Waktu berlalu sangat cepat sekali. Tidak terasa, sudah satu bulan Nuri bekerja sebagai baby sitter Riri di rumah besar itu. Selama bekerja di sana, ia merasa betah. Sangat betah malah. Keluarga Pramoedya benar-benar memperlakukannya dengan sebaik mungkin. Walaupun dirinya hanyalah seorang pengasuh, namun Tuan Rizky tidak pernah merendahkannya. Ia menyayangi Nuri seperti anaknya sendiri, mengingat anak-anak Tuan Rizky keduanya laki-laki. Ketika masih hidup, Almarhumah istrinya itu memang sangat menginginkan anak perempuan yang katanya bisa didandani sedemikian rupa—dipakaikan pita, jepitan, bando atau rambut dikuncir dua. Ah, sungguh tidak akan ada habisnya jika mendandani seorang anak perempuan. Apalagi dengan beraneka ragam pakaian yang lucu-lucu.
Ketika pagi menjelang, seluruh warga di kediaman Pramoedya sudah beraktifitas seperti biasanya.
Pagi itu Nuri sedang sibuk di dapur. Seperti biasanya, ia sedang menyiapkan segelas s**u hangat untuk Riri. Ia menjalani pekerjaannya sebagai pengasuh dengan senang hati sampai ia tidak merasa bahwa mengasuh Riri adalah sebuah pekerjaan. Ia merawat Riri seperti merawat adiknya sendiri. Mungkin di kampungnya, gadis seumurannya sudah menikah dan mempunyai anak satu sampai dua orang. Perempuan umur 18 tahun di kampungnya dianggap sudah matang untuk dinikahkan. Wis ngerti urip seperti jaman kedua orang tuanya menikah dulu. Pemikiran itu tidak pernah berubah. Perempuan tidak boleh sekolah tinggi-tinggi karena nanti larinya akan ke dapur juga. Padahal pemikiran itu salah, perempuan harus berpendidikan yang tinggi karena madrasah pertama anak-anak mereka adalah Ibunya. Bagaimana mereka bisa mendidik anak-anaknya jika miskin ilmu. Seperti pepatah bilang; ‘wanita cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas juga.’ Hal itu disebabkan gen kepintaran diturunkan oleh sang Ibu, bukan Ayah.
Oleh sebab itu, Nuri belum mau menikah. Ia ingin memiliki pendidikan tinggi dahulu untuk bekal mengajarkan anak-anaknya kelak. Ia tidak ingin miskin ilmu. Ia ingin mengajarkan anaknya nanti dengan wawasan dan pemahaman yang luas. Bukankah anak-anak cerdas terlahir dari ibu-ibu yang cerdas juga? Karena itu ia akan bekerja dengan giat sehingga bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti. Syukur-syukur kalau ia bisa kuliah dengan jalur beasiswa seperti obrolannya tempo hari dengan Alfarizy.
Seketika lamunan Nuri buyar karena suara Budenya yang menginterupsi.
“Nur,” panggilnya.,
“Iya, Bude.” Nuri melirik Budenya tapi tangannya masih mengaduk sendok dalam gelas yang berisi s**u.
“Nanti tolong belanja ke pasar ya. Persediaan bahan masak udah habis.”
“Baik, Bude,” jawab Nuri patuh. Ia menaruh gelas s**u itu di atas meja makan.
“Ini daftar belanjanya.” Bude Yatni menyerahkan selembar kertas bertuliskan bahan apa saja yang harus dibeli Nuri. “Ini uangnya,” lanjutnya sambil menyerahkan tiga lembar uang kertas berwarna merah ke tangan Nuri.
Nuri menerima kertas dan lembaran uang itu lalu memasukkannya pada saku baju gamis yang ia pakai.
“Nanti kamu naik ojek aja ya, Nur. Soalnya Pak Supri harus nganter tuan Rizky ke kantor.”
“Iya ndak apa, Bude. Nuri naik ojek aja,” sahut Nuri lagi.
Tidak lama, Rizky dan Alfarizy memasuki ruang makan. Rizky sudah rapih dengan stelan kantornya—kemeja warna putih dengan balutan jas hitam dan celana hitam panjang, dipadupadankan dengan sepatu pantofelnya yang sudah disemir sampai mengkilat, tidak lupa dasi hitam panjang sudah bertengger melingkari lehernya. Alfarizy pun sudah rapih dengan kemeja lengan panjang yang sudah ia gulung sampai sikut dengan celana panjang bahan warna blue navy. Dengar-dengar hari itu ia akan memulai praktek Koasnya di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Pusat.
“Pagi, Nur,” sapa Alfarizy. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di ruang makan. Saat itu ia melihat Nuri sedang menyiapkan sarapan untuk keponakan kecilnya.
Nuri menengok ke arah orang yang menyapanya. Demi apapun, melihat penampilan Alfarizy yang sangat rapih seperti pagi itu membuat Nuri terpesona untuk sejenak. Nuri langsung menundukkan pandangannya sambil mengucap ‘istigfar’ dalam hati.
“Pa—pagi, Mas Al,” sahut Nuri terbata.
“Kok cuma Al aja yang disapa, Nur?” goda Rizky terkekeh.
Wajah Nuri bersemu kemerahan. “Eh, pagi Tuan Rizky ….” Nuri menundukkan lagi kepalanya.
Rizky tergelak mendapati sikap salah tingkah Nuri.
Beruntung, Nuri segera lepas dari moment awkward itu ketika terdengar suara Riri memanggil namanya.
Nuri langsung merentangkan kedua tangannya ketika Riri datang menghampirinya. Ia langsung menggendong Riri untuk mendudukkannya di kursi makan—bergabung bersama Kakek dan Omnya.
Riri menghadiahi sebuah ciuman di pipi Nuri sebagai tanda terima kasihnya.
Nuri tersenyum dan berbalik mencium kedua pipi Riri yang chubby dengan gemes.
“Cuma Riri aja nih yang dicium?” tanya Alfarizy menggoda, “aku nggak sekalian dicium juga, Nur?” godanya lagi sambil memainkan kedua alisnya sehingga membuat alisnya itu naik turun.
Godaan Alfarizy seketika langsung membuat muka Nuri merah padam menahan malu.
“Al …” panggil Rizky, “jangan godain anak gadis Papah,” tegur Rizky saat melihat wajah Nuri merah seperti tomat. Ya, Rizky menyayanginya dan sudah menganggap Nuri seperti anak gadisnya.
Nuri hanya bisa menunduk dan sesekali melirik Alfarizy yang masih bisa tertawa setelah menggodanya. Ia merasakan hatinya tengah kembang kepis mengatur rasa yang entah dengan sengaja atau tidak, menyelinap masuk ke relung hatinya. Ia tersipu malu.
“Maafin Al ya, Nur,” kata Rizky kemudian.
Nuri mendongak. “Iya Tuan, ndak apa-apa,” jawabnya.
“Nur, ini gaji pertama kamu sebagai pengasuh Riri.” Rizky mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam saku jasnya lalu menyerahkannya di hadapan Nuri. “Diterima, ya,” lanjutnya lagi.
Kedua mata Nuri berbinar menatap amplop putih itu. ‘Ya Allah, alhamdulillah … aku punya uang dari keringatku sendiri,’ batinnya penuh haru.
“Kalau uang yang dikasih Papah kurang, bilang aja ya, Nur. Nanti aku tambahin,” ujar Alfarizy terkekeh.
“Insya Allah cukup, Mas Al. Berapapun uang yang diterima dengan penuh rasa syukur, insya Allah akan cukup. Percuma kalau kita mendapatkan banyak uang tapi ndak bersyukur, uangnya akan tetap habis juga,” terang Nuri.
“Tuh … denger kata Nuri, Al. Jangan menilai apapun dari besarannya, yang penting berkah,” cicit Rizky.
“Iya … Pah, iya. Aku ‘kan tadi cuma becanda,” kilah Alfarizy. Ia mengaduk teh hangat yang ada di hadapannya dan meminumnya beberapa tegukan. Lidahnya bergoyang mendapati sensasi manis dan hangat dari teh itu.
Nuri hanya tersenyum menanggapi Alfarizy yang tengah merajuk seperti itu.
“Ngomong-ngomong, Mahesa mana ya? Udah jam segini belum keluar dari kamar?” Rizky melirik jam Rollex yang melingkari tangan kanannya.
“Biar saya yang panggilkan, Tuan.” Nuri berinisiatif.
Rizky mengangguk. “Tolong ya, Nur. Suruh cepetan, kami sudah menunggu,” ucap Rizky. Memang sudah menjadi tradisi di rumah itu bahwa saat sarapan dan makan malam, mereka akan makan bersama-sama. Jadi tidak ada alasan untuk mereka pulang larut dan melewatkan jam makan malam.
Nuri segera beranjak menuju kamar Mahesa. Diketuknya beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Perlahan, Nuri memberanikan diri untuk membuka kamar itu. Ia melongokkan kepalanya melalui celah pintu yang sudah ia buka sedikit.
Tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Kemudian ia membuka pintu itu lebih lebar agar dirinya bisa masuk ke dalam.
Baru saja ia masuk ke dalam kamar, tiba-tiba dari balik pintu kamar mandi muncul Mahesa dengan hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahnya sehingga mengekspos bagian dadanya yang sixpack seperti roti sobek.
Untuk beberapa detik, kejadian tidak terduga itu membuat mata Nuri membulat sempurna hingga akhirnya Nuri berteriak kencang dan menutup kedua matanya dengan tangan. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadap keluar—membelakangi Mahesa.
Mendengar Nuri berteriak, Mahesa pun sontak menutupi dadanya yang tanpa sehelai baju dengan kedua tangannya. Ia kaget kenapa tiba-tiba ada Nuri di dalam kamarnya.
Nuri terus beristigfar dalam hati. ‘Astagfirullah, ampuni aku ya Allah.’
“Maaf Tuan, saya sudah lancang masuk kamar. Tadi saya ketuk pintu beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Saya pikir Tuan Esa masih tidur dan saya berniat untuk membangunkan karena Tuan Rizky sudah menunggu di ruang makan. Tuan disuruh segera ke sana,” terang Nuri dengan posisi yang masih membalikkan badan. Matanya yang suci sudah ternoda dengan melihat d**a telanjang Mahesa.
“Bilang papah, saya akan segera ke sana,” ujar Mahesa cuek. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat sikap Nuri yang seperti itu. Ia akui bahwa Nuri memang masih polos. Melihat dirinya yang bertelanjang d**a saja sudah membuat Nuri panas dingin seperti itu. Ia tergelak.
“Baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf,” kata Nuri sambil segera melangkah menutup pintu kamar Mahesa dengan cepat. Ia mengambil langkah seribu menuju ruang makan.
Nuri mengatur napasnya yang terengah dan debaran jantungnya yang berdetak tidak karuan.
‘Astagfirullah.’ Hanya kata itu yang terus-terusan terucap dari mulut Nuri. Ia merasa sangat malu dengan kejadian tadi. Mau taruh di mana wajahnya nanti saat bertemu dengan Mahesa?