BAB 14 : KEDATANGAN SUWANTO

2438 Kata
Mahesa berjalan gontai menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu ayah, adik, juga putri kecilnya. Semalam ia memang tidur terlalu larut malam karena sibuk mengoreksi tugas para mahasiswanya yang menumpuk sehingga pagi itu ia terlambat bangun. Beruntung masih ada waktu satu jam sebelum ia mulai memberi mata kuliahnya pagi itu. Ia sudah rapih dengan kemeja lengan pendek berwarna dongker dan celana panjang bahan berwarna hitam. Rambutnya yang sudah mulai agak panjang ia sisir ke belakang dan tak lupa memakaikan pome pada rambutnya itu. Karena jadwal mengajarnya sangat padat sehingga ia belum sempat pergi ke barber shop untuk mencukur rambutnya yang mulai memanjang. Mahesa melirik Nuri yang tengah menyuapi putri kecilnya, kejadian tidak terduga tadi di dalam kamarnya kembali muncul di kepalanya. Nuri melirik Mahesa. Namun ia buru-buru menundukkan kepalanya saat pandangannya bersitatap dengan Mahesa. “Pagi, Pah.” Mahesa mendudukkan tubuhnya di samping Riri dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi gembilnya itu. “Maaf Pah, Esa bangun terlambat,” katanya lagi. “Tumben Mas … biasanya paling rajin bangun pagi,” ujar Alfarizy. “Iya, semalam aku tidur larut malam,” sahut Mahesa sambil menyeruput kopi hitam kesukaannya yang sudah tersedia di atas meja makan, “makan yang banyak ya, sayang,” ujarnya pada Riri sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut. Nuri yang berdiri di samping kanan Riri jadi salah tingkah mengingat apa yang ia lihat di kamar Mahesa. Ia menunduk—tidak berani mengangkat kepalanya. “Papap, kapan kita jalan-jalan lagi?” tanya Riri. Mahesa ingat, sudah lama dirinya tidak mengajak Riri pergi jalan-jalan karena kesibukannya yang sedang padat. “Karena besok weekend, gimana kalo besok aja kita jalan-jalannya?” usul Mahesa sambil tersenyum. “Tapi ajak Kak Nuri juga ya, Pap,” usul Riri. Nuri dan Mahesa saling berpandangan sekilas, tapi buru-buru mereka mengalihkan pandangannya lagi. “Emangnya Riri nggak mau jalan-jalan berdua Papap aja?” tanya Mahesa. “Tapi Riri maunya sama kak Nuri juga, Pap,” rengek Riri. “Udah, Sa. Ajak Nuri aja,” kata Rizky menengahi. “Om ganteng juga ikut ya, Ri.” Alfarizy tidak mau kalah. Ia mengedip-ngedipkan matanya sambil kedua tangannya terangkat di atas d**a. Memohon. Riri mencebikkan bibirnya. “Nggak boleh. Riri maunya pergi sama Papap dan kak Nuri aja!” tolaknya mentah-mentah. Alfarizy mendengus sebal, gagal usahanya ingin berdekatan dengan Nuri. “Sebel ah, Om ganteng nggak boleh ikut,” runtuknya. “Emangnya Riri mau pergi kemana, sih?” tanya Mahesa. Ia mengelus rambut Riri yang terkepang dua. “Riri mau ke taman bermain!” seru Riri antusias. Ia memang sudah lama tidak pergi ke tempat seperti itu. “Yaudah, besok kita jalan-jalan. Sekarang Riri habiskan makanannya, ya,” sahut Mahesa. “Tapi sama Kak Nuri juga ya!” keukeuh Riri. “Iya, sayang. Besok Kak Nuri ikut juga,” kata Mahesa akhirnya sambil melirik Nuri yang masih tertunduk sambil menyuapi putri kecilnya. “Apa kamu tidak keberatan ikut bersama kami, Nur?” tanyanya kemudian pada Nuri. “Eh iya, Tuan. Saya akan ikut,” jawab Nuri. Ia tidak punya pilihan lain. *** Pagi hari menjelang. Tepat pukul enam pagi, Riri terbangun dari tidurnya dan langsung berlari ke luar kamar. Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Hari ini ia sangat bersemangat karena sang ayah telah menjanjikan pergi jalan-jalan ke taman bermain, dan ia sudah tidak sabar. Riri masuk ke kamar ayahnya untuk membangunkannya. “Pap, bangun!” Riri mengguncang bahu Mahesa yang masih tertidur pulas dengan pelan. “Hehm …” gumam Mahesa, masih menutup mata. “Pap, bangun!” ujar Riri sambil mengguncang tubuh papanya sedikit keras karena Mahesa belum mau juga membuka mata. Mahesa mengucek matanya lalu duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. “Iya, sayang. Papa udah bangun.” “Ayo, katanya hari ini kita mau jalan-jalan,” rengek Riri tidak sabaran. Mahesa melirik jam yang menempel di dinding kamarnya, masih pukul enam pagi dan Riri sudah merengek untuk pergi jalan-jalan. “Masih terlalu pagi untuk jalan-jalan, Sayang,” kata Mahesa. Sungguh, ia masih ingin memejamkan matanya sekejap saja. “Ayo, kita siap-siap dulu, Pap!” “Yaudah sana, Riri siap-siap dulu sama kak Nuri,” kata Mahesa dengan mata sedikit terbuka. “Ok!” seru Riri sambil turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar Papapnya. Setelah Riri pergi dari kamarnya, Mahesa kembali melanjutkan tidurnya. * Pukul 9 tepat, mereka tiba di sebuah Mall. Keadaan Mall belum terlalu ramai karena hari masih pagi. Tempat pertama yang mereka tuju adalah food court karena tadi Riri sudah merengek terus untuk pergi sehingga mereka melewatkan sarapan mereka. setelah mengisi perut di kedai yang menyediakan pizza kesukaan Riri, akhirnya mereka menuju pusat permainan anak yang berada di lantai paling atas. Sesampainya di sana, Riri langsung mencoba permainan satu per satu. Dengan awas, Nuri menemani Riri bermain kesana kemari. Mahesa sendiri lebih memilih duduk di sebuah bangku yang ada di depan wahana bermain sambil mengawasi anaknya. Sesekali pandangannya menelisik ke arah Nuri. Walaupun di umurnya yang belum genap dua puluh tahun, tapi Nuri terlihat dewasa. Apalagi ia tahu bahwa pengasuh putrinya itu sangat menyayangi Riri. ‘Cantik!’ Satu kata yang melintas di pikiran Mahesa saat memandangi Nuri walaupun dari kejauhan. Ia seperti melihat mendiang istrinya pada sosok Nuri. Sikap Nuri yang lemah lembut persis sama seperti mendiang istrinya. Apalagi Mahesa sangat menyukai penampilan Nuri yang selalu berpakaian syar’i—baju gamis longgar dengan hijab panjang sampai menutupi telapak tangannya. “Astagfirullah, kenapa aku malah memikirkannya?” Mahesa tersadar dari lamunannya itu. Tiba-tiba Riri berlari menghampirinya dengan diikiti oleh Nuri di sampingnya. “Pap, ayo kita main,” ajak Riri sambil menarik tangan Mahesa. “Nggak pa-pa Tuan, biar saya yang menjaga tasnya,” ujar Nuri. Tadi Nuri memasukkan perlengkapan Riri ke dalam sebuah tas. Selama mereka bermain, tas itu dijaga oleh Mahesa. “Yaudah … ayo, Ri!” Mahesa dan Riri masuk ke arena bermain lagi. Kini giliran Nuri yang melihat mereka bermain dari kejauhan. Sedang asik memperhatikan anak asuhnya bermain bersama sang papa, tiba-tiba gawai Nuri mengalun merdu. “Assalamua’alaikum, Bu ….” “Wa’alaikumussalam, Nur. Gimana kabar kamu?” Terdengar suara Santi menyahut di ujung telepon. “Alhamdulillah baik, Bu. Ibu, bapak, dan Agil gimana kabarnya?” “Alhamdulillah apik, Nur.” “Ibu ada apa telepon Nuri siang-siang?” tanya Nuri heran, tidak biasanya sang ibu menelponnya di jam kerja kecuali ada yang benar-benar darurat. Biasanya sang ibu akan menelpon disaat Nuri sudah menyelesaikan pekerjaannya. Terdengar sang ibu menghela napasnya panjang. “Nur … kakek udah tau di mana kamu tinggal.” Kata-kata ibunya barusan bagai petir di siang bolong bagi Nuri. “Astagfirullah ….” “Dari pagi kakek ndak ada di rumah. Di ladang pun ndak ada. Firasat Ibu kalau kakek nyusulin kamu ke Jakarta,” ujar Santi lirih. Nuri terdiam, ia bingung harus bagaimana jika nanti kakeknya benar-benar menemuinya di Jakarta. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah majikannya. “Nur, kamu masih di situ?” Suara Santi membuyarkan lamunan Nuri. “Eh, iya Bu. Yaudah ndak apa-apa kalo nanti kakek nemuin Nuri di Jakarta. Nuri akan ngomong baik-baik sama kakek. Mudah-mudahan kakek mau ngerti ya, Bu.” “Iya, Ibu selalu doakan yang terbaik untuk kamu, Nur. Maaf Ibu telepon kamu saat kamu lagi kerja.” “Ndak apa-apa, Bu. Kebetulan Nuri lagi di luar rumah. Lagi nemenin Riri main.” “Yasudah … jaga diri kamu ya, Nur. Jangan lupa kabari Ibu. Assalamu’alaikum ….” “Wa’alaikumussalam ….” Nuri menutup sambungan teleponnya. Seketika ia langsung memikirkan harus berbicara apa kalau nanti sang kakek benar-benar menemuinya. * “Ada apa, Nur? Sepertinya lagi ada yang kamu pikirin?” tanya Mahesa. Kini mereka sudah berada di dalam mobil arah pulang. Dari pengamatan Mahesa, wajah Nuri menjadi muram sejak dirinya menerima telepon entah dari siapa. Terlihat Nuri melamun sepanjang perjalanan, sedangkan Riri sudah terlelap di jok belakang. Saking semangatnya bermain sampai ia kelelahan. “Nur …” panggil Mahesa lagi karena Nuri masih asik dengan lamunannya sendiri. “Eh, iya Tuan. Ada apa?” Nuri tersadar dari lamunannya saat bahunya ditepuk pelan oleh Mahesa. “Saya tanya, kenapa kamu ngelamun terus? Ada yang kamu pikirin?” tanya Mahesa lagi, ia masih fokus menyetir. “Ndak ada, Tuan. Ndak ada yang lagi saya pikirkan,” kata Nuri berbohong. “Apa kamu nggak seneng pergi sama saya dan Riri?” terka Mahesa, matanya sesekali melirik Nuri. “Eh, bukan itu Tuan. Saya beneran ndak apa-apa,” kilah Nuri sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Mahesa terkekeh melihat tingkah pengasuh anaknya itu. Mahesa akui kalau Nuri sangat cantik walaupun wajahnya tanpa terusap make up. walaupun usianya belum genap 20 tahun, tapi sikap Nuri sangat dewasa dibandingkan gadis seumurannya. Entah kenapa di dasar hatinya yang terdalam dirinya mengagumi gadis itu. Mereka tiba di rumah kediaman Pramoedya pukul satu siang. Mahesa membuka pintu belakang untuk menggendong Riri yang masih terlelap. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah itu. Betapa terkejutnya Nuri saat memasuki ruang tamu. Ternyata sang kakek sudah berada di sana dengan di temani oleh Rizky. Ternyata sang kakek benar-benar menyusulnya ke Jakarta. Di samping sang kakek, ada seorang pria tambun dengan kumis yang melintang di atas bibirnya. Dan sudah bisa Nuri pastikan kalau laki-laki itu adalah Herman—si juragan tanah di kampungnya. “Assalamu’alaikum …” ucap Nuri lirih. “Wa’alaikumussalam. Nur, ini ada kakek kamu dari kampung,” ujar Rizky. Nuri langsung menghampiri sang kakek dan mencium punggung tangannya. Ia pun hanya melayangkan senyuman ke arah Herman sebagai tanda hormat. Sebatas itu! Setelah itu, Nuri mendudukkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan sang kakek. Rizky dan Mahesa pamit undur diri karena mereka ingin memberikan ruang untuk Nuri bercengkrama dengan sang kakek. “Kakek ada apa jauh-jauh ke sini?” tanya Nuri membuka percakapan, saat hanya ada dirinya dan sang kakek beserta juragan tanah itu di ruang tamu. “Ikut Kakek pulang sekarang, Nur!” ucap Suwanto tegas, terlihat rahangnya mengeras. “Nuri betah tinggal di sini, Kek!” tolak Nuri tidak bermaksud membantah perkataan sang kakek. “Ngapain kamu jauh-jauh pergi ke Jakarta kalau hanya untuk jadi pembantu?!” berang Suwanto. “Kamu nggak perlu capek-capek kerja kalau menikah dengan saya, Nur,” timpal Herman, “saya pastikan hidup kamu akan terjamin nanti. Bukan hanya hidup kamu saja, bahkan hidup keluarga kamu,” lanjutnya lagi. Nuri menatap Herman dengan tatapan tidak suka. Nuri tidak habis pikir, laki-laki berkumis tebal itu sudah beristri tiga namun masih saja matanya jelalatan melihat wanita muda. Seolah hasratnya belum terpuaskan dengan ketiga istri yang sudah dimilikinya. “Kek, Nuri masih ingin melanjutkan pendidikan. Nuri belum ada keinginan untuk menikah. Nuri—” Ucapan Nuri terjeda karena sang kakek langsung menyambar ucapannya. “Perempuan itu nggak harus sekolah tinggi-tinggi karena sudah kodratnya perempuan masuk dapur!” hardik Suwanto kesal. “Tapi, Kek—” Nuri berusaha mempertahankan keinginannya. “Ndak ada tapi-tapian … sekarang juga kamu ikut kakek pulang. Kakek akan nikahkan kamu dengan tuan Herman besok!” Suwanto bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Nuri dan menarik paksa tangannya. “Nuri ndak mau, Kek!” tolak Nuri, ia berusaha menarik kembali tangannya yang sedang dicengkram kuat oleh sang kakek. “Tolong, hargai keputusan Nuri! Nuri mau memilih jalan sendiri,” lanjutnya. “Alah, kamu ini dikasih tau orang tua kok ngeyel sih, Nur!” Suwanto semakin murka karena penolakan Nuri yang tidak mau ikut pulang bersamanya. Tiba-tiba datang Alfarizy. Ia yang baru saja tiba dari kampus, melangkahkan kakinya lebar-lebar begitu mendengar suara gaduh dari arah ruang tamu. “Ada apa ini?” tanya Alfarizy, ia mengernyitkan kedua alisnya melihat dua orang asing berada di dalam rumahnya. Ia pun melangkah ke arah Nuri. “Mas Al …” lirih Nuri, masih berusaha melepaskan cengkraman tangan sang kakek. “Mereka siapa, Nur?” tanya Alfarizy heran. Suwanto melepaskan cengkramannya dari tangan Nuri, lalu menatap Alfarizy dengan tajam. “Saya adalah Kakeknya Nuri. Kamu siapa?” tanyanya sambil mendelik. “Saya adalah anak dari pemilik rumah ini, Pak,” kata Alfarizy berusaha bersikap sopan. Nuri segera menjauhi kakeknya dan berlindung di balik tubuh Alfarizy. Melihat Nuri yang sepertinya ketakutan, membuat Alfarizy paham kalau terjadi sesuatu antara gadis itu dan kakeknya. “Saya ke sini ingin membawa Nuri pulang!” kata Suwanto tegas. Sekilas Alfarizy menengok ke arah Nuri yang berada di belakangnya dan Nuri langsung menggeleng—menandakan bahwa ia tidak ingin ikut pulang bersama sang kakek. “Memangnya ada apa Nuri harus pulang, Pak?” telisik Alfarizy, “apa orang tua Nuri sakit di kampung?” tanyanya lagi. Suwanto terlihat menghela napas berat. “Nuri akan menikah besok!” serunya. “APA???” Alfarizy melongo, gadis yang ia cintai ternyata akan menikah secepat itu. Ia langsung membalikkan tubuhnya ke arah Nuri, dan lagi-lagi Nuri langsung menggelengkan kepala. “Nuri belum mau menikah. Nuri nggak mau menikah sama Tuan Herman yang sudah beristri tiga,” papar Nuri, ia mencengkram ujung kemeja Alfarizy dengan erat. “Bapak dengar itu?” Alfarizy kembali menatap laki-laki tua dihadapannya. “Nuri tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya,” lanjutnya kemudian. Suwanto menatap nyalang ke arah Nuri yang masih berlindung di balik pemuda yang ikut campur dengan urusannya. Herman memberikan kode kepada Suwanto agar segera menyeret Nuri ke luar rumah dan memasukkannya ke dalam mobil yang ia kendarai. Paham dengan perintah tuannya, Suwanto bergegas menghampiri Nuri dan menarik tangannya. “Ayo ikut!” Nuri berusaha berontak dengan berpegangan pada tangan Alfarizy. Alfarizy segera menggenggam tangan Nuri agar tidak kemana-mana. “Pak … saya bisa laporkan Bapak karena Bapak telah melakukan keributan di rumah saya!” seru Alfarizy. “Kamu—kamu berani melawan saya?” tanya Suwanto, menatap tajam ke arah pemuda itu. Suwanto melepaskan tangan Nuri dan hendak melayangkan sebuah pukulan tepat ke arah wajah Alfarizy, namun tiba-tiba tangan yang sudah melayang itu segera dicengkram oleh seseorang. Mahesa. Setelah menidurkan Riri di kamarnya, dirinya segera turun ke lantai bawah setelah mendengar suara rebut-ribut. “Ada apa ini? Kenapa Anda ingin memukul adik saya?” tanya Mahesa marah. Kemudian ia melepaskan cengkraman tangannya pada Suwanto. “Siapa lagi ini?” tanya Suwanto, rahangnya mengeras. Tuan Herman hanya mendesah kasar karena waktunya di rumah itu tersita semakin banyak. “Saya Mahesa, kakak dari laki-laki yang hendak Bapak pukul. Kenapa Bapak mau pukul adik saya?” tanya Mahesa lagi. “Tanyakan saja pada laki-laki yang sok jagoan ini, jangan suka mencampuri urusan saya!” hardik Suwanto kesal. Mahesa beralih menatap adiknya. “Ada apa, Al?” tanyanya pada sang adik. “Mereka ingin membawa Nuri, Mas. Kakeknya ingin menikahkan Nuri dengan laki-laki itu,” kata Alfarizy sambil melirik Herman yang berdiri di samping Suwanto. Herman memelintirkan kumisnya saat Mahesa mengarahkan pandangan untuk menatapnya. ‘Apa nggak salah Nuri menikah dengan pria yang seharusnya menjadi ayahnya?’ batin Mahesa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN