“Gimana hari ini, Sayang? Riri seneng nggak ketemu Opa sama Oma?” tanya Mahesa sambil membelai rambut panjang sebahu milik putrinya.
“Seneng, Pap. Tadi tante Kiran ngajak Riri ke toko buku. Tante Kiran beliin Riri buku cerita ini,” jawab Riri antusias sambil memperlihatkan buku bersampul Barbie yang tadi dibelinya bersama sang tante. “Riri minta Kak Nuri untuk bacain bukunya. Kak Nuri pinter banget bacain bukunya, Pap. Riri suka punya pengasuh cantik kaya Kak Nuri,” lanjutnya lagi dengan polosnya.
Mahesa melirik Nuri yang masih saja menunduk. Nuri tersipu mendengar pujian dari anak asuhnya barusan.
“Sekarang Riri mandi sama kak Nuri ya, atau mau Papap yang mandiin?” tanya Mahesa.
Riri menggeleng lalu turun dari gendongan Mahesa. “Riri mau mandi sama kak Nuri aja, Pap. Riri ‘kan udah gede, malu kalo dimandiin Papap.” Riri segera menghampiri Nuri.
“Ayo Kak, kita mandi.” Riri mengajak Nuri untuk masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya bisa akrab satu sama lain.
Nuri berjalan di hadapan Mahesa sambil menundukkan kepala.
Mahesa menutup pintu kamar anaknya dan kembali ke lantai bawah. Ternyata di sana masih ada Kiran.
“Riri masih tidur, Mas?” tanya Kiran saat Mahesa mendudukan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu—berhadapan dengan adik iparnya itu.
“Riri lagi mandi sama Nuri,” jawab Mahesa datar. Ia memijat keningnya untuk menghilangkan penat setelah seharian mengajari mahasiswanya di kampus.
Mahesa menyandarkan tubuhnya di sofa, seketika sosok pengasuh baru Riri memenuhi pikirannya. Gadis cantik yang mempunyai postur tubuh yang mungil, mungkin hanya sebatas lengan Mahesa jika mereka berjajar. Gamis dan khimarnya yang menutup auratnya, tatapan matanya yang teduh dan lembut entah kenapa membuat Mahesa tertarik pada pandangan pertama. Namun pikiran itu segera ia tepis jauh-jauh karena di dalam hatinya masih mencintai mendiang istrinya walaupun istrinya itu sudah empat tahun pergi untuk selama-lamanya. Apalagi usia Nuri yang masih sangat muda untuk dirinya.
“Mas ….” Kiran membuyarkan lamunan Mahesa tentang Nuri.
“Eh … iya, Kiran.”
“Mas nggak papa?” tanya Kiran mendelik, kelihatan sekali kalau kakak iparnya itu lelah.
“Saya nggak apa-apa, hanya sedikit lelah karena di kampus sedang banyak tugas,” jawab Mahesa sambil memijit pelan lehernya yang terasa kaku.
“Sini Kiran pijit, Mas.” Kiran beranjak dari duduknya hendak menghampiri kakak iparnya yang duduk di hadapannya.
Mahesa segera menggeleng cepat, ia menangkap sinyal bahaya kalau sampai Kiran memijitnya. Kiran itu adik iparnya, adik kandung dari mendiang istrinya. Ia tidak boleh melampaui batas itu.
“Nggak usah, Kiran. Mungkin dengan mandi, badan saya akan kembali segar. Saya ke kamar dulu, ya.” Mahesa segera ngacir sebelum Kiran benar-benar memijitnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa Kiran sangat gencar mendekatinya walaupun sudah berkali-kali ia menghindar darinya.
***
Riri keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Nuri mengambilkan pakaian di dalam lemari untuk Riri pakai, piyama bergambar Barbie favoritnya. Hampir seluruh barang-barang yang ada di kamar Riri bernuansa pink dan bergambar Barbie.
Riri duduk di tepi ranjang dengan rambut basah yang terurai sebahu. Nuri segera mengambil sisir yang berada di atas meja Riri lalu menyisiri rambut anak asuhnya itu.
“Kak Nuri cantik, deh,” puji Riri sambil mengamati wajah Nuri yang ada di hadapannya.
“Riri juga cantik, Sayang,” sahut Nuri sambil mengelus pipi Riri, kemudian ia menyisir rambut Riri lagi dengan perlahan.
Entah kenapa Riri sudah merasa nyaman dengan kehadiran pengasuh barunya. Biasanya akan membutuhkan waktu beberapa minggu sampai Riri beradaptasi dengan orang baru. Mungkin selain wajah Nuri yang cantik juga tutur katanya yang lemah lembut membuat Riri nyaman bersamanya.
Apalagi Nuri sangat pandai bercerita. Ia bercerita dengan menirukan beberapa suara sehingga menghidupkan cerita yang dibawakannya dan tak jarang membuat Riri tertawa terpingkal-pingkal.
“Kak Nuri nanti bacain cerita untuk Riri lagi ya,” pinta Riri.
“Iya, Sayang,” ujar Nuri lembut sambil membelai pipi Riri yang chubby. “Emangnya Riri punya buku cerita apa lagi?”
“Banyak, Kak. Papap selalu beliin Riri buku cerita, tante Kiran juga suka beliin kalau ketemu Riri.”
“Tante Kiran itu siapa, Sayang?” tanya Nuri hati-hati. Ia tidak bermaksud kepo. Hanya saja ia ingin lebih mengenal keluarga itu.
“Tante Kiran itu adiknya bunda.”
“Oh ….” Nuri tersenyum dan menaruh sisir ke tempat asal. Rambut Riri sudah rapih.
“Ayo, Kak. Kita ke bawah.” Riri menarik tangan Nuri untuk mengikutinya turun ke lantai bawah.
“Papap …” teriak Riri karena tidak menemukan Mahesa di lantai bawah.
Nuri langsung berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Riri. “Sayang, ndak boleh teriak-teriak seperti itu. Anak perempuan itu harus lemah lembut, apalagi berbicara dengan orang tua. Riri paham?” katanya sambil mencubit hidung Riri pelan.
Riri mengangguk kecil tanda paham.
Mahesa keluar dari kamarnya yang berada di lantai bawah dengan rambut yang masih basah. Setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat, membuat badannya rileks sekarang. Ia terlihat tampan dengan pakaian santainya, kaos putih dengan celana tidur berwarna abu-abu.
“Papap ….” Riri menghampiri Mahesa yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Apa Riri sayang?” Mahesa segera menggendong Riri dan membawanya ke ruang tengah. Nuri pamit ke belakang untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.
“Riri udah wangi sekarang,” ujar Mahesa sambil menciumi wajah putrinya sehingga membuat Riri terkikik geli. Mahesa mendudukan Riri di atas pangkuannya. Ternyata di sana sudah tidak ada adik iparnya. Mungkin Kiran sudah pulang ketika dirinya mandi tadi.
“Besok ada acara di sekolah, Pap. Bu guru bilang Riri harus datang sama orang tua,” ujar Riri saat Mahesa sudah tidak menciumi wajahnya.
“Besok Papap usahakan datang ya, Sayang,” kata Mahesa sambil memeluk putrinya yang berada di pangkuannya.
Mahesa sangat menyayangkan karena Riri tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Namun Riri tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang karena sesibuk apapun dirinya, tetap prioritas utamanya adalah kebahagiaan Riri. Semampunya, ia akan mencurahkan kasih sayangnya untuk Riri.
“Papap, bunda Riri sekarang ada di surga ya? Kata Bu guru surga itu tempat yang paling indah. Riri mau ketemu unda di Syurga,” ujar Riri lagi.
Mahesa terenyuh mendengar penuturan putrinya. Mahesa selalu menceritakan semua hal tentang bundanya ketika Riri berusia tiga tahun, usia yang cukup matang untuk mengenal sosok wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Mahesa juga selalu bercerita kalau sekarang bundanya sudah tenang di Surga. Hingga ketika gurunya bercerita soal keindahan Surga, Riri jadi ingin pergi ke sana untuk menemui bundanya.
“Riri sayang, nanti kita akan berkumpul lagi dengan bunda di surga. Makanya Riri harus jadi anak yang shalehah ya biar bisa ketemu bunda,” kata Mahesa sambil membelai rambut Riri dengan lembut.
“Jadi anak shalehah itu berarti Riri nggak boleh nakal ya, Pap? Kata kak Nuri jadi anak perempuan itu nggak boleh teriak-teriak dan harus lemah lembut. Kalau Riri kaya gitu, berarti Riri anak yang shalehah ya?” tanyanya lagi.
“Yang kak Nuri bilang itu bener, Sayang. Kalau ngomong, Riri harus lemah lembut. Soalnya bunda juga kalo bicara selalu lemah lembut, nggak suka teriak-teriak.” Mahesa mengelus pipi Riri dengan sayang.
“Kalau gitu … Riri mau jadi anak shalehah, Pap. Riri nggak mau teriak-teriak lagi kalau ngomong. Riri mau cepet ketemu bunda di surga.”
Mahesa memeluk tubuh putri kesayangannya itu. Pola pikir Riri sangat kritis, di usianya yang baru beranjak lima tahun ia sudah bisa diajak berdiskusi oleh Mahesa dan selalu mengerti apa yang dikatakannya.
“Riri harus terus doain bunda ya.”
Riri mengangguk dalam pelukan Papapnya.
***
Pagi itu Riri sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Seperti yang ia bilang kemarin bahwa di sekolahnya saat ini sedang ada acara yang mengharuskannya datang bersama orang tuanya.
Riri sedang duduk di meja makan dengan ditemani oleh Nuri. Pagi itu Nuri membuatkan roti bakar dan s**u coklat hangat sesuai permintaan Riri.
Tak lama muncul pak Rizky dan Alfarizy yang segera bergabung di ruang makan.
“Selamat Pagi cucu Kakek yang cantik,” sapa Rizky sambil mencium kening cucunya.
“Selamat pagi, Kek,” sahut Riri.
“Papap masih di kamar, Ri?” tanya Alfarizy yang mendapat anggukan kecil dari keponakannya.
“Nuri …” panggil Rizky.
“Iya, Tuan ….” Nuri yang sedang berdiri di samping Riri segera menghampiri tuan besarnya.
“Coba kamu ketuk kamar Mahesa, suruh dia segera keluar. Riri sudah menunggu dari tadi,” titah tuannya.
“Baik, Tuan.” Nuri berjalan menuju kamar Mahesa yang berada tidak jauh dari ruang makan, diketuknya secara perlahan pintu berwarna coklat di depannya.
“Tuan … Tuan Mahesa.”
Terdengar sahutan dari dalam kamar. “Iya.”
“Ditunggu tuan Rizky di meja makan.”
“Sebentar lagi saya keluar,” sahut Mahesa dari dalam kamarnya.
Nuri segera berlalu menuju ruang makan.
“Apa Mas Esa udah bangun, Nur?” tanya Alfarizy.
“Sudah Mas Al,” jawab Nuri singkat. “Sebentar lagi keluar katanya,” lanjutnya sambil menyuapi Riri lagi.
Selang beberapa menit, Mahesa keluar dari kamar dan segera mendudukkan tubuhnya di samping sang putri. Mahesa sudah rapih dengan stelan kantornya, kemeja berwarna biru langit yang dibalut jas berwarna biru dongker dan celana panjang hitam. Tak lupa juga sepatu hitam mengkilat menghiasi kakinya.
“Riri sayang, maaf Papap nggak bisa datang ke sekolah Riri. Papap ada rapat dadakan di kampus hari ini.” Mahesa mengusap lembut kepala Riri.
“Emangnya nggak bisa walau hanya sebentar, Sa?” tanya Rizky.
Mahesa menggeleng. “Nggak bisa, Pah. Rapat ini akan membahas soal pengabdian masyarakat yang akan dilakukan oleh mahasiswa semester tiga. Sebagai dosen pembimbing, Esa harus hadir,” jawab Mahesa menjelaskan.
“Trus, Riri harus berangkat sama siapa?” tanya Riri sambil menyebikan bibirnya.
“Riri pergi sama Om Al aja ya.” Alfarizy menawarkan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Riri.
“Tapi Kak Nuri juga harus ikut ya,” ujar Riri sambil melirik ke arah Nuri yang sedang menyuapinya.
Nuri melirik ke arah Mahesa yang langsung diangguki oleh Mahesa.
“Kamu ikut aja sama Al ke sekolah Riri,” kata Mahesa pada Nuri.
Nuri mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”
“Yaudah Nuri sama Al anter Riri ke sekolahnya,” kata Rizky.
“Siap, Pah.” Alfarizy mengacung jari jempolnya.
Mereka segera menghabiskan sarapannya sebelum memulai aktifitas mereka masing-masing.