Aku mengerjapkan mata pelan saat merasakan kepalaku yang berdenyut sakit dan seperti baru saja dihantam oleh godam besi dengan berat berton ton. Mataku terasa berat untuk terbuka, tapi hawa dingin yang menusuk kulitku terasa menyerap sampai ke tulang tulang. Kepalaku sangat penting. Aku memijitnya ringan sebelum akhirnya melihat sayup sayup bayangan siluet tubuh seorang wanita yang berdiri di hadapanku dengan membawa sebuah ember berwarna biru di tangannya Aku meringkukkan tubuh seperti bayi saat merasakan udara dingin semakin menusuk dan membuatku menggigil hebat. Aku hampir tak kuasa menahan tangis, karena tidak pernah merasakan rasa sakit yang luar biasa yang mampu membuat seluruh tubuhku membujur kaku dan tidak bisa digerakkan barang sedikitpun. "Bangun! Bangun Tuan Putri! Apa kamu t

