Dijadikan Doorprize

2087 Kata
Dua minggu sudah terlewati dan sekarang sampai pada jadwal waktu yang telah di sepakati untuk melakukan pertarungan di sepanjang jalan antara Arsa dan Regan. Hadiah taruhannya pun tidak main-main yaitu mobil Bugatti Divo yang menjadi koleksi kesayangan Arsa selama ini. Mobil itu sudah terparkir di sana yang akan menjadi hadiah dari pertarungan itu. Sedangkan Regan, dia menaruhkan bahwa jika dia kalah maka Regan akan memberitahu persembunyian Andra orang yang menyabotase mobil Arsa hingga nyaris menghilangkan nyawa seorang anak kecil, juga yang orang yang membunuh Beni saat penyerangan antar geng motor saat masih sekolah dulu. Sampai saat ini keberadaan Andra tidak pernah diketahui bahkan polisi sekalipun hingga 4 tahun berlalu. Tapi bagi Arsa ia harus tetap menemukan orang itu, dia harus membayar dari segala kebiadabannya. Dan Regan di duga mengetahui persembunyian Andra karena dulu mereka berada dalam satu komunitas. Dan itu juga tujuan Arsa menyetujui pertandingan ini bahkan mobil... Tidak ada apa-apanya dibanding dengan terkuaknya pembunuh Beni, sahabatnya. "Woah, aku tak sabar mengalahkanmu untuk mobil itu" Regan tersenyum miring. Arsa terkekeh rendah "Bacot" Desisnya pelan. *** Seorang gadis memasuki salah satu minimarket untuk membeli satu minuman soda. Hari ini sungguh melelahkan baginya. Pengunjung kafe sangat banyak hari ini, dan entah dia harus senang atau tidak. Tapi seberapa banyak apa pun pengunjung kafe gajinya ya segitu-gitu aja, jadi gak ada bedanya. Dia mendudukkan dirinya di tempat duduk yang disediakan oleh minimarket itu. Menatap jalanan yang selalu ramai sembari meminum sodanya. Pikirannya jauh melambung pada sosok pria yang menemaninya akhir-akhir ini. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihatnya. Jika sudah bilang dia seperti tertelan bumi. Bahkan akun sosial medianya saja sudah seperti mati. Gadis itu merebahkan kepalanya dengan tangan sebagai tumpuan di meja minimarket itu hingga matanya menangkap sosok yang ia kenali. Gadis itu buru-buru menegakkan badannya dan melambai pada seseorang itu. "Toni" Teriaknya melambaikan tangannya. Toni mengkerut memicing "Elina?" Elina buru-buru menghampirinya "Sedang apa kau disini?" Tanya Elina dengan asal. "Aku? Ya tentu saja mau ke minimarket, beli air mineral" Jawab Toni. "Kebetulan sekali kita bertemu, Elina" Lanjutnya memamerkan giginya. Kemudian Toni berjalan memasuki minimarket dan Elina mengikutinya "Toni, apa kau bertemu Arsa?" "Ya tentu saja, kami hampir setiap hari kumpul bersama" Ucapnya seraya berjalan ke meja kasir setelah mengambil air mineral. "Kenapa kau menanyakannya?" Tanyanya balik. "Mm tidak, aku hanya ingin tahu saja kabarnya, beberapa hari ini aku tidak melihatnya dan.... sedikit khawatir" Jawab Elina mengecilkan suara di kalimat terakhirnya. Toni meneguk air mineralnya "Dia baik dan sekarang sedang melakukan balapa–" Toni langsung membekap mulutnya sendiri, sungguh dia tidak sengaja mengatakannya. Toni tahu mereka berdua tengah dekat dan Arsa pasti tidak ingin Elina tahu dimana dia sekarang. "Apa? Apa kamu bilang? Arsa melakukan balapan? Balapan liar lagi seperti waktu itu?" Elina maju mendekat menyerbu Toni dengan pertanyaan. "T-tidak aku salah bicara tadi" Kilahnya. "Bohong, Toni aku ingin pergi ke sana" Ucapnya. "Hah? Kemana?" "Ketempat pertandingan balap itu, aku ingin melihatnya langsung, aku juga ingin memastikan Arsa baik-baik saja" Elina menggenggam lengan Toni memelas. "Maaf Elina, tidak bisa, Arsa tidak akan mengizinkan itu dan dia akan marah padaku jika membawamu ke sana" "Kenapa? Aku tidak akan menyusahkan kalian, aku hanya ingin menonton pertandingannya" Bantah Elina. "Aku mohon Toni" "Tapi Lin–" "Please..." Ekspresi Elina saat ini seperti mata tokoh kartun ketika memelas, berbinar. "Hm baiklah, tapi kau harus janji, jangan bawa-bawa aku saat Arsa marah nanti" "Janji" Ucap Elina dengan senyum lebarnya. Pada akhirnya dengan terpaksa Toni membawa Elina ke arena balap. Mobil Toni terparkir di antara mobil dan motor lainnya. Terlihat di sana sudah banyak orang berkumpul. Mereka turun dari mobil. Elina sempat bergidik melihat suasana di sana, banyak laki-laki dari kaum muda hingga tua. Tapi tak sedikit juga perempuan di sana. Dan satu yang menarik perhatian Elina. Di sana juga ada perempuan yang saat itu pergi ke kafe bersama Arsa. Dengan balutan kemeja blue dan celana jeans juga rambut yang di kucir kuda dan tas selempang yang tersampir di pundaknya Elina berjalan beriringan dengan Toni. Saat itu Arsa belum menyadari kehadirannya. Sampai Elina memanggilnya dan Arsa menoleh dengan raut terkejutnya. "Arsa" Panggilnya pelan. Arsa menoleh menatapnya kemudian tatapannya beralih pada Toni yang berjalan di sebelahnya. Arsa sudah mengira pasti sahabat berengseknya yang membawa Elina ke sini. "Kamu ngapain disini?" Tanya Arsa dengan raut dingin dan datar. Sangat berbeda sekali dari terakhir mereka bertemu. Saat berkencan waktu itu sikap Arsa begitu hangat berbeda dengan sekarang. "Aku ingin melihat kamu bertanding" Cicitnya tanpa berani menatap Arsa. "Aku tidak menyuruhmu datang kesini Elina" Desisnya. "Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padamu, dan aku ingin melihatnya langsung disini" Kali ini Elina menatap takut-takut. "Aku bukan anak kecil, lagian kamu tidak perlu mengkhawatirkanku" "Tapi aku han–" "Kak Aca, bukankah ini perempuan pelayan kafe itu?" Ucapan Elina tadi terpotong oleh Eva yang kini menggandeng tangan Arsa dan Arsa tak menolaknya. Tapi tak menjawab pertanyaan Eva, ia hanya meliriknya. "Aku tidak menyuruhmu membawanya ke sini kan!" Kali ini Arsa bertanya pada Toni. "Dia yang memaksaku Sa, dia bersikukuh ingin ikut" Elak Toni. "Toni benar, memang aku yang memaksa untuk ikut" Imbuh Elina. Dia sudah janji tadi jika Arsa marah ia tidak boleh membawa-bawa Toni. Dan tanpa mereka sadar sejak tadi seseorang tengah memperhatikan mereka dengan seringaiannya. "Wow, siapa gadis cantik ini?" Regan sejak tadi memperhatikan mereka, kini dia mendekat dan berada di antara mereka. Arsa mendengus kesal "Bukan urusanmu!" "Hai nona, boleh aku berkenalan?" Regan menyodorkan tangan pada Elina. Tapi Elina hanya melirik tangannya sebentar tanpa berniat menjabatnya. Namun Regan tampak tidak tersinggung sama sekali, dia malah tersenyum pada Elina "Sekarang aku tarik lagi kesepakatan kita, aku mau gadis ini yang menjadi doorprize pertandingan kita, jika aku menang, aku ingin setelah selesai balapan ini ada yang menghangatkan ranjang ku" Tawarnya menatap Arsa dengan seringainya. Mata Elina membelalak dan mulai menelan salivanya kasar. Lalu Elina beralih menatap Arsa yang ternyata hanya menampilkan raut datar saja. Apa dia akan menyetujuinya? Tidak! Arsa tidak mungkin setega itu padanya. Tidak mungkin kan?. "Mobil itu sudah menjadi kesepakatan kita" Jawab Arsa tanpa ekspresi. "Tapi aku tidak lagi menginginkan mobil itu, aku lebih, lebih menginginkan nona cantik itu" Jawabnya tersenyum miring. Semua orang kini tampak tegang termasuk sahabat-sahabat Arsa, mereka tengah menunggu jawabannya. "Atau, kau boleh juga menukarnya dengan Eva" Tantang Regan. "Tidak akan kubiarkan kau menyentuh adikku sedikit pun!!" Sentak Bagas tiba-tiba saat mendengar nama adiknya di sebut-sebut. Elina menatap ke dalam sorot tajam Arsa seolah memohon lewat matanya. Laki-laki itu juga menatapnya tapi tatapan itu tak bisa dibaca oleh Elina. Elina hanya bisa menatapnya seolah mengatakan katakan tidak, katakan kau tidak menyetujuinya, kumohon. Tapi yang terjadi justru... "Baiklah, dia akan menjadi hadiah kita malam ini" Jawaban dari laki-laki itu justru sebaliknya. Semua orang di sana membelalak tidak percaya dengan keputusan Arsa. "Deal?" Regan menyodorkan tangan dan sialnya Arsa menjabatnya "Deal" Mulut Elina menganga tak percaya, matanya memerah menahan tangis. Tidak sangka Arsa akan menyetujui permintaan Regan. Disini, dia di jadikan bahan taruhan, sebuah doorprize dalam pertandingan mereka, dan kini Elina menyesal telah datang ke tempat ini. Orang yang dia khawatirkan justru malah seakan menjualnya. "Arsa..." Ucapnya lirih. Tapi Arsa hanya meliriknya sejenak kemudian berjalan menuju mobilnya. Elina mengejar Arsa dan mencekal tangan Arsa saat dia akan memasuki mobilnya. "Arsa kamu tidak seriuskan? Tidak mungkin kan kamu benar-benar menjadikan ku doorprize disini? Arsa kumohon tarik kembali kesepakatannya, aku tidak mau!" Pinta Elina. "Aku tidak pernah menyuruhmu datang kesini kan? Kamu sendiri yang mau, dan aku tidak mungkin menjadikan Eva hadiah untuk menggantikanmu" Ucap Arsa begitu sarkas setelah itu dia memasuki mobilnya. Dengan air mata yang menetes "Kalau begitu, bisakah kau memenangkannya? Aku tidak mau ikut dengannya" Ucap Elina pilu. Arsa hanya menoleh sebentar lalu melajukan mobilnya. Memang atas keinginannya sendiri untuk datang ke arena balap ini, tapi bukan sebagai doorprize dari pertandingan itu yang Elina inginkan. Dia datang kesini hanya ingin bertemu Arsa dan memastikan dia baik-baik saja. Memanggil tak seharusnya Elina seperti itu, toh dia bukanlah siapa-siapanya Arsa. Tapi apakah menjadikannya sebuah hadiah dalam pertaruhan juga dapat dibenarkan? Apakah dia terlihat murah dengan mendatangi laki-laki yang disukainya hanya karena ingin bertemu? Apakah mengkhawatirkan laki-laki yang disukainya juga dikategorikan alay, murah, katro, dan berlebihan? Sakit sekali rasanya ketika Elina pernah mengira bahwa Arsa menyukainya, tapi jika dia menyukainya dia tidak akan tega menjadikan Elina sebagai hadiah pertarungan. Bahkan Arsa lebih memilih Eva. Bukan, bukan maksudku Elina berharap Eva saja yang menggantikannya. Tapi penuturan Arsa barusan seolah menegaskan bahwa dirinya tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan Eva. Layar besar di depannya yang menampilkan dua mobil yang tengah melaju saling mengejar yang di dapat dari beberapa kamera yang sengaja di pasang di sepanjang sisi jalan jiga drone agar penonton dapat menyaksikan pertandingan sengit itu. Jantung Elina bergemuruh antara takut dan cemas. Meski beberapa kali Arsa tampak lebih unggul jauh di depan Regan, tapi tetap saja Elina takut, karena kekalahan Arsa adalah malapetaka baginya. Elina terus meremas-remas jarinya dengan gelisah. Dimas yang menyadari kegelisahan mengusap bahu Elina "Kau tenang saja, Arsa pandai dan lihai dalam mengendalikan mobilnya" Elina menoleh "Kau bisa berkata seperti itu karena kau hanya penonton, sedangkan aku...aku dijadikan doorprize disini!" Desis Elina. "Aku memang melakukan kesalahan karena mendatangi tempat terkutuk ini" Desisnya lagi lebih pelan namun masih bisa di dengar Dimas. "Kurasa Arsa tidak akan membiarkanmu di bawa Regan" Jawabnya masih dengan tenang. Sementara Elina hanya berdecih. Derungan suara mobil suara mobil sudah terdengar dekat. Namun ketakutan Elina semakin memuncak saat melihat mobil Arsa berdecit dan menyeret ke arah samping kanan bahkan hampir mendekati jurang yang membuat Regan lebih unggul bahkan hingga sampai di finish mobil Arsa masih diam di pinggir sana, sepertinya mobilnya mengalami sesuatu sehingga sulit dijalankan lagi. Terdengar sorak sorai dari kubu Regan. Sebagian dari mereka turun ke jalan memberi selamat langsung. Dimas dan Toni juga menyusul Arsa di mobilnya dan kembali ke tempat finish. Mata Arsa memancarkan amarah yang begitu besar. Sedangkan Regan tertawa puas. Elina sudah tidak bisa menahannya lagi, dia menangis. Apalagi saat melihat tawa puas dari Regan. Lalu pandangannya beralih pada Arsa yang tengah menyiratkan kemarahan, entah marah karena kalah atau malu, yang jelas pasti bukan karena Elina kan? Elina bukan apa-apa disini bagi Arsa. Menyadari itu membuat Elina semakin sakit. "Jadi sekarang gadis ini resmi milikku" Ucapnya tersenyum miring seraya menarik tangan Elina ke sampingnya. "Perjanjian sebelumnya adalah mobil itu anj*ng" Bentak Dimas menunjuk mobil Bugatti milik Arsa yang terparkir di sana. Mata Elina mengikuti arah telunjuk Dimas pada mobil itu. "Oh aku tidak peduli" Ucapnya sembari mengelus sensual pipi Elina dengan telunjuknya. Elina menepisnya kasar dan berusaha melepas cengkraman tangannya. "Arsa....." Lirih Elina menatap meminta pertolongan pada Arsa yang sejak tadi hanya diam saja. "Lepaskan dia" Ucap Arsa akhirnya. "Ouh tentu saja tidak dude bukankah kita tadi sudah deal? Tak ku sangka seorang Arsala Brawijaya mengingkari perkataanya. Sangat memalukan" Ucap Regan di sertai seringainya. "Arsa, kumohon, kumohon, aku tidak mau ikut dengannya, kumohon lakukan sesuatu–aku datang kesini memang keinginanku tapi aku tidak mau ikut dengannya Arsa" Lirih Elina menangis berusaha melepas cengkaraman tangan Arsa. Elina semakin kalang kabut saat melihat lagi-lagi Arsa hanya diam saja, apalagi saat melihat Eva mendekat dan berdiri di samping Arsa. Mata Elina melirik sebentar pada mobil Buggati yang awalnya sebagai doorprize itu, kemudian pandangannya kembali pada Arsa "Apakah awalnya mobil biru itu yang menjadi hadiahnya?" Tanya Elina matanya lurus pada Arsa. "Berapa harga mobil itu huh? 1 miliar, 5 miliar? 10 miliar–" "83 Miliar sayang" Bisik Regan. "Oh wow mahal juga ya diriku, dan setara dengan mobil mewah itu, kau menyamankanki dengan mobil mewah itu kan? Berarti harga diriku senilai mobil itu? Sangat mahal hingga lebih mahal dari dua ginjalku sekali pun" Tatapan Elina berubah berkilat amarah. "Aku datang kesini karena aku mengkhawatirkanmu, laki-laki yang bukan siapa-siapa! Tapi aku dengan tidak berharganya malah dijadikan sebuah doorprize! Aku memang kaum miskin tapi aku sendiri tidak pernah berniat menjual diriku!" Teriak Elina frustasi dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Sudah sayang mari pergi dan puaskan aku" Ucap Regan menyeret paksa Elina menuju mobilnya diikuti teman-temannya. "Aku membencinu Arsa, AKU MEMBENCIMU!" Teriak Eliana sebelum di dorong masuk pada mobil Regan dan melaju pergi. Arsa masih dia dengan sorot tajam juga raut wajah yang sulit terbaca menatap lurus pada mobil Regan yang mulai tak terlihat. "Apakah kau benar-benar akan membiarkan gadis itu dijadikan mainan Regan?" Tanya Toni tak sabar. "Kurasa kau keterlaluan Sa" Timpal Dimas. Sedangkan Arsa tanpa menjawab ucapan sahabat-sahabatnya dan tanpa sepatah katapun dia berjalan menuju mobilnya dan melaju meninggalkan mereka yang masih heran dan tak tahu kemana Arsa akan pergi. Yang jelas mereka melihat kilatan amarah yang begitu kental dari raut wajah Arsa. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN