"Ka-kamu sekolah aja, aku c*m—" Davren meletakan jarinya di bibir Hilya membuat gadis itu bungkam seketika.
Davren menggeser posisi duduknya, memberi kode pada Hilya agar tiduran lagi. "Gue nggak sekolah."
Hilya mengerutkan keningnya, diam saja saat Davren menarik selimut hingga lehernya. "Kenapa?"
Cowok itu melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya, apalagi AC di kamar Hilya sengaja ia matikan karena tadi gadis itu terlihat kedinginan.
"Gue pengen."
Hilya memiringkan kepalanya, menatap Davren dengan tatapan bertanya. "Pengen apa?" tanya Hilya dengan tampang polosnya.
Davren mendekatkan wajahnya pada wajah Hilya, senyum miring tercetak di bibir tipis cowok itu. "Pengen ...."
Hilya menahan napasnya dengan jantung yang rasanya sedang ngedance di dalam dadanya. Rasanya bibir Hilya berdenyut, apa Davren ingin mengambil first kiss Hilya?
Wajah mereka begitu dekat sekarang.
"Bolos." Davren tersenyum penuh makna saat melihat tampang cengo Hilya dengan pipi memerah.
Tanpa rasa bersalah, Davren menjauhkan wajahnya. Bersikap seakan tidak melakukan apa pun.
Suhu ruangan yang seharusnya dapat menghangatkan tubuh Hilya, malah membuat telapak kaki dan tangan Hilya terasa dingin.
Tawa kecil lolos dari bibir Davren saat Hilya menatapnya sambil mengerjapkan mata.
Bukannya merasa dipermainkan, Hilya malah terpaku saat melihat Davren tertawa. Sudah sangat lama Hilya tidak melihat tawa itu, tawa yang sangat ia rindukan.
Tanpa Hilya sadari, Davren sudah berhenti tertawa dari beberapa detik sebelumnya. Bahkan Hilya tidak menyadari kalau sekarang Davren lah yang menatapnya.
"Ekhm." Hilya tersentak, menatap Davren seperti orang linglung.
Davren menghela napasnya, tersenyum. "Tidur, oke?"
Seperti boneka yang berada di bawah pengaruh pemiliknya, Hilya mengangguk dua kali pertanda menurut. Gadis itu mencoba memejamkan matanya, mengabaikan rasa terkejut atas perubahan sikap Davren itu.
Bukannya tidak suka, ini adalah Davren yang dulu Hilya kenal, tapi ... entahlah. Perlahan, Hilya mulai terlelap, larut dalam dunia mimpinya yang sekarang sama indahnya dengan apa yang baru saja terjadi.
♡♡♡
Hilya mengerjapkan matanya, kepalanya sudah terasa lebih ringan begitu juga dengan suhu tubuhnya yang sudah menurun. Gadis itu memposisikan dirinya setengah duduk dengan menyandar pada sisi ranjang.
Gadis itu mengerucutkan bibir, mengingat-ingat apa yang terakhir terjadi. Sampai akhirnya satu nama keluar dari bibir mungilnya.
"Davren."
Hilya menatap sekeliling kamarnya, kemudian menghembuskan napasnya kasar. Raut kecewa tercetak jelas di paras ayu gadis itu.
"Jadi cuma mimpi?"
Tiba-tiba saja kepalanya menjadi pusing lagi bersamaan dengan perubahan moodnya.
Apa yang Hilya harapkan?
Tadi itu nyata?
Davren mau menemani dan merawat Hilya yang sedang sakit?
Come on, get up, Hilya! Tadi pastilah hanya mimpi atau mimpi di dalam mimpi? Oh God, kenapa Hilya harus bangun jika tadi adalah mimpi?
"Udah bangun?" Hilya langsung menoleh ke sumber suara saat mendengar suara yang amat familiar di indera pendengarannya.
Mata sayu gadis itu, membulat kaget. Jadi ... tadi bukan mimpi?! God! Jangan biarkan Hilya bangun jika ini adalah mimpi.
Davren melangkah mendekat dengan rambut basahnya, beberapa air menetes dari rambutnya dan mengalir di wajah tampan cowok itu. Hilya menatap Davren tanpa berkedip, membuat Davren berpikir kalau gadis itu masih sakit.
"Gue ambilin makan siang dulu," ucap Davren setelah ia menatap Hilya beberapa detik, namun, gadis itu tidak kunjung bicara.
Hilya yang sudah sadar dari keterpakuannya, berseru nyaring. "Dav!"
Davren menoleh dengan kening berkerut, berpikir kalau gadis itu membutuhkan sesuatu atau merasakan sakit. "Kenapa?"
Dengan jantung dag dig dug, Hilya menggeleng. "Nggak papa, hehe."
"Aneh." Setelah bergumam satu kata itu, Davren melangkah keluar dari kamar Hilya untuk mengambilkan makan siang untuk gadis itu. Sebenarnya Davren tidak merasa memiliki kewajiban untuk merawat Hilya yang sedang sakit, tapi entah mengapa saat Bi Lesta mengatakan Hilya sedang sakit dan tidak bisa sekolah, Davren merasa sangat khawatir.
Semalaman Davren memikirkan Hilya, gadis itu seperti hantu yang bergentayangan di pikiran Davren. Pagi harinya, Davren memutuskan menjemput gadis itu. Bodo amat dengan kebingungan Hilya akan sikapnya.
Sekitar lima menit kemudian, Davren kembali dengan nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, serta segelas air. Cowok itu meletakan nampan itu di atas nakas, mengambil piring berisi nasi, dan duduk di ranjang Hilya.
"Makan sendiri atau suap?"
Hilya mengerjapkan matanya. "Hah?"
Decakan pelan terdengar, tanpa mau repot-repot menanggapi kelolaan gadis di hadapannya ini. Davren lebih memilih menyuapinya saja.
"Aku mimpi nggak sih?" tanya Hilya entah pada dirinya sendiri atau Davren, yang jelas gadis itu menatap sekeliling kamarnya. Ini benar kamar Hilya.
"Tau gitu, aku sakit aja dari kemarin-kemarin," cicit gadis itu pelan yang samar-samar didengar oleh Davren.
Davren mengerutkan keningnya. "Lo ngomong apa?"
"Eh, itu, anu, ini, aku ... Nggak ngomong apa-apa."
Cowok itu terus menyuapi Hilya, sampai piring yang awalnya penuh, kini sudah bersih. Rasanya lucu saat melihat Hilya kembali membuka mulutnya padahal nasi itu sudah habis.
"Lo mau nambah?"
"Eh, apa?"
"Hamster tetangga gue mati gara-gara bengong mulu."
"Hamster? Yang mirip tikus?"
"Mirip lo."
Hilya mencabik bibirnya, namun, tidak mendebat. Davren mau bicara saja sudah syukur, bodo amatlah dengan mirip hamster. Lagipula hamster kan menggemaskan, berarti Hilya menggemaskan, bukan?
Jawab saja iya! Membuat seseorang bahagia adalah pahala.
"Heum, kamu nggak makan? Tadi di rumah sarapan nggak?" tanya Hilya setelah terdiam cukup lama. Tentu saja Hilya merasa canggung berduaan di kamar dalam keadaan hening.
Semoga saja ada setan lewat. Eh, ralat. Semoga saja tidak ada setan yang lewat.
Davren yang awalnya fokus dengan handphonenya, menaikan sebelah alisnya. Mengangkat bahunya, acuh.
"Da—"
"Hilya!" pekikan yang menyerukan nama Hilya membuat ucapan Hilya terhenti bersamaan dengan pintu kamar Hilya yang dibuka dengan tidak santainya.
Siapa lagi yang mungkin datang ke rumah Hilya dan masuk ke kamar tanpa izin selain Lila dan Feni.
Kedua gadis itu tidak melanjutkan langkahnya memasuki kamar Hilya saat melihat Davren. Terlihat jelas kalau mereka kaget melihat keberadaan Davren yang ada di kamarnya.
"Kok?! Lo ngapain di kamar Hilya?!" Feni berseru sambil melangkah mendekat diikuti Lila.
Lila menatap Hilya. "Davren ngapain lo?" tanyanya.
Hilya membulatkan matanya, menggeleng tegas. "Davren … Davren cuman nemenin gue aja. Dia nggak ngapa-ngapain gue."
Lila dan Feni menatap Hilya penuh selidik. "Yakin?" tanya keduanya bersamaan.
Gadis itu tersenyum. "Iya, Lila, Feni."
"Udah, sana lo pulang. Udah ada gue sama Lila yang jagain Hilya," usir Feni terang-terangan pada Davren yang langsung mendapat pelototan gratis dari Hilya.
Hilya menatap Davren tidak enak, namun, Davren mengangguk. "Gue cabut."
Davren meraih ranselnya, saat ia ingin keluar dari kamar Hilya, gadis itu memanggilnya membuat Davren menghentikan langkahnya.
"Maaf, makasih, dan hati-hati."
Davren mengangguk dan melanjutkan langkahnya pergi.
"Lo harus jelasin dua hal sama gue sama Lila," ucap Feni.
"Kenapa kemarin lo nggak bisa dihubungi?" Lila bertanya.
"Dan kenapa Davren bisa ada di kamar lo?" Feni bertanya.