BAB 11 : TERPESONA

2119 Kata
Nuri segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah ketika mobil yang di kendarai Alfarizy sudah memasuki halaman rumah itu. Ia bergegas untuk mengambil kotak P3K. Alfarizy menggendong Riri masuk lalu mendudukkan tubuh mereka berdua di atas sofa yang berada di ruang tamu. “Ini sakit ya, Om?” tanya Riri sambil memegang pipi Alfarizy yang memar. Alfarizy mencoba tersenyum walaupun ia merasakan perih di pipinya. “Nggak sakit kok, Ri,” ujarnya berbohong. “Kok tante Lala jahat banget mukul Om ganteng sampe berdarah?” “Tante Lala nggak jahat kok, Sayang. Mungkin tadi tante Lala nggak sengaja mukul,” sahut Alfarizy berbohong. “Om ganteng, Riri mau ke kamar dulu,” kata Riri sambil berlalu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Alfarizy hanya mengangguk mengiyakan. Ia memegangi sudut bibirnya yang masih terasa perih akibat tamparan keras mantan pacarnya tadi. Nuri menghampiri budenya yang sedang memasak di dapur, dirinya sedang menyiapkan makan siang untuk keluarga Pramoedya. “Assalamualaikum, Bude,” ujar Nuri sambil menyalami tangan budenya itu. “Eh Nur, udah pulang? Wa’alaikumussalam.” “Udah Bude.” “Kamu cari apa, Nduk?” tanya Bude Yatni ketika melihat keponakannya itu celingak-celinguk ke sana ke mari. “Nuri nyari kotak P3K, Bude. Dimana ya?” tanya Nuri. Ia membuka laci-laci yang ada di dapur. Biasanya kotak P3K itu ada di sana. “Siapa yang terluka, Nduk?” tanya bude Yatni khawatir. “Mas Al, bibirnya berdarah sedikit Bude,” jawab Nuri menjelaskan. “Astagfirullah, kenapa Nur?” tanya Bude Yatni lagi. “Nanti Nuri jelasin ya Bude, kasian Mas Al nungguin di depan.” Bude Yatni segera mengambil kotak P3K yang ternyata di simpan di atas lemari dapur. Sengaja kotak P3K itu di simpan di sana karena sering dimainkan oleh Riri jika di letakkan di tempat terbuka. Katanya sih untuk main dokter-dokteran. “Ini obatnya Nur. Bude mau bikinkan teh hangat dulu buat Den Al.” Bude Yatni menuangkan air panas dari dalam termos ke dalam sebuah cangkir, mengambil sekantong teh celup lalu mengambil sesendok gula putih. Ia tau kalau tuan mudanya itu tidak terlalu suka minuman manis. Nuri kembali ke ruang tamu dengan membawa kotak P3K di tangannya. “Mas Al ….” Nuri mendekati Alfarizy yang tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Alfarizy segera bangkit dari rebahannya lalu duduk bergeser agar Nuri bisa duduk di sampingnya. “Aku obatin luka nya dulu, ya,” kata Nuri sambil mendudukkan tubuhnya di samping Alfarizy. Ia memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan majikannya itu. “Nggak papa kalo kamu ngobatin luka aku, Nur?” tanya Alfarizy, ia merasa tidak enak berdekatan dengan Nuri sedekat itu. Walaupun hatinya bersorak gembira. Ternyata memang ada harga yang harus dibayar mahal jika ia ingin berdekatan dengan Nuri. Ia rela terluka parah sekali pun asal Nuri yang mengobatinya. Nuri hanya tersenyum kecil untuk menjawab pertanyaan Alfarizy tadi. Ia mengambil alkohol lalu menuangkannya sedikit pada kapas kecil. Kapas yang telah diberi alkohol langsung ia tempelkan ke sudut bibir Alfarizy dengan hati-hati. “Tahan ya Mas, pasti perih sedikit.” Nuri menahan kapas itu di sudut bibir Alfarizy yang berdarah. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, Alfarizy bisa mengamati wajah Nuri yang polos tanpa make up apapun. Wajah Nuri memang sudah cantik alami tanpa make up sekali pun. Hal itu sangat berbeda dengan Lala, mantan pacarnya itu. Bahkan ia sampai membayangkan bagaimana manisnya saat ia mengecap bibir tipis milik Nuri. Pasti akan membuatnya ingin merasainya lagi dan lagi. “Udah selesai, Mas,” kata Nuri membuyarkan lamunan Alfarizy tentang dirinya. “Astagfirullah .…” Alfarizy tersentak. Ia langsung menghilangkan pikiran negative yang tadi sempat singgah di kepalanya. “Kenapa, Mas?” tanya Nuri heran. “Eh, nggak apa-apa Nur.” Alfarizy gelagapan. Ia sangat malu karena sempat membayangkan hal yang tidak-tidak barusan. Saking terpesonanya menatap wajah Nuri, sehingga ia tidak sadar kalau lukanya sudah selesai diobati. “Makasih ya, Nur,” kata Alfarizy sambil memegangi sudut bibirnya yang kini sudah ditempeli plester kecil oleh Nuri, “kalo diobatin kamu ‘kok aku nggak ngerasain perih sama sekali, ya?” ujarnya lagi. “Sama-sama Mas Al” jawab Nuri sambil menerbitkan senyum manisnya. Tak lama, Bude Yatni datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan di tangannya. “Di minum teh hangatnya, Den Al.” Bude Yatni menyerahkan cangkir berisi teh hangat itu ke hadapan tuan mudanya. “Wah, makasih Bi. Bibi tau aja kalo aku lagi pengen minum teh hangat,” ujar Alfarizy sambil mengambil cangkir itu dan meminumnya perlahan karena masih mengeluarkan uap panas. “Sama-sama, Den. Kalau butuh apa-apa lagi, panggil Bibi di dapur ya,” sahut Bude Yatni sambil berlalu ke belakang. “Yaudah, aku mau liat Riri dulu di kamarnya ya, Mas,” kata Nuri yang diangguki oleh Alfarizy. Ia beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamar Riri. Nuri berada di depan pintu berwarna pink. Ia segera membuka pintu itu lalu masuk ke dalam. Riri sedang duduk di meja belajarnya dengan tangan yang memegang pensil dan selembar kertas di hadapannya. Nuri mendekat. “Riri lagi ngapain?” tanyanya. Ia menyejajarkan tubuhnya dengan meja belajar Riri. “Riri lagi gambar, Kak,” jawab Riri dengan mata yang tidak lepas dari kertas putih itu. “Ini gambar siapa?” tanya Nuri lagi saat melihat ada gambar seorang wanita bersayap. Ia tahu itu gambar seorang wanita karena wanita itu memakai hijab, walaupun gambaran Riri tidak sempurna namun Nuri masih bisa mengenalinya. “Ini gambar bunda,” jawab Riri, tangannya masih sibuk menari-nari di kertas. “Kok bunda Riri pakai sayap?” “Iya karena bunda Riri udah di surga sekarang,” jawabnya polos. Deg Nuri terenyuh mendengar penuturan anak kecil di hadapannya itu. Anak sekecil Riri harus kehilangan kasih sayang seorang ibu, walaupun Nuri yakin kalau Riri tidak pernah kekurangan apapun. “Riri sekarang ganti baju, yuk. Gambarnya dilanjutkan lagi nanti. Sebentar lagi Riri harus makan trus bobo siang,” ajak Nuri sambil merapihkan rambut Riri yang sedikit berantakan. Riri mengangguk lalu mengikuti Nuri yang berjalan menghampiri lemari baju milik Riri. Nuri mengambil stelan baju bergambar barbie kesukaan Riri dari dalam lemari lalu memakaikannya pada Riri. “Kita ke bawah, yuk!” ajak Nuri lagi. Nuri dan Riri pun berjalan menuruni tangga. Riri duduk di ruang makan dengan di temani Nuri. “Riri makan dulu sekarang ya,” ujar Nuri. Riri mengangguk. “Kak Nuri juga makan bareng Riri ya,” katanya. “Kak Nuri ‘kan lagi puasa sunah, Sayang,” ujar Nuri. “Oh iya, Riri lupa,” kata Riri sambil nyengir kuda. Nuri segera menyiapkan makan siang untuk Riri berupa nasi ayam jamur kesukaannya. “Sebelum makan, Riri baca doa mau makan dulu ya,” ucap Nuri mengingatkan. Riri mengangguk lalu mengangkat kedua tangannya ke depan d**a. “Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar,” ucapnya dengan lantang. Doa-doa pendek memang sudah dihapal Riri di luar kepalanya. “Riri makan yang banyak ya, biar Riri cepet tumbuh besar,” kata Nuri. “Bismillah ….” Ia menyuapi satu sendok nasi jamur ke dalam mulut kecil Riri. “Kak Nuri, doa mau makan tadi artinya apa?” tanya Riri sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. “Doa mau makan yang Riri baca tadi artinya ya Allah, semoga Engkau berkenan memberikan berkah (kemanfaatan) kepada kami atas apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan semoga Engkau berkenan menjaga kami dari siksa api neraka yang menyakitkan. Kalo kita mau ngelakuin sesuatu, kita harus baca doa dulu. Contohnya kalo mau tidur, mau masuk kamar mandi, mau keluar rumah, semua itu ada doanya, Sayang,” jawab Nuri sambil mengusap kepala Riri pelan. “Selain doa mau makan, Riri juga harus baca doa sesudah makan agar makanan yang Riri makan membawa berkah dan terhindar dari apa yang membahayakan di akhirat,” katanya lagi. Ia berusaha menjelaskannya kepada Riri dengan bahasa yang sangat mudah untuk dipahami oleh gadis sekecil Riri. “Kalo Riri lupa baca doa mau makan gimana, Kak?” tanyanya lagi penasaran. Terkadang kalau tidak diingatkan, Riri memang suka lupa untuk membaca doa mau makan. “Kalo Riri lupa baca doa mau makan, Riri cukup baca bismillahi fi awwalihi wa akhirihi. Itu aja udah cukup,” jawab Nuri sambil menyuapi Riri lagi. Hadist tersebut seperti diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu’anha sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang apabila kita lupa membaca doa makan, hendaklah membaca ‘bismillahi fi awwalihi wa akhirihi’. Riri memakan makanannya dengan lahap hingga tidak terasa makan siangnya sudah habis tidak tersisa. “Alhamdulillah, Riri hebat. Makannya banyak!” seru Nuri sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Riri, “sekarang Riri baca doa sesudah makan ya. Riri udah hafal belum?” tanyanya kemudian. Riri menggeleng. “Biasanya Riri cuma baca doa mau makan aza, Kak,” jawab Riri dengan polosnya. “Yaudah sekarang Kak Nuri ajarin, Riri ikutin Kakak ya,” ujar Nuri yang segera diangguki oleh Riri. “Alhamdulillahilladzi…” Riri pun segera mengikuti. “Alhamdulillahilladzi…” “Ath-amanaa wa saqoonaa …” kata Nuri melanjutkan. “Ath-amanaa wa saqoonaa .…” “Wa ja’alnaa minal muslimiin ….” “Wa ja’alnaa minal muslimiin .…” “Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja’alnaa minal muslimiin ….” Nuri mengulangi doa itu dengan lengkap. “Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja’alnaa minal muslimiin .…” Riri pun berhasil menghapal doa setelah makan yang diajarkan oleh Nuri. “Alhamdulillah Riri udah hafal doanya,” ujar Nuri senang. “Makasih Kak Nuri udah ajarin Riri.” “Sama-sama, Sayang.” Nuri menyerahkan segelas air putih kepada Riri. “Sekarang Riri minum, ya.” Riri mengangguk dan mengambil gelas itu lalu meminumnya hingga menyisakan setengah gelas. Ternyata interaksi antara Nuri dan Riri tadi tidak luput dari penglihatan Mahesa. Diam-diam dirinya mengamati obrolan Nuri dan Riri dari balik tembok ruang makan. Mahesa yang sudah pulang dari kampus, terpaku mendengar penuturan Nuri soal agama kepada putri kecilnya. Menurut Mahesa, di usianya yang masih sangat muda namun pemahaman Nuri tentang agama sangatlah luas. Seketika hatinya berdesir, namun ia segera menghilangkan perasaan aneh itu. Ia tidak mau larut dalam perasaannya kepada Nuri. Menurutnya, Nuri hanyalah pengasuh untuk Riri tanpa ia berniat untuk menjadikannya pasangan hidup dan ibu sambung untuk Riri. Namun jika ternyata Allah berkata lain, semua makhluk di bumi tidak akan ada yang sanggup menolak takdirnya. “Ehm .…” Terdengar deheman dari arah belakang. Seketika Mahesa terlonjak kaget, ia langsung membalikan badan menghadap arah suara. Ia gelagapan ketika dipergoki sedang mencuri pandang ke arah Nuri. “Ngapain, Mas?” tanya Alfarizy yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. “Eh, Mas mau ambil minum di dapur,” jawab Mahesa gugup. Ia salah tingkah. “Mau ambil minum di dapur tapi dari tadi diem aja di sini,” ujar Alfarizy, “liatin siapa, sih?” tanyanya lagi menggoda. Ia sengaja memajukan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang diperhatikan oleh kakaknya. “Oh liatin Nuri ya?” tebak Alfarizy, “dia cantik ya, Mas. Shalehah juga anaknya,” pujinya lagi. “Ngaco kamu, siapa juga yang ngeliatin dia,” ujar Mahesa sambil melengos menuju dapur. Alfarizy mengikutinya dari belakang. Mahesa mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas kosong yang tergeletak di atas meja lalu mendaratkan tubuhnya di atas kursi. “Mas,” panggil Alfarizy. “Hmmm ….” “Menurut Mas, Nuri itu gimana orangnya?” tanya Alfarizy dengan sedikit berbisik. Ia tidak ingin orang lain di dalam rumah itu mendengar obrolannya dengan sang kakak. Mahesa menaruh gelas yang berada di tangannya ke atas meja. Matanya memicing menatap Alfarizy. “Maksud kamu?” tanyanya. “Ya, menurut Mas Esa dia itu gimana?” tanyanya lagi mengulang pertanyaannya tadi, “cantikkah, baikkah, atau apa gitu ….” Mendengar pertanyaan adiknya, Mahesa hanya mengendikkan bahunya acuh. Ia kembali menikmati air dingin yang masih tersisa di gelasnya. “Ah, Mas Esa nggak asik,” cibir Alfarizy. “Masa Mas Esa nggak bisa menilai cewek, sih?” Mahesa mendelik ke arah adiknya itu. “Jangan-jangan kamu suka sama dia, ya?” tebaknya tepat sasaran. “Eh ….” Kini giliran Alfarizy yang gelagapan ditanya seperti itu. “Bisa jadi, sih,” jawabnya singkat sambil terkekeh. “Trus, Lala mau di kemanain?” tanya Mahesa. “Kita udah putus,” jawab Alfarizy cuek. “Kok bisa?” tanya Mahesa lagi penasaran. “Kita udah nggak cocok, Mas.” Alfarizy memberikan jawaban klise. “Jangan-jangan kamu putus dengan Lala gara-gara kamu suka sama Nuri, ya?” tebak Mahesa lagi. Alfarizy tidak menjawab lagi pertanyaan dari kakaknya itu. Ia sendiri bingung kenapa tadi ia langsung memutuskan hubungannya dengan Lala begitu saja. Ia akui Lala tipe wanita manja. Keluarganya yang kaya membuat segala keinginannya terpenuhi sehingga sikapnya menjadi manja dan kekanak-kanakan. Mungkin itulah yang menjadi penyebab utama Alfarizy langsung memutuskannya, karena sikap kurang dewasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN