BAB 6 : HARI PERTAMA BEKERJA

1431 Kata
Zanna Kirania Aditama, melajukan mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Pramoedya. Wanita cantik dan sexy dengan kaki jenjang dan pinggang ramping serta lekuk tubuh yang sintal itu senang sekali memakai pakaian yang terbuka. Seperti sekarang ini, ia memakai baju rajut dengan motif bunga-bunga yang hanya sebatas paha sehingga mengekspos kaki jenjangnya. Garis bahunya juga agak lebar dan sedikit menggantung miring ke samping seperti gaya orang yang malas memakai pakaian dengan benar. Kiran memarkirkan mobil Lamborgini berwarna merah di pelataran parkir rumah tersebut. Ia turun dari mobil lalu membuka pintu sebelah kiri untuk menggendong keponakannya yang sedang tertidur pulas di jok sampingnya mengemudi. Gadis kecil itu bernama Rianti Putri Pramoedya, dia adalah cucu dari Rizky Pramoedya atau anak semata wayang dari Mahesa Pramoedya. Kiran segera menggendong Riri yang masih tertidur dengan lelap, memasuki rumah kediaman Pramoedya. Suara heels-nya yang tidak terlalu tinggi terdengar mengetuk-ngetuk lantai sepanjang ia berjalan memasuki rumah. Kiran adalah adik kandung dari bundanya Riri, Zetta Kirana Aditama. Berbeda dengan adiknya, Zetta memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan adiknya itu. Ia adalah seorang wanita cantik yang kalem dan religius. Ia telah memakai hijab sejak dirinya duduk di bangku SMA. Tutur katanya pun lemah lembut dan sangat santun. Berbeda dengan adiknya yang senang memakai pakaian terbuka dan sikapnya yang pecicilan. Mungkin itulah sebabnya seorang Mahesa Pramoedya bisa jatuh cinta pada sosok Zetta hingga akhirnya mereka memutuskan menikah tanpa pacarana atau bisa dibilang hanya lewat ta’aruf saja. Zetta yang adalah adik angkatannya di kampus, mampu mencuri perhatian Mahesa sehingga Mahesa berniat untuk berta’aruf dengan dirinya. Zetta adalah anak sulung dari Bima Aditama, pemilik Aditama Group yang bergerak di bidang tekstil. Perusahaannya telah mengepakkan sayap hingga ke negeri tetangga. Walaupun keluarganya terbilang ke dalam jajaran orang paling kaya di Indonesia, namun itu tidak membuat Zetta tinggi hati. Penampilannya yang sederhana tidak menunjukkan kalau sebenarnya ia adalah anak orang kaya. Mahesa datang seorang diri saat berkunjung ke rumah Zetta dengan maksud ingin menta’aruf dirinya. Alhamdulillah Zetta menerima dirinya. Selang dua bulan, keluarga besar Pramoedya mengkhitbahnya secara resmi. Mereka melangsungkan pernikahan secara besar-besaran. Selang satu tahun pernikahannya, mereka dikaruniai seorang putri yang cantik. Namun sayang, sang dokter hanya bisa menyelamatkan satu nyawa di antara mereka. Mahesa ingin dokter menyelamatkan Zetta, namun Zetta ingin yang diselamatkan adalah buah hatinya karena Insya Allah Syurga telah menantinya. Sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu akan mati syahid. Termasuk meninggal saat melahirkan. Hadits diatas menegaskan bahwa seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, kematiannya akan dianggap sebagai mati syahid. Sebab ia telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa melahirkan sang buah hati tercinta ke dunia ini. Hal ini tentu menjadi sebuah keistimewaan tersendiri bagi kaum wanita terutama yang sedang mengandung. Agar tidak takut dan menikmati segala proses kehamilan dan melahirkan dengan senang hati. Sebab segala sesuatu yang sudah menjadi ketentuan hanya Allah SWT. yang mengetahuinya, kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan memohon untuk selalu mendapatkan perlindunganNYA dengan mengucapkan doa ibu hamil untuk anak dalam kandungan sebagai amalan ibu hamil dalam islam dan menjauhi larangan ibu hamil menurut islam. Oleh sebab itu Riri terlahir sebagai anak piatu. Selama ini ia diasuh oleh seorang baby sitter karena Mahesa belum menemukan ibu yang tepat untuk Riri atau bahkan tidak berniat menikah lagi. Karena baby sitter yang telah mengasuh Riri dari sejak bayi telah menikah dan tidak memungkinkan dirinya untuk mengasuh Riri lagi, maka Mahesa mencari pengganti baby sitter tersebut. Hari itu Kiran membawa Riri ke rumahnya karena oma dan opa-nya merindukan gadis kecil itu. “Non Kiran ...” sapa bude Yatni yang tengah menyapu lantai saat Kiran baru saja memasuki rumah Pramoedya. “Halo, Bi ...” sapa Kiran ramah. Walaupun penampilannya selalu terlihat sexy dan sikapnya yang pecicilan, namun Kiran tetap memiliki sifat yang ramah terhadap orang lain. “Nuri!” panggil bude Yatni setengah berteriak. Nuri yang tengah berada di dapur untuk mencuci piring, seketika datang tergopong-gopong menghampiri budenya saat terdengar sang bude memanggil namanya. “Ada apa, Bude?” tanya Nuri, ia mengelap tangannya yang basah dengan lap yang di bawanya. Ia sedang mencuci piring tadi ketika budenya memanggil. Bude Yatni segera menyuruh Nuri untuk menggendong Riri dari gendongan Kiran dan membawanya ke kamar Riri di lantai dua. “Bawa Non Riri ke kamarnya, ya.” Nuri mengangguk, ia membawa Riri yang masih tertidur dengan perlahan dalam gendongannya. Ia menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati lalu menidurkan Riri di dalam kamarnya yang bernuansa barbie berwarna pink. “Dia siapa, Bi?” tanya Kiran setelah kepergian Nuri. “Dia namanya Nuri, Non. Keponakan Bibi dari kampung,” jawab bude Yatni sopan. “Orang-orang belum pada pulang ya, Bi?” tanya Kiran lagi sambil mengedarkan pandangan ke segala ruang dan tidak menemukan sang pemilik rumah. “Iya, Non. Pada belum pulang. Mungkin sebentar lagi.” “Yaudah ….” Kiran melangkah menuju ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu. “Non Kiran mau minum apa?” tanya bude Yatni. “Air putih dingin aja, Bi. Kiran lagi ngurangi minuman yang manis,” terang Kiran. “Baik, Non. Bibi ambilkan dulu sebentar, ya ...” ujar bude Yatni sambil berlalu menuju dapur. Kiran menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia memikirkan bagaimana nantinya kalau ia menjadi nyonya Pramoedya, menggantikan sang kakak yang telah lama meninggal dunia. Namun sampai saat ini, Mahesa masih saja menutup hati untuk dirinya. Derap langkah kaki terdengar mendekati ruang tamu di mana Kiran berada. “Kiran, mana Riri?” tanya Mahesa, ia baru saja pulang setelah seharian mengajar di kampus. Kiran membalikkan tubuhnya dan berdiri menghampiri kakak iparnya itu. “Mas Esa ...” sapanya sambil menggelayut manja di lengan kekar Mahesa. Ia akui bahwa kakak iparnya itu mempunyai bentuk tubuh yang pelukable banget. Bahkan ia pernah membayangkan bagaimana hangatnya dalam dekapan single daddy yang lengannya sedang ia peluk. “Mana Riri?” tanya Mahesa lagi. Ia mengedarkan matanya ke penjuru ruangan namun tidak menemukan putri kecilnya di sana. “Riri sedang tidur di kamarnya, Mas,” jawab Kiran, masih menggelayut manja. Mahesa melepaskan tangan Kiran yang masih betah menggelayut di lengannya. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang segera diikuti oleh Kiran. Bude Yatni datang membawakan air putih pesanan Kiran. “Eh Tuan Esa sudah pulang. Mau Bibi bikinkan kopi, Tuan?” tanya bude Yatni sambil menaruh segelas air putih di atas meja untuk Kiran. “Nanti aja, Bi. Saya mau lihat Riri dulu di kamarnya.” Mahesa beranjak dari ruang tamu menuju kamar Riri di lantai dua. Kiran mendengus sebal sambil menghentakkan kakinya karena lagi-lagi Mahesa mengabaikannya dan bersikap acuh tak acuh. * Mahesa berdiri di depan sebuah pintu berwarna pink. Dibukanya kenop pintu itu secara perlahan. Ia tersentak karena melihat ada seorang perempuan yang memakai baju gamis dan hijab di kepalanya sedang membacakan dongeng untuk putrinya. Perempuan itu duduk di tepi ranjang dan membelakanginya. Ternyata saat Nuri menidurkan Riri di ranjangnya, seketika itu Riri terbangun dan meminta Nuri untuk membacakan sebuah dongeng yang tadi dibelinya bersama Kiran di sebuah toko buku. Sesaat Mahesa seperti melihat sosok istrinya yang tengah berada di sana. Namun ia segera tersadar bahwa istrinya sudah lama tiada. “Ehhmm ….” Mahesa berdehem karena tidak ada yang menyadari kedatangannya, sontak membuat perempuan itu menoleh ke belakang. “Siapa kamu?” tanya Mahesa. Ia berjalan mendekati perempuan itu. “Papa ….” Riri bangun lalu berlari sambil merentangkan kedua tangannya minta digendong oleh Mahesa. Seketika itu Mahesa langsung menggendong putri kecilnya dan menghujani seluruh wajahnya dengan ciuman sehingga membuat Riri cekikikan karena merasa geli. “Eh maaf Tuan, saya Nuri. Pengasuh Non Riri yang baru,” jawab Nuri sopan sambil berdiri dan membungkukkan badannya. Mahesa memperhatikan penampilan perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan itu terlihat masih sangat muda, bahkan lebih muda dari adiknya Alfarizy. Sekilas, memang penampilan Nuri seperti mendiang istrinya yang senang memakai gamis walaupun ia berada di dalam rumah. ‘Apa dia bisa mengurus Riri dengan benar?’ gumam Mahesa karena melihat Nuri masih sangat muda. “Apa kamu berpengalaman dalam mengurus anak kecil?” tanya Mahesa ragu. Ia mengedarkan pandangan dari ujung kaki Nuri yang tertutup kaos kaki sampai ujung kepala Nuri yang tertutup hijab. “Insya Allah, Tuan. Saya sudah terbiasa membantu ibu mengurus adik saya saat masih kecil,” jawab Nuri sambil menundukkan kepalanya, ia berusaha menjaga pandangannya dari hal yang berlebihan. Ia ingat akan firman Allah yang mengatakan bahwa kaum laki-laki harus menjaga pandangannya dan k*********a dari hal-hal yang diharamkan. “Oh, baguslah kalau begitu. Saya ingin kamu merawat Riri dengan baik,” ujar Mahesa sambil menelisik penampilan Nuri semakin jauh. “Insyallah, Tuan. Saya akan merawat Non Riri sebaik mungkin,” sahut Nuri masih menundukkan kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN