-5-

4455 Kata
Aku mematut diri di depan cermin. Bingung antara hendak mengucir rambut atau menggerainya. Syuja bilang dia akan tiba 20 menit lagi, jadi masih ada waktu mengecek penampilan. Jujur saja aku bukan cewek girly, meski banyak yang menilaiku kalem dan feminim. Aku lebih suka mengenakan sneakers atau converse dibanding heels atau wedges. Aku pun lebih suka mengenakan kemeja atau kaos oversize daripada yang ketat. Aku juga lebih suka mengenakan celana jins daripada rok. Karena itu, malam ini aku hanya mengenakan pencil jeans gelap dipadu kemeja putih polos sedikit oversize berpotongan pinguin, lengannya kugulung sampai siku. Aku memutuskan mengikat rambut dan menyapukan sedikit riasan. Sebenarnya tak ada perbedaan jauh penampilanku malam ini dengan tadi siang, tapi Syuja terus saja menatapku saat menjemput. Bahkan setelah berpamitan pada Ibu dan aku sedang memakai helm, dia tak berhenti menatapku. "Kenapa?" tanyaku heran. Dia diam lalu meraih resleting jaket yang kukenakan, memakaikannya seperti yang biasa dia lakukan. "Pastiin nggak ngerespon apapun yang diomongin cowok-cowok ke kamu nanti," pesannya saat resleting jaketku mencapai dagu. Aku mengangguk, lalu naik ke boncengan motornya, dan kami pergi menuju kampus yang selama ini selalu dijauhkannya dariku. Meski ini bukan pertama kali dia memboncengku, tetap saja aku selalu memberi jarak di antara kami. Aku juga hanya berpegangan pada sisi-sisi jaket yang dikenakan Syuja. Setibanya di area kampus dan masuk parkiran motor, aku baru sadar ternyata Syuja memang jalan cukup jauh saat menghampiriku ke café siang tadi. Suasana begitu ramai. Beberapa orang menyapa Syuja dan menatapku penuh tanya, tapi Syuja sama sekali tak tertarik memperkenalkanku pada mereka. Aku melepaskan jaket, Syuja menyimpannya di balik helm. "Ini yang punya acara jurusanmu aja kan?" tanyaku sambil mengamati parkiran motor yang terlihat penuh, dan begitu banyak orang lalu lalang. Syuja menganggukkan kepala. Suara musik terdengar sampai ke area parkiran. Bukan musik yang hingar bingar, karena kata Syuja konsep yang mereka pakai secara turun temurun adalah akustik. Syuja mengajakku jalan. Baru beberapa langkah, Syuja yang berjalan di depanku berhenti, lalu dengan santainya meraih tanganku dan menggandengnya. Aku tersenyum menerima genggaman tangannya, ini kedua kali dia menggandengku sejak kami bertemu hari ini. Dia membawaku ke sebuah area terbuka, tak jauh dari tempat parkir. Tempat yang di setting layaknya cafe outdoor. Meja dan kursi ditata sedemikian rupa, penerangan yang digunakan pun diatur hingga memberi kesan hangat dan romantis. Sedangkan di bagian pinggir, ada kedai-kedai menyediakan snacks dan aneka minuman. Kursi-kursi semuanya penuh. Aku dan Syuja berdiri di bagian belakang. Sorot matanya tertuju ke beberapa titik, seperti sedang mencari-cari seseorang. "Wah, lihat siapa ini!!" seru suara yang jelas sangat kukenal. Luthfi datang dari arah samping kiriku dan terlihat sumringah. Dia memakai jaket biru, jaket yang sama seperti beberapa orang yang kujumpai sejak masuk area kampus. "Akhirnya dapat ijin juga ya, Yang!" Aku tersenyum padanya untuk mengiyakan. "Bintang mana?" tanya Syuja. "Tadi lagi ke bagian pameran foto." "Gama?" "Bilangnya nganter Cris. Paling bentar juga balik." "Gimana, Yang? Seru nggak?" tanya Luthfi yang sudah mengalihkan perhatiannya padaku. "Seru, settingnya juga keren." jawabku. "Siapa dulu dong yang punya ide!" "Kamu??" tanyaku terkejut. "Enggaklah!!! Ide pacarmu yang sok cuek itu!" Aku terkejut dan menoleh ke Syuja, dia sedang mengedarkan pandangan ke arah lain. "Ngomong-ngomong, itu gandengan bisa dilepas kali, kalian nggak lagi nyebrang jalan!" sindir Luthfi melihat tangan kami. "Kenapa?" tanya Syuja datar yang ternyata menyimak percakapan kami sedari tadi. "Perih bro lihatnya, pahit rasanya hidupku!!" Aku tersenyum melihat ekspresi berlebihan yang dibuat Luthfi. Alih-alih melepaskan, Syuja justru mengeratkan gandengan tangannya dengan sengaja. "Sabar ya pria tampan, maklumi saja kelakuan kaum LDR di depanmu ini," kata Luthfi pada dirinya sendiri. Tangannya bahkan mengusap kepalanya yang mengangguk-angguk kecil. "Ja!" suara Bintang terdengar dari arah belakang kami. Kulihat, dia menyodorkan jaket warna biru pada Syuja saat sudah di dekat kami. Syuja menerimanya sembari mengucap terima kasih. "Dicari Bang Ranu tadi." "Di mana?" "Tadi ketemu di depan gedung perpustakaan." Syuja mengangguk sambil melepas jaket parkanya. "Sini," kataku meminta jaketnya. Syuja memberikannya padaku tanpa mengatakan apapun, lalu memakai jaket yang diberi Bintang tadi. Ada nama Syuja dibordir di bagian d**a kiri. Setelah memakai jaketnya, Bintang menyodorkan Handy Talkie (HT) pada Syuja. "Sudah di-set,” beri tahu Bintang. Syuja mengangguk. "Aku jalan dulu,” pamit Bintang yang sudah bersiap pergi. "Mau ke mana?" tanya Luthfi penasaran. "Ngecek di bagian bazar." jawab Bintang lugas. "Awas, jangan ngegombalin anak gadis orang, apalagi sampai minta makan! malu-maluin aku nanti!" Bintang menendang p****t Luthfi, dan Luthfi menyeringai kesakitan karena terlambat menghindar. "Djiamput kok raimu! Kalau pantatku tepos, lututmu kujadiin sumpelan!" Bintang cuma tersenyum miring mendapat umpatan Luthfi. "Sampai ketemu nanti, Yang," pamit Bintang, yang kubalas dengan mengangguk dan tersenyum. "Kamu di sini dulu, Fi," kata Syuja begitu Bintang sudah berlalu. "Kamu ke mana juga?" tanya Luthfi yang terlihat lebih penasaran dari sebelumnya. "Nyari Bang Ranu." "Temenin Ai', nanti kalau Gama datang bisa dititipin ke dia kalau kamu mau keliling," tambahnya kalem. "Siap boss!!" "Ditinggal dulu ya?" pamit Syuja padaku, yang kurespon dengan tersenyum. Saat kupikir Syuja akan langsung pergi, dia justru mengambil lagi jaketnya yang kupegang. "Dipakai," katanya sambil memakaikan jaketnya padaku. "Astaghfirullah, Yaa Allah!! Kenapa musti di depanku sih mereka yangyangannya?? Apa sholatku kurang rakaatnya sampai dapat cobaan macam ini??!!?" seru Luthfi saat melihat Syuja memakaikan jaket parkanya padaku. Aku tersenyum melihat ekspresi lucu Luthfi, sedangkan Syuja langsung menyentil kening sahabatnya, membuat cowok yang super ekspresif ini mengerucutkan bibir lucu. "Titip bentar, Fi," pesan Syuja. "Iya, pergi sana! Nggak bakalan ada apa-apa!! Kalau kubilang dia pacarmu, cowok-cowok pasti nggak akan berani lihat apalagi dekat-dekat! Yang punya suka gigit soalnya!!!" Syuja hendak memukul Luthfi tapi dia langsung menghindar dan sembunyi di belakangku. Refleksnya membuat Syuja berdecak sebal. "Kutinggal dulu," pamit Syuja lagi. Setelah aku mengangguk dia langsung pergi meninggalkanku dan Luthfi. "Bisa-bisanya mesra-mesraan di depan jomblo!" gerutu Luthfi masih tak terima. "Maaf ya Fi," kataku meski aku tahu dia sebenarnya bercanda. Luthfi tersenyum lucu, membuatku spontan ikut tersenyum. "Biasanya acara selesai jam berapa, Fi?" "Jam 11. Itu udah paling mentok dan musti udah mulai beres-beres." "Selalu seramai ini ya?" "Kalau dari laporan panitia senior sih, ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Maklum lah, kita kan baru tahun pertama, jadi belum paham betul perbandingannya." Aku menganggukkan kepala. "Ngomong-ngomong, kemarin sampai jam berapa kalian nongkrong??" "Yang habis basket itu?" "Iya." "Seingatku setengah tujuhan. Soalnya aku inget itu dibubarin sama Bang Ranu karena dia mau ikut jamaah sholat Isya'." "Setengah tujuh??" "Iya, seingetku jam segitu." Bukannya semalam waktu ditelepon Syuja bilang baru pulang nongkrong?? Dan itu jam 10 malam? "Langsung pada pulang??" tanyaku lagi. "Yang lain aku nggak tahu, tapi aku sama Bintang langsung balik soalnya masih ada final tadi." "Syuja bareng kalian??" "Syuja?? Dia malah balik duluan. Katanya ada urusan." "Jam berapa??" tanyaku setengah terkejut. Luthfi menatapku selama beberapa saat. "Kamu nggak lagi introgasi aku jadwal pacarmu kan?" Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, meskipun sebenarnya itu yang memang sedang aku lakukan. "Habis maghrib dia cabut duluan. Kenapa?? Dia bilang apa sama kamu??" "Nggak ada." "Serius?? Kalian nggak lagi curiga-curigaan satu sama lain kan??" Well, aku hanya tiba-tiba penasaran bukan curiga. "Yang???" "Enggak kok Fi, cuma mau tahu aja. Kalian kan kemana-mana biasanya bertiga," jelasku sembari tersenyum. "Beneran??? Jangan sampai nanti ada apa-apa setelah aku ngomong ini??" "Tenang aja, nggak ada apa-apa," jawabku coba meyakinkan dia. Luthfi kembali menatapku selama beberapa saat. Aku pura-pura mengalihkan perhatian pada penampilan akustik di depanku. Syuja pergi dari habis maghrib, tapi saat bicara ditelepon jam 10 malam dia bilang baru sampai rumah. Syuja ... ke mana dia?? "Ngomong-ngomong kapan ketemu Farah lagi?" tanya Luthfi. "Kenapa?" tanyaku sambil menoleh padanya. "Nanya aja. Lumayan lama juga nggak ketemu dia." "Oh ya?? Terakhir kapan??" "Kalau nggak salah sekitar 4 bulan lalu, pas lagi ke mall sama Bintang, nggak sengaja ketemu dia." "Reuni dadakan dong?" tanyaku lagi. "Boro-boro! Pacarnya nggak asik! Masih asikan Bintang." Aku terkekeh geli, entah kenapa dari dulu Luthfi punya obsesi menjodohkan Farah dan Bintang. Saat menanyakan pendapatku, kukatakan kalau aku tak menolak tapi juga tak mendukung. Selain aku tahu Farah sudah punya pacar, sifat Farah dan Bintang mirip, sama-sama keras meskipun Bintang lebih mampu mengontrol emosinya. Jujur aku tak bisa membayangkan kalau mereka bersama, walaupun jodoh tak ada yang tahu. "Di sini ternyata!" seru suara lalu kulihat seorang cowok menepuk pundak Luthfi. Dia Gama, cowok yang kutemui di cafe tadi siang. Dia tersenyum saat pandangan kami bertemu "Dari mana aja?" tanya Luthfi. "Habis ngantar Cris, terus mampir bentar ke stannya anak Lingkungan." "Ooh, jadi tebar-tebar pesona dan lupa tugas malam ini ya?? Kulaporin Syuja, dicabut bulu kakimu!!" "Rese kamu, kayak bulu hidung kepanjangan!!" Mereka kemudian asik gulat sendiri, sampai tiba-tiba kudengar suara dari HT yang dibawa Luthfi. "Luthfi, ke tempat pameran foto sekarang." "Yang lihat Luthfi suruh ke lokasi pameran foto sekarang." Dengan cepat Luthfi menghentikan pergulatannya dengan Gama lalu mengambil HT yang dia simpan di saku jaket. "Siap ke sana segera, Bang!" jawab Luthfi, "Yang, kutinggal dulu ya?" pamitnya kali ini padaku. Tentu saja aku langsung menganggukkan kepala. "Gam, jangan macem-macem loh. Ingat tugasmu jagain Yayang." "Aman," kata Gama santai. "Kalau ada apa-apa telepon-" "Kantor polisi, santai aja!" potong Gama. "Syuja!! Ngapain telepon kantor polisi?? Mau lapor kalau jodohmu belum ketemu??" sahut Luthfi sambil meledek Gama. "Bangke! Sesama jomblo harusnya saling menguatkan karena kita kawan seperjuangan!" "Kita?? Kamu aja lah, aku sih nggak mau seperjuangan sama seonggok kutikula!!" ledek Luthfi. "Dasar lembaran panu!!" Melihat mereka berdua berdebat, membuatku tak berhenti tersenyum. "Udah ah, cabut dulu sebelum disuruh push up sama Bang Ranu!" Setelah itu Luthfi bergegas meninggalkan kami. "Nggak ada kursi kosong ya?" tanya Gama sambil mengedarkan pandangan ke depan, mencari-cari siapa tahu masih ada bangku kosong. "Kayaknya udah full semua." "Sudah lama berdirinya?" tanya Gama sambil melihatku. "Belum lama juga kok." jawabku sembari memperhatikan salah satu sahabat baik Syuja yang baru kutahu. Gama kembali melihat ke segala arah, masih berusaha mencari bangku kosong. Kalau diam begini, dia punya aura Syuja dan Bintang. Tapi kalau bicara, apalagi sama Luthfi, mereka seperti kembar siam. "Kok nggak pakai jaket kayak Luthfi tadi??" tanyaku basa-basi. "Jaket?? Ooh ... Korsa??? Aku cuma penonton bayaran di sini," jawab Gama, aku tersenyum mendengar candaannya. "Merangkap bodyguard bayaran juga sih," lanjutnya. Aku kembali tersenyum meresponnya. "Yang pakai Korsa cuma panitia sama beberapa orang yang diminta tolong buat ngawasin, kayak Luthfi, Syuja, Bintang." "Kenapa mereka? Kan masih junior." "Senior paling senior yang minta mereka, soalnya ... tahu kan reputasi mereka bertiga terutama Syuja sama Bintang." Aku mengangguk, paham dengan yang dimaksud 'reputasi' tadi oleh Gama. Aku pernah mendengar cerita dari Syuja kalau mereka bertiga sempat berkelahi dengan mahasiswa senior sekaligus panitia acara penerimaan mahasiswa baru. Perkelahian yang cukup bikin pusing panitia saat itu, tapi saat senior mereka turun tangan dan usut punya usut, ternyata bukan murni kesalahan mereka bertiga sampai terjadi perkelahian. Dan panitia yang berkelahi dengan mereka bertiga akhirnya minta maaf. "Itu yang tampil cuma mahasiswa jurusan kalian??" "Enggak, dari jurusan lain juga. Kalau nggak salah dari luar juga ada." "Dari luar?? Bisa gitu ikutan tampil di sini??" "Bisa," jawabnya sembari tersenyum Aku mengangguk-angguk kecil. "Mau keliling atau di sini aja?" tanya Gama menawarkan melihat-lihat di tempat lain. "Keliling??" "Lihat pameran fotonya anak-anak sama bazar, nggak jauh kok jalannya." Aku sempat berpikir selama beberapa saat lalu setuju dengan ide Gama. Dia mengajakku berjalan menuju stan bazar yang tak jauh dari lokasi pertunjukan musik tadi. Suasananya tak kalah ramai. Gama berusaha jalan tak terlalu jauh dariku. Beberapa kali langkah kami terganggu karena celetukan nakal segerombolan cowok yang Gama kenal. Mereka menggodaku, mengajakku berkenalan dengan cukup agresif. Tapi saat Gama menegur dengan ekspresi serius, keagresifan mereka berkurang. "Ini yang punya stan dari sini juga??" tanyaku sambil melihat ke stan yang ada di kanan dan kiriku. "Sebagian besar iya, tapi ada juga stan punya warga yang tinggal sekitar kampus." jawabnya, "termasuk stan di dekat panggung musik tadi." "Wow, acara kalian keren." "Cuma nerusin tradisi aja," sahut Gama merendah. "Tapi ada acara sosialnya juga kan aku dengar??" "Donor darah, pembagian sembako, pembagian bibit tanaman, termasuk donasi ke yayasan yatim piatu dekat kampus." "Wah, dana dari mana??" "Sumbangan dari mahasiswa jurusan semua angkatan, nominalnya bebas. Terus juga dapat dari jurusan, dari kampus, sama dari alumni-alumni yang udah pada sukses." "Keren!!" Gama menganggukkan kepala sambil tersenyum bangga kali ini. Langkah kami terhenti saat cowok yang tadi siang mengenalkan dirinya padaku berdiri di depan kami bersama dua temannya. "Kamu yang tadi siang sama Syuja kan?" Aku merespon dengan tersenyum setipis mungkin. "Kayaknya kita jodoh ya bisa ketemu lagi secepat ini!" "Siapa??" tanya temannya yang berdiri di depan Gama. "Temennya Syuja." "Pacar, bukan teman!" ralat Gama cepat. "Waah, sorry Gam, nggak tahu kalau ada kamu," sindir cowok yang kuingat bernama Dika lalu tertawa diikuti teman-temannya. "Matamu minus kayaknya, perlu kukenalin dokter mata?" tanya Gama santai. Tawa Dika berubah jadi senyum sinis, lalu saat melihatku lagi senyumnya berubah, dibuat semanis mungkin. "Daripada ditemani Gama, lebih baik kalau kami yang nemenin kamu, mau nggak?" "Jelas nggak mau lah! Cewek yang dekat Syuja mana mau dekat-dekat sama kamu, turun level bro!" "Eh, aku nggak ngomong sama kamu njing!!" sahut Dika kesal. "Waaah, bisa bahasa anjing sekarang??" Gama seperti tak ada takutnya meskipun jelas kami kalah jumlah kalau sampai mereka mengajak Gama berkelahi. Apalagi aku juga cewek yang nggak mungkin akan ikut berkelahi kalau itu terjadi. Seorang teman Dika terlihat emosi dan mendekat ke Gama, tanda-tanda emosinya terpancing. Gama diam, ekspresinya masih datar bahkan terkesan santai. "Ada apa ini?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang Dika dan teman-temannya. Seorang cowok dengan rambut gondrong dikucir, memakai Korsa dengan bordiran nama Ranu berdiri di belakang mereka. Melihat siapa yang datang, teman Dika langsung menjauh dari Gama. "Ada apa?" tanya cowok gondrong itu sambil menatap Gama, Dika dan teman-temannya "Nggak ada apa-apa kok Bang. Cuma say hello aja tadi," jawab Dika ramah. Tanpa sadar aku tersenyum sinis mendengar jawaban Dika. Cowok gondrong di depanku sempat melirikku sebentar. "Tapi tadi yang aku lihat nggak gitu," responnya datar. Melihatnya sekilas saja aku sebenarnya sudah segan. Auranya melebihi Syuja. "Beneran kok Bang, cuma nyapa sama ngucapin selamat buat pertandingan tadi," elak teman Dika. Cowok yang dipanggilnya Bang itu menganggukkan kepala sambil mengamati Dika dan teman-temannya bergantian. "Terus, ada lagi yang mau diucapin ke Gama?" tanyanya datar. "Enggak ada Bang. Ini kami mau pergi kok, mau lihat musik," kata Dika. Lalu tanpa banyak bicara dia dan teman-temannya langsung pergi meninggalkan kami. Begitu juga dengan cowok gondrong yang mereka panggil Bang, dia langsung pergi begitu saja setelah memastikan Dika dan teman-temannya pergi, tanpa mengatakan apapun padaku dan Gama. "Itu tadi Bang Ranu??" tanyaku memastikan. Gama mengajakku lanjut keliling, melihat-lihat stan bazar lalu dia membawaku ke pameran foto. "Iya, keren kan dia?" tanya Gama. "Hah??" "Aku normal kok!" ralat Gama cepat, "maksudku tadi gayanya, sikapnya, cara bicaranya, kelihatan keren kan??" Aku tersenyum dan mengangguk setelah tahu maksudnya. "Dia senior paling horor di kampus." "Kok bisa??" "Dia ... gimana aku bilangnya ya?? Aktivis, nggak cuma di dalam, tapi di luar kampus juga. Dosen-dosen di kampus ini nggak mau berurusan sama Bang Ranu." "Kenapa??" tanyaku terkejut. "Bang Ranu, dia nggak pernah takut debat sama siapapun. Dan apa yang dia omongin selalu logis, nggak bisa di debat, mungkin karena Bang Ranu matang organisasi di luar," jelas Gama bersemangat. "Dia juga yang turun tangan pas Syuja, Bintang sama Luthfi dulu ada masalah di awal-awal masuk." "Maksudmu waktu mereka kelahi sama panitia??" Gama mengangguk. "Bang Ranu langsung ngadepin mereka bertiga sama panitia yang berantem dengan mereka. Ditanya alasannya apa, terus Syuja jelasin duduk perkaranya. Akhirnya si panitia yang sok-sokan main senioritas itu minta maaf." "Kamu juga nggak ada takutnya sama mereka tadi. Hobi kelahi juga?" tanyaku menyindir sikap Gama yang terlihat tenang di depan Dika dan teman-temannya tadi. "Nggak juga. Tapi kalau benar ngapain takut, lagian kalau tadi mereka sampai berani ribut sama aku, di belakangku ada Syuja kan??" tanyanya sambil tersenyum. "Dan di belakang Syuja ada Bang Ranu, habislah mereka kalau berani cari gara-gara sama dua orang itu." Aku mengerutkan kening, heran campur penasaran karena statement Gama. "Konon kata senior-senior, Syuja itu jelmaan Bang Ranu. Selain itu, meskipun kami hitungannya masih junior, Bang Ranu sering ngajak Syuja diskusi bareng, baik diskusi internal maupun eksternal. Kadang Syuja suka diajak ikut proyekan dosen yang dikerjain Bang Ranu. Semacam lagi dididik si Syuja sama Bang Ranu." "Tapi urusan kelahi nggak kan??" "Kalau itu nggak perlu Bang Ranu ajarin, ibarat kata mereka itu kalau urusan kelahi udah selevel," jelas Gama lalu tertawa, "yang pasti, mahasiswa pada takut kalau sama Syuja. Senior juga banyak yang segan sama dia. Soalnya pernah lihat Syuja berani debat sama Presiden Mahasiswa di forum." Ya Tuhan ... rupanya imej Syuja yang begitu ditakuti saat sekolah, berlanjut sampai sekarang. "Nah di sana pameran fotonya." Gama menunjuk sebuah gedung di depan kami. Suasananya juga sama ramainya dengan tempat-tempat yang sempat kulewati. Saat kami masuk, di dalam gedung itu terpajang begitu banyak foto berbagai kegiatan mahasiswa jurusan mereka dengan berbagai ukuran. Baik saat di kelas, di lab, di lapangan tempat mereka mengaplikasikan langsung ilmu mereka, di kantin, di tempat ibadah, bahkan di jalan-jalan saat mereka melakukan kegiatan sosial, juga saat kegiatan himpunan. Aku menemukan foto-foto dengan Syuja di dalamnya. Saat acara Ospek Jurusan dan dia jadi peserta, saat di ruang kuliah, di lapangan, di kantin, bahkan saat dia dan beberapa temannya sedang tiduran di sebuah gubuk dengan latar belakang persawahan. Awalnya aku tak melihat ada yang aneh dengan foto-foto itu. Tapi setelah foto kesekian, aku baru menyadari ada sosok yang selalu ada di sekitar Syuja. Dia tak hanya sekedar foto bersama, dalam beberapa foto aku melihatnya mengambil posisi tepat di samping Syuja, tersenyum manis, bahkan ada beberapa yang terlihat sedang bersandar pada Syuja. Seorang cewek ... cantik, dengan senyum manis. Dalam salah satu foto kelompok yang menggunakan Korsa, aku bisa melihat bordiran nama depannya dengan jelas ... Mila. Aku tak menyadari bahwa aku sedang menatap sebuah foto dengan lekat, sampai ketika Gama mengajakku bicara. "Serius amat?" Aku tersenyum canggung, merasa ketahuan. "Ini foto koleksi siapa aja?" tanyaku coba mengurangi kekikukanku sendiri. "Banyak, ada dari senior-senior, ada juga dari dosen." "Oh ya??" Gama mengangguk. "Total berapa foto yang dipamerin??" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke ruangan yang cukup luas dan penuh dengan foto-foto. “Kalau nggak salah lebih dari 200 foto." "Banyak banget!" seruku terkejut. "Dan sebenarnya ini nggak cuma dipamerin." "Terus??" "Ini dilombain juga. Lihat kan stickers kecil-kecil ini?" tanya Gama sambil menunjuk sekumpulan stickers kecil berbentuk bulat dan warna warni yang menempel di bagian bawah foto. "Ini voting yang nanti dihitung panitia. Nanti pas masuk semester baru diumumin siapa aja pemenangnya," jelas Gama. "Mau ikutan kasih suara nggak?" tanyanya menawarkan. "Boleh gitu??" "Boleh. Tunggu ya, kucari dulu panitianya buat minta stickers." Aku menganggukkan kepala lalu melanjutkan melihat foto-foto saat Gama pergi. Ketika aku sampai di bagian paling ujung dan hendak kembali ke bagian tengah, secara tak sengaja mataku menangkap sosok Syuja di luar gedung. Dia sedang bicara dengan cowok yang tadi kutemui dengan Gama di bazar. Bang Ranu. Di sebelahnya berdiri cewek, terlihat cantik meski pandanganku terhalang kaca yang sedikit gelap. Mereka berbicara cukup akrab, beberapa kali kulihat cewek yang berdiri di samping Syuja tersenyum padanya. Senyum yang beberapa saat lalu sempat melekat di benakku. Aku coba mengalihkan pikiran negatif dan bergegas berjalan mencari Gama. "Sorry, kelamaan ya?" tanyanya ketika kami bertemu. Aku menggeleng. Dia menyodorkan stickers dengan 3 warna. "Sebanyak ini??" "Memang jatahnya satu orang dapat tiga." Aku tersenyum lalu kembali melihat-lihat foto, mencari foto mana yang akan kutempeli stickers. Setelah hampir 15 menit dan aku selesai menempelkan stickers, Gama mengajakku kembali ke arena panggung musik. Saat berjalan keluar, aku menoleh ke arah di mana tadi melihat Syuja, tapi di sana sudah tak ada siapa-siapa. Di arena panggung musik, suasananya semakin malam justru semakin ramai. Gama sempat berputar berkali-kali untuk mencari bangku kosong tapi lagi-lagi semuanya penuh. Banyak juga yang menonton dan tidak kebagian bangku seperti kami, akhirnya memilih duduk lesehan. "Kita ke sana ya? Nggak marah kan Syuja kamu diajakin lesehan?" Gama menunjuk tempat yang tak jauh dari panggung, dekat lapangan basket. Aku mengangguk, mengikutinya dan kami berhenti di sisi yang tidak begitu ramai, duduk lesehan sebelahan. Setelah mendapat tempat, Gama permisi sebentar. Dia kembali dengan membawa 2 minuman dan snacks. "Makasih," kataku tersenyum. Dia balas tersenyum ramah. Kami sama-sama diam menikmati musik yang sedang dimainkan. Tiba-tiba suasana di sekitar panggung berubah riuh, aku berada sedikit jauh jadi tak tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Gama berdiri untuk melihat ada kejadian apa, setelah itu dia kembali duduk di sampingku. "Kenapa??" tanyaku penasaran. "Ooh ... itu, temanku seangkatan, kayaknya mau nampil." "Oh ya?? Siapa?? Kok heboh kayaknya." "Maklum, idola dari jaman Ospek," jawabnya sambil tersenyum. Lalu dari jauh kulihat seorang cewek naik ke panggung diiringi sorakan dari penonton yang ada di sekitar panggung. Banyak yang bertepuk tangan dan memberi siulan juga. Dia cewek yang kulihat berbicara dengan Syuja tadi. Aku mengenali dari rambut panjangnya yang terurai dan pakaian yang dia kenakan karena dia tak memakai Korsa. Tak lama suara merdu cewek itu terdengar menyanyikan lagu Royals milik Lorde. "Populer banget ya??" tanyaku menoleh ke Gama. Dia langsung mengangguk. "Idolanya panitia Ospek, senior sama mahasiswa seangkatan kami." "Termasuk kamu juga??" godaku, sekali lagi kulihat dia tersenyum tapi lebih tipis. "Awalnya sih," jawabnya sedikit malu-malu. "Awalnya?? Terus sekarang udah nggak??" "Saingannya berat-berat. Lagian kalau punya cewek terlalu populer, kayaknya aku yang nggak sanggup." "Nggak sanggup gimana??" "Gini-gini aku orangnya cemburuan," akunya sambil nyengir. "Oh ya???" Aku terkejut mendengar pengakuan Gama. "Kamu kelihatannya santai loh, tenang ... kayak tadi." "Itu beda urusannya." "Tunggu, maksudnya kamu pernah nyatain ke dia??" Gama menggaruk sisi kepalanya dan tersenyum canggung. "Sorry, ditolak??" tanyaku ragu bercampur penasaran. "Nggak ditolak juga." "Loh? Terus???" "Digantungin aja, nggak dikasih kepastian. Akhirnya aku milih mundur. Lagian, kupikir meskipun faktanya aku yang suka sama dia, bukan berarti dia bisa semaunya. Benar nggak?" Kali ini aku mengangguk setuju. "Kalau nggak suka bilang aja nggak suka, kalau suka ya bilang. Jangan karena alasan bingung terus disuruh nunggu, sementara dia ke sana kemari ngikutin cowok lain." "Hah??" Gama menatapku selama beberapa saat. "Udah ah, aku merasa kayak lagi diintrogasi," kata Gama yang kembali melempar senyum. Aku membalas senyumannya, tapi pikiranku mulai terisi oleh pertanyaan yang tak bisa aku tanyakan pada Gama. Kami kembali terdiam, entah apa yang ada dipikiran Gama, tapi aku sendiri ... mata dan pikiranku tertuju pada cewek di atas panggung. "Dari tadi di sini?" Syuja tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Aku refleks mendongakkan kepala untuk melihatnya, begitu juga Gama. "Keliling di mana, Ja?" tanya Gama. "Bazar sama sekitar parkiran." Syuja langsung menyusul duduk di sampingku. "Mau pesan minum lagi?" tanyanya padaku. Aku menggelengkan kepala lalu kembali menatap ke arah panggung. Selama beberapa saat kami bertiga sama-sama diam, mendengarkan cewek di depan kami yang sudah mengganti lagunya dengan lagu milik Natasha Bedingfield berjudul Soulmate. Aku sempat menoleh ke arah Syuja, tatapannya lurus tertuju ke arah panggung juga. Entah kenapa aku merasa aneh melihatnya. Aku segera mengalihkan pandangan dan coba menenangkan pikiranku sendiri. Ini nggak seperti yang kamu pikirin Ai'. Please, jangan bikin kesimpulan sebelum tahu kebenarannya. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri dengan mengatakan itu berulang kali dalam hati. "Ada apa?" tanya Syuja tiba-tiba. Aku sontak menoleh dan menggelengkan kepala selang beberapa detik. "Bosen?" "Enggak," jawabku singkat tanpa menatapnya. "Ja, aku bisa pergi nggak? Aku mau nyari Cris," tanya Gama menginterupsi kami. "Hmmm. Makasih, Gam." "Sama-sama." "Pergi dulu ya, Kay," pamitnya  yang kubalas dengan anggukan. Setelah itu aku kembali diam, coba menikmati pertunjukan di panggung, meski lewat ekor mata aku bisa merasakan Syuja tengah menatapku. "Mau keliling?" tanyanya. Aku refleks menggeleng. "Sudah tadi, ditemani Gama." "Ke mana aja?" "Semuanya." Dia diam, tapi cuma beberapa detik. "Kurang seru ya?" "Enggak." "Kok kelihatan bosen?" "Terus musti gimana?? Jingkrak-jingkrak sementara lagu yang dimainin akustikan??" Syuja diam menatapku, saat kulirik, tatapannya seperti tengah memindai isi kepalaku. "Ada apa?" tanyanya lagi. "Apanya??" "Marah kenapa?" "Siapa yang marah??" tanyaku yang kembali mengalihkan pandangan ke panggung. "Kan sudah kubilang, aku harus keliling jadi nggak bisa nemenin." "Tahu kok," sahutku singkat. Entah kenapa, sosok di atas panggung itu memenuhi semua prasangka negatifku. "Terus kenapa?" "Nggak kenapa-kenapa." Syuja diam. Selang tiga detik, dia menghela nafas lalu tak lagi menatapku. Pandangannya kembali lurus ke panggung. Kami bertahan dalam diam selama beberapa waktu. Sampai cewek yang tadi menyanyi di atas panggung juga sudah turun diganti dengan penampilan yang lain. Syuja melihat jam di tangannya. "Ayo," kata Syuja sambil berdiri. "Ke mana??" "Sudah jam 9 lewat." Aku menatapnya tanpa mengatakan apapun. "Tadi aku janji sama Ibu, antar kamu pulang sebelum jam 10 kan?" Kalimatnya membuatku menarik nafas lalu mengikutinya berdiri. Syuja meraih tanganku dan menggandengku menuju parkiran motor. "Mau ke mana?" tanya Gama yang kebetulan berpapasan dengan kami. "Ngantar pulang dulu," jawab Syuja. "Nanti aku balik kalau ada yang nyari," tambahnya datar. "Oke." "Pulang dulu ya," pamitku pada Gama, dia tersenyum dan Syuja mengajakku kembali berjalan. Sampai di depan motor, aku melepas jaket parka milik Syuja dan segera mengambil jaketku yang ada di balik helmnya. Syuja mengamatiku. Ketika dia hendak memasang resleting jaket, aku cepat-cepat menghindar dan memasangnya sendiri. "Kenapa?" "Nggak ada," jawabku yang sok sibuk meresleting jaket. "Masih mau lihat?" "Enggak." "Terus kenapa?" Aku diam dan mengambil helm. Syuja menahan tanganku dan memaksaku untuk menghadapnya. "Dari tadi mulai aku habis keliling, kamu nggak mau lama-lama lihat aku. Ada apa?" "Perasaanmu aja,” sahutku coba menghindar. "Ai'," tangannya meraih daguku dan mau tak mau aku harus melihatnya. "Apa?" tanyaku menahan suara senormal mungkin, sementara jantungku berdegup kencang. "Ada apa?" tanyanya lembut. "Kan udah dibilang, nggak ada apa-apa." "Aku bikin kamu kesal?" Aku bertahan menatapnya, lalu menggeleng "Apa ada yang ganggu kamu tadi?" Aku menggelengkan kepala lagi. Tangannya yang menyentuh daguku, turun meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia diam sembari menatapku lekat. "Katanya mau ngantar pulang??" tanyaku mencoba keluar dari suasana canggung yang aku rasakan. Syuja menarik nafas lalu menghembuskannya, yang aku tahu dia terlihat penasaran. "Maaf, malam ini nggak semenyenangkan bayanganmu," ucapnya dengan nada menyesal. Aku tersenyum tipis. Akhirnya kami pulang tanpa bicara apapun, bahkan sampai dia permisi pulang, aku memilih tak banyak bicara dan hanya memberinya senyum. Ini yang aku benci dari diriku sendiri, aku selalu tak bisa mengontrol moodku jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran. Aku sadar, moodku sedikit berubah sejak aku mendengar cerita Luthfi bahwa Syuja pulang lebih dulu saat mereka kumpul kemarin. Lalu semakin berubah saat aku melihat pameran foto. Rasa penasaran atau kecemburuanku terlihat kekanak-kanakan memang, karena itu aku tak mau banyak bicara pada Syuja tadi. Karena kalau aku dipaksa bicara saat kondisi moodku sedang tak baik, biasanya aku akan berakhir dengan menyesali perkataanku sendiri. Tapi aku juga sadar, ada sesuatu yang sedang disembunyikan Syuja dariku, entah apa itu. Aku menyalakan mp3 player, terdengar Good Girl Gone Bad milik Rihanna. Sembari mencoba menutup mata, aku menghembuskan nafas sedikit keras, berharap ada gelisahku yang akan terbawa keluar juga. Dan tiba-tiba ponselku bergetar. SyujaNiswara : 12:56 AM "Besok aku jemput." Cuma itu pesan yang dikirimkannya sejak dia mengantar pulang tadi. Aku hanya menatapnya selama beberapa detik, lalu meletakkan kembali ponsel tanpa menjawabnya. Aku tahu ada yang sedang disembunyikan, tapi apa?? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN