Setelah menyelesaikan persyaratan untuk pengajuan Koasnya di bagian administrasi, Alfarizy berjalan dengan cepat menelusuri koridor kelas dan sambil menyugar rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya yang diterpa angin. Lalu dengan langkah ringan ia menuruni anak tangga satu persatu.
“Al!”
Sebuah suara dari arah belakang terdengar memanggil namanya. Alfarizy segera menghentikan langkah dan menoleh mencari asal suara itu. Dilihatnya Lala tersenyum menghampirinya. Alfarizy berusaha bersikap ramah walaupun tadi siang Lala mendaratkan sebuah tamparan keras di pipinya. Bagaimana pun juga Lala adalah seseorang yang pernah hinggap di hatinya selama tiga tahun
“Ada apa lagi, La?” tanya Alfarizy.
“Maafin aku, Al … tadi aku udah nampar kamu,” jawab Lala lirih, ia menundukkan kepalanya sambil meremas jari-jari tangannya.
“Oh … nggak papa, kok. It’s fine. Mungkin aku emang pantas dapetin itu,” kata Alfarizy santai.
Lala mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang kekasih atau mungkin mantan kekasihnya. “Beneran kamu udah maafin aku?” tanyanya tidak percaya.
Alfarizy hanya mengangguk.
“Kalau gitu … ke kantin, yuk!” ajak Lala dengan suara lembut dan mencoba meraih tangan Alfarizy dan menggenggamnya.
“Ngapain?” tanya Alfarizy sambil menepiskan genggaman tangan Lala perlahan. Ia tidak ingin memberi harapan apa-apa terhadap Lala yang nanti hanya akan membuatnya semakin sakit hati karena ia yakin kalau hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.
“Oh … maaf,” ujar Lala sambil tersenyum kecut. “Ke kantin, yuk! Di sana kita ngobrol.” Lala mengulang ajakannya lagi, kali ini tanpa menyentuhnya.
“Mau ngobrolin apa lagi, La?”
“Aku pengen ngobrol masalah kita.”
“Penting ya?” Alfarizy melirik Casio yang melingkar di pergelangan tangannya, satu jam lagi bedug Magrib berkumandang. “Aku buru-buru, nih!”
“Penting, Al. Masalah tadi, kamu nggak beneran putusin aku, kan?” tanya Lala dengan wajah memelas—berharap sang kekasih menarik kembali ucapannya.
Alfarizy menghela napas panjang dan menghembuskannya kasar. “Hubungan kita nggak sehat, La. Aku capek harus terus-terusan ngertiin kamu tanpa kamu bisa ngertiin aku. Sikap kekanak-kanakkan kamu yang nggak pernah berubah, bikin aku nggak nyaman di deket kamu lagi,” katanya tegas, ia memang harus mengambil sikap antara yes or no. Now or never!
“Jadi?”
“Selama kamu belum bisa berubah, lebih baik kita sendiri-sendiri aja!” Alfarizy kembali melangkahkan kakinya keluar dari area kampus.
“Aku janji akan berubah,” kata Lala kemudian sambil berusaha menyejajari langkah kaki Alfarizy yang panjang.
Alfarizy menoleh sejenak, dengan ketus dijawabnya cepat. “Buktiin!” Ia mempercepat langkahnya.
Lala terpekur menatap punggung Alfarizy yang sudah menjauh pergi. Ia segera membalikkan badannya dan berlalu dengan cepat karena tidak kuasa menahan laju air mata yang mulai membasahi pipinya. Sambil mengusap air matanya dengan hati yang hancur, Lala berjalan lunglai menuju mobilnya yang terparkir. Demi mendapatkan cinta Alfarizy lagi, dirinya rela melakukan segala cara.
***
Setelah pulang kuliah, Alfarizy menyempatkan dirinya mampir sebentar ke kedai yang menjual martabak di dekat kampusnya. Ia berniat ingin memberikan martabak telur dan martabak keju coklat untuk Nuri yang sedang melaksanakan puasa sunnah.
Martabak Pak Parmin yang terletak di dekat kampusnya termasuk martabak terenak yang pernah ia makan. Setiap pelanggan yang ingin membeli harus rela mengantri selama kurang lebih satu jam sebelum bisa menikmati kelezatan martabak itu. Martabak Pak Parmin memang tidak pernah sepi pengunjung. Harganya terbilang murah namun rasanya tidak murahan. Ia harap Nuri akan suka dengan martabaknya.
“Pak, martabak telurnya dua dan rasa keju coklatnya satu.” ujar Alfarizy menyebutkan pesanannya kepada salah satu pegawai kedai martabak itu.
“Baik. Harap tunggu ya, Mas.”
Tidak terasa sudah hampir tiga puluh menit Alfarizy menunggu namun martabak pesanannya belum juga selesai dibuatkan. Memang harus sabar jika ingin membeli martabak Pak Parmin. Apalagi saat itu kedainya memang sudah banyak yang mengantri.
Alfarizy melirik Casio-nya, sudah pukul 17.20. Kira-kira sekitar tiga puluh menit lagi adzan Magrib berkumandang. Alfarizy berharap ia akan tepat waktu sampai di rumah nanti, mengingat jarak kampus dan rumahnya cukup jauh. Apalagi jalanan kota Jakarta di sore hari selalu terjadi kemacetan di mana-mana.
Lima menit kemudian, martabak pesanannya sudah siap. Setelah membayar, Alfarizy segera menancap gas dalam-dalam menuju rumahnya. Alfarizy bernapas lega karena jalanan yang ia lalui tidak macet sehingga bisa dipastikan ia akan tiba di rumah sebelum adzan Magrib berkumandang.
Alfarizy segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah sambil menenteng satu plastik putih berisi tiga porsi martabak.
“Nur …” panggil Alfarizy sambil melangkah ke arah dapur. Ia yakin kalau Nuri sedang berada di dapur untuk persiapan berbuka puasa.
“Datang-datang bukannya ngucapin assalamu’alaikum, malah teriak-teriak nyariin Nuri.” Sang ayah tiba-tiba datang dari arah ruang tamu.
Alfarizy tertawa kecil. “Maaf, Pah. Assalamualaikum …” sahut Alfarizy sambil menyalami punggung tangan ayahnya.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Rizky, “ada apa nyariin Nuri?” tanyanya kemudian, menatap curiga ke anak bungsunya.
“Aku cuma mau ngasih martabak untuk Nuri buka puasa, Pah,” jawab Alfarizy sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
“Sejak kapan kamu jadi perhatian sama pengasuh Riri?” tanya Mahesa yang baru saja keluar dari kamarnya dan tidak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan adik semata wayangnya itu.
“Aku ini selalu perhatian sama semua orang ‘kok, Mas,” kilah Alfarizy terkekeh.
“Waktu si Neneng yang jadi pengasuh Riri, kamu nggak suka beliin dia martabak,” cibir Mahesa yang seketika membuat Alfarizy mati kutu sehingga wajahnya merah padam.
Alfarizy memang mengakui kalau dirinya tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada pengasuh Riri sebelumnya. Entah kenapa Nuri punya daya tarik tersendiri sehingga ia mempunyai perasaan lebih.
“Allahu akbar … Allahu akbar ….” Terdengar adzan Magrib berkumandang di seantero masjid, saling bersahutan.
Alfarizy bernapas lega karena adzan telah berkumandang sehingga ia tidak akan disudutkan oleh pertanyaan-pertanyaan kakaknya lagi. “Yaudah aku nyari Nuri dulu ya mau ngasih ini,” kata Alfarizy. Ia melangkah ke dapur untuk mencari Nuri.
Rizky hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu. Sedangkan Mahesa, ia hanya menghela napasnya berat. Apakah ia harus bersaing dengan adiknya sendiri untuk mendapatkan perhatian Nuri? Karena ia akui, ia pun mempunyai perasaan lebih terhadap gadis itu.
***
“Makasih banyak ya, Mas Al. Jazakallahu khairan …” ujar Nuri saat Alfarizy menemuinya di dapur untuk menyerahkan kantong plastik yang berisi dua kotak martabak.
“Sama-sama Nur, selamat berbuka puasa ya. Jangan lupa dimakan juga es krim yang aku beliin tadi siang,” kata Alfarizy sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Iya Mas Al. Nanti lagi jangan repot-repot beliin aku ya, nggak enak sama Tuan Rizky. Apalagi Mas Al beliin martabaknya banyak banget ini,” ujar Nuri sambil melirik isi plastik yang terdapat dua kotak di dalamnya.
“Nggak papa Nur, Papah mana mungkin marah kalo aku beliin kamu makanan untuk berbuka puasa. Dapet pahala juga ‘kan kalau ngasih makanan ke orang yang lagi puasa.” Alfarizy terkikik. “Kamu juga bisa makan bareng yang lain martabaknya. Nggak mungkin juga kamu abisin martabaknya sendirian,” sahut Alfarizy sambil tertawa lepas.
Mereka berdua tertawa.
“Yaudah aku buka puasa dulu ya Mas Al. Sekali lagi terima kasih banyak untuk martabak dan es krimnya. Mas Al jangan lupa shalat magrib ya.”
“Sama-sama, Nur. Ia aku juga mau shalat magrib ke masjid. Papah dan mas Esa udah nungguin.”
Nuri tersenyum dan menatap punggung Alfarizy yang berjalan menjauhinya. Tiba-tiba hatinya menghangat mendapatkan perlakuan manis dari lawan jenis seperti itu.
“Astagfirullah …” ucap Nuri. Ia segera tersadar, tidak seharusnya mengagumi seorang laki-laki yang bukan suaminya. Ia buru-buru mengenyahkan pikiran itu.
Nuri beranjak dari dapur menuju rumah belakang. Ia akan berbuka puasa dengan yang lainnya di sana.
“Bude, ada martabak nih.” Nuri menaruh kantong plastik berisi martabak itu di atas meja lalu memanggil budenya. “Ratih, Bik Tinah, ayo sini. Kita makan martabak,” panggilnya pada Bi Tinah dan juga anaknya.
Bi Tinah dan Ratih segera bergegas menghampiri Nuri.
“Alhamdulillah … hari ini kita makan martabak, Bu,” ujar Ratih pada Ibunya dengan binar mata bahagia.
“Iya alhamdulillah, ini rezeki dari Allah,” jawab Bi Tinah sambil mengambil sepotong martabak telur lalu menggigitnya.
Ratih mengambil sepotong martabak rasa keju coklat. “Kamu dapet dari mana martabak ini, Nur? Nggak mungkin ‘kan kalo kamu beli sendiri ...” tanya Ratih sambil memasukkan martabak itu ke dalam mulutnya.
“Tadi Mas Al yang kasih ini. Katanya buat di makan bareng-bareng,” jawab Nuri. Ia juga mengambil sepotong martabak rasa keju coklat lalu memakannya. “Bismillah ...” ucapnya.
“Wah, tumben Den Al ngasih kita martabak. Pasti ada maunya nih!” seru Ratih sambil memicingkan matanya ke arah Nuri.
“Husss … jangan ngomong yang macem-macem. Nanti orangnya denger ‘kan nggak enak,” kata Bi Tinah mengingatkan anaknya.
“Emang bener ‘kan, Bu. Selama aku kerja di sini, Den Al emang gak pernah beliin kita makanan,” sahut Ratih dengan nada suara yang sedikit pelan, hampir terdengar berbisik.
“Udah, di makan aja martabaknya. Ini rejeki dari Allah melalui tangan Den Al,” ujar Bude Yatni, ia bergabung di ruang tengah setelah selesai melaksanakan shalat Magrib.
Mereka pun memakan martabak itu dengan lahap.
“Alhamdulillah …” ucap Nuri saat ia sudah memakan tiga potong martabak rasa keju coklat kesukaannya. “Aku mau shalat dulu ya. Kalian silahkan dihabiskan martabaknya,” katanya sambil berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Ia bersimpuh di atas sajadah, tangannya terangkat ke atas langit. Nuri bermunajat kepada Allah meminta semua kebaikan untuk hidupnya. Tidak lupa ia mendoakan keluarganya di kampung agar selalu dalam lindungan Allah.
Nuri membuka mukena yang masih ia pakai selepas shalat magrib tadi dan kembali memakai hijabnya ketika terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.
Nuri segera beranjak membukakan pintu.
“Nur …”
Ternyata Alfarizy yang berada di balik pintu. Ia mendongakkan kepalanya sedikit saat pintu kamar Nuri terbuka.
“Ada apa, Mas Al?” tanya Nuri.
“Maaf ganggu waktu istirahat kamu. Riri minta diajarin baca Iqra sama kamu. Tadi aku udah mau ngajarin dia, tapi katanya mau sama kamu aja,” jawab Alfarizy. Ia masih memakai baju koko berwarna putih dan sarung berwarna coklat. Tidak lupa peci warna putihnya pun masih bertengger di kepalanya. Sungguh memancarkan aura ketampanan yang hakiki.
“Oh iya ndak papa, Mas Al. Sebentar lagi aku ke rumah utama, ya,” sahut Nuri.
“Yaudah Nur, aku tunggu di sana ya,” kata Alfarizy sambil berlalu pergi dari depan kamar Nuri.
Nuri sudah hendak menutup pintu ketika tiba-tiba Bude Yatni menginterupsinya.
“Den Al ada apa ke sini, Nur?” tanya Bude Yatni yang tiba-tiba sudah berada di depan Nuri.
“Astagfirullah, Bude ngagetin aja.” Nuri mengelus dadanya yang berdetak kencang.
“Maaf kalo Bude ngagetin kamu. Den Al mau apa ke sini?” tanya Bude Yatni lagi.
“Riri minta diajarin baca Iqra sama Nuri, Bude.”
“Yaudah kamu cepetan kesana.”
“Iya, Bude. Nuri beresin mukena dulu,” kata Nuri sambil masuk kembali ke kamarnya.