-6-

1697 Kata
Syuja mengajakku ke coffee shop yang ada di salah satu pusat perbelanjaan siang ini. Seperti biasa, aku memilih duduk di bagian sudut coffee shop yang bisa langsung melihat ke jalan raya yang cukup ramai. Syuja terlihat masih mengantri untuk memesan minuman. Kurang dari lima menit dia kembali dan duduk tepat di depanku. Kami sama-sama diam, sejak dari dia menjemputku sampai ketika tiba tadi memang kami tak banyak bicara. Aku hanya bicara seperlunya. "Masih marah?" tanya Syuja akhirnya. Aku menggeleng sembari menghela nafas pelan. "Dari tadi," Syuja diam sejenak sambil menatapku lekat, "bukan, tapi dari semalam, kok nggak banyak omong?" Aku tersenyum tipis lalu melihat ke arah jalan raya. "Ai'," panggilnya setelah beberapa saat. Aku menoleh dengan kedua alis terangkat. "Kita ngomong ya?" "Bukannya udah ngomong??" tanyaku balik. Entah kenapa rasa penasaran yang belum terjawab membuatku enggan bicara banyak dengannya. Egoku seperti meminta Syuja mengerti dan menjelaskannya padaku. Meski aku sadar, mustahil dia mengerti kalau aku tak mengatakannya. "Maksudku, kamu yang ngomong, ada apa? Kenapa dari semalam banyak diam? Dari tadi juga banyak diam." "Nggak ada apa-apa, cuma lagi malas ngomong." "Kenapa malas ngomong?" "Males aja, nggak ada alasan lain." "Semalam aku bikin salah?" "Nggak ada, kan semalam juga udah ditanyain dan udah dijawab." "Terus kenapa?" Percakapan kami disela pegawai yang memanggil nama Syuja. Dia berdiri untuk mengambil pesanan kami. Begitu kembali, ternyata dia tak hanya membawa dua minuman, tapi juga sepotong Red Velvet yang diletakkan di depanku. "Aku tadi nggak pesan ini." "Hmm." Aku diam lalu mengambil minuman pesananku. "Ada apa sebenarnya?" tanyanya sambil menyodorkan sepotong Red Velvet lebih dekat padaku. "Jangan bilang nggak ada apa-apa. Aku tahu ada yang ganggu pikiranmu dari semalam." Aku diam menatapnya, menyesap minumanku lalu meletakkannya tanpa berhenti melihatnya. Syuja mengaduk ice americano miliknya, dengan tatapan yang juga masih lekat tertuju padaku. "Harusnya aku yang tanya itu," kataku akhirnya. "Apa?" "Ada apa sebenarnya??" tanyaku. Kali ini Syuja menatapku dengan sorot heran. "Apa yang lagi kamu sembunyiin dariku??" "Sembunyiin?" Dia bertanya balik sembari mengerutkan kening samar. Aku diam tak menjawab pertanyaannya. "Nggak ada yang aku sembunyiin,” ujarnya kemudian. Aku tetap diam dan terus menatapnya. "Kenapa kamu mikir ada yang aku sembunyiin?" "Menurutmu??" "Karena aku ngelarang kamu nonton basket? atau karena aku sempat keberatan kamu nonton acara musik semalam?" Aku kembali diam. "Aku udah jelasin alasannya kan?" "Apa cuma itu yang kamu ingat??" Dia mengangguk tanpa ragu. "Semalam pulang jam berapa??" tanyaku lagi. "Waktu ngirim pesan chat ke kamu, itu aku baru masuk rumah." "Langsung dari kampus??" Dia mengangguk lagi. "Atau mampir dulu??" "Ada apa sebenernya?" "Jawab aja," sahutku mulai sedikit kesal. "Aku langsung pulang." "Waktu itu juga??" "Waktu itu?" "Yang nongkrong sehabis basket." Dia nampak diam dan berpikir sejenak. "Selesai jam berapa nongkrongnya??" Syuja menatapku beberapa detik sebelum bilang, "maaf.” "Maaf kenapa??" "Aku nggak langsung pulang." "Ke mana dulu??" kejarku. "Ada yang harus aku selesaiin." "Apa??" "Aku nggak bisa cerita." Kembali aku melihatnya dengan ekspresi penasaran. "Kenapa nggak bisa cerita??" "Nanti ... pasti aku cerita, tapi nggak sekarang." Jawaban Syuja jelas tidak memuaskan. Tapi melihat ekspresinya, pada akhirnya aku juga enggan untuk minta penjelasan lebih. "Nggak ada yang perlu kamu khawatirin apalagi curiga," ucapnya, "aku nggak langsung pulang malam itu bukan karena aku mampir atau pergi sama cewek lain." "Bukan masalah kamu sama cewek lain," sahutku. "Terus?" "Aku cuma mau tahu, kenapa nggak terus terang aja kalau malam itu bukan baru pulang dari nongkrong sama anak-anak kampus tapi dari tempat lain." "Karena aku nggak mau kamu mikir macem-macem." "Tapi akhirnya aku jadi mikir macem-macem kan karena kamu nggak jujur??" Dia menghela nafas pasrah. "Oke, aku salah ... maaf." Kali ini ganti aku yang menghela nafas. "Tetap aja aku mikir macem-macem sampai sekarang." "Nggak usah mikir macem-macem Ai'. Aku nggak ngelakuin yang aneh-aneh." "Dan aku harus percaya, sementara ceritanya bagaimana aku sendiri belum tahu. Lucu nggak sih??" "Kamu nggak percaya aku?” Aku menatapnya lekat-lekat. Aku tak meragukan kesungguhan ucapannya tadi. Hanya rasa penasaran yang membuatku merasa kurang puas. "Janji, kamu bakal cerita nanti??" "Aku janji!" jawabnya cepat, "nanti, kalau sudah tepat waktunya, aku pasti cerita semua," tambahnya sungguh-sungguh. Aku kembali menghela nafas sambil menyandarkan punggung. Mengalah, itu yang bisa aku lakukan sekarang. Syuja mengajakku jalan-jalan di pusat perbelanjaan setelah minuman dan cakeku habis. Kami masuk ke toko buku lumayan lama. Setelah dari toko buku, kami melihat-lihat gerai pakaian. Sepanjang jalan, sejak keluar dari coffee shop dia terus menggandeng tanganku. "Syuja??" Aku mendengar suara seorang wanita memanggil nama Syuja saat kami akan keluar dari gerai pakaian. Ketika kami berhenti, kulihat seorang wanita yang usianya sekitar awal 30an berjalan menghampiri kami. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini. "Benar Syuja rupanya!" seru wanita itu senang. Dia cantik, penampilannya anggun, seperti sosialita. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan. Aku lihat raut wajah Syuja berubah, dia menatap wanita itu dingin. "Lagi belanja ya?" tanya wanita itu ramah, dia melihat Syuja lalu beralih padaku. Mau tak mau aku tersenyum ketika pandangan kami bertemu. "Ini siapa?" tanya wanita itu menatapku sambil tetap tersenyum. Aku tak bisa mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri karena Syuja tak melepaskan genggaman tangan kami. "Ada apa?" tanya Syuja datar. Tatapan wanita itu beralih kembali pada Syuja. "Cuma memastikan kalau memang benar kamu, dan menyapa." "Sudah kan?" ketus Syuja, kentara sekali ketidaksukaannya. Wanita di depan kami tetap menjaga senyum manisnya. "Mau minum kopi atau teh bareng? Kebetulan--" "Nggak usah, terima kasih," potong Syuja cepat. "Ayo," kata Syuja kali ini padaku, dan tanpa sempat aku berpamitan, Syuja sudah menarikku berjalan menjauh. Aku bisa merasakan perubahan mood Syuja. Dia berjalan tanpa mengatakan apapun. Terus terang pikiranku sekarang dipenuhi dengan pertanyaan tentang wanita tadi. Tapi melihat reaksi Syuja saat ini, aku merasa ragu untuk menanyakannya. "Aku mau es krim," kataku coba memecahkan kesunyian. "Es krim?" Aku mengangguk sembari tersenyum menatapnya. "Kita ke food court," ajak Syuja, aku menurut tanpa protes. Syuja menyuruhku duduk di salah satu bangku begitu kami tiba di food court, aku menunggunya mengantri es krim untukku. Setelah beberapa menit, dia kembali dengan es krim yang aku mau. Dia tersenyum melihat ekspresi antusiasku. "Ini," katanya sambil menyodorkan es krim ke depanku. "Kok cuma satu??" "Lagi nggak pengen." Aku menyuruhnya duduk di samping kiri, lalu menyendok es krim yang disajikan dalam cup. Selang beberapa detik, aku menyendok es krim rasa vanilla dan kusodorkan pada Syuja. "Enggak,” tolaknya singkat. "Dikit aja," bujukku. Dia malah menggelengkan kepala. "Ayo dong, keburu lumer nanti," rengekku tak mau menyerah. Meski dia bergeming, aku tetap menyodorkan sendok pada Syuja. Dia menatapku sesaat, lalu menerima suapan es krimku pada akhirnya. Sontak aku tersenyum melihatnya. Setelah menyuapinya, aku menyendokkan rasa strawberry dalam mulutku, lalu menyodorkan lagi sesendok es krim vanilla pada Syuja. Lagi-lagi dia coba menolak awalnya, tapi setelah aku merajuk, mau tak mau Syuja menerimanya lagi. "Adem nggak??" tanyaku. "Hmm." "Udah nggak emosi kan??" "Emosi?" "Yang tadi ...," kataku menggantungkan kalimat karena khawatir Syuja masih marah. Dia diam menatapku, mungkin sedang memikirkan apa yang kumaksud. "Jangan tanya dulu tentang dia," katanya kemudian dengan tangan kanan menyentuh bagian bawah cup es krim, memutar-mutarnya pelan. “Jangan juga cemburu, dia nggak pantas kamu cemburuin." "Terus, siapa yang musti aku cemburuin??" tanyaku refleks. "Nggak ada." "Masak nggak ada??" "Emang nggak ada." Aku mengerucutkan bibir lalu kembali menikmati es krim. "Nggak nyuapin lagi?" "Enggak! Sekarang aku yang lebih butuh es krim daripada kamu." Dia tersenyum lalu tangannya mengusap puncak kepalaku beberapa kali. "Habisin, biar emosinya ikut lumer." "UCHA!!" seruku gemas, "nyebelin kamu tuh!!" Dia justru tersenyum melihat reaksiku barusan. Aku memasang wajah manyun sambil menyendok es krim. Sementara Syuja masih membelai puncak kepalaku pelan. "Semalam kenapa nggak cerita?" tanyanya sambil menatapku. "Cerita apa??" "Kamu ketemu Dika lagi." "Ooh, Gama cerita??" tanyaku sambil menyuapkan sesendok es krim ke mulutku. Dia mengangguk, tangannya tak berhenti bergerak pelan di kepalaku. "Kenapa nggak cerita?" ulangnya kalem. "Nggak apa-apa, kan nggak ada kejadian jelek juga." "Tapi kata Gama hampir berantem?" "Iya, tapi waktu temen Dika baru mau nyamperin Gama, keburu muncul siapa ... Bang Ranu??" Dia mengangguk waktu aku melirik. "Jadinya nggak sampai ribut," jelasku, "mungkin lain ceritanya kalau Bang Ranu nggak keburu muncul." "Ngucapin makasih nggak sama Bang Ranu?" "Nggak sempat, dia langsung pergi gitu aja. Nanya aku siapa juga enggak." "Emang pingin ditanyain Bang Ranu?" "Bukan gitu, tapi normalnya kalau kita lihat orang yang belum pernah kita tahu sebelumnya pasti bakal penasaran, terus nanya itu siapa. Iya kan?" Syuja mengangguk, "Tapi sayangnya Bang Ranu nggak nanya kamu ya?" "Apaan sih??" "Mau dikenalin sama dia?" "Nggak ah." "Kenapa?" "Orangnya kelihatan galak gitu." "Baik kok." "Karena kamu udah kenal!" "Makanya kenalan biar nggak salah nilai orang." "Kalau sama cewek semalam mau dikenalin juga nggak?" tanyaku kali ini sambil melihatnya. "Cewek semalam?" "Yang nyanyi itu, yang sempat ngobrol di samping gedung Fakultas." Syuja diam sejenak lalu menganggukkan kepala. Setelah itu kami sama-sama diam selama beberapa saat. "Ooh ... jadi semalam marahnya karena itu?" tanyanya kemudian. "Dih! Siapa yang marah??" Reaksiku justru dibalasnya dengaan senyuman tipis. "Kok bisa lihat aku di samping gedung Fakultas?" "Lagi lihat pameran foto," jawabku datar. "Kok nggak manggil?" "Males." "Tuh, marahnya karena itu." Aku meliriknya dengan ekspresi kesal. Tangannya berhenti di atas kepalaku, lalu menepuk-nepuknya pelan. "Dia Mila, teman seangkatan." Mila?? Nama itu ... nama cewek yang kulihat di foto kan? yang selalu di samping Syuja. "Tadinya lagi ngobrol sama Bang Ranu, terus Mila lihat akhirnya gabung." Aku tak menyahut dan memilih terus menyuapkan es krim ke mulutku. "Ngobrolnya juga bentar, habis itu aku pergi keliling lagi sambil nyari kalian." "Alesan." "Beneran Ai'." "Kenapa nggak telepon Gama??" "Nggak diangkat sama dia." "Terus tahu dari mana aku sama Gama di dekat lapangan basket??" "Nanya anak-anak, mereka bilang lihat Gama lagi lesehan di sana." Aku diam sambil memanyunkan bibir. Saat kulirik, Syuja tersenyum melihatku lalu kembali membelai kepalaku. "Dihabisin es krimnya, kalau masih emosi nanti kubeliin lagi." Geregetan dengan responnya, aku menginjak kaki Syuja yang tepat di sampingku. Bukannya marah dia justru tersenyum lebar sembari menopang sisi kiri wajahnya dengan siku bertumpu di atas meja. Jujur saja, rasa penasaranku atas sosok Mila belum sepenuhnya terjawab. Dan sekarang ditambah rasa penasaran akan wanita yang tadi kami jumpai. Banyak pertanyaan terus berputar di kepalaku tiap kali melihat wajah Syuja. "Aku cuma akan lihat kamu. Jadi ... jangan buang energi karena cemburu," ucapnya pelan dengan usapan yang bergeser dari puncak kepala ke pipiku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN