnya.
"Aku sudah cerita kan kalau aku kerja di perusahaan milik keluarga Syuja?"
Aku mengangguk.
"Tiga hari lagi ulang tahun Papanya."
Oke, aku menyimak tapi apa hubungannya denganku sampai dia menceritakan ini padaku?
"Hubungan Syuja dan Papanya ... kurang harmonis," kata Jane hati-hati.
Aku kembali dibuatnya terkejut. Ini pertama kali aku mendengar cerita tentang keluarga Syuja selain almarhum kakaknya itu.
"Aku ingin minta bantuanmu membujuk Syuja datang ke perayaan ulang tahun Papanya. Bisa kan?"
Aku mengerjapkan mata karena bingung. "Kenapa aku?"
"Kamu teman Syuja, tapi aku tahu kalian lebih dari sekedar teman, dan aku juga yakin ... dia pasti nggak bisa menolak kalau kamu yang mengajaknya."
"Kenapa nggak minta bantuan yang lain?? Mamanya mungkin??" tanyaku, Jane menatapku, ada sirat terkejut dalam sorot matanya.
"Aku pikir hanya kamu yang bisa membantu kami," kata Jane setelah diam beberapa detik sambil tersenyum.
"Tapi aku sama sekali nggak tahu seperti apa hubungan Syuja dan Papanya, aku takut salah bertindak."
"Jangan khawatir, kita akan mengaturnya, jadi dia nggak tahu kalau kamu mengajaknya ke perayaan ulang tahun Papanya."
"Kenapa Mbak nggak minta langsung ke Syuja??"
"Kamu pikir dia akan setuju kalau aku yang bicara? Apa kamu pikir dia akan mau mendengarkanku sampai selesai?"
Diam-diam aku membenarkan perkataan Jane. Syuja jelas-jelas tak menyukai Jane, jadi aku juga tak yakin dia akan mau mendengarkan Jane apalagi menuruti permintaannya.
"Aku akan mengaturnya sedemikian rupa supaya Syuja nggak curiga. Kamu ajak saja dia, dan nanti kita buat seolah itu adalah kebetulan."
"Syuja nggak sebodoh itu," kataku.
"Tapi dia akan menurutimu."
"Aku kurang yakin."
Jane justru tersenyum menatapku. "Meski hubungan kami nggak baik, aku mengenal betul bagaimana Syuja, dan aku tahu betul bagaimana dia. Jadi, percayalah padaku."
Jujur saja, aku ragu dengan ide dan perkataan Jane. Aku masih tak yakin bahwa rencana Jane akan bisa mengakali Syuja.
"Ajak saja dia datang ke rumah makan Handay**i di hari dan jam yang sudah kami tentukan."
"Bukannya dia akan langsung curiga kalau aku membawanya ke sana??" tanyaku heran.
"Nggak, dia bahkan nggak tahu kami akan merayakannya di sana. Lagipula, nggak ada perayaan besar-besaran, hanya makan malam keluarga saja. Jadi kupastikan dia nggak akan tahu."
"Terus, aku harus bilang apa padanya??"
"Bilang saja kamu akan menemui temanmu di sana."
Menemui teman???
Apa dia nggak tahu aku dan Syuja teman satu sekolah??!!
Tentu Syuja mengenal siapapun yang akan aku sebutkan!!!
"Aku yakin kamu bisa cari alasan yang tepat. Aku tahu kami bisa mengandalkanmu. Benar kan, Kay?" tanyanya dengan sorot lekat padaku.
Sebenarnya aku sadar ada sedikit pemaksaan yang dia lakukan. Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi dan akan terjadi nantinya kalau aku benar-benar melakukannya.
"Kami mengandalkanmu, Kay. Papanya juga sudah tahu kalau aku minta bantuanmu. Jadi aku mohon, berusahalah membujuk Syuja."
Aku menghela nafas pelan dan menatapnya ragu.
"Aku harus segera pergi, masih ada yang harus aku kerjakan," ucapnya kemudian, "akan kuhubungi besok untuk memastikan jam berapa kamu harus membawa Syuja," tambahnya sambil berdiri.
Dia permisi pergi dan meninggalkanku dengan perasaan makin dipenuhi keraguan. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tak seharusnya menuruti permintaan Jane.
Mengingat bagaimana reaksi Syuja saat melihatnya hari itu dan membayangkan aku membawanya ke suatu tempat di mana akan ada Jane di sana, benar-benar membuatku diliputi rasa khawatir.
Syuja datang lagi ke rumah malam hari, wajahnya terlihat lelah.
Ibu menyuruhnya untuk masuk ke ruang tamu. Dia menyandarkan punggung dan memejamkan mata saat aku baru menemuinya.
"Dari kampus??" tanyaku menduga sambil duduk di samping Syuja.
Dia menggelengkan kepala tanpa membuka mata.
"Dari mana??"
"Aku ingin istirahat sebentar." Syuja tak menjawab pertanyaanku, matanya tetap terpejam.
Ucapannya membuat kami duduk di ruang tamu dalam diam. Aku menatapnya dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Diam-diam aku memberanikan diri meraih tangan Syuja, mengelus-elus punggung tangannya lalu menggenggamnya.
Syuja tetap memejamkan mata tapi tangannya membalas genggamanku. Aku sontak tersenyum karena reaksinya.
"Bicaralah," kata Syuja pelan.
"Bicara apa??" tanyaku bingung.
"Apa aja, aku ingin dengar suaramu," jawabnya sambil membuka mata lalu menatapku.
"Mmm, apa aku harus cerita kalau aku lagi bingung dengan mata kuliah yang harus aku ambil semester nanti??"
"Hmmm."
"Jangan, itu membosankan." Aku menolak ideku sendiri.
Syuja tersenyum tipis lalu kembali memejamkan mata, tangannya tak melepaskan tanganku.
"Farah tadi telepon."
"Hmmm."
"Dia bilang kalau dia bosan dan ingin segera pulang, tapi belum dibeliin tiket pulang orang tuanya. Dia sudah merengek dibeliin tiket sebelum aku kembali ke Jogja."
Syuja membuka matanya lalu menatapku. "Kamu sudah beli tiketmu?"
Aku menganggukkan kepala.
"Jadi pulang minggu depan?"
Sekali lagi aku mengangguk.
"Nggak bisa ditunda seminggu?"
"Kenapa??"
"Aku belum siap."
"Dih, sok melow!!" ledekku yang membuat dia tersenyum. "Lagipula, kalau toh aku tunda seminggu juga kamu nggak akan bisa main sama aku!"
Syuja menganggukkan kepala untuk membenarkan ucapanku. "Kepanitiaan sialan," gerutunya pelan.
Aku sontak tertawa mendengarnya mengumpat, lalu mengelus punggung tangannya lagi dengan tanganku yang lain. "Aku lapor Bang Ranu ya??"
Syuja menatapku dan memberi cengiran yang terlihat menggemaskan.
Tiba-tiba ponsel Syuja bergetar. Saat sudah di tangan, Syuja menatap layarnya sekilas sebelum menerima panggilan yang masuk.
"Ya Mil?"
Mil??
Samar aku mendengar suara cewek yang sedang bicara dengan Syuja.
"Sudah coba tanya Cris?" tanya Syuja setelah mendengarkan dengan seksama.
Syuja mengangguk-anggukkan kepala pelan. "Ya sudah, aku ke sana sekarang," kata Syuja lalu memutus sambungan.
Aku diam menatapnya, dan dengan cepat dia menyadari tatapanku.
"Aku tinggal ya?" tanyanya.
"Aku bilang jangan juga kamu akan tetap pergi," sungutku setelah menghela nafas agak keras.
Dia tersenyum sambil memasukkan ponsel ke saku dan bersiap memakai jaketnya.
"Jangan khawatir, ada Bintang dan Gama di kampus."
"Kenapa harus bilang ada mereka?!" gerutuku.
"Biar kamu nggak berpikir aku ke kampus buat nemuin Mila."
"Memang kenyataannya nemuin dia kan?"
Syuja kembali tersenyum. "Iya, tapi sama yang lain juga."
"Terserah."
Senyum di wajah Syuja sama sekali tak luntur selagi mengunci pandangan kami. "Tolong panggilin Ibu," pintanya lembut.
Aku berdiri dan masuk ke ruang tengah untuk memanggil Ibu.
"Mau pulang?" tanya Ibu begitu sudah bersama kami di ruang tamu.
"Ke kampus Bu, ada urusan sama panitia kegiatan."
"Pulang malam lagi dong nanti?" tanya Ibu khawatir.
Ibu tahu apa yang Syuja lakukan, karena bukan hanya aku, kadang Syuja sendiri yang menceritakan apa dan bagaimana kegiatannya pada Ibu.
Syuja selalu mengatakan dan menceritakan apapun pada Ibu. Seperti saat kami mulai berkencan, dia meminta ijin langsung pada Ibu. Saat dia menggandeng tanganku pertama kalinya sore itu, dia juga mengatakannya dan meminta maaf pada Ibu. Termasuk kejadian kami berpelukan di rooftop sekolah.
Ya, dia benar-benar menceritakan pada Ibu dan meminta maaf karena sudah memelukku. Ibu yang awalnya terkejut kemudian justru tertawa karena kejujuran Syuja. Itu sebabnya, kenapa Ibu suka dan benar-benar mempercayakanku pada Syuja.
"Hati-hati nanti pulangnya. Rawan kalau tengah malam di jalan sendirian," pesan Ibu.
Syuja menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Ibu.
"Bu," panggil Syuja setelah mencium punggung tangan Beliau, tangannya masih menjabat tangan Ibu.
"Kenapa?"
"Boleh peluk Ai' sebentar?"
Aku dan Ibu sama-sama terkejut mendengarnya.
INI ANAK SEBENARNYA KENAPA COBA?????
"Dia agak ngambek waktu saya bilang mau ke kampus tadi."
Aaiissshh, kenapa dia harus mengatakan ini pada Ibu????
Apa dia nggak tahu kalau Ibu nanti pasti meledekku!
Mendengar itu Ibu menoleh padaku dan kembali melihat Syuja sambil tersenyum.
"Jangan lama-lama meluknya," kata Ibu sambil menepuk punggung tangan Syuja.
Syuja tersenyum dan menganggukkan kepala.
Setelah Ibu kembali masuk meninggalkan kami, aku langsung memukul lengan Syuja karena gemas. "Apa-apan sih tadi??????" sungutku dengan suara tertahan.
"Kenapa? Kan biar aku nggak merasa meluk kamu secara ilegal," jawabnya datar sambil meresleting jaketnya. "Nggak mau?" tanyanya sambil menatapku jahil. Aku manyun menatapnya.
"Sini," katanya sambil meraih pundakku dan memelukku.
Aku memegang sisi kanan dan kiri pinggang Syuja, ya memegang bukan balas memeluk, karena aku tetap saja takut Ibu akan melihat.
"Aku nggak akan menemui Mila sendirian, jadi jangan ngambek lagi, hmm?" pintanya dengan suara berbisik saat memelukku.
Aku tak menyahut, hanya menghirup aroma Syuja dalam diam. Aku tahu dia sedang ada pikiran, dan tak seharusnya aku menambahnya dengan ngambek karena masalah sepele.
"Kabari aku, jam berapapun," kataku pelan.
"Terima kasih," sahutnya dengan suara setengah berbisik.
Aku tak tahu dia berterima kasih untuk apa, tapi aku mengeratkan peganganku pada kedua sisi pinggangnya. Dia mengakhiri pelukannya dan menatapku dengan sepasang mata menyipit karena tersenyum.
"Nanti aku tinggalin pesan, biar nggak mengganggu tidurmu."
Aku menganggukkan kepala dan membalas senyumannya.
"Malam ini nggak usah kangen aku, biar tidurmu nyenyak," bisiknya lembut.
***