Brakkk
Satu pas bunga menjadi sasaran amukan Rain-ayahnya karena kejengahan pada putra satu-satunya itu.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini ARSA! Jika kau tidak mau menurutiku, setidaknya turuti bundamu!" Teriak Rain menggebu-gebu penuh dengan emosi sementara yang dimarahi hanya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan santainya. Dan ibunya yang tengah meringis melihat amukan suaminya. Arsa baru pulang dari rumah sakit setelah dari kantor polisi tadi.
"Sekarang motormu papah sita!" Lanjut Rain sedikit memelankan suaranya namun masih terdengar tajam.
Arsa membuka matanya dan menegakkan tubuhnya "Semuanya saja papah sita! Mobil balap, mobil pribadi, motor, sekalian saja hak hidupku juga sita!" Sentak Arsa seraya berdiri kemudian beranjak menaiki tangga memasuki kamarnya dengan tertatih-tatih.
"Aca, sayang" Ringis ibunya. Kemudian ia beralih menatap suaminya.
"Kau keterlaluan! Selalu saja meneriaki Arsa seperti itu, apa kau tidak tahu dia sedang kesakitan!" Terdengar lirihan kesal bundanya yang ditujukan pada ayahnya itu.
"Sayang, justru karena sikap kamu yang seperti inilah hingga dia menjadi pembangkang seperti itu" Itu suara ayahnya.
Setelah itu Arsa tidak mendengar lagi percakapan mereka karena dia sudah memasuki kamarnya.
Selang beberapa saat pintu kamarnya terbuka menunjukkan wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tidak lagi muda. Dia tersenyum menghampiri putranya di tepian ranjang, duduk di sampingnya.
"Tidak usah diambil hati ya, papah bilang seperti itu karena dia menyayangimu" Nara mengelus belakang kepala Arsa.
"I know" Jawab Arsa tanpa menatap ibunya.
Nara menghela napas "Nanti bunda akan bicara tentang motor dan juga mobil balap mu, hm"
Arsa menoleh "Tidak perlu bunda, aku sudah tidak ingin memakai barang yang sudah diambil papah, aku bisa meminjam mobil temanku, yang pasti aku tidak akan berhenti dari hal yang aku sukai. Lagi pula itu hanya sekedar hobi. Aku bisa mengatur waktu. Saat waktunya kuliah aku kuliah dengan baik seperti yang papah inginkan" Tungkasnya.
"Ya sudah, jika sudah seperti ini bunda tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berharap kamu sedikit berubah" Terdengar helaan nafas lagi dari Nara "Sekarang tidurlah, kaki mu juga perlu diistirahatkan"
Setelah mengatakan itu ibunya berlalu dari sana. Dan Arsa hanya merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya.
Tidak ada yang salah dari keinginan orangtuanya untuk menjadikan dia penerus dan pengusaha seperti ayahnya, tapi itu sangat bukan dirinya. Arsa tidak suka dunia bisnis, dia tidak suka dengan pekerjaan yang selalu berpakaian formal itu, ia tidak suka terkekang waktu. Arsa suka dengan hidupnya yang bebas, ia tidak suka tertekan, ia lebih suka menghasilkan uang dengan yang ia sukai, lagipun itu bukan pekerjaan haram. Ia pun bukan hanya seorang pembalap liar, ia juga mengikuti kompetisi-kompetisi balap internasional dan ia hampir selalu memenangkannya. Tapi tetap saja dan ibunya tidak pernah menyukai itu apalagi mendukungnya.
***
Pagi-pagi sekali, bahkan mentari saja baru menampakkan diri dengan cahayanya yang masih sedikit orange Arsa menuruni tangga perlahan di bantu tongkat untuk menopang tubuhnya dengan perban yang masih tersampir melilit kakinya.
Arsa tahu orangtuanya sedang berada di meja makan menunggu dirinya tapi Arsa hanya melewatinya begitu saja. Namun, Nara yang menoleh ke arahnya segera menghampiri putranya itu.
"Arsa, sini bunda bantu" Ucap Nara memegang tangannya. "Kita sarapan ya" Lanjutnya.
"Terimakasih bunda, tapi Arsa akan pergi keluar"
"Dengan keadaan kamu yang seperti ini?"
"Aku tidak papa bunda" Arsa meyakinkan bundanya.
"Turuti bundamu Arsa, papah juga tidak mengizinkan kamu pergi keluar sebelum kakimu pulih" Itu suara Rain. Meski masih kesal tapi ia juga khawatir dengan keadaan anaknya itu.
Arsa hanya menoleh sebentar pada ayahnya kemudian kembali beralih pada ibunya "Arsa pergi dulu bunda" Ucapnya mengecup kening ibunya tak menghiraukan larangan orangtuanya, lalu pergi dengan sedikit tertatih.
"Arsa" Desah Nara lemah menatap putranya yang mulai meninggalkan mansion.
Taksi online yang dia pesan sejak tadi sudah bertengger di depan mansion. "Jalan pak" Ucap Arsa. Tujuannya sekarang adalah apartemen Dimas. Main di rumah teman-temannya rasanya lebih menyenangkan daripada diam di kamar seharian.
***
Tinn nuuun
Tidak lama Dimas membukakan pintu untuknya. Di dalam ternyata sudah ada dua teman lainnya. Bagas, Toni, dan tentu saja Dimas.
"Kakimu kenapa Sa?" Tanya Dimas saat dia baru membuka pintu.
"Jatoh" Jawab Arsa singkat lalu melengos masuk melewati pintu tanpa menunggu sang tuan rumah mempersilahkan.
"Kaki kau kenapa Sa?" Sergah teman-temannya langsung.
"Jatoh" Lagi-lagi hanya itu jawaban Arsa.
"Kapan? Dimana?" Toni yang nanya.
"Kemarin pas dikejar polisi" Usai menjawab itu Arsa langsung merebahkan dirinya di sofa panjang di ruangan itu.
"Kaki lo sampai diperban gitu Sa" Ucap Toni.
"Berarti bulan depan lo gak bisa nerima taruhan Regan dong?" Sahut Bagas.
Arsa terkekeh sinis "Tentu saja aku menerimanya"
"Dengan keadaan lo yang kaya gini?" Tunjuk Bagas pada kakinya.
"Si cungur itu akan makin ngelunjak kalau aku nolak" Jawab Arsa mendudukkan dirinya.
Mereka larut dalam obrolan di temani cemilan, kacang tanah, dan beberapa soda dan minuman kaleng lainnya. Hingga memasuki siang Arsa merasa tubuhnya sangat lelah dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa memejamkan matanya.
Ingin rasanya dia juga tinggal di apartemen seperti Dimas, tapi bundanya tidak pernah mengizinkan meskipun Arsa juga memiliki apartemen pribadi.
Perbincangan dan gelak tawa teman-temannya tak lagi ia dengar, Arsa jatuh tertidur.
Hingga entah sudah berapa lama ia tertidur, sampai terasa guncangan di tubuhnya serta samar-samar suara Dimas.
"Sa, bangun Sa"
Arsa menggeliat mengerjapkan matanya. "Bangun udah malem" Ucap Dimas.
"Gila, lama banget kau tidur, dari sejak siang tadi" Sahut Bagas.
"Jam berapa ini?" Ucap Arsa serak.
"Jam 19:00 bangun cepat kita mau keluar" Ucap Dimas menepuk kencang paha Arsa.
"Kemana?" Beonya.
"Cari makan emang kamu gak lapar?"
Ah iya, Arsa baru ingat sejak tadi pagi ia belum makan, hanya makan cemilan Dimas tadi siang dan langsung tidur.
Arsa beranjak dan mereka melenggangkan menuju parkiran dan melaju mencari tempat makan yang menurut mereka enak dan nyaman.
***
Hanya butuh waktu 20 menit untuk berkeliling mencari tempat makan akhirnya mereka menemukan tempat yang pas.
Sebuah restauran cepat saji yang tidak terlalu besar tapi di datangi banyak pengunjung.
Mereka memilih duduk di meja paling pojok dekat jendela.
Seorang pelayan laki-laki menghampiri mereka, setelah Dimas menyebutkan menu-menunya pelayan itu mengangguk dan pergi.
Tidak butuh lama, seorang pelayan perempuan membawa nampan menu pesanan mereka.
Mata Arsa sedikit memicing saat melihat siapa pelayan itu. Gadis itu? Pikirnya.
"Selamat menikmati" Gadis itu tersenyum ramah meletakkan beberapa hidangan.
"Kau?"
Gadis itu menoleh pada Arsa yang tengah menatapnya tajam. Gadis itu gelagapan gugup mendapati bertemu lagi dengannya. Dia langsung membalikkan badannya setengah berlari meninggalkan meja pemuda-pemuda itu.
"Dia siapa? Kau kenal?" Heran Dimas.
"Dia gadis bodoh yang hampir kutabrak hingga aku banting stang dan berakhir tertimpa motor" Jawab Arsa dingin.
"Wah untung gak kelepasan kamu Sa, tapi ngomong-ngomong dia cantik banget, ya meskipun hanya seorang pelayan" Beo Toni.
"Gadis bodoh!" Decak Arsa di sertai kekehan.
"Kenapa?"
"Dia bilang mau minta bantuan tapi malah bawa dua polisi sialan yang ngejar kita itu ke hadapanku dan mereka membawaku ke kantor polisi"
"Pppt bhahahaha" Ketiga temannya tergelak puas membuat Arsa semakin berdecak.
Tapi memang benar, gadis yang entah siapa namanya itu benar-benar cantik, bahkan tanpa sadar sedari tadi Arsa terus memperhatikannya yang sibuk melayani pembeli. Dia juga sesekali melihat ke arah Arsa meski dengan raut takut takut.
Empat pemuda itu asik berbincang sembari menikmati makanan mereka yang memang sangat lezat, Arsa akui tidak kalah dengan restauran-restauran mewah. Sampai mereka mendengar suara kencang melengking seorang wanita di meja lain.
Keempatnya menoleh ke arah sumber suara itu dan terlihat seorang perempuan berambut pirang memaki-maki gadis pelayan itu.
Gadis itu tidak diam saja, dia melawan perempuan yang sedikit lebih tua darinya. Gadis itu membalas setiap lontaran makian wanita itu hingga terlihat sang perempuan berambut pirang menuangkan jus ke kepala gadis pelayan itu, sampai warna merah dari jus itu membasahi baju seragam resaturannya.
Entah kenapa dan karena apa melihat hal itu membuat Arsa ingin menghampirinya, melangkahkan kaki menuju meja itu dengan sedikit tertatih.
Lalu setelah tepat berada di samping gadis itu, Arsa mengambil jus lainnya dan menuangkan jus orange itu ke kepala perempuan berambut pirang, persis seperti yang dilakukan perempuan itu pada gadis pelayan.
Perempuan berambut pirang itu membelalak membuka mulutnya tak percaya termasuk teman-temannya yang shok melihat itu. Sementara Arsa hanya tersenyum miring.
Arsa beralih menatap gadis pelayan di sampingnya lalu mengambil tisu di meja itu dan mengusapkannya pada wajah gadis itu yang tersiram jus. Gadis itu hanya menatapnya gugup, dan Arsa menipiskan bibirnya tersenyum tipis padanya.
"Sialan, berengsek berani-beraninya kau!" Teriak perempuan berambut pirang.
Arsa tidak mendengarkan, menarik tangan gadis itu dan melenggang meninggalkan meja perempuan itu.
"T-terima kasih" Ucap gadis itu setelah mereka tiba di meja tempat duduk Arsa tadi. Setelah itu gadis itu beranjak. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Hey, siapa namamu?" Itu bukan suara Arsa, itu Toni yang bertanya.
Gadis itu berbalik "Ellina" Jawabnya, lalu melirik sekilas pada Arsa yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca.