"Hai, Dokter Aurora. Bagaimana kabarmu sekarang?" "Sangat baik, Pak." Aku menjawab dengan canggung dan bingung, karena pria di depanku ini terlihat sangat sok akrab denganku. Seolah pertemuan kami ini bukanlah pertemuan pertama yang aku ketahui. Apakah aku telah melewatkan atau melupakannya sesuatu? Tiba tiba pria itu tertawa, membuat aku semakin mengernyit tak paham. Apa apa dengan dirinya? Apa dia em,, sedikit gila? "Dilihat dari ekspresimu, sepertinya kamu telah melupakanku," celetuk ayah pasien yang bernama Fabian itu. Aku semakin memandang tak mengerti. "Maaf?" tanyaku meringis. Aku bukan tipe orang yang mudah melupakan seseorang, tapi wajah orang di depanku ini tampak begitu asing di ingatanku. Sungguh! "Saya Fabian Adelard. Ayah Caca," ucap pria itu, membuatku termenung sejena

