Kecemasan melingkupi pikiran Ratih. Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan matahari sudah mulai menampakkan sinarnya untuk menghangatkan pagi, namun sampai detik itu Nuri belum juga mau keluar kamar. Ratih berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Nuri. Pikirannya berkecamuk antara mengetuk pintu kamar itu atau tidak. Namun ia tekadkan hatinya untuk mengetuk pintu kamar Nuri lagi. Ia takut Nuri kenapa-napa. Kalau Nuri sakit gimana? Kalau Nuri pingsan gimana? Ah, diketuknya pintu itu dengan kencang. “Nur … buka, Nur!” panggil Ratih di depan pintu. Ia ketuk pintu itu berkali-kali, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. “Astagfirullah, Nur … buka!” teriaknya lagi sambil terus menggedor pintu kamar. Firasatnya mengatakan, Nuri tidak baik-baik saja di dalam kamarnya. Teriakan Rat

