Pria Itu Lagi

1277 Kata
Belum sempat pikiran buruk itu menjalar lebih jauh, suara dentuman mesin yang berat dan kasar tiba-tiba memecah keheningan sore. Bruummm... Bruummm... Suara itu terdengar sangat khas, menggelegar dan bergema di antara deretan pohon kelapa, langsung bikin kepala Kiara menoleh tajam ke arah pemandian umum. Dari tikungan jalan setapak yang sedikit naik, muncullah motor RX King berwarna hitam legam dengan lampu bulatnya yang bersinar redup terkena sisa cahaya matahari. Motor itu melaju gagah, debu jalanan sedikit beterbangan saat pengendaranya menurunkan kecepatan tepat di area lapang pinggir sungai. Kiara memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lebar-lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di atas motor itu, duduk sosok yang sempat dia pikir sudah hilang ditelan bumi, sosok yang sempat bikin dia sembunyi di balik tirai jendela kemarin sore sampai napasnya tertahan. Pemuda itu. Badan tegap dan bahu lebarnya makin terlihat jelas saat dia mematikan mesin dan menurunkan kaki kanannya ke tanah. Dia memakai kaos kutung berwarna putih kusam yang makin menonjolkan lekuk otot lengannya yang kekar, sama persis seperti ingatan Kiara. Rambutnya sedikit berantakan kena angin, tapi senyum santai yang terukir di bibirnya itu... tetap sama. Senyum yang terasa bebas terlihat oleh Kiara. Dan dia tidak sendirian. Di jok belakang, turun seorang pemuda lain yang bertubuh agak kurus, berkulit sawo matang, dan memakai kemeja hitam polos yang digulung sampai siku. Temannya itu menepuk bahu si pemuda berbadan atletis itu sambil tertawa lebar, seolah baru saja membicarakan hal yang sangat lucu. "Wih, seger banget nih anginnya, Bro! Betah banget ya lo tinggal di sini, jauh dari hiruk-pikuk kota," celetuk teman itu, suaranya terdengar samar tapi cukup jelas terbawa angin sampai ke balkon tempat Kiara berada. Mendengar itu batin Kiara pun berasumsi "Apa jangan jangan dia tinggal didaerah dekat sini, tapi kenapa baru bebrapa kali terlihat?" Si pemuda itu tertawa renyah, suaranya berat dan dalam. "Iya, tenang banget. Nggak rame, udaranya bersih, air sungai ini juga dingin dan jernih. Bedalah sama tempat kita dulu." Benar saja, ternyata mereka baru di sini Mereka berdua berjalan santai menuju bangunan beratap genteng di pinggir tebing itu, melewati sekelompok anak kecil yang bermain air. Si pemuda itu duduk santai di tepian beton, kakinya menjuntai ke bawah, sementara temannya duduk di sebelahnya, bersandar pada tiang penyangga. Dari kejauhan, Kiara hanya bisa terpaku. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena memikirkan Raka, sekarang berubah jadi berdebar lain rasanya. Kiara melihat si pemuda itu melepas sepatunya, lalu mencelupkan kakinya ke air sungai yang mengalir deras. Dia terlihat sangat santai, dan entah kenapa bayangannya itu bikin Kiara sejenak lupa pada kekhawatirannya soal Raka. "Namanya siapa ya? Dan kenapa rasanya dia makin sering muncul pas aku lagi diatas balkon ini" gumam Kiara pelan, bibirnya mengerut bingung. Dia menatap terus ke arah sana, melihat si pemuda itu tertawa mendengar cerita temannya, melihat bagaimana otot perutnya samar terlihat saat dia mencondongkan badan ke depan. Sore makin merunduk, sinar matahari yang keemasan perlahan berubah jadi oranye redup, menyelimuti seluruh permukaan sungai dan pepohonan dengan nuansa yang makin tenang. Satu per satu ibu-ibu yang sedang mencuci beranjak pulang, membawa keranjang berisi pakaian bersih di kepala dan ada juga yang digendong di pinggang. Anak-anak kecil yang tadi riuh menceburkan diri ke air, mulai dipanggil orang tuanya untuk segera balik ke rumah karena udara mulai terasa dingin. Suara riuh rendah percakapan dan tawa canda itu perlahan memudar, digantikan kembali oleh suara gemericik air sungai yang mengalir melewati bebatuan. Tak lama kemudian, area pemandian itu benar-benar sepi. Tak ada siapa pun lagi yang berlalu-lalang. Tinggal bangunan beratap genteng itu, deretan pohon kelapa, dan dua sosok pemuda yang masih duduk diam menikmati ketenangan sore. Kiara yang masih bersembunyi di balik kisi-kisi balkon, makin mempererat cengkeramannya pada pegangan pembatas. Jantungnya berdegup makin kencang, campuran antara rasa penasaran yang meledak-ledak tentang apa yang pemuda itu akan lakukan. Sekarang tempat itu kosong. Dan pandangannya jadi makin leluasa, tak terhalang oleh siapa pun lagi. Dari atas sana, ia melihat si pemuda berbadan atletis itu menguap panjang, lalu meregangkan kedua tangannya ke atas, membuat otot-otot di lengan dan bahunya makin menonjol jelas terbentuk. Ia menoleh ke temannya, lalu mengangguk pelan. "Yuk, mandi. Badan udah gatal banget dari tadi," ajaknya dengan suara berat yang lagi-lagi terdengar sampai ke telinga Kiara, terbawa hembusan angin sore. Temannya yang bertubuh kurus itu langsung setuju, buru-buru bangkit dari duduknya sambil mengusap punggung yang terasa lengket keringat. "Ayok, ayok. Dari tadi gue udah gatal pengen nyebur. Pas banget sepi." Mereka berdua lalu berjalan menuju tepi jalan setapak di mana motor RX King itu terparkir. Si pemuda itu membuka kotak penyimpanan di samping jok, mengeluarkan dua bungkus sabun, sikat gigi, dan handuk kecil berwarna biru dan merah yang disampirkan di bahu masing-masing. Gerakannya santai. Kiara menahan napas saat mereka berdua berbalik badan, melangkah turun melewati susunan batu-batu alam yang bertangga ke arah tepi air. Batu-batu itu terlihat licin karena selalu terkena percikan air, dan mereka melangkah dengan mantap menuruninya satu persatu. Sesampainya di tepi sungai, si pemuda itu langsung menurunkan handuk dari bahunya, lalu mulai membasuh wajahnya dengan air yang ia ciduk menggunakan kedua tangannya. Air sungai yang jernih membasahi seluruh wajah dan lehernya, membuat butiran-butiran air menetes perlahan menyusuri lekuk otot lehernya, turun melewati tulang selangka, lalu menghilang masuk ke dalam kaos kutung yang ia pakai. "Wih... dingin banget, tapi enak!" serunya sambil menyisir rambutnya yang basah ke belakang dengan jari-jari tangannya, menampakkan garis wajah yang tegas dan rahang yang kokoh. Temannya tertawa sambil mulai mengusap-usap lengannya dengan sabun. "Nah kan? Bener kata gue, tempat ini juara. Beda banget sama kolam renang kota yang isinya penuh orang, bau kaporit, dan airnya keruh kayak selokan." Si pemuda itu tersenyum. Ia mulai melepaskan kaos kutung putih yang melekat di badannya karena keringat dan air, menariknya melewati kepala dengan satu gerakan mudah, lalu meletakkannya di atas batu datar yang kering di pinggir. Sekarang, tubuhnya yang benar-benar telanjang d**a terekspos sepenuhnya di bawah cahaya matahari sore yang mulai redup. Kiara serasa mau pingsan di tempat. Wajahnya yang tadi agak kemerahan kini memerah padam sampai ke telinga dan lehernya. Matanya melotot tak sadar, menatap lekat-lekat sosok yang berdiri tegak di pinggir air. Setiap inci otot di dadanya, perutnya yang berkotak-kotak yang rapi, hingga garis pinggangnya yang melandai ke bawah, semuanya terlihat jelas oleh kiara. Di sisi lain, temannya yang bertubuh kurus itu juga sudah melepas bajunya, tapi sosoknya sama sekali tak menarik perhatian Kiara. Matanya seolah punya lensa otomatis, yang hanya mau fokus pada satu sosok itu saja. "Eh Bro, bentar lagi maghrib loh. buruan selesain, nanti keburu gelap jalannya," suara teman itu terdengar memecah lamunan Kiara. "Iya, santai aja. Airnya enak banget, sayang kalau buru-buru," jawab si pemuda itu, masih dengan nada santainya. Ia membalikkan badan sebentar, memunggung ke arah rumah Kiara. Tangan besarnya perlahan bergerak ke arah ikat pinggang celana panjang kain yang dipakainya. Tanpa ragu sedikit pun, ia membuka kancingnya, lalu menurunkan resletingnya pelan-pelan. Celana itu meluncur turun melewati pinggang rampingnya, menyusuri paha yang kekar dan berotot, hingga jatuh terjerembap di pergelangan kakinya. Ia menginjak sedikit untuk melepaskannya sepenuhnya, lalu mengangkatnya dengan satu tangan. Langkah kakinya beralih ke arah rangka kayu jemuran sederhana yang tertanam kokoh tak jauh dari pinggir air, tempat warga biasa menjemur kain dan perlengkapan mandi. Ia menggantungkan celana itu di batang kayu yang paling atas, menyetelnya agar menggantung rapi dan kena angin. Sekarang, tak ada lagi yang menutupi tubuhnya selain selembar celana dalam hitam yang pas membalut bagian bawahnya. Kiara menelan ludah yang rasanya mengganjal di tenggorokan. Jantungnya berdegup makin kencang. Wajahnya yang tadi sudah merah padam, kini rasanya makin panas. Tapi, ia sama sekali tak mau berkedip sedikitpun, tak mau berpaling dari pandangannya itu. Justru tangannya makin erat mencengkeram pembatas balkon, badannya makin maju condong ke depan, dan matanya makin menyala penuh semangat menatap pemandangan di bawah sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN