Bad Moment

1787 Kata
Seorang gadis bersurai coklat itu tengah duduk di depan cermin untuk memoles wajahnya dengan perona pipi. Sungguh, ini mungkin pertama kalinya menggunakan make up seperti ini setelah sekian lama. Biasanya hanya cukup menggunakan bedak tipis dan lip balm. Tapi sekarang, dia memakainya meskipun sebenarnya tak pandai menggunakannya. Dan perona itu tampak terlalu merah. Dia juga terlalu tebal memakai maskara, karena Elina pikir semakin tebal dan hitam maka semakin cantik, padahal ya tidak. Sekarang dia sudah siap dengan dress dari neneknya kemarin juga hils putih. Ia mencoba berputar sebentar dan tersenyum malu. Ketika tengah asyik berputar di depan cermin, tiba-tiba ponselnya berdenting. Ia melihat, itu dari Arsa. Arsala Aku ada urusan sebentar, bisakah kamu tunggu aku di taman kota, kita bertemu di sana, aku akan segera ke sana. Baiklah Elina kembali tersenyum setelah membaca pesan itu. Meskipun Arsa tidak jadi menjemputnya, tapi tak masalah, bukankah Arsa akan segera menemuinya di sana. Elina melangkahkan kakinya keluar rumah setelah berpamitan pada neneknya. Jam masih menunjukkan pukul 09:01 sesuai yang janji mereka tadi. Arsa bilang untuk menunggunya jam sembilan. Elina berjalan mengelilingi taman untuk mencari tempat duduk. Pengunjung taman wisata ini sangat banyak. Namun anehnya saat dia berjalan beberapa orang menoleh ke arahnya dan tertawa kecil, kadang juga berbisik dengan teman disebelahnya. Elina melihat penampilannya sendiri tapi dia tidak menemukan hal yang aneh. "Dasar, mungkin mereka iri melihatku" Gumamnya mendengus kesal. Setelah berjalan sebentar akhirnya ia menemukan tempat duduk. Elina mendudukkan dirinya di bangku kayu dengan di hiasi daun-daun kuning coklat yang berjatuhan dari pohon di atas bangku itu. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana, bahkan kini bokongnya terasa kebas karena terlalu lama duduk. Tapi tidak ada tanda-tanda Arsa datang. Apa dia tidak akan datang? Apa urusannya belum selesai? Apakah dia lupa? Batinnya. Orang-orang terus berlalu lalang, angin berhembus pelan menerpa wajah dan helaian rambutnya yang dibiarkan tergerai, langit yang tadinya cerah juga kini perlahan menjingga dan akhirnya berganti gelap. Tapi seseorang yang berjanji itu tidak juga datang. Namun Elina akan tetap menunggu, ia takut nanti Arsa datang kesini tapi dia tidak ada di sana. Karena bosan tanpa sadar Elina tertidur dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku itu yang sandarannya cukup tinggi. Arsa pasti datang, jadi aku akan menunggunya meski bokongku sudah sakit, ck. *** Di sisi lain, Beberapa jam yang lalu, 08:30 pagi Arsa yang sudah siap untuk berangkat menemui Elina tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh dering ponsel di saku celananya. Ia meronggoh ponsel itu dan tertera nama Evani di sana. Hallo, Eva? Ka Aca, mamah sama papah pergi ke rumah nenek karena beliau sakit, dan aku tidak bisa ikut karena aku juga tengah sakit Kamu sakit? Iya, bisakah kak Aca mengantarku ke apotek, Kak Bagas juga gak ada di rumah Baiklah, aku akan ke sana Arsa melajukan motornya menuju rumah Eva yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Arsa langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Eva saat tiba di sana. Arsa melihat Eva terbaring di kasurnya saat Arsa membuka pintu kamarnya. Arsa menghampirinya dan menempelkan punggung tangannya di dahi Eva, dan benar saja suhu tubuh gadis itu cukup tinggi. "Tunggulah di sini sebentar, aku akan membeli obat penurun panas" Arsa bergegas menuju apotek di dekat sini. Setelah mendapatkan obatnya ia segera kembali. Tapi Arsa tidak langsung ke kamar, ia terlebih dahulu menuju dapur untuk membuat bubur untuk Eva, meski tidak pandai tapi ia akan berusaha. Arsa kembali menaiki tangga menuju kamar Eva setelah buburnya siap. Dia mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. "Aku tidak tahu ini enak atau tidak, tapi anggap saja seperti itu, kau harus makan sebelum minum obat" Ucapnya, Eva hanya mengangguk menurut. Arsa menyendok bubur dan menyuapinya "Ini lumayan enak kak" Ucap Eva. "Hm, baguslah" Tak butuh waktu lama bubur di mangkuk itu sudah tandas. Kemudian Arsa memberikan obat penurun demam itu pada Eva. "Kenapa orangtuamu meninggalkanmu di saat sedang sakit seperti ini" "Kemarin saat mereka pergi, aku tidak sakit" "Lalu kapan mereka pulang?" "Katanya malam ini, kakak temenin aku ya sampai mamah papah pulang" Pintanya. "Aku tidak bisa Eva" "Kenapa? Aku gak mau sendiri kak, hanya sampai mamah sama papah pulang aja kok" Rengeknya. "Aku ada janji dengan seseorang, aku akan menyuruh Bagas pulang dan menjagamu" Dengan wajah merenggut kesal Eva mengangguk "Baiklah" Ucapnya. Arsa menghubungi Bagas untuk pulang dan menjaga adiknya. Tapi setelah beberapa panggilan, si b******k itu tidak juga mengangkat teleponnya. Arsa beberapa kali mengumpat, ia menoleh jam tangannya, sudah jam delapan lebih, dan dia bilang pada Elina untuk menunggunya jam sembilan pagi. Tapi Arsa juga tidak tega bila meninggalkan Eva ketika dia tengah demam tinggi seperti ini. Entah sudah berapa lama dia duduk di tepian ranjang menunggui Eva. Yang jelas tampak dari jendela di luar sudah mulai gelap. Arsa tidak lupa dengan janjinya bahwa mungkin saja seorang gadis lain tengah menunggunya, dan itu penyebab kegusarannya sejak tadi. Arsa memikirkan Elina, apa dia masih menunggumu di sana, atau pulang duluan karena bosan. Sial. Dia menoleh pada gadis yang terlelap memeluk tangannya, tak tega juga bila meninggalkan gadis ini seorang diri. Akhirnya Arsa menunggu Eva sampai terdengar deru mobil yang mungkin orangtuanya. Arsa perlahan melepas pelukan Eva di tangannya. Gadis itu tertidur setelah panasnya turun. Arsa kemudian melangkahkan kakinya menemui orang tua Eva dan mengatakan bahwa anaknya itu tengah sakit. Setelah itu Arsa berlalu meninggalkan rumah itu. Hari sudah gelap, Arsa kembali melirik jam tangannya, sudah jam sepuluh malam. Dan mungkin Elina sudah pulang, tidak mungkin juga dia mau menunggunya ber jam-jam. Tapi Arsa tetap melajukan motornya menuju taman kota. Setelah sampai di sana Arsa berkeliling mengedarkan berbagai mencari keberadaan Elina. Entah mengapa tapi Arsa merasa kalau Elina masih menunggunya. Dan ternyata benar, langkah Arsa yang tadi terburu-buru kini memelan saat melihat seorang gadis tertidur pada sandaran bangku. Ia berjalan menghampirinya. Lama ia memperhatikan wajah gadis cantik yang tengah terpejam itu. Tadi dia menemani seorang gadis tertidur di ranjang mewah dengan memeluk tangannya, dan disini, di sebuah bangku kayu seorang gadis lain juga tengah tertidur menunggunya. Bohong jika Arsa tidak terenyuh melihat itu. Ia mendekat ke arah Elina. "Gadis bodoh" Gumamnya saat sudah di depan Elina. Bagaimana mungkin dia masih menunggunya disini, bagaimana kalau dirinya tak datang? Apa dia akan menunggunya hingga pagi? Benar-benar bodoh. Arsa kemudian sedikit membungkuk dan mengelus pipi kiri Elina "Wake up" Ucapnya. Perlahan mata itu mengerjap dan menyesuaikan penglihatannya pada seseorang di depannya "Arsa?" Gumamnya. Arsa menoyor pelan kening Elina dengan telunjuknya "Apa kau tidak bisa menggunakan otakmu itu, huh?" Ucap Arsa. "Kenapa kau masih disini? apa kau tidak pegal? Bagaimana jika aku tidak datang? Kau akan menunggu disini hingga pagi?!" Ucap Arsa lagi dengan sedikit kesal dengan tingkah gadis ini yang membuatnya khawatir. "Iya" Jawabnya. "Aku akan menunggumu meskipun hingga pagi" "Why?" "Karena aku tahu kamu akan datang, dan buktinya sekarang kau dihadapanku, kau datang" Lama mereka saling menatap menyelami perasaan masing-masing. Sampai Arsa semakin mempersempit jarak mereka kemudian dengan sekali sentak Arsa memeluk erat gadis itu. "Maafkan aku" Ucapnya pelan. "Maaf membuatmu menunggu" Ucap Arsa lagi. Kemudian setelah melepas pelukannya Arsa ikut duduk di bangku itu, disamping Elina. "Arsa" Panggil Elina pelan. "Hm" "Tadi siang saat aku datang ke sini, beberapa orang melihat ke arahku terus dan mereka seperti menahan tawa dan berbisik" Adunya. Arsa mengerutkan kening, tapi kemudian ia memandangi wajah gadis di depannya dan memperhatikannya lalu Arsa menyunggingkan senyumnya dia baru sadar bahwa gadis itu memakai perona sangat tebal. Gadis itu memang tidak pandai merias wajah bahkan ini pertama kalinya ia melihat Elina memakai perona. Padahal gadis itu sudah cantik tanpa menggunakan itu dan bulu matanya juga sudah tebal tanpa menggunakan maskara. Arsa mengulurkan tangannya menyampirkan anak rambut Elina. Kemudian dia meronggoh sapu tangan di saku jaketnya dan menyapukan sapu tangan itu pada kedua pipi Elina, memberesihkan perona itu. "Perona pipimu terlalu merah Elina, kau sudah cantik tanpa perona" Ucap Arsa setelah perona itu terhapus sapu tangannya. Blush Pipi Elina memerah tapi kali ini bukan karena perona tapi karena malu. Jadi orang-orang tadi benar-benar menertawakannya karena ia jelek. Elina menunduk dan menautkan jari jemarinya "Aku hanya ingin terlihat cantik dan tampil feminim di depan mu" Cicitnya. "Tidak usah memaksakan, aku suka kamu yang seperti biasanya" Ucap Arsa lembut. "Sekarang ayo kita pulang" Ucap Arsa lagi. Elina menggeleng cepat "Tidak mau, aku mau berkencan" Jawabnya. "Sudah malam Elina, kita bisa melakukannya besok" "Aku ingin sekarang Arsa. Aku ingin berkencan, kau bilang kita akan pergi ke tempat yang aku sukai" Decak Elina bersikukuh dengan raut kesal. "Tapi ini sudah malam" Bujuk Arsa. "Kau bohong!" Matanya mulai berkaca-kaca. "Kau tidak benar-benar ingin berkencan denganku kan? Kau malu karena penampilanku buruk? Kemarin kau hanya bergurau saat mengajakku kencan? Aku memang bod–" Arsa menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu memotong cerocosannya, kemudian perlahan melumatnya dengan lembut. Dan Arsa berani bertaruh bahwa bibir itu benar-benar manis. "Baiklah, kita mau kemana?" Tanya Arsa kemudian. Mata Elina masih membelalak dengan jantung yang berdetak tidak normal. Elina refleks menyentuh bibirnya. "I-i-itu apa?" Elina sangat gugup, ia dulu hanya melihat adegan itu di drama-drama tapi bari saja dia merasakannya. Bahkan Elina masih merasa bibir Arsa di bibirnya. "Kau tidak pernah melakukannya?" Elina menggeleng, Arsa tersenyum kecil "First kiss?" Elina mengangguk. "Apakah aku harus berterima kasih?" Arsa tersenyum miring. Setelah menormalkan jantungnya Elina kemudian mencondongkan wajahnya pada Arsa "Karena kau yang sudah mengambilnya, maka ciuman-ciumanku seterusnya harus kau. Dan tidak ada yang boleh juga mencium bibirmu lagi setelahku" Tungkasnya seraya beranjak berdiri. "Wow, apa itu sebuah kode?" Tanya Arsa masih tersenyum miring. "Anggap saja itu bentuk tanggung jawabmu karena telah berani mengambil firs kiss ku" Arsa ikut berdiri "Baiklah, kau boleh meninju bibirku jika aku mencium perempuan lain" Ucap Arsa menunjuk bibirnya sendiri" "Huh, dengan senang hati" Elina ikut tersenyum miring padanya. "Baiklah, jadi sekarang kita akan kemana hm?" "Sebenarnya tadinya aku ingin mengajak ke suatu tempat, tapi karena ini sudah malam sepertinya kita tidak bisa ke sana sekarang" Raut Elina berubah merenggut. "Kita bisa ke sana besok" "Karnaval itu hanya ada setahun sekali Arsa!" Dengusnya. Arsa dapat melihat raut kecewa itu, dan itu karenanya "Kita bisa ke sana tahun depan" Bujuknya kemudian. "Sungguh?" Wajah Elina berbinar, itu artinya Arsa akan bersamanya hingga tahun depan? Ah rasanya senang sekali. Arsa tersenyum tipis melihat wajah berbinar itu "Iya, dan sekarang kita mau kemana?" "Sebenarnya ada karnaval malam juga di sebelah sana, tapi aku belum pernah pergi ke karnaval itu jadi tidak tahu apakah di sana sebagus tempat yang biasa aku kunjungi" Elina menunjuk salah satu tempat yang sedikit jauh dari taman itu. "Baiklah, ayo" Arsa menarik tangan Elina menuju motornya. Elina kembali berpegangan pada jaket Arsa ia masih segan untuk berpegangan pada perutnya. Ekhem, maksudnya memeluknya "Aku tidak nyaman kau menarik jaketku, jadi lingkarkan saja tanganmu di perutku" Yang sesungguhnya itu hanya modus, ck. Elina kemudian perlahan dengan canggung melingkarkan kedua tangan pada perut Arsa. Memeluknya, meninggalkan jejak senyum di wajah Arsa. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN