“Nur ….” Panggilan Santi membuat Nuri yang baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah ambil air wudhu, menoleh seketika. Kini mereka tengah berada di kamar Nuri di pavilion belgakang rumah utama. Sedangkan Surya sedang beristirahat di ruang tamu yang berada di dalam rumah utama. “Ya, Bu … ada apa?” tanya Nuri, ia mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur—di samping Ibunya duduk. “Luka di kepala kamu gimana sekarang, Nduk?” tanya Santi, ia mengusap kepala Nuri yang tertutup hijab. Kemudian, Nuri membuka penutup kepalanya itu. Sekarang Santi bisa melihat ada bekas jahitan di samping kepala anaknya—bekas operasi waktu itu. “Udah ndak papa, Bu. Walaupun masih sedikit agak pusing, sih.” “Ya Allah, kok bisa sih, Nduk?” “Qadarullah, Bu. Waktu itu Nuri disuruh ke mini market yang ada di ujung

