BAB 9 : PERMINTAAN KIRAN

1442 Kata
Mobil yang dikendarai Kiran berbelok memasuki sebuah rumah dengan halaman yang terbilang luas. Tamannya indah dengan berbagai jenis bunga menghiasi taman itu. Asri, menyejukkan mata yang memandang. Sebuah rumah yang besar dan megah. Rumah Kiran. Warna putih identik dengan kedamaian, kebebasan, dan kesederhanaan. Rumah dengan design yang simple dengan kualitas modern. Rumah mewah itu dipenuhi dengan pernak-pernik serba kayu. Sampai sebagian besar rumah itu terbuat dari kayu jati. Sebuah teras yang luas menghiasi depan rumah. Pintu pagar menjulang tinggi dengan dijaga oleh seorang satpam. Kiran berjalan memasuki rumah dengan derap langkah panjang. Selop miliknya menggema ketika beradu dengan lantai yang licin dan mengkilap. Ia mencari keberadaan sang mamih. Saat melangkahkan kaki menuju dapur, ia berpapasan dengan sang mamih yang hendak ke dapur juga. “Mih ….” Kiran menghela napas panjang, mencoba menenangkan paru-parunya. Wajahnya merah padam menahan amarah. “Astagfirullah, Kiran … kalau datang itu ucap salam dong,” kata sang mamih—Erlyta kaget, memegangi dadanya sambil melangkah ke dapur. “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” “Mih ….” Kiran menggelendot manja ke lengan sang mamih. “Ada apa lagi?” Erlyta mengerling sampai keningnya berkerut. Ia sudah hapal dengan tingkah laku putrinya itu. Kiran seperti itu pasti ada maunya, pikirnya yakin. “Mas Esa—” “Ada apa lagi dengan Mahesa?” potong Erlyta cepat, keningnya mengernyit. “Mas Esa masih aja cuek sama aku,” keluhnya, cemberut. “Nggak usah ganggu Mahesa terus, biarin dia fokus mengurus Riri.” “Kalau aku nikah sama dia ‘kan aku jadi bisa ngurusin Riri juga, Mih. Aku udah pasti sayang sama Riri. Belum tentu ada perempuan lain yang sayang sama Riri kalau nanti jadi ibu tirinya.” Kiran keukeuh, ia harus menikah dengan Mahesa. “Mungkin Mahesa nggak berniat menikah lagi, Kir. Udah lima tahun juga dia nggak nyari bunda baru untuk Riri, kan? Mendingan kamu nyari laki-laki lain lagi, Kir. Umur kamu udah sepantasnya menikah, lho. Mamih pengen gendong cucu dari kamu,” kata Erlyta mengingatkan, kedua tangannya sibuk menyiapkan makan malam dibantu Mbok Yem. “Aku nggak mau menikah kalau bukan sama mas Esa, Mih” ujar Kiran, tangannya bersedekap di atas d**a dan bibirnya ia monyongkan lima senti agar sang mamih iba melihatnya. Erlyta geleng-geleng kepala menanggapi tingkah laku anak bungsunya itu. Kiran sangat berbeda dengan Zetta—kakaknya. Keinginan Kiran harus selalu dipenuhi, apapun itu. Berbeda dengan Zetta yang selalu memikirkan terlebih dahulu sebab akibatnya. Ternyata walaupun mereka terlahir dari rahim yang sama, tapi mereka mempunyai kepribadian yang berbeda. Suara dari langkah kaki yang dibalut oleh pantofel terdengar menggema di ruang tamu. Seorang laki-laki tua memasuki rumah dengan stelan kantor yang sudah sedikit berantakan, tidak serapih saat berangkat tadi pagi. “Tuh, papih udah pulang!” seru Erlyta sambil melangkah ke ruang tamu untuk menyambut kedatangan suaminya, Kiran mengekori dari belakang. Wira Aditama—Papih Kiran menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang yang berada di ruang tamu. Ia membuka dasinya dan juga beberapa kancing kemejanya, rasa lelah menyergapnya setelah seharian bekerja. Ia menaruh sembarang tas kerjanya dan menyandarkan punggungnya pada sofa tersebut. “Pih ….” Erlyta menyalami suaminya, hal yang biasa ia lakukan ketika suaminya itu berangkat atau pulang bekerja. “Anak kita kenapa lagi, Mih?” tanya Wira sambil melirik anak bungsunya yang sedang memanyunkan bibirnya. “Biasalah, Pih ….” Erlyta mendudukkan tubuhnya di samping suaminya, ia membereskan dasi dan jas suaminya yang sudah tergeletak di atas sofa. “Mahesa lagi?” tebak Wira, ia melepas kacamata yang masih bertengger di hidungnya ke atas meja. Memang sudah bukan rahasia lagi di rumah itu kalau beberapa hari ini Kiran terlihat sering uring-uringan. Apa lagi penyebabnya kalau bukan gara-gara Mahesa. Gara-gara single daddy itu tidak merespon cintanya. Bukannya tidak merespon, tapi mungkin saja Mahesa memang tidak tahu kalau adik iparnya itu menyimpan perasaan terhadapnya. Bagaimana pun juga, Mahesa sudah menganggap Kiran seperti adik kandungnya sendiri. “Ya itu, Pih. Mamih udah pusing dengerin keluhan dia tentang Mahesa,” keluh Erlyta yang membuat Kiran semakin memanyunkan bibirnya. “Kenapa, Kir?” tanya Wira, mata teduhnya menatap anak bungsunya yang sedang duduk di hadapannya. “Lamarin mas Esa buat aku, Pih,” rengek Kiran, suaranya dibuat semanja mungkin agar sang papih luluh dan menuruti permintaannya. “Lho, nggak bisa main lamar gitu aja dong, Kir,” sahut Wira, “harusnya kamu yang dilamar, bukannya malah ngelamar laki-laki.” Wira menasehati putrinya. “Kenapa harus Mahesa sih, Sayang?” tanya Erlyta, “banyak lho laki-laki yang ingin nikah sama kamu. Kamu tinggal pilih mau yang mana,” katanya lagi. “Aku maunya nikah sama kak Esa, Mih … Pih …” rengek Kiran, suaranya dibuat semakin mendayu-dayu. Sang papih yang selalu menuruti keinginan anaknya itu hanya bisa menghela napas panjang. ***  Di dalam kamar mandi yang lux itu Kiran berdiri di depan sebuah cermin besar. Ia memandangi wajahnya yang cantik, bahkan sangat cantik. Kulitnya halus dan lembut, hasil perawatan rutin di salon langganannya. Dengan kecantikannya yang paripurna, ia bisa saja memilih laki-laki mana yang ingin ia nikahi. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja bayangan Mahesa melintas terus di benaknya, ia tidak bisa mengenyahkan pikiran itu. Ia sangat menginginkan Mahesa menjadi suaminya, entah itu cinta atau hanya sebuah obsesi saja untuk bisa memilikinya. Selama ini tidak ada yang pernah bisa menolak pesona seorang Zanna Kirania Aditama. Dengan wajahnya yang cantik, tubuhnya yang ramping dan sintal, ia bisa mendapatkan laki-laki mana pun yang ia mau seperti kata sang mamih. Tapi kenapa Mahesa sulit sekali ia taklukan? KENAPA? Kiran akui, sejak Mahesa mulai mendekati kakaknya—Zetaya, sebenarnya ia juga sudah menaruh hati kepada laki-laki itu. Tapi ia tau diri, Mahesa adalah suami kakaknya, jadi ia berusaha mengubur perasaan terpendam itu. Saat sang kakak sudah tiada, rasa cinta untuk kakak iparnya itu kembali muncul ke permukaan hatinya yang sepi. Ia semakin ingin menikah dengan Mahesa agar keponakannya itu mempunyai ibu sambung yang benar-benar menyayanginya. Tapi ternyata, Mahesa sangat sulit ia taklukan. Mahesa tidak pernah melampaui batas antara adik dan kakak ipar. Kiran keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size-nya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun ia masih belum ingin turun ke bawah untuk makan malam bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya ia lapar, apalagi dari tadi sore selepas pulang dari rumah Mahesa, dirinya belum makan apa-apa lagi. Tapi ia malas makan karena sedang melakukan aksi mogok makan agar kedua orang tuanya mau melamarkan Mahesa untuk dirinya. Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk. “Non Kiran …,” panggil Mbok Yem dari luar kamarnya. “Ada apa, Mbok?” teriak Kiran, ia tidak berniat membukakan pintu untuk pembantunya itu. “Ayo makan malam, Non. Sudah ditunggu sama ibu dan apak di bawah,” kata Mbok Yem memberitahu. “Aku nggak mau makan, Mbok. Aku udah kenyang,” sahut Kiran. “Ayo makan, Non,” bujuk Mbok Yem sambil mengetuk pintu pelan. Ia mencoba membuka pintu kamar anak majikannya itu, tapi pintu kamar dikunci dari dalam. “Dari tadi sore ‘kan Non Kiran belum makan apa-apa. Ayo makan, Non. Nanti Non Kiran sakit …” imbuh Mbok Yem, masih terus berusaha agar Kiran mau keluar kamar. “Bilang sama mamih dan papih, aku nggak laper.” Mbok Yem menghela napas panjang, watak anak majikannya itu memang keras—persis seperti papihnya. “Kiran belum mau keluar kamar, Mbok?” Tiba-tiba sang majikan sudah berada di belakangnya. “Eh ….” Mbok Yem tersentak. “Belum mau keluar, Bu. Katanya nggak laper,” lapor Mbok Yem. “Yaudah … biar saya aja yang bujuk Kiran, Mbok,” kata Erlyta. Ia pun cemas karena sejak tadi sore Kiran mengurung diri di kamar. “Baik, Bu. Si Mbok permisi.” Erlyta mengangguk. Setelah Mbok Yem berlalu, diketuknya pintu kamar Kiran perlahan. Sepertinya ia harus menuruti permintaan putrinya itu. “Kiran ….” Hening. Tidak ada sahutan dari dalam kamar. “Kiran, Sayang … Mamih mau ngomong,” ucapnya lebih kencang. Hening. Ternyata putrinya itu benar-benar sedang melakukan aksi protesnya. “Sayang, buka pintunya. Mamih janji akan turuti permintaan kamu itu,” ujar Erlyta akhirnya. Semenit kemudian pintu kamar Kiran terbuka lebar, menampilkan wajah putrinya dengan sorot mata yang berbinar senang. “Beneran, Mih?” tanyanya tak percaya, mencoba memastikan bahwa apa yang baru saja didengarnya bukan angin lalu. Erlyta mengangguk sambil tersenyum. Wajah cantiknya masih terpatri di wajahnya walaupun ia sudah tidak muda lagi. “Iya, Sayang. Papih udah janji akan memikirkan permintaan kamu itu. Kita tunggu aja, ya,” kata Erlyta, ia membelai rambut Kiran yang berantakan. “Makasih ya, Mih,” ucap Kiran, ia berhambur ke pelukan sang mamih. Senyum bahagia tersungging di wajah cantiknya. Kiran memekik senang dalam hati, usaha mogok makannya ternyata membuahkan hasil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN