Deru nafas Ania semakin memelan menerpa tangan Ren yang ada di lehernya. Bibir Ania juga sudah sempurna membiru, darah yang tadi berhenti keluar dari mulutnya sekarang kembali mengalir namun kali ini juga keluar dari hidungnya. Kucuran darah itu semakin deras, Ren akan membunuh dirinya dengan menggigit lidahnya sendiri jika tanganya berhasil membuat Ania meregang nyawa. “We—Werren.” Itu lah kata terakhir Ania sebelum kesadarannya benar-benar hilang dan dengan sepenuhnya tubuh itu lungkai di depan Ren. Di waktu yang bersamaan Ren kembali bisa mengendalikan tubuhnya. Ren dengan cepat membaringkan utbuh kakaknya, lalu dia terpaku melihat bibir Kak aknya yang sudah membiru. Dia tidak tahu harus melakukan tindakan apa, selama ini yang dia pelajari adalah bertarung dan bertarung tanpa mengeta

