BAB 7 : SUWANTO MURKA

1644 Kata
“Nuri kemana, Sur? ‘Kok dari kemarin perasaan Bapak ndak liat dia?” tanya Suwanto saat akan menyantap makan siangnya. Dia sudah mendudukkan dirinya di saung kecil untuk tempat peristirahatan mereka ketika lelah bekerja di ladang. Santi sudah membawakan bekal makan siang untuk suami dan ayah mertuanya, sayur asem dan ikan asin, tidak lupa dengan tahu dan tempenya. Menu masakan sederhana namun tetap mereka nikmati dengan penuh syukur. “Maaf, Pak. Nuri sudah pergi ke Jakarta,” ujar Surya pelan. Ia tahu pasti bapaknya akan marah setelah mengetahui kalau cucunya nekat pergi ke Jakarta. “Apa?” Suwanto membanting sendok yang sedang ia pegang ke atas piring yang ada di hadapannya sehingga piring itu pecah saking kencangnya. “Astagfirullah!” Santi memekik tertahan, kaget. “Maaf, Pak. Sebagai ayahnya, saya yang lebih berhak mengatur hidup Nuri.” Surya memberanikan diri menatap wajah penuh kemarahan di hadapannya itu. “Otakmu di mana sih, Sur? Bapak sudah menerima tawaran tuan Herman untuk menikahkan dia dengannya. Tuan Herman berjanji akan memberikan kita uang yang banyak ketika Nuri telah resmi menjadi istrinya.” “Tapi sebagai ayahnya, saya tidak rela Nuri menikah dengan laki-laki yang sudah sepantasnya menjadi ayahnya, Pak,” bela Surya. “Alah, persetan dengan umur. Yang penting hidup kita akan lebih baik dari sekarang jika Nuri menikah dengan Tuan Herman!” teriak Suwanto. Dirinya sudah lelah hidup dalam kemiskinan. Maka ketika ada peluang untuk hidup lebih baik, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada walaupun harus menukar cucu perempuannya dengan sejumlah uang. “Kami sebagai orang tuanya sungguh tidak rela, Pak,” sahut Surya dengan nada tetap merendah. Walaupun bapaknya punya perangai yang tidak baik, namun sebagai anak dirinya tetap harus menghormati bapaknya itu. “Sekarang beritahu bapak di mana Nuri bekerja!” hardik Suwanto lagi. Kemarahan masih bercokol dalam dadanya. “Maaf, Pak. Saya mohon biarkan Nuri menentukan hidupnya sendiri.” pinta Surya. Ia berusaha meluluhkan hati sang ayah yang sekeras batu. “Tidak bisa! Bapak sudah terlanjut menerima tawaran Tuan Herman.” sarkas Suwanto. Ia tetap pada pendiriannya untuk menikahkan cucunya dengan juragan tanah itu, “kalau kamu tidak mau memberi tahu alamat Nuri di Jakarta, Bapak akan cari tahu sendiri.” Suwanto bangkit lalu pergi dari hadapan anak dan menantunya itu. Ia sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan siangnya. “Sekarang gimana, Pak? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Santi saat ayah mertuanya sudah pergi. “Bapak juga ndak tau, Bu.” Suwanto menghela napasnya sejenak. “Mudah-mudahan Allah memberikan jalan terbaik dalam masalah ini ya, Bu,” ujarnya lagi. “Aamiin ya Allah …” ucap Santi sepenuh hati. Mudah-mudahan anak gadisnya itu selalu dilindungi oleh Allah di mana pun ia berada. Ya, semoga saja. *** Dengan tergesa-gesa dan kemarahan yang bercokol di hatinya, Suwanto pergi mengendarai sepedah motor bututnya. “Bagaimana, Pak? Apa Nuri sudah setuju menikah dengan saya?” tanya Herman saat ia bertemu dengan Suwanto di persimpangan jalan. Herman segera keluar dari mobil yang dikendarainya sehingga membuat Suwanto menepikan motornya di pinggir jalan. “Maaf Tuan Herman, Nuri pergi ke Jakarta,” jawab Suwanto sambil menundukkan kepalanya. Laki-laki tua berusia 70 tahun itu tidak berani menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Ia tahu bahwa laki-laki yang sudah menggelontorkan banyak uang kepadanya pasti sangat murka mengetahui calon mangsanya telah lepas dari buruannya. “Apa?” Mata Herman mendelik. “Kamu bilang apa? Nuri pergi ke Jakarta?” tanyanya lagi sambil menarik kerah baju Suwanto dengan tangan sebelah kanan. Ia mencengkram baju yang dipakai Suwanto itu kuat-kuat. Ia sungguh tidak peduli kalau laki-laki yang ada di hadapannya itu lebih tua dari dirinya yang harusnya diperlakukan sopan. Suwanto menangkupkan kedua tangannya di d**a sambil memohon ampun. “Ampun, Tuan. Saya berjanji akan segera membawa Nuri pulang.” Herman melepas cengkramannya dengan kasar hingga membuat Suwanto tersungkur di atas tanah. “Saya tidak mau tahu, secepatnya bawa Nuri balik lagi ke sini. Kalau tidak, kembalikan semua uang yang sudah saya kasih!” hardik Herman sambil memelintir kumisnya yang panjang. “Baik, Tuan,” kata Suwanto. Pria tua itu bangkit lalu menaiki motornya untuk melanjutkan kembali  perjalanannya setelah Herman hilang dari pandangannya. ‘Aku harus segera menemukan alamat Nuri di Jakarta dan membawanya pulang ke sini,’ gumam Suwanto dalam hati. Ia segera memacu sepedah motornya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat yang ia yakini bisa membantu dirinya menemukan alamat Nuri di Jakarta. *** Setelah melaksanakan shalat magrib, tiba-tiba ponsel Nuri berdering. Tuannya yang bernama Alfarizy dengan berbaik hati memberikan ponsel lamanya yang tidak terpakai untuk digunakan Nuri sementara sampai ia bisa membeli ponsel yang baru untuk mengganti ponselnya yang raib dijambret. Setelah uangnya terkumpul, ia akan membeli ponsel baru yang murah dan mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Siang tadi ia sudah membeli kartu perdana baru. Nuri segera mengambil ponselnya yang terus berdering di atas meja. Ia melihat ke layar ponsel untuk mengetahui siapa yang tengah menelpon. Ternyata ibunya di kampung menelpon. Setelah ibunya menelpon tadi siang, Nuri sudah memberi tahu nomer barunya itu. Untungnya sang ibu tidak curiga kalau ponselnya itu dijambret orang saat ia memberi alasan kalau ia ingin mengganti nomernya selama tinggal di Jakarta. “Halo assalamu’aalaikum, Bu.” “Wa’alaikumussalam, Nur. Kamu udah shalat magrib?” “Udah Bu, baru aja selesai.” “Alhamdulillah, jangan lupa shalat 5 waktu ya Nur. Amalan sunnah lainnya juga jangan sampai kamu tinggalkan. Kamu puasa sunnah ‘kan hari ini?” “Alhamdulillah Nuri puasa, Bu. Insyallah Nuri selalu ingat pesan Ayah dan Ibu. Ibu dan Ayah sehat ‘kan di sana?” “Alhamdulillah kami sehat, Nur. Kamu juga sehat-sehat saja ‘kan?” “Alhamdulillah Nuri juga sehat, Bu. Bude Yatni di sini juga sehat. Ibu ada apa telpon malam-malam?” “Sebenernya ada hal penting yang ingin ibu sampaikan sama kamu, Nur. Rasanya ibu gak bisa nunggu sampai besok pagi.” Deg. Hati Nuri jadi tidak enak. “Emangnya ada hal penting apa, Bu? Kok hati Nuri jadi deg-deg an begini?” tanyanya was-was. “Kakek udah tau kamu pergi ke Jakarta, Nur.” Santi menceritakan kejadian tadi siang. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan hal itu kepada anaknya, namun ia ingin Nuri berhati-hati jika suatu saat kakeknya itu beneran pergi ke Jakarta untuk membawanya pulang dan menikahkannya dengan Tuan Herman. Nuri tidak kaget mendengarnya. Ia sudah bisa menduga kalau kakeknya pasti akan tahu juga. Tidak mungkin bisa terus-terusan menyembunyikan kepergian dirinya ke Jakarta. Ia hanya bisa berharap sang kakek tidak mengetahui dimana ia tinggal. “Nur, kamu masih disitu ‘kan?” suara sang ibu mengagetkannya. Seketika membuyarkan lamunan Nuri. “Eh iya Bu, Nuri masih di sini.” Nuri tersentak, “Nuri harus gimana, Bu? Nuri nggak mau nikah dengan Tuan Herman,” lirihnya. “Ayah dan Ibu juga bingung harus gimana, Nur.” Terdengar Santi menghela napas sejenak, “kamu ‘kan tau sendiri gimana keras kepalanya Kakekmu itu. Perintahnya tidak boleh dibantah,” lanjutnya. Nuri semakin bimbang tak menentu. Dirinya sungguh takut jika sang kakek menemukan tempat tinggalnya di Jakarta. “Nuri bingung, Bu. Nuri hanya bisa berdoa mudah-mudahan Allah memberikan jalan terbaik untuk masalah ini,” sahutnya. “Iya, Nur. Kamu harus yakin, Allah tidak akan membebani melampaui batas kemampuan hamba-NYA, ya.” “Aamiin Allahumma Aamiin.” “Yaudah kalau gitu. Ibu hanya mau mengabarkan kamu hal itu saja. Kalau kamu butuh sesuatu jangan ragu bilang kami ya, Nur. Soal tasmu yang dijambret, ikhlaskan saja ya biar Allah ganti yang lebih baik lagi.” Nuri tersentak, kaget. Dari mana ibunya tahu perihal penjambretan itu? “Ibu kok tau Nuri dijambret?” “Taulah, Nur. Budemu cerita ning Ibu. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, ya cerita sama Ibu toh, Nduk.” “Sampun, Bu. Nuri ndak mau bikin Ibu kepikiran. Alhamdulillah, Nuri mboten nopo-nopo.” “Wis, diikhlaskan, yo. Sing ati-ati tinggal di kota orang, Nur.” “Nggih, Bu. Nuri udah ikhlas, ‘kok. Alhamdulillah anak dari majikan Nuri di sini memberi pinjam ponselnya sampai Nuri bisa beli ponsel baru nanti.” “Alhamdulillah. Setiap kesulitan pasti selalu ada kemudahan, Nur.” “Iya Bu, Nuri juga merasa betah bekerja di sini. Orang-orangnya baik-baik, Bu,” sahut Nuri semangat. “Alhamdulillah kalau kamu betah di sana, Nur. Ayah dan Ibu senang dengernya. Yaudah sekarang kamu istirahat ya, Nur. Kamu pasti capek seharian kerja. Jaga diri dan kesehatan kamu ya, Nur.” Nuri mengangguk walaupun ia tahu ibunya tidak akan melihatnya. “Iya, Bu. Salam untuk ayah dan Agil ya, Bu. Nuri kangen sama kalian,” ujar Nuri dengan mata mulai berkaca-kaca. Ia tahan isak tangisnya agar sang ibu tidak mendengar perubahan suaranya. “Kami juga di sini kangen sama kamu, Nur. Kamu baik-baik di sana ya. Jangan lupa pesan Ibu dan ayah. Assalamu’alaikum…” kata Santi mengakhiri panggilan telponnya. “Wa’alaikumussalam…” sahut Nuri sambil meletakkan kembali ponselnya ke atas meja yang ada di dalam kamarnya itu. Seketika satu bulir cairan bening lolos dari pelupuk matanya. Hati Nuri gerimis jauh dari kedua orang tuanya. Namun ia tidak mungkin kembali pulang sebelum menjadi orang sukses. Setelah menerima telepon dari ibunya, Nuri beranjak menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil Al-Qur’an kecil yang tersimpan rapih di atas lemari. Beruntung Al-Qur’an itu ia simpan di dalam tas besarnya sehingga tidak hilang bersama uang dan ponselnya. Nuri ingat, Al-Qur’an itu pemberian sang ayah ketika Nuri baru saja menamatkan Iqronya di usia tujuh tahun. Al-Qur’an kesayangannya yang tampilan fisiknya sudah lecek karena terlalu sering ia baca hingga sekarang. Ia tidak berniat untuk mengganti Al-Qur’annya dengan yang baru karena Al-Qur’an itu mempunyai banyak kenangan bersamanya, menemaninya sejak ia berusia tujuh tahun. Nuri duduk bersimpuh di atas sajadah. Ia membuka lembaran yang bertanda tali merah sebagai tanda ia telah membaca di halaman itu. Surat An-Nisa sudah ia baca berulang kali. Ia menyukai isi kandungan surat An-Nisa karena banyak menjelaskan tentang perihal yang terkait dengan permasalahan kaum perempuan, oleh sebab itu dinamakan An-nisa yang artinya wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN