Sepasang kaki berbalut high heels berwarna merah berjalan menghentak-hentak di atas lantai yang terbuat dari marmer, memasuki rumah keluarga Pramoedya. Di sampingnya berjalan seorang anak kecil berseragam sekolah yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan pengasuh kesayangannya. “Pelan-pelan dong jalannya, Sayang!” seru Kiran, ia kesusahan mengimbangi langkah Riri yang setengah berlari dengan sepatu high heels-nya setinggi 10 cm itu. Namun anak kecil itu tidak mengindahkan ucapan tantenya. Siang tadi sebelum Riri pulang sekolah Mahesa menelponnya, memintanya untuk menjemput Riri di sekolah karena ia tidak bisa meninggalkan kampus untuk menjemput anaknya. Maka dengan senang hati ia mengiyakan untuk menjemput Riri—melupakan rasa sakit hatinya pada Mahesa karena kejadian waktu itu. D

