Berurat

1732 Kata
Udara sore yang makin dingin seolah tak berpengaruh apa-apa bagi pemuda itu. Justru, di bawah sisa cahaya jingga matahari yang mulai terbenam, kulitnya yang putih bersih itu berkilauan. Seketika Kiara lupa cara bernafas. Matanya tak berkedip sedikit pun, menelusuri setiap lekukan tubuh yang kini terekspos penuh dari ketinggian. Dari atas sana, pandangannya begitu leluasa, menangkap setiap detail yang tersembunyi di balik kain hitam itu. Ia melihat jelas bagaimana pinggang ramping itu beralih turun ke paha yang besar, dan berotot padat. Celana dalam hitam yang melekat itu tak sanggup menyembunyikan bentuk asli bagian bawahnya yang kokoh dan menonjol ke depan, membentuk tonjolan yang bikin tenggorokan Kiara semakin kering. Kain itu terlihat begitu sempit berjuang menampung isi di dalamnya, sampai-sampai garis pinggirnya tertarik kencang ke samping. Pemuda itu kembali berbalik menghadap ke arah air, posisinya kini makin menyamping ke arah rumah Kiara. Ia mulai menurunkan tubuhnya perlahan, menceburkan kaki panjangnya ke dalam air sungai yang jernih dan tenang. Butiran air yang membasahi betis dan lututnya memantulkan cahaya, makin menegaskan betapa kokoh dan indahnya bentuk otot betisnya itu. Tangannya yang besar dan berurat itu kembali menciduk air, menyiramkannya ke d**a bidangnya dan berjalan di lekukan otot itu. Air mengalir turun membelah otot-otot perutnya yang berkotak-kotak rapi, menelusuri garis tengah yang lurus ke bawah, lalu hilang lenyap masuk ke balik kain hitam yang pas menempel di kulitnya. Gerakan tangannya yang mengusap d**a dan lengannya itu membuat otot-otot itu naik turun, menegang dan mengendur secara bergantian. "Ah... nikmat banget," gumamnya pelan, suaranya terdengar berat. Ia menyandarkan badannya sedikit ke belakang dan bertumpu di bebatuan pinggir sungai, dadanya terangkat naik turun. Posisi itu... posisi itu bikin jantung Kiara rasanya mau copot. Karena dengan cara dia bersandar begitu, dadanya jadi makin menjulang ke atas, dan bagian bawahnya yang tertutup kain hitam itu jadi makin menonjol, makin besar bentuknya dan jelas tergambar bentuk lonjong di balik sana. Di sebelahnya, temannya yang bertubuh kurus itu sudah lebih dulu asyik mengusap punggungnya sendiri dengan sabun, sesekali berseru kaget karena air yang ternyata lebih dingin dari dugaan. Bagi Kiara, sosok kurus itu sama sekali tak ada. Rasanya hanya ada dia yang mengintip dari atas, dan pemuda berbadan kekar yang sedang memanjakan diri di bawah sana. Kiara bisa melihat jelas bagaimana ujung rambutnya yang basah meneteskan air ke lehernya, lalu turun perlahan melewati tulang selangka yang menonjol, meluncur turun di d**a yang bengkak dan keras itu. Setiap kali pemuda itu menggerakkan tangannya untuk menyabuni lengan atau perutnya, otot-otot di bahu dan lengannya bergerak halus, terlihat begitu menggoda bagi Kiara. "Dasar sialan..." desis Kiara pelan, napasnya memburu dan panas. Wajahnya sudah bukan lagi merah, tapi terasa terbakar hebat. Tangannya yang mencengkeram pembatas balkon makin kuat. "Badan apa itu... kok bisa seperfect itu? Kok bisa sekeras itu? Ya ampun... Rasanya pasti hangat dan kokoh kalau gue bersandar di situ?" Pikirannya melayang liar, membayangkan bagaimana rasanya jika kulit halusnya bersentuhan dengan tubuh yang keras itu. Bagaimana rasanya jika dia yang berada di sana, dan tangannya mengusap d**a itu, lalu jari-jarinya menelusuri garis tengah perut itu ke bawah, turun makin dalam sampai ke pinggang dan menjelajahi batang yang sudah mengeras didalam sana. Kiara melihat pemuda itu mengangkat wajahnya ke langit, memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin sore yang makin sejuk. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang menggoda sekali. Dan saat itu, karena posisinya yang mendongak ke atas, untuk sepersekian detik, rasanya seolah pandangan mata itu menatap lurus ke arah balkon tempat Kiara bersembunyi. Kiara tersentak hebat, nyaris melompat mundur dan bersembunyi di balik pagar besi pembatas. Jantungnya rasanya mau meledak di d**a. Tapi pemuda itu hanya membuang napas panjang, lalu kembali menundukkan wajahnya dan asyik menyabuni perut dan pinggangnya dengan gerakan melingkar pelan dan lambat. Saat tangannya bergerak makin ke bawah, mendekati pinggang, gerakannya sempat terhenti sejenak, lalu tangannya menyisir pinggangnya, dan menyentuh bagian atas celana dalam hitam itu, seperti sedang menyesuaikan posisi kain yang terasa sedikit sempit. Gerakan itu, gerakan santai itu, entah kenapa bikin napas Kiara tercekat makin dalam. Dia melihat jelas bagaimana bentuk pahanya yang kekar berkedut sedikit saat dia menggeser kakinya di dalam air, bagaimana bokongnya yang padat itu terlihat menawan didalam kain hitamnya. "Gila... gila banget..." batin Kiara makin kalap, matanya tak mau melepaskan pandangan itu walau sedetik pun. "Kalau dia buka lagi dikit aja... pasti aku bakal... aku bakal..." Dia nggak berani menyelesaikan kalimatnya sendiri. Tapi rasanya, ada rasa panas yang menjalar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, ada rasa basah yang tiba-tiba melumuri celana dalamnya hanya dengan melihat pemandangan itu. Air sungai mengalir tenang, membawa sisa cahaya senja yang mulai memudar. Dan di balkon atas, Kiara masih terpaku, terhipnotis sepenuhnya oleh pesona tubuh pemuda misterius itu. Rasa penasaran makin menjadi-jadi, rasa ingin tahu siapa dia, rasa ingin menyentuh dan merasakan langsung kekuatan tubuh itu, makin membakar dirinya perlahan-lahan. Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya, meninggalkan sisa kelabu di ufuk barat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi area sungai yang makin gelap. Tapi Kiara masih belum mau beranjak. Dia masih ingin melihat lebih lama. Dan di bawah sana, suara tawa kedua pemuda itu kembali terdengar, bergaung renyah di udara senja yang makin dingin. "Udah gelap nih, Bro. Buruan, kita gak tau tempat ini seperti apa," seru temannya lagi sambil mulai naik ke daratan, mengeringkan badannya dengan handuk. Si pemuda berbadan atletis itu mengangguk, lalu perlahan berjalan menuju pinggir, air menetes dari tubuhnya yang masih basah, meninggalkan jejak di bebatuan kering. Ia mengeringkan rambut dan wajahnya dengan handuk kecilnya, sebelum akhirnya berbalik lagi, dan untuk kedua kalinya, tatapannya tertuju lurus ke atas, ke arah balkon rumah Kiara. Kali ini lebih lama. Dan senyum itu kembali terlukis jelas di bibirnya, sebelum akhirnya ia memunggung dan mulai mengenakan kembali pakaiannya yang sempat tergantung di kayu jemuran. Kiara terpaku kaku di tempatnya, napasnya terhenti total. Dia pasti tau ada yang ngintip. Batin Kiara panik. Pas temannya itu udah jalan duluan agak jauh ke arah motor, pemuda itu malah berhenti sebentar, berdiri diam di bawah cahaya lampu jalan yang baru dinyalakan. Dia berdiri tegak menghadap lurus ke atas, persis ke arah balkon tempat Kiara bersembunyi. Jantung Kiara rasanya mau copot total. Dia menelan ludah susah payah, tangannya makin mencengkeram pagar balkon sampai ujung jarinya sakit. Dan detik itu... detik yang bikin darah Kiara rasanya berhenti mengalir... Tangan besar pemuda itu perlahan naik ke pinggangnya. Jari-jarinya merayap ke pinggir atas celana dalam hitam yang selama ini jadi penutup satu-satunya pusaka itu. Dengan gerakan pelan, dia menariknya turun ke bawah. Kiara sampai terlonjak mundur, mulutnya tertutup rapat pakai kedua tangan supaya tidak keluar suara jeritan kaget. Matanya melotot nyaris copot, napasnya tersangkut di tenggorokan dan tak mau turun. Kain hitam itu meluncur turun melewati pinggang, melewati paha yang kekar, jatuh terjerembap di betisnya, lalu dia tendang pelan sampai lepas sepenuhnya ke tanah. Dan sekarang... Tidak ada lagi yang menutupi pemandangannya. Kiara sampai gemetaran hebat. Dia liat jelas sekali, benar-benar nyata di depan mata. Di tengah-tengah kedua paha besarnya yang putih dan padat itu, benda yang selama ini dia bayangkan itu menjuntai turun lemas, panjang dan besar sekali, kulitnya berwarna merah kecokelatan, ujungnya kelihatan basah dan ngelicin kena sisa air mandi. Gantungannya terlihat berat sekali, beneran menjuntai ke bawah sampai hampir nyentuh paha bagian dalam, ukurannya membuat Kiara rasanya mau pingsan di tempat. Pemuda itu sengaja membuka sedikit kakinya, agar pandangan Kiara makin leluasa dan semua bagian itu terlihat jelas tanpa ada yang tertutup lagi. Dia tersenyum lagi, mengedipkan sebelah matanya pelan ke arah balkon itu, seolah bilang, "Lihat aja, gak usah ngintip gitu." Kiara rasanya mau lari, tapi kakinya seperti tak bisa digerakkan, Tiba-tiba satu ide gila lewat di kepalanya. Ide yang buat dia kaget sendiri, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Dia buru-buru mengambil handphone diatas meja disamping minuman cokelatnya tadi. Tangannya bergetar, sampai-sampai ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. Pikiran kacau itu makin kuat mendesak, ingin mengabadikan pemandangan langka dan gila yang ada di depan matanya itu. Dengan napas yang memburu, Kiara mengarahkan kamera ponsel ke bawah sana. Jarinya yang dingin dan berkeringat susah payah menggeser layar, mencari tombol Zoom. Layar ponsel itu perlahan mendekat, sampai akhirnya tubuh pemuda itu memenuhi seluruh layar di tangannya. Dia menggeser lagi jari-jarinya, memperbesar gambar ke bagian bawah, tepat ke arah yang jadi pusat pandangannya selama ini. Semakin diperbesar, semakin jelas semuanya terlihat. Kiara bisa melihat setiap detailnya. Panjangnya, besarnya, tekstur kulitnya, sampai urat-urat halus yang melilit di sepanjang batang itu semuanya terlihat jelas sekali. Benda itu menjuntai lemas, kulitnya berwarna merah kecokelatan dengan ujung yang membulat besar dan terlihat mengkilap. Kantung gantungannya pun kelihatan jelas, kendur dan besar. Dia menahan napas, lalu perlahan menekan tombol rekam. Di bawah sana, seolah pemuda itu tahu apa yang sedang dilakukan Kiara, dia malah makin pamer. Dia memiringkan pinggangnya sedikit ke samping, dan dengan santainya tangannya yang besar itu bergerak turun. Tangan itu menyisir rambut-rambut lebat di pangkalnya, lalu bergerak mengusap pelan sepanjang benda itu dari atas sampai bawah, seolah sedang memperlihatkan betapa panjang dan besarnya ukuran aslinya. Gerakan itu bikin Kiara hampir menjatuhkan ponselnya lagi. Rasanya dia ingin sekali berhenti, lari masuk ke kamar, dan menyembunyikan wajah di balik bantal karena rasa malunya yang memuncak. Tapi di sisi lain, ada rasa nikmat dan rasa ingin merasakan benda itu yang makin menguasai dirinya. Dia tidak sanggup memalingkan wajah sedikit pun. Dia terus melanjutkan, menyimpan setiap detik pemandangan itu ke dalam memori ponselnya, Matanya bergantian menatap layar ponsel dan sosok telanjang yang berdiri gagah di bawah sana. Rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata. Setelah cukup puas mempermainkan perasaan Kiara, pemuda itu tersenyum puas sekali. Dia melambaikan tangan pelan ke arah balkon itu sekali lagi, seolah mengucapkan selamat malam. Dengan gerakan santai, dia mengambil celana panjangnya yang tergantung di kayu jemuran, memakainya perlahan-lahan, menutup kembali keindahan tubuh yang sempat bikin Kiara gila setengah mati itu. Dia berjalan santai menyusul temannya yang sudah menunggu di dekat motor, lalu naik ke atas kendaraannya. Suara mesin RX King itu terdengar keras ditengah heningnya malam, lalu perlahan menghilang di tikungan jalan. Kiara masih terpaku di tempatnya, ponselnya masih tergenggam erat di tangan. Kakinya terasa lemas sekali, dadanya naik turun kencang. Dia menatap layar ponselnya, melihat hasil rekaman dan foto-foto yang baru saja dia ambil. Di sana, tersimpan kejadian gila yang baru saja berlalu. "Gila... gila banget..." gumamnya pelan dengan suara yang masih bergetar. Dia menyandarkan punggungnya ke tembok balkon, menutup matanya sejenak dan membayangkan lagi segala pemandangan yang dia lihat tadi. "Apakah aku akan merasakan yang berurat itu beberapa hari nanti" Gumamnya sambil memperbesar layar ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN