Who?

1163 Kata
Arsa membuka layar handphonenya. Terdapat lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab juga pesan belum dibaca dari bundanya. Wanita itu memang akan heboh jika dia tidak pulang ke rumah, apalagi kemarin Arsa tidak izin untuk menginap. Bundara Aca? Aca? Arsa! Pulang! Dimana kamu! Pulang cepat!. Iya bundaaaa Begitu sebagian isi pesan dari ibunya, yang jelas yang lainnya banyak sekali sejak semalam. Melirik Dimas yang masih tidur, Arsa mengambil kunci mobil laki-laki itu di meja, lalu meluncur mencuri mobilnya eh maksudnya meminjam. Izin pada sahabatnya, bagi Arsa tak berlaku. Setengah jam kemudian ia tiba di pekarangan rumahnya. Namun di halaman terparkir satu mobil lagi yang pasti itu bukan mobil ayahnya atau bundanya. Arsa mengedikan bahu tak peduli, lalu memasuki rumah. Namun baru di ambang pintu bundanya sudah menghampirinya dengan senyum sumringah membuat Arsa mengkerut heran. "Ada apa, bunda?" Bingung Arsa. "Sini deh, bunda liatin siapa yang datang" Nara menarik menggandeng Arsa menuju ruang tamu. Dapat Arsa lihat dari belakang Surai hitam membelakanginya. Perasaan bertanya-tanya Arsa terjawab saat seseorang itu berbalik dan tersenyum merekah padanya. "Kak Aca" Pekiknya. "Eva?" Balas Arsa, gadis itu mengangguk lalu beranjak menghampirinya dan memeluk Arsa erat. "Eva rindu kak Aca" Ucapnya di balik punggung Arsa. "Aku juga" Lalu mereka mengurai pelukan mereka. "Setelah 8 tahun tidak bertemu, dan kamu baru menemuiku setelah 3 bulan aku disini?" Decak Arsa. Eva menyengir kuda "Hehe, maaf kak, aku lagi persiapan ujian akhir, terus aku juga harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk bertemu denganmu" "Alasan" Arsa mencubit pipi lembut Eva. Gadis itu semakin cantik dan menggemaskan mengundang rasa dahulu hadir lagi. Nara dan Dian terharu melihat pertemuan anak-anak mereka setelah sekian lama. Evani atau Eva adalah putri kedua Dani dan Dian. Arsa dan Eva sangat dekat karena sejak kecil mereka tinggal bersama meskipun tidak serumah, tapi jarak dari rumah Dani ke rumah Rain cukup dekat hingga setiap hari mereka main bersama entah Arsa yang mendatangi rumah Eva atau Eva yang mendatangi rumah Arsa. Namun mereka tidak pernah bertemu lagi saat lulus high school Arsa memutuskan untuk kuliah di universitas impian bundanya dulu, Jerman. "Kak, ayo berkeliling, aku ingin dibonceng kaka lagi" Sahut Eva antusias. "Maaf Eva tapi motornya–" "Boleh-boleh kalian pergi saja" Nara mencubit pinggang Rain memberi kode untuk mengembalikan motor Rain. "Sakit sayang" Desis Rain. "Iya, iya, Jup ambilkan motor Arsa di gudang belakang" Perintah Rain pada Jupri, supir pribadinya. "Tapi pelan-pelan ya, kaki Arsa belum sembuh total" Pinta Nara. Tetap saja di khawatir dengan putranya itu. Arsa dan Eva berlalu meninggalkan para orangtua yang kembali asik mengobrol membicarakan ini dan itu, tentang perjodohan mungkin. Sebenarnya Arsa malas memakai barang yang sudah diambil ayahnya, tapi melihat keantusiasan Eva, Arsa mengesampingkan egonya. Dia juga rindu berkeliling kota bersama gadis kecil ini. *** "Kak, mari berhenti disana, aku ingin makan sebentar" Eva menunjuk sebuah restauran kecil di pinggir jalan. Arsa membelalakkan mata saat menyadari arah tunjukkan Eva. Tidak mungkin mereka ke sana. Itu tempat kerja Elina. "Kita cari tempat lain ya" Tawar Arsa. "Aku sudah sangat lapar kak, lagian kayanya makanan di sana enak deh terlihat dari pengunjungnya yang banyak" "Tapi–" "Kak Aca...." Eva memelas. "Baiklah" Arsa mendesah pasrah. Lagipun mungkin Elina hanya bekerja sore hingga malam, jadi siang mungkin dia gak kerja. Mungkin. Eva menarik pelan tangan Arsa memasuki restauran itu dan mengambil duduk di salah satu meja di sana. "Mbak" Panggi Eva pada pelayan di sana. "Iya, mau pesan apa" Jawab pelayan itu dengan senyum ramahnya. Arsa menelan ludah kasar, suarara itu, suara lembut itu, itu suara Elina. Dan saat Arsa mendonggak menoleh, benar saja itu Elina. Ternya dia bekerja siang hari juga. Elina sama terkejutnya dengan Arsa, perlahan senyum ramah itu memudar saat menyadari bahwa Arsa bersama seorang gadis cantik yang Elina perkirakan mungkin seumuran atau sedikit lebih mudah darinya. "Elina" Gumam Arsa pelan. "Kalian kenal? Kamu kenal dengan Aca?" Sahut Eva membuyarkan mereka yang tadi sempat saling tatap. Elina menggeleng "Tidak, silahkan tuan, nona, kalian mau pesan apa?" Elina mengembalikan ekspresinya dan tersenyum kembali pada mereka. Sedangkan Arsa masih menatapnya. "Oh kirain kenal, aku pesan chicken mozarella dan puding strawberry, minumnya thai tea" Ucap Eva. "Kamu apa?" Tanyanya kemudian pada Arsa. "Samakan saja" Jawabnya mengalihkan pandangan pada arah lain. Elina mengangguk dan berlalu untuk membawa pesanan mereka. Sesekali Arsa menoleh ke arah Elina, merasa tidak nyaman dengan suasana saat itu. Tapi Arsa juga tidak bisa mengabaikan gadis di depannya ini. Bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan Eva dan sekarang dia bisa berbincang dengannya lagi. Rasanya tidak etis juga jika Arsa mengacuhkannya. Sejak tadi sembari menikmati hidangannya Eva juga adik berceloteh tentang ini itu dan bertanya apa saja yang ingin ia ketahui pada Arsa. Arsa juga tak tahan untuk tidak tertawa mendengar celotehan gadis di depannya apalagi dia bicara dengan lucu. Dan disisi lain, gadis lain memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat sangat-sangat akrab. Usai mengantar pesanan ke meja itu. Elina menatap keduanya dari meja bar. Mereka terlihat menikmati kebersamaannya. Arsa juga memperlakukan gadis itu dengan sangat manis, beda dengan saat bersama dirinya yang terkesan cuek, datar, dan angkuh. Bahkan semenjak meminta nomor ponsel pun Arsa ternyata tidak menghubunginya sama sekali untuk sekedar bilang hallo misalnya. Dan apa ini? Rasa apa ini? Mengapa Elina merasa tidak nyaman dengan suasana ini. Tuk Elina mengetuk kepalanya sendiri. Sadar Elina apa-apaan kau ini, kau tidak boleh merasa seperti ini, ayolah kau baru bertemu dengan pria itu beberapa kali jadi tidak usah berharap lebih. Pikirnya Setelah mengenyahkan pikirannya, Elina kembali pada pekerjaannya. Daripada memikirkan sesuatu yang tidak jelas. Sampai gadis yang bersama Arsa itu memanggilnya lagi. "Mbak" katanya. Cih. Emang dia mbak-mbak? Meskipun begitu, Elina tetap menghampiri meja itu dengan senyum ramah lagi yang ditampilkan. "Iya...?" "Kenapa di pudingnya ada beberapa semut kecil?" Tanya Eva dengan raut sedikit kesal. Elina membelalak saat melihat puding yang di pegang gadis itu memang ada semutnya. Tapi itu diluar pekerjaannya. Elina juga tidak tahu kalau puding itu ada semutnya karena bukan dia yang memasaknya. "Maaf nona saya tidak tahu" Ucap Elina pelan. "Gimana sih mbak, kok jorok? Padahal pengunjung disini rame, seharusnya di cek dulu dong sebelum di suguhkan pada pelanggan" Dengus Eva kesal. "M-maaf" Cicit Elina. "Sudahlah Eva, tidak perlu dibahas lagi, kamu bisa memakan pudingku" Bujuk Arsa. "Gak mau Ca, aku mual bahkan rasanya aku ingin memuntahkan makanan yang sudah masuk ke perutku, tempat ini sangat jorok Aca, seharusnya kita tidak makan disini" Rengek Eva. "Ada apa Elina?" Gilang, teman sesama pelayan restauran menghampiri mereka. "Puding itu ada semutnya Lang" Cicit Elina pada Gilang. Gilang melirik puding itu "Tapi nona, Elina juga tidak tahu soal itu, karena bukan dia yang menyiapkannya" "Tetap saja kalian juga harus memeriksanya terlebih dahulu" "Eva, sudahlah tidak usah dibuat ribut" Arsa sedikit jengah dengan keadaan itu. "Sekali lagi saya mewakili semua pekerja disini meminta maaf" Ucap Elina lagi membungkuk memberi hormat. "Sudahlah, ayo pulang" Arsa menarik tangan Eva untuk pergi dari sana sebelum semakin runyam lagi. Arsa Rasa Evani terlalu berlebihan hanya karena perkara semut. Elina menatap nanar keduanya yang mulai meninggalkan restauran itu meninggalkan bunyi lonceng di ambang pintu. See you
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN