BAB 10 : KEBERSAMAAN ALFARIZY DAN NURI

2533 Kata
Nuri sudah berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Alfarizy dengan Riri yang duduk dipangkuannya. Mereka akan berangkat ke sekolah Riri. “Riri duduk di kursi dong. Kasian Kak Nuri nya berat,” ujar Alfarizy sambil melirik keponakannya yang tengah asik memainkan hijab yang dipakai Nuri. “Gak apa, Mas Al. Aku gak keberatan kok,” kata Nuri sambil menyunggingkan senyum manisnya. “Riri di sini aja sama Kak Nuri,” lanjutnya sambil menciumi pipi Riri yang menggemaskan. Untuk beberapa detik, sungguh Alfarizy sangat terpesona oleh senyuman Nuri barusan. Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan kencang, aliran darahnya pun berdesir hebat. Mungkin dirinya telah jatuh cinta pada pesona gadis lugu yang duduk di sampingnya itu. Beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Alfarizy memasuki halaman parkir sekolah Riri. Ia segera memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil yang segera disusul oleh Riri. Nuri mengambil tas sekolah Riri yang berada di bangku belakang lalu menyusul Riri yang sudah lebih dulu turun dari mobil. Alfarizy dan Nuri melangkahkan kaki beriringan dengan Riri yang berada di tengah-tengah mereka sambil menggandeng tangan Om dan pengasuhnya itu. “Assalamu’alaikum, Mas Al …” sapa Bu Sita—wali kelas Riri. Bu Sita berusia dua puluh lima tahun, cantik dan yang pasti masih single. Ia pernah berharap bisa menjadi ibu sambung untuk Riri. Sudah beberapa kali dirinya mencoba mendekati ayah gadis kecil yang dididiknya itu, namun sikap yang ia terima hanyalah sikap dingin dari sang pujaan hati. Namun ia bertekad untuk tidak akan menyerah, ia akan tetap berusaha merebut perhatian Mahesa. “Eh, Bu Sita … wa’alaikumussalam,” sahut Alfarizy sambil menyalami guru cantik tersebut. “Papapnya Riri nggak bisa hadir ya, Mas?” tanya Bu Sita, ia celingukan. “Iya, Bu. Di kampus sedang ada rapat yang nggak bisa ditinggalkan katanya. Jadi saya yang mewakilkan,” jawab Alfarizy.  “Oh …” ujarnya kecewa karena tidak bisa bertemu dengan laki-laki itu. Padahal ia sudah mempermak wajahnya habis-habisan untuk bertemu dengan Mahesa. “Yaudah Mas, silahkan ke ruangan di lantai dua. Rapatnya akan segera dimulai,” sambungnya lagi memberitahu. “Baik, Bu. Kami permisi,” kata Alfarizy. “Permisi, Bu,” ujar Nuri ramah. Bu Sita hanya mengangguk mempersilahkan. Alfarizy, Nuri dan Riri segera melangkahkan kakinya lagi menaiki anak tangga yang ada di dekat pintu masuk. Alfarizy menggendong Riri saat keponakannya itu merengek minta digendong pada Nuri, tidak mungkin ia membiarkan Nuri menggendongnya. Mereka tiba di sebuah ruangan yang sudah dipenuhi oleh orang tua dari anak yang bersekolah di sana. “Nur, kamu tunggu di sini aja sama Riri ya, biar aku yang masuk ke dalam,” kata Alfarizy. Nuri mengangguk patuh. “Baik, Mas Al.” Alfarizy melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang masih kosong. Sedangkan di luar ruangan, Nuri mengajak Riri untuk berkeliling melihat sekolahannya. Sekolah yang berada di kawasan elit itu terdiri dari dua lantai. Padahal sekolahan TK, tapi bangunannya sudah seperti gedung perkuliahan. Sangat megah! Nuri tidak pernah melihat gedung sekolahan seperti itu karena memang tidak ada di kampungnya. “Sekolah Riri besar ya,” ujar Nuri kagum, ia mendudukkan tubuhnya di atas sebuah kursi di depan ruangan tadi. Mereka sudah kembali setelah berkeliling sebentar. “Iya, Kak. Di sekolah ini Riri diajarin Bahasa Inggris juga. Kata Papap, Bahasa Inggris itu penting kalo Riri udah besar nanti,” sahut Riri dengan wajah polosnya. “Oh ya?” tanya Nuri tidak percaya, anak sekecil Riri sudah diajarkan bahasa asing sejak dini. Padahal di kampungnya, belum ada pelajaran Bahasa asing untuk anak SD. “Berarti Riri jago Bahasa Inggris, dong?” tanyanya lagi. Riri mengangguk antusias. “Coba, Kak Nuri mau denger Riri ngomong pake Bahasa Inggris.” “Hello, my name is Rianti Putri Pramoedya. You can call me Riri. I am five years old,” ucap Riri dengan logat Bahasa Inggrisnya yang kental. Nuri bertepuk tangan untuk mengapresiasi kemampuan berbahasa Riri. “Wah, Riri hebat. Subhanallah ….” “Riri gitu, lho!” Riri nyengir kuda. “Emang kalo Riri udah besar mau jadi apa?” tanya Nuri sambil memeluk anak asuhnya yang masih berada di pangkuannya. “Riri mau jadi Dokter, kaya Om Al. Riri mau nolongin orang sakit,” jawab Riri polos. “Subhanallah, bagus itu. Pekerjaan seorang dokter adalah pekerjaan yang mulia. Allah akan senang kalo Riri suka membantu orang. Cita-cita Kak Nuri juga sama kaya Riri—pengen jadi dokter!” seru Nuri. “Kak Nuri, Allah itu apa sih? Riri sering denger kakek, papap, sama om Al ngomongin tentang Allah. Emang Allah itu siapa, Kak?” tanya Riri sambil menatap wajah Nuri, menatap dengan binar mata keingintahuan yang tinggi. Untuk sejenak, Nuri terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Riri. Ia bingung harus memberi jawaban seperti apa saat seorang anak kecil seperti Riri menanyakan hal itu kepadanya. Kalau pun dijelaskan, apa Riri bisa mencerna kata-kata darinya? Karena sudah seharusnya orang tua mengenalkan Allah pada anak sejak usia dini. Agar kelak, anak mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya. Orang tua juga harus mengenalkan Allah ‘Azza Wajalla dengan cara yang sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya. “Riri sayang …“ kata Nuri membelai rambut Riri dengan lembut, “Allah adalah pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pohon-pohonan, sungai, dan semua yang ada di bumi ini.” “Allah itu bentuknya kaya apa, Kak?” tanyanya lagi. Rasa ingin tahu anak kecil memang sangat tinggi. Setelah tadi Nuri menjawab, Riri akan terus melontarkan pertanyaan yang lain. “Allah itu ndak ada bentuknya, Sayang. Tapi keberadaan Allah bisa kita lihat dari bentuk ciptaan-NYA kaya burung-burung itu,” jawab Nuri sambil menunjuk ke arah segerombolan burung yang sedang beterbangan bebas di langit yang cerah pagi itu. “Burung-burung itu Allah yang menciptakan. Riri udah bisa melaksanakan shalat belum?” tanyanya kemudian. Riri menggeleng. “Papap belum ajarin Riri shalat, Kak. Katanya Riri masih kecil, nanti aja kalo udah besar,” jawabnya polos. “Nanti di rumah, Kak Nuri ajarin Riri shalat ya. Sekalian Kak Nuri ajarin Riri baca Iqra juga.” “Asiiikkk.” pekik Riri senang sambil memeluk Nuri. “Mau, Kak … Riri mau belajar shalat sama baca Iqra.” “Iya, Kak Nuri pasti ajarin Riri.” Tidak beberapa lama, Alfarizy keluar dari ruangan itu lalu menghampiri Nuri dan Riri. “Ayo, kita pulang,” ajak Alfarizy. “Rapatnya udah selesai, Mas?” tanya Nuri. Alfarizy mengangguk. “Udah, cuma bahas soal perpisahan Riri nanti aja.” “Om, Riri mau beli es krim,” kata Riri sambil menggoyang-goyangkan tangan Alfarizy, merengek seperti biasanya. Alfarizy berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi Riri lalu menangkup kedua pipi keponakannya itu. “Anak cantik mau es krim ya?” Riri mengangguk cepat. “Boleh makan es krim, tapi jangan banyak-banyak ya,” ujar Nuri mengingatkan. Riri mengangguk lagi perlahan. Riri itu kesukaannya makan es krim, tapi ia sangat alergi dengan coklat. Jadi ia tidak pernah memakan es krim rasa coklat. “Yaudah yuk, kita makan es krim dulu. Setelah itu baru kita pulang, ya,” ajak Alfarizy. Ia menggendong keponakan kecilnya itu untuk menuruni anak tangga lalu menuju mobilnya yang terparkir di halaman sekolah Riri. “Emangnya hari ini Mas Al ndak kuliah?” tanya Nuri ketika mereka melewati lorong sekolahan yang tembusannya menuju parkiran. “Aku kuliah nanti siang, Nur,” jawab Alfarizy yang sesekali melirik gadis berhijab yang berjalan di sampingnya. “Kamu ‘kan baru lulus SMA, apa kamu nggak kepengen kuliah, Nur?” tanyanya lagi. Untuk sejenak, Nuri terdiam. Ia melirik Alfarizy dan tersenyum. “Siapa sih yang nggak kepengen kuliah, Mas? Untuk sekarang, prioritas aku itu bantuin ayah sama ibu di kampung sambil sesekali nabung. Kalo uangnya udah cukup, baru aku akan lanjutin kuliah, Mas. Kuliah 'kan bisa dilanjut kapan aja, selama badan ini masih bernapas,” jawabnya. Alfarizy sangat terkesima dengan penuturan yang disampaikan oleh Nuri. Umurnya masih terbilang muda, namun pemikirannya sangat dewasa. Ia mengesampingkan kepentingan pribadinya demi keluarga yang ia cintai. Sungguh Alfarizy merasa beruntung karena Allah telah mempertemukan mereka. *** Saat ini mereka sudah berada di sebuah kedai yang menjual beraneka ragam rasa es krim. “Riri mau es krim rasa apa?” tanya Nuri. Riri mengedarkan pandangannya ke etalase yang memajang bermacam-macam rasa es krim dengan beraneka warna. “Riri mau rasa itu,” tunjuknya pada es krim yang berwarna ungu. Semuanya sungguh menggoda selera. “Kalo kamu mau rasa apa, Nur?” tanya Alfarizy, beralih menatap Nuri yang berdiri di sampingnya. Nuri buru-buru menggeleng. “Aku ndak usah dibeliin, Mas.” “Nggak papa, sekalian pesen. Emang kamu nggak tergiur sama macem-macem es krim yang ada di depan kamu ini?” tanya Alfarizy sambil terkekeh pelan. Nuri meneguk salivanya, sungguh ia ingin sekali mencicipi salah satu rasa es krim itu. Namun ia sedang melaksanakan puasa sunah. “Maaf Mas Al, bukannya aku ndak mau. Tapi aku lagi puasa sunnah,” jawab Nuri. “Oh iya, hari ini hari senin. Maaf aku lupa, Nur.” Alfarizy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Biasanya aku juga suka puasa sunnah, tapi tadi shubuh aku kesiangan bangunnya, banyak tugas di kampus jadi gak sahur, deh.” Alfarizy menggaruk tengkuknya lagi sambil terkekeh. “Yaudah kalo emang nanti Mas Al mau puasa sunnah, biar sekalian aku bangunin aja,” kata Nuri. “Wah … iya, iya … boleh kalo gitu, Nur.” Alfarizy memesan satu cup es krim rasa blueberry untuk Riri dan sekotak es krim rasa choco vanilla untuk Nuri. “Ini aku belikan untuk kamu, Nur. Bisa dimakan saat buka puasa nanti.” Alfarizy menyerahkan kantong putih berisi sekotak es krim kepada Nuri setelah membayarnya. “Wah makasih banyak Mas, jadi ngerepotin,” ujar Nuri dengan mata berbinar sambil mengambil plastik itu dari tangan Alfarizy. “Yaudah sekarang kita pulang, yuk. Kasian Kak Nuri nya lagi puasa,” ajak Alfarizy pada Riri. Riri mengangguk sambil menjilati es krim rasa blueberry-nya itu. Alfarizy menggendong Riri lagi menuju mobil yang terparkir di depan kedai. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, seseorang memanggil dirinya hingga membuat Alfarizy tidak jadi masuk ke mobil dan menengok ke arah sumber suara. Sedangkan Nuri dan Riri sudah duluan masuk ke dalam mobil. “Al …” seorang gadis berpenampilan seksi dengan memakai rok yang hanya sebatas lutut itu menghampiri Alfarizy. “Lala,” ujar Alfarizy sedikit kaget. Ya, gadis itu adalah Laura Anditha—kekasih Alfarizy. “Kamu ngapain disini?” tanya gadis yang biasa dipanggil Lala itu. Ia menggelayut manja pada lengan Alfarizy yang kekar. Jangan heran kalau Alfarizy ini rajin nge-gym sehingga mempunyai tubuh yang atletis, idaman para wanita. “Aku abis beli es krim untuk Riri,” jawab Alfarizy. “Cewek itu siapa?” tanya Lala sambil melirik ke arah Nuri dengan tatapan sinis. Ia tidak suka ada perempuan lain berada di dalam mobil sang kekasih. Nuri yang tau kalau dirinya sedang diperhatikan hanya mengulas senyum manisnya ke arah Lala. “Dia pengasuh Riri,” jawab Alfarizy. “Kamu ngapain disini?” “Aku habis beli ini.” Lala menunjukan sebuah kantong plastik yang berada di tangannya. “Abis ini kamu ke kampus, kan?” tanyanya lagi. Alfarizy mengangguk. “Iya, abis nganter Riri pulang.” “Aku ikut kamu ya, sekalian,” rengek Lala manja, tangannya masih menggelayut pada lengan Alfarizy. Alfarizy berusaha melepaskan pegangan Lala karena ia sadar kalau dari tadi Nuri memperhatikan mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi aku mau pulang dulu, La. Nanti kelamaan,” jawab Alfarizy lagi. “Nggak papa, pokoknya aku mau ikut kamu,” rengek Lala lagi yang membuat Alfarizy jengah. Makin lama, tingkah Lala semakin membuatnya muak. Sudah tiga tahun mereka berpacaran tapi sikap manja Lala yang berlebihan membuat ia ingin mengakhiri hubungannya dengan gadis itu. Apalagi sekarang hatinya sudah berpaling pada sosok gadis berhijab yang sedang duduk manis di dalam mobilnya itu. “Yaudah, terserah …” kata Alfarizy akhirnya. “Yeeeaahh …” pekik Lala senang, ia ingin memeluk kekasihnya itu namun Alfarizy segera menghindar. “Nggak enak di depan umum,” kilahnya memberi alasan. Alfarizy segera masuk ke dalam mobil. Lala memanyunkan bibirnya sebal, lalu ia mendekati pintu mobil bagian depan. “Pindah ke belakang, gue mau duduk di depan!” sarkasnya sambil menarik paksa tangan Nuri yang sedang memangku Riri. Saking kencangnya Lala menarik tangan Nuri untuk pindah ke bangku belakang sehingga tanpa sengaja kepala Nuri kepentok pintu mobil. “Awww …” Nuri mengaduh sambil memegangi dahinya yang berdenyut. Nuri keluar dari mobil setelah Riri turun duluan. “Kak Nuri nggak papa?” tanya Riri. Nuri menggeleng. “Kak Nuri ndak papa, Sayang,” jawabnya sambil mengusap-usap dahinya. “Astagfirullah ….” Alfarizy keluar dari mobil dan menghampiri Nuri. “Kamu keterlaluan, La!” bentak Alfarizy pada kekasihnya. “Kamu … kamu berani bentak aku gara-gara pengasuh ini?” Lala menunjuk Nuri yang masih meringis kesakitan. “Aku ini pacar kamu lho, Al,” ujarnya kesal. “Cukup, La. Udah cukup selama tiga tahun ini aku sabar ngadepin tingkah kamu yang kaya anak kecil kaya gini.” Alfarizy mengatur napasnya yang menggebu sehingga bahunya naik turun. “Aku udah capek, ya. Kamu nggak pernah berubah! Mending kita udahan aja,” lanjutnya lagi. Perkataan Alfarizy bagai petir di siang bolong bagi Lala. Bagaimana tidak, kekasihnya itu memutuskan hubungan dengannya hanya karena seorang pengasuh. “Kamu … kamu mutusin aku?” tanya Lala tidak percaya, wajahnya sudah memerah menahan amarah. “Iya, aku udah capek sama kamu,” jawab Alfarizy mantap. “Kita udah pacaran selama tiga tahun lho, Al,” ujar Lala marah. “Ya, tapi selama itu juga kamu nggak pernah berubah. Aku nyesel kenapa bisa selama itu aku bertahan sama cewek manja kaya kamu.” Plak Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Alfarizy sebelah kanan hingga meninggalkan bekas kemerahan dan luka di sudut bibirnya. “Astagfirullah!” Nuri terpekik karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kamu pantes dapetin itu,” ujar Lala sambil mulai terisak, matanya sudah memerah karena menahan tangisnya. Alfarizy mengusap pipinya yang terkena tamparan Lala. “Silahkan, kamu boleh tampar aku sepuas kamu,” kata Alfarizy. Tanpa berkata apa-apa lagi, Lala berlalu dari hadapan mereka. Dirinya sangat kesal karena sang kekasih hati yang sudah dipacarinya selama tiga tahun dengan tega memutuskan hubungan mereka hanya karena gadis yang menurutnya kampungan dengan baju yang serba kelebihan bahan itu. “Mas Al ndak papa?” tanya Nuri, tangannya ingin mengusap pipi Alfarizy yang mengeluarkan sedikit darah di sudut bibir sebelah kanannya namun segera ia urungkan. “Maaf ya Mas, semua gara-gara aku, kalian jadi bertengkar.” Nuri menundukan kepalanya karena merasa bersalah. “Aku nggak papa, Nur. Ini bukan salah kamu, kok. Ayo kita pulang,” ajak Alfarizy. “Tapi nanti hubungan kalian tetap baik-baik aja ‘kan, Mas?” tanya Nuri memastikan. Alfarizy mengangguk. “Iya, Nur. Pasti nanti aku ngomong baik-baik sama Lala.” Ia tersenyum walaupun pipinya perih. “Nanti di rumah aku obatin lukanya ya, Mas …” kata Nuri. Ia menyesalkan kejadian yang baru saja terjadi. Mungkin gara-gara dirinya, Alfarizy sampai memutuskan kekasihnya. “Iya, Nur.” Mereka bertiga melangkah kembali ke dalam mobil dan pergi dari parkiran kedai es krim itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Pramoedya, Nuri memikirkan kejadian yang dilihatnya tadi. ‘Mudah-mudahan mbak Lala ndak salah paham dengan hubungan aku sama mas Al,’ doa Nuri dalam hati. Ya, semoga saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN