-7-

2271 Kata
Ternyata, aku tak bisa terlalu sering keluar menikmati masa liburan dengan Syuja. Dia sibuk dengan rapat panitia penerimaan mahasiswa baru. Sesekali dia memang meluangkan waktu mampir ke rumah atau mengajakku keluar sebentar. Biasanya dia membawaku ke toko buku atau yang paling sering nongkrong di cafe langganan kami. Seperti sore ini, minggu kedua masa liburanku. Kami menikmati minuman dan snacks di cafe Appetite setelah dua hari kami tak bertemu karena kesibukannya. "Jadi kapan mulai karantinanya??" tanyaku sambil mengaduk-ngaduk strawberry milkshake yang kupesan. "Besok lusa." "Berapa hari??" "3 hari." Aku menghela nafas setelah mendengar jawaban Syuja. "Cuma 3 hari," kata Syuja coba menghiburku. "CUMA 3 hari??" ulangku menekan kata cuma yang dia ucapkan. "Kan sudah biasa nggak ada kontak kalau aku di lapangan?" "Tapi ini bukan di lapangan." "Anggap aja aku di lapangan." "Maunya! Seneng kan bisa bebas 3 hari??" "Hmm?" "Seneng karena nggak perlu repot balesin chat atau terima teleponku." Syuja tersenyum mendengar tuduhanku, "Apa aku pernah bilang kalau balas pesan dan terima teleponmu itu repot?" Aku memberengut, sebelum kemudian menyahut masam, "nggak, tapi kadang responmu bikin aku mikir kayak gitu." "Oh ya? Respon yang mana?" "Nggak usah sok nanya deh!" Dia kembali melempar senyum dengan sepasang mata nyaris membentuk garis. "Besok ke sekolah mau?" tanyanya mengubah topik. "Sekolah?? Ngapain??" tanyaku terkejut. "Bintang sama Luthfi ngajak main basket di sekolah." "Emang boleh??" tanyaku lagi, kali ini terdengar ragu. "Hmm." "Kalau dilarang?" "Siapa yang larang?" "Pak Sholeh." "Besok Sabtu, Pak Sholeh jarang datang ke sekolah kalau Sabtu." "Bukannya nanti malah ganggu yang lagi latihan??" "Kan bisa jadi sparing." "Iya kalau diijinin!" sanggahku. "Diijinin." "Kepedean!!" "Mau taruhan?" Aku bisa melihat ada sorot jahil di matanya. Syuja dan segala isi kepalanya yang sulit ditebak, meski kadang sorot matanya bisa memberi sedikit clue. Benar-benar sedikit. "Pasti mau main curang ya kamu?!" tuduhku dengan mata memicing. "Main curang?" "Kamu rayu pelatih basketnya. Atau kalau nggak, kamu ancam mereka." "Main ancam? Aku??" "Siapa tahu kan??" Kesekian kalinya Syuja tersenyum merespon kecurigaanku. "Mau nggak?" tanyanya yang belum menyerah menawarkan. "Taruhannya apa??" "Besok aja dikasih tahunya. Sekarang kamu pikirin aja." "Maksudnya??" "Besok begitu sudah di sekolah, kalau kamu menang, baru kamu bilang mau apa." Mendadak aku kemudian teringat sesuatu. "Serius??" tanyaku memastikan. Dia mengangguk mantap. "Apapun itu kamu harus nurutin ya??" tanyaku kembali memastikan keseriusannya. Sekali lagi Syuja mengangguk. "Yes!!" "Jangan senang dulu. Kan berlaku sama kalau aku yang menang." "Nggak akan!!" "Kok jadi kamu yang kepedean?" Aku tersenyum jumawa, semacam pamer kalau aku memegang kartu kemenangan. "Kalian terakhir ke sekolah kapan??" tanyaku. "Sudah lama." "See, i don't think you'll win!" "Kenapa?" "Sudah tahu kalau pelatih basket ganti belum??" "Hah?" Senyumku semakin lebar karena melihat reaksi Syuja. "Jangan batalin taruhan ya!!" cegahku cepat. "Tunggu, dari mana kamu tahu?" "Kan dua minggu lalu aku main ke sekolah," jawabku lebih percaya diri. "Yaa, meskipun itu hari Jum'at dan bukan harinya ekskul, tapi sedikit banyak Farah cerita info-info baru apa aja," tambahku sedikit menyombong, "jangan batalin taruhannya loh ya!!" Aku mengulang ancaman sebelumnya. Syuja menggelengkan kepalanya seolah melihatku berbuat curang. "Kayaknya aku harus mikir baik-baik apa yang aku mau kalau menang," kataku sambil mengaduk-aduk milkshake di depanku. Syuja justru tersenyum sambil mengacak poniku lembut. * * * Sabtu. Syuja datang menjemputku jam 3 sore. Karena pagi Luthfi masih ada urusan, jadi kami janjian bertemu di sekolah sore hari, saat latihan basket sesi sore. Sampai di sekolah, aku lihat Luthfi dan Bintang duduk di bangku yang ada di taman dekat lapangan basket dan lapangan bola. "Kirain nggak jadi ikut, Yang!" sapa Luthfi ketika kami sudah di dekat mereka. "Dari tadi??" tanyaku sembari tersenyum. "Enggak kok, baru ... baru sejam yang lalu," sahut Luthfi dengan mimik serius. "Beneran??" "Masih aja kemakan omongan Luthfi," kata Syuja sambil memukul lengan Luthfi. Luthfi nyengir padaku, sementara aku mengerucutkan bibir padanya tanpa maksud benar-benar marah. "Sudah ketemu pelatihnya?" tanya Syuja pada Bintang. "Sudah." "Boleh?" Bintang menganggukkan kepala, begitu melihat reaksi Bintang, Syuja langsung menoleh padaku. "Bohong kan??" tanyaku memastikan pada Bintang. "Apa???" Dia malah balik bertanya bingung. "Kalian diijinin main sama mereka??" Bintang mengangguk tapi masih dengan sorot bingung menatapku dan Syuja bergantian. "Maksa ya??" tanyaku lagi kali ini dengan nada curiga. "Hah???" Bintang mengernyitkan dahi. "Kalian maksa kan?? Nyogok?? Atau ngancam mau bikin rusuh di sini kalau nggak diijinin??" "Maksudnya??" Bintang makin terlihat heran setelah mendengar kalimat menuduh dariku. "Kenapa sih, Yang?" tanya Luthfi yang ikut penasaran. Tanpa bermaksud mengabaikan Luthfi dan Bintang, aku memasang muka masam melihat Syuja. "Kenapa sih???" tanya Luthfi lagi. "Mau lihat di sini apa ke sana?" tanya Syuja padaku yang tak memperdulikan pertanyaan Luthfi. "Sini aja," jawabku, Syuja tersenyum melihatku yang masih cemberut. "Kalian kenapa sih??!?" seru Luthfi dengan wajah sebal karena kami mengabaikan pertanyaannya. "Ini yang nanya kalian orang beneran ya! Bukan orang-orangan sawah!" "Nggak usah kepo," kata Bintang yang berdiri dan menarik Luthfi. "Enak aja nggak usah kepo!! Kalau aku nggak berhenti penasaran, terus kenapa-kenapa dan jadi hantu penasaran gimana? Kamu mau tanggung jawab?!" "Mau, tapi buat kusukurin aja." "Hwasiyu raimu!" "Ngomong sama anjing dong kamu sekarang?" balas Bintang santai. "Coeg!!" umpat Luthfi yang sudah kelihatan super geregetan dengan Bintang dan hendak meraih lehernya tapi dengan cepat Bintang menghindar. "Ditinggal sebentar ya," pamit Syuja sambil mengacak poniku. Tak peduli dua sahabatnya masih seru berdebat bahkan nyaris gelut. Dia berjalan menuju bagian dalam gedung sekolah untuk ganti pakaian, diikuti Bintang yang berlari kecil menyusulnya dan Luthfi yang tak berhenti menggerutu. Sementara aku masih tak habis pikir, bagaimana mereka mendapat ijin, padahal Farah bilang pelatih basket yang baru lebih galak daripada pelatih basket di jaman kami dulu. Setelah hampir 6 menit, aku memutuskan masuk ke gedung sekolah juga. Aku berpapasan dengan Syuja dan Luthfi yang sudah berganti pakaian, sedangkan Bintang belum kelihatan. "Mau ke mana?" "Rooftop." "Ciieeeee, mau nostalgia ya, Yang??!!" Aku tersenyum pada Luthfi yang barusan meledekku. "Jangan baper loh di rooftop sendirian. Lihat Syuja dari jauh, sambil mikir si Bita yang selalu standby di sisi lapangan." Syuja langsung memukul kepala Luthfi pelan. "Apaan sih, Ja???" protes Luthfi tak terima. "Nggak usah bahas yang aneh-aneh!" katanya sambil berjalan pergi meninggalkanku dan Luthfi. "Aneh gimana?? Ini fakta bukan fitnah!! Aku berani diajak Doraemon masuk lacinya Nobita!!!" seru Luthfi, teriakannya menarik perhatian siswa-siswa di lapangan bola. "Udah sana," kataku pada Luthfi yang masih setia di sampingku. "Lah, malah diusir! Dasar keong lupa cangkangnya kamu, Yang!" "Biar kalian bisa lamaan main basketnya," sahutku yang tersenyum geli. "Bukannya biar cepet selesai terus kalian bisa lamaan yang pacaran??" Kali ini dia mengangkat-angkat kedua alisnya dengan sorot jahil. Aku cuma bisa tertawa kecil lalu berjalan menuju tangga, meninggalkan Luthfi yang mengerucutkan bibir. Melihat Syuja bermain basket dari rooftop benar-benar mengingatkanku akan masa sekolah kami. Dia yang selalu tidur di kelas, yang malas bergerak saat dipanggil maju ke depan, tapi justru selalu terlihat lincah saat bermain basket. Syuja yang super cuek, dingin, sedikit bicara, dan nyaris tak pernah tersenyum saat di kelas, justru terlihat banyak tersenyum ketika dia di lapangan basket. Di lapangan, aku melihat dia, Luthfi dan Bintang sudah membaur dengan adik kelas kami. Aku menopangkan dagu di atas tangan kananku. Ini benar-benar seperti sedang kembali ke masa lalu. Dulu, aku sering menghabiskan jam istirahat di sini sambil mengamati Raka bermain sepak bola, lalu perhatianku akan teralih sesaat ke lapangan basket dan melihat Syuja dan teman-temannya yang seru bermain. Kecuali Luthfi yang waktu itu kurang tertarik ikut main, sekarang malah kelihatan sudah bisa mengimbangi permainan kedua sahabatnya. Beberapa waktu kemudian, tanpa sadar alasanku pergi ke rooftop bukan lagi sekedar untuk melihat Raka, tapi justru untuk melihat Syuja yang saat itu sikapnya sulit kutebak. Aku juga teringat kejadian Syuja yang tiba-tiba menyusul ke rooftop saat kami sedang tak bertegur sapa karena aku menghindarinya, atau saat aku galau dengan sikap Syuja yang mendiamkanku, juga saat Luthfi dan Farah sengaja mempertemukan kami di sini untuk menyelesaikan masalah kami. Pandangan mataku kini tertuju ke sosok Syuja yang sedang membawa bola dan melakukan tembakan three point. Saat tembakannya masuk, terdengar sorak sorai dari adik kelas kami. Dia melakukan high five dengan adik kelas yang menjadi timnya, sedangkan Bintang dan Luthfi yang ada di tim lawan sedang asik bergulat hingga ditertawakan oleh adik kelas. Syuja mengangkat kepalanya dan melihatku, dia tersenyum. Senyum yang selalu bisa membuat wajahku memanas. Mereka bermain selama hampir 1 jam lamanya. Setelah peluit panjang dibunyikan, dan mereka bertiga bersalaman dengan adik kelas dan pelatih basket, ketiganya langsung berjalan keluar lapangan. Aku bertahan di rooftop sambil terus mengamati adik kelas kembali berlatih basket. Pikiranku masih melayang ke masa-masa terakhir sekolah, masa di mana aku menyadari bahwa saat itu adalah saat yang tepat melepas cintaku yang bertepuk sebelah tangan, setelah 2 tahun lebih menyimpannya. Masa di mana aku juga baru menyadari bahwa ada sosok yang diam-diam juga menyimpan perasaannya untukku. Lalu aku benar-benar masuk ke lingkaran Syuja dan teman-temannya yang super berisik. Apalagi tiap kali mereka melihatku dan Syuja, ledekan mereka seolah tak ada habisnya buat kami. "Mikirin apa?" Aku terkejut dengan kehadiran Syuja yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku Saat menoleh padanya, Syuja sudah mengganti pakaian, bahkan sepertinya dia sempat mandi karena rambutnya juga terlihat basah dan segar. "Kangen masa sekolah?" Aku menganggukkan kepala. "Atau kangen sama Raka?" Aku langsung memelototkan mata karena terkejut. "Apaan sih, Cha??" tanyaku sembari mencoba mencubit lengannya, tapi dia berhasil menghindar. "Kalau aku kangen sama Raka, aku lihatnya ke lapangan bola bukan ke lapangan basket!" gerutuku. "Mata ke lapangan basket, tapi pikiran bisa saja ke lapangan bola kan?" "UCHAAA!" protesku dengan wajah cemberut, tapi dia malah tersenyum. "Ayo pulang." Aku bertahan dengan aksi merajukku. "Kenapa?" Aku diam tak menjawab. Syuja mengamatiku dengan cermat. "Tadi Bang Ranu telepon." "Ada apa??" tanyaku spontan. "Dia minta aku ke kampus." "Kan besok juga ke kampus?! Tiga hari malahan!" Syuja tersenyum, "Mau ikut ke kampus sekarang?" "Nggak ah! Anterin pulang aja!" kataku kesal lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya. Padahal sebenarnya aku masih ingin bersamanya selepas dari sekolah. Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan Syuja sebelum dia benar-benar sibuk tiga hari ke depan. Saat aku menoleh, Syuja masih berdiri di tempatnya tapi sudah ikut berbalik melihatku. "Yakin?" tanya Syuja dengan satu alis terangkat, "nanti kangen?" Aku sontak mengernyitkan kening dengan ekspresi sebal. Dia lagi-lagi tersenyum padaku, lalu mulai berjalan menyusul. "Aku kangenpun kamu juga nggak peduli kan?!? Apalagi nanti pas mulai sibuk karantina, pasti nggak bakalan kangen aku!" Syuja berhenti tepat di depanku dan menatapku lekat. Tanpa pernah kuduga, dia meraih pundakku lalu menarik dan memelukku! Ya ... SYUJA MEMELUKKU!!!! Aku tahu ini kedengaran norak, tapi setelah 1 tahun lebih kami pacaran, ini pertama kalinya dia memelukku!! Anak SMP mungkin akan benar-benar tertawa guling-guling sampai pipis mendengar pengakuanku ini. Tapi faktanya memang ini pertama kalinya kami berpelukan, maksudku dia memelukku duluan. Karena sebelumnya aku yang berinisiatif memeluknya, itupun dengan alasan mencegahnya berkelahi sore itu, ditambah lagi saat itu kami belum berpacaran. Dan sejak kami resmi berpacaran, dia tak pernah melakukan kontak fisik lain kecuali menggandeng tanganku. Itupun awalnya jarang sekali dia lakukan. Syuja bilang itu bentuk penghormatannya terhadap kepercayaan yang Ibuku beri. Dia juga mengatakan langsung pada Ibu, bahwa dia akan menjagaku dan tak akan melakukan apa yang memang tak seharusnya kami lakukan. Saat kami berpisah di stasiun untuk mengantar keberangkatanku pun jangankan memeluk, menggandengku saja tak dia lakukan. Tapi saat ini Syuja memelukku, salah satu tangannya meraih belakang kepalaku dan satunya lagi memeluk pundakku, pose pelukan yang klise memang, tapi cukup membuat jantungku melompat-lompat dan aliran darahku terasa makin deras. "Ucha!" panggilku tertahan karena detak jantungku yang menggila. "Ingat taruhan kita kan?" Aku mengangguk pelan dalam pelukannya. "Aku minta sebentar aja, kita kayak gini." ucapnya, "boleh?" Boleh??? Kamu nanya setelah kamu melakukannya, terus aku harus jawab apa?? Terus terang, hangat pelukannya dan aroma tubuh Syuja yang begitu maskulin secara perlahan seperti mengambil alih kesadaranku. Aku melingkarkan kedua tanganku di punggungnya. Dia mengeratkan pelukannya padaku. "Aku harus minta maaf ke Ibu nanti," ujarnya pelan "Hah??" "Karena sudah memelukmu, aku harus minta maaf pada Ibu." Aku sontak tersenyum mendengarnya, "kalau Ibu marah, terus nanya kenapa peluk aku??" godaku kali ini dengan senyum mengembang. "Buat obat kangen." "HAH??" Saking terkejutnya aku sedikit menarik badan hingga bisa melihat wajah Syuja. Tanganku masih melingkar di badannya. Jujur, aku masih belum terbiasa mendengar kata-kata manis darinya, meski beberapa kali dia mengatakannya, tapi tetap saja ... setiap kalimat manis yang dia ucapkan selalu saja membuatku terbengong saking kagetnya. "Kenapa?" tanya Syuja heran saat kami saling menatap. "Aku nggak salah dengar kan??" "Salah dengar apa?" "Yang barusan kamu bilang! Aku nggak salah dengar kan??" Bukannya menjawab dia menarikku kembali dalam pelukannya. "UCHA?!?" panggilku sedikit manja. "Apa?" "Aku nggak salah dengar kan tadi??" tanyaku, dia menahan kepalaku dalam pelukan. "Enggak kan???" ulangku. "Hmmm." Tanpa sadar aku tersenyum lebar. Selama beberapa saat, aku menikmati aroma tubuhnya yang tercium kuat. Juga belaian tangannya di kepalaku. "Selama nggak bisa teleponan atau chat, jangan mikir aneh-aneh ya?" pintanya kalem. "Paling aku mikirnya, siapa cewek yang lagi deketin kamu?? Siapa cewek yang lagi coba nyuri perhatianmu?? Siapa cewek yang selalu tersenyum genit sama kamu?? Karena faktanya, yang nginep di kampus selama tiga hari nggak cuma cowok tapi juga cewek-cewek yang mayoritas aku yakin naksir kamu." Sekali lagi dia mengeratkan pelukannya padaku. "Terima kasih." "Terima kasih kenapa??" tanyaku yang dibuatnya mendadak bingung. "Buat cemburumu." "Dih, siapa yang cemburu???!!!" sanggahku lalu menarik diri dari pelukannya dan coba mencubitnya, Syuja menghindar sambil melepas pelukan. "Ayo pulang," ajak Syuja sembari menggandeng tanganku. Tentu saja aku refleks menurut dan kami mulai berjalan menuju tangga. Tak pernah terbayangkan kalau sekolah yang sudah kutinggalkan selama 1 tahun, rooftop yang tak pernah kudatangi lagi ini, justru menyimpan satu kenangan baru tentang aku dan Syuja sore ini. "I really did something wrong." "Hah?" sahutku sambil meliriknya ketika kami menuruni tangga. "Peluk kamu," balasnya dengan tatapan tertuju ke depan, "malah bikin tambah gampang kangen." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN