"Kita langsung pulang atau ke markas dulu?" Tanya Bagas, markas yg dimaksud adalah Paddock yang menjadi markas mereka karena hampir seluruh waktu mereka Habiskan di sana selain mengurus mobil-mobil balap tentunya.
"Paddock, aku juga harus melihat perkembangan mobil itu, apakah Rama bisa membuat mobil itu sehebat mobilku yang dulu" Jawab Arsa.
"Okay, kita ke sana sekarang" Sahut Toni.
"Tunggu aku di mobil, ada yang mau ku lakukan dulu" Ucapnya pada mereka.
"Ooh ada yang mau pendekatan nih...." Beo Toni sembari berlari terbirit keluar setelah mendapat tatapan tajam dari Arsa.
Setelah teman-temannya sudah benar-benar keluar dari area restauran, pun Arsa menghampiri Elina yang tengah melap meja-meja yang sudah kosong lalu merapikankannya lagi. Dan tanpa permisi Arsa mendudukkan dirinya di kursi yang mejanya tengah dibereskan.
"K-kamu ngapain?" Elina sedikit tersentak mendapati Arsa tiba-tiba duduk di sana.
"Duduk" Jawab Arsa santai.
"Iya aku tahu, tapi bisakan kamu duduk di meja lain? Meja ini sedang aku bersihkan"
"Minjem handphone" Arsa menyodorkan tangannya meminta ponsel Elina dan tak menghiraukan ucapan Elina sebelumnya.
Elina semakin terbelalak "B-buat apa?"
"Bisakah berikan saja, aku tidak akan mencuri ponselmu" Decaknya.
Elina menatap jengah lalu menyodorkan ponselnya yang masih terlihat jadul, tapi bersyukur saat membuka brandanya handphone itu sudah mempunyai aplikasi yang Arsa butuhkan.
Cklik
Arsa memotret dirinya sendiri lalu Ting dia mem-posting fotonya itu di akun Instagramnya Elina dan men-tag dirinya sendiri, tujuannya agar Arsa tahu akun media sosialnya Elina. Tidak hanya itu Arsa juga mencatat nomor handphonenya dan menyimpannya di kontak ponsel Elina.
Setelah selesai Arsa mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya dan berlalu begitu saja tanpa bicara lagi.
Elina segera mengecek layar handphonenya dan kembali melotot saat melihat foto Arsa bertengger di salah satu akun media sosialnya.
"Apa yang kau lakukan kau benar-benar lan–" Baru saja Elina melayangkan protes tapi Arsa keburu memotongnya dengan ponsel yang di genggam Elina tiba-tiba berdering.
"Tidak usah marah-marah, kau itu sudah jelek dan akan tambah jelek jika terus marah-marah. Oh ya, pengikut akunmu akan semakin banyak jika ada gambarku di sana" Ucapnya di seberang telepon disertai kekehan. Elina menatap punggung laki-laki itu yang tengah berjalan semakin jauh keluar dari restauran. Tanpa sadar perlahan kedua bibirnya melengkung ke atas.
***
Mereka tiba di bengkel saat mendekati larut. Di sana juga tidak sebanyak biasanya hanya beberapa pekerjaan bengkel.
Arsa menghampiri Rama, salah satu montir kepercayaannya dalam menangani mobilnya "Gimana Ram, udah persis seperti mobil lamaku?"
Rama beranjak berdiri menunda pekerjaannya dulu "Shuuhh sudah sih, tapi belum sepenuhnya, ayolah Sa, mobil lama kamu tidak ada tandingannya"
"Lagian kenapa gak bujuk aja papah kamu Sa supaya balikin mobil kamu" Sahut Bagas.
"Iya, atau minta bunda kamu buat ikut ngebujuk dia kan kelemahan papah kamu" Imbuh Dimas.
Arsa menggeleng "Aku tidak mau memakai barang yang sudah diambil ayahku" Ucapnya seraya mendekat ke arah mobil barunya dan melihat-lihat mobil itu.
"Aku ingin besok mobil ini sudah sempurna" Tungkasnya seraya berjalan ke arah mobil Dimas untuk beranjak dari bengkel.
"Kau akan uji coba mobil itu besok Sa?" Tanya Toni setelah mereka berada di dalam mobil menuju apartemen Dimas.
"Sepertinya begitu"
"Kakimu?" Beo Bagas.
"Ck, aku tidak selebay itu"
Tiba di perempatan jalan mata Bagas tak sengaja menangkap seseorang berlari-lari di pinggir jalan dan dia tidak sendiri, ada tiga pria berbadan berotot mengejarnya. Dimas melambatkan laju mobilnya. "Sa, bukannya itu gadis pelayan restauran tadi?"
"Elina?" Sahut Toni.
Arsa mengikuti arah pandang Dimas ke arah depan pada perempuan yang tengah dikejar-kejar tiga orang pria itu.
Tanpa pikir panjang Arsa membuka pintu mobil dan menghadang jalan mereka di trotoar. Elina yang sejak tadi berlari sembari sesekali menoleh ke belakang tidak mengetahui seseorang yang berdiri di depannya hingga dua menubruk orang itu.
"Aww" Elina memegang dahinya mengaduh kesakitan. Elina mendonggak melihat orang itu dan ia mengerjap saat mengetahuinya orang itu adalah Arsa dan dia juga tengah menatapnya.
Arsa mengalihkan pandangannya dari Elina dan segera menarik Elina ke belakang tubuhnya saat melihat ketiga pria berbadan besar itu sudah semakin dekat.
"Siapa kau? tidak usah menghalangi kami!" Ucap salah satu dari mereka.
"Mau apa kalian?" Arsa menatap mereka dengan raut tenangnya.
"Tidak usah ikut campur, kami hanya ada perlu dengan gadis itu" Tunjuk yang lainnya pada Elina.
Elina meremas ujung jaket Arsa, menyalurkan rasa takutnya sembari sesekali menengok ke arah tiga pria itu dengan meringis dari balik punggung Arsa.
"Ada perlu apa kalian dengannya?"
"Tidak usah banyak tanya, menyingkirlah!" Bentak satunya lagi.
Salah satu dari mereka yang sudah kesal langsung maju menyerang Arsa, untungnya Arsa dengan sigap menangkis tinjuan pria itu yang hendak di layangkan pada pipi kirinya.
"Menjauh!" Sentak Arsa pada Elina.
Setelah Aras memberi pukulan pada itu, kedua temannya ikut menyerang Arsa. Teman-teman Arsa yang sejak tadi hanya memperhatikan di mobil kini ikut turun untuk menghajarnya mereka saat melihat ketiga orang itu sudah menyerangnya Arsa.
Meski rak selincah biasanya saat berkelahi karena kakinya yang masih sedikit sakit tapi Arsa masih bisa menghalau atau bahkan memberi pukulan pada mereka.
Namun salah satu dari mereka menyadari kelemahan Arsa pada kakinya untuk saat ini hingga orang itu menendang kaki Arsa dengan keras hingga Arsa mengerang.
"Argghh" Teman-temannya menoleh termasuk Alina yang membekap mulutnya dan menghapiri Arsa yang tengah tersungkur.
"Lin, bawa Arsa ke mobil, biar kami yang menghadapi mereka" Dan sekarang jadilah tiga lawan tiga. Meskipun tampang tiga pria itu menyebalkan tapi kemampuan berkelahinya lumayan juga hingga Dimas, Bagas, dan Toni sedikit kewalahan.
Elina memapah Arsa ke kursi belakang, membantunya untuk duduk. "Kamu tidak papa?" Tanyanya, lagi-lagi gadis ini bertanya dengan pertanyaan itu lagu seperti waktu itu.
"Ini kedua kalinya kau membuat kakiku terluka" Ucap Arsa tak mengindahkan pertanyaan Elina.
Tidak lama ketiga temannya sudah kembali ke mobil dengan napas yang ngos-ngosan. "Bagaimana mereka" Tanya Arsa langsung.
"Lari tuh terbirit-b***t" Jawab Toni dengan napas yang memburu.
"Banci memang" Imbuh Bagas.
"Elina, kenapa kau bisa dikejar-kejar dan siapa mereka?" Tanya Dimas.
"Mereka rentenir" Jawabnya.
"Kau berhutang pada mereka?" Kali ini Toni yang bertanya, dan Elina hanya mengangguk pelan. Baik Arsa ataupun yang lainnya tidak melanjutkan bertanya, menurut mereka itu urusan pribadi Elina.
"Kenapa pulang selarut ini?" Arsa menatapnya.
"Jam pulang kerja ku memang jam segini" Beonya.
"Dimana rumahmu?" Lanjut Arsa.
"Jl. X, no 36"
"Kita antarkan Elina dulu" Ucap Arsa pada Dimas.
Setelah beberapa menit mobil mereka memasuki alamat yang disebutkan Elina. Sebuah perumahan pinggiran kota. Meskipun layak ditempati tapi menurut mereka berempat yang notabenenya anak orang kaya, menurut mereka tempat itu cukup kumuh
Mereka tiba di depan rumah sederhana Elina "Ini rumahku, kalian mau mampir?"
"Jika kau mengizinkan tentu saja bol–"
"Tidak usah, kami akan langsung pulang" Arsa segera memotong ucapan Toni membuat dia merenggut tak suka.
"Baiklah, terimakasih tumpangannya" Ucap Elina lagi seraya beranjak turun dari mobil.
Elina keluar dari mobil kemudian merendahkan tubuhnya membungkuk pada kaca mobil untuk melihat ke dalam "Terimakasih karena telah membantuku" Ucap Elina pada mereka. "Dan Arsa terimakasih sudah menolongku dan maaf untuk luka kakimu lagi" Ucapnya tersenyum pada Arsa senyum yang menurut Arsa sangat manis.
"Hm" Hanya itu balasan Arsa tanpa ikut tersenyum, padahal dalam hati dia sangat gugup dan senang mendapati senyum tulus Elina. "Jalan" Ucapnya pada Dimas.