Mari Kencan

951 Kata
Gadis dengan rambut coklat gelap sebahu itu menoleh ke arah pintu setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi. Namun yang datang bukanlah orang yang ia tunggu. Sudah satu minggu ia melakukannya tapi tetap saja yang datang ke restauran itu buka seseorang itu. "Lin, ada apa? Kenapa kuperhatikan kau memperhatikan pintu masuk terus" Tanya Gilang menatap Elina yang terlihat murung. "Tidak, hanya suka saja" Jawabnyan asal lalu beralih membereskan meja kosong lain. Ia melirik jam di handphonenya jadulnya, sudah jam 21:04 pantas pengunjung mulai sedikit. Sebentar lagi juga restauran itu akan tutup dan itu artinya jam kerjanya telah selesai. "Aku langsung pulang kali ini, mau bareng?" Tawar Gilang kembali menghampiri Elina. "Memang Robi tidak bareng denganmu?" Robi adalah salah satu koki di restauran itu. Gilang menggeleng pelan "Sepertinya tidak" Elina mengangguk "Baiklah, aku ambil tas dulu di dalam" Ucapnya seraya berlalu. Beberapa saat kemudian Elina kembali lagi dengan tas selempang tersampir di pundaknya. "Ayo" Ajak Gilang. Mereka menuju parkiran pada sebuah motor bebek yang terlihat masih mengkilap karena Gilang baru membelinya beberapa hari lalu, hasil kredit dari gajinya. Motor melaju. Gilang sesekali tertawa, gak sia-sia dia kredit motor, akhirnya bisa juga pulang bareng gadis yang disukainya. Namun di pertengahan jalan motor itu terasa jedut jedut dan melaju tidak seimbang. "Motornya kenapa Lang?" Tanya Elina. "Tidak tahu Lin, bentar ya aku cek dulu" Gilang memelankan motornya lalu menepi. Mereka turun "Bannya bocor Lin" Ucap Gilang. "Yaaahh gimana dong" "Tau nih motor padahal beli beberapa hari udah ngadat aja" Dengus Gilang agak kesal juga. "Di depan sana ada tukang tambal, gak papa kan kalo jalan sebentar Lin?" "Yasudah, gak papa Lang" "Sorry Lin" "Tak apa, sudah, ayo biar cepat sampai" Mereka berjalan beriringan dengan Gilang yang menuntun motornya. Tidak lama cahaya dari sinar lampu kendaraan lain menyilaukan mata mereka hingga Elina memejamkan matanya. Tapi kendaraan itu berhenti di samping mereka. Sebuah motor Bobber dengan seorang pengendara dengan hel full face nya berhenti tepat di samping mereka. "Baru pulang?" Suara berat itu entah bertanya pada siapa. Tapi mereka berdua memang baru pulang kerja kan. Elina dan Gilang hanya saling pandang. Karena tidak tahu siapa orang itu. Tapi saat dia membuka helmnya Elina menjadi sedikit terkejut. Itu....Arsa. "Baru pulang?" Tanyanya sekali lagi seraya menaruh helmnya di kaca spion. Elina mengangguk "Iya" "Motormu kenapa?" Arsa beralih pada Gilang. "Kau tidak lihat, ban motorku bocor" Gilang memutar bola matanya. "Santai dude, aku hanya hanya bertanya" Ucapnya membuat Gilang semakin mendesis tak suka. "Ayo pulang denganku" Ucapnya pada Elina. "Hm?" "Pulang denganku" Elina melirik pada Gilang merasa tidak enak padanya. Gilang tersenyum "Pergilah Lin, takutnya keburu larut juga kalau kau menungguku" Ucapnya memberi pengertian. "Maaf Lang" Ucap Elina. "Tak apa Lin, cepatlah, nenekmu pasti menunggumu juga. "Buruan" Ucap suara berat itu lagi. Elina buru-buru menghampirinya "Aku tidak bawa dua helm, tak apa kan?" "Iya" Jawab Elina. Dia mulai menaiki motor itu dengan Arsa. Sampai motor melaju Elina sesekali masih menoleh me belakang pada Gilang yang tengah melambaikan tangannya. Motor itu melaju cepat hingga rambut Elina melambai-lambai tertiup angin, pegangan tangannya pada sisi jaket Arsa juga kian erat. Iya, Elina hanya berani pegangan pada jaket laki-laki itu, tak mungkin kan dia memeluknya. Namun Arsa dengan sengajanya Arsa menyentak dan mengencangkan motornya hingga Elina refleks menautkan kedua tangannya di perut Arsala. Menyadari itu perlahan Arsa menipiskan bibirnya, tersenyum. Motor itu berhenti di depan rumah yang Arsa ketahui itu rumahnya Elina. Arsa membuka helmnya kemudian menatap Elina yang sudah turun dari motornya, terlihat gadis itu tengah membenarkan rambutnya yang memang terlihat berantakan karena tiupan angin tadi. Tangan Arsa terulur untuk membangun merapikan rambut coklat yang terasa lembut di tangan Arsa. Arsa tersenyum lembut menatap manik bulat kecoklatan itu. Elina sungguh sangat-sangat gugup mendapati perlakuan dari laki-laki di hadapannya. Apalagi ketika tangan kekar itu menyampirkan helaian helaian rambutnya juga senyuman dengan tatapan mata tajamnya seakan menusuk ke jantungnya meninggalkan detak yang terlampau cepat. "Mari kencan" Kata Arsa setelah menurunkan tangannya dari rambut Elina. "Hm?" Elina bergumam bertanya takut pendengarannya salah. "Mari berkencan besok" Ucapnya lagi. "K-kemana?" Gugup Elina. "Ke tempat yang kamu suka, kau yang memandunya" "Y-y-ya baiklah" "Good night" Setelah itu Arsa kembali melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Elina juga dirinya yang masih berdiri memegang dadanya yang sangat berdebar cepat, bibir Elina tak berhenti senyum-senyum. Kencan? Dia mengajakku berkencan? Berdua? Dengannya? Elina berlari ke dalam rumahnya dengan bersenandung ria. "Lina? Ada apa denganmu nak?" Tanya neneknya heran. "Ehehe, gak papa nek cuma lagi seneng aja" Jawabnya menyengir kuda lalu berlalu memasuki kamarnya. Elina merebahkan sebentar tubuhnya di atas kasur tapi dia teringat sesuatu. Dres? Dia tidak punya dress atau baju terusan yang feminim. Selama ini dia hanya punya baju setelan biasa. Elina kembali membuka pintu kamarnya lagi membuat neneknya yang baru menyeruput teh di sofa ruang tengah sedikit terkejut. "Nek, nenek punya dress? Atau baju terusan gitu?" Elina menghampiri neneknya itu. "Ada apa Elina, bicara pelan-pelan" Elina menggaruknya kepalanya tak gatal "Hehe, gini nek, sebenarnya Lina mau um ituuu umm....kencan" Cicitnya. Neneknya tersenyum geli "Memangnya mau kencan dengan siapa hm?" "Pangeran berkuda putih" Jawabnya asal. "Kamu ini ada-ada saja, tapi sepertinya nenek punya dress seperti itu, sini" Neneknya mengajak Elina ke kamarnya. Lalu neneknya membuka sebuah lemari, mengambil baju yang terlipat rapi lalu memberikannya pada Elina. "Dulu, nenek juga memakai dress ini saat kakekmu mengajak nenek piknik" Ucapnya "Mungkin dress ini tak akan cocok dipakai untuk kencanmu, tapi hanya ini dress yang nenek punya" Lanjutnya dengan suara rendah. Elina tersenyum, hatinya begitu terenyuh "Tak apa nek, aku akan memakainya besok, terima kasih nek" Ucapnya memeluk neneknya. Setelah itu Elina kembali ke kamarnya menanggalkan bajunya dan mencoba dress yang diberikan neneknya barusan. Dia berdiri di depan cermin, sebuah dress summer flower dan menurutnya dress ini lumayan bagus meski tak sebagus itu. See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN