Setelah keributan yang terjadi siang tadi di kediaman Pramoedya, Nuri tidak henti-hentinya minta maaf pada sang pemilik rumah—karena kedatangan sang kakek yang membuat keributan.
“Sudahlah, Nur. Tidak usah minta maaf terus kaya gitu,” kata Rizky saat mereka—Nuri, Alfarizy, dan Mahesa berkumpul di ruang tamu.
Setelah Rizky turun tangan, akhirnya Suwanto bersedia kembali pulang ke kampungnya. Ia berjanji akan membicarakan hal itu lagi dengan Nuri secara baik-baik. Sebenarnya Rizky tidak ingin mencampuri masalah keluarga mereka, namun karena mereka membuat keributan di rumahnya, maka dirinya menganggap kalau itu sudah menjadi masalahnya juga.
“Maaf ya, Tuan. Saya merasa tidak enak karena tadi kakek saya membuat keributan di sini,” lirih Nuri, ia menunduk dalam-dalam.
“Iya ... nggak apa-apa, Nur,” jawab Rizky tenang. “Nanti kita bicarakan masalah ini lagi kalau kamu udah tenang ya,” lanjutnya.
Tidak lama, Bude Yatni masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikumussalam …” jawab mereka yang ada di ruang tamu serempak.
Rupanya saat kejadian mertua dari adiknya itu membuat keributan di rumah majikannya, dirinya tengah ke pasar untuk membeli sesuatu.
“Lho … Nur, kamu kenapa?” tanya Bude Yatni khawatir saat melihat keponakannya menunduk dalam di hadapan majikannya. Ia takut keponakannya itu membuat kesalahan.
“Nuri nggak apa-apa, Yat. Kamu bawa Nuri ke kamarnya, dia perlu istirahat,” kata Rizky.
“Baik, Tuan.” Bude Yatni langsung menggamit tangan Nuri dan menuntunnya menuju kamarnya di rumah belakang.
Nuri berjalan lunglai di samping sang bude.
***
Bibirnya digigit kuat-kuat, geram. Tangannya disilangkan di bawah kepala. Matanya menerawang, memandang langit-langit kamarnya.
Kamar Nuri tidak terlalu luas. Tak sampai 10 meter persegi. Di atas meja terpajang foto keluarganya. Foto yang diambil dengan kamera pinjaman dari tetangga waktu di kampung. Tampak Nuri yang masih duduk di kelas 1 SMA dan Santi—Ibunya duduk sambil memangku Agil yang masih berusia 10 tahun. Surya—Ayahnya tidak terlihat di foto itu. Karena saat foto itu diambil, sang ayah berdiri di belakang kamera sambil membidik foto.
Setelah agak lama memandang langit-langit kamarnya, Nuri menghadapkan tubuhnya ke arah kanan. Dipandanginya foto sang ibu. Wajah yang teduh, manis dan ayu—mirip dirinya. Lama gadis itu terdiam sambil memandangi foto dalam bingkai berukuran 10R itu, murung. Ia bingung pada dirinya sendiri, bagaimana jika sang kakek menemuinya lagi di Jakarta dan tetap memaksanya ikut pulang ke kampung. Haruskah ia menuruti keinginan sang kakek untuk menikah dengan juragan kaya raya itu?
Nuri ingin teriak, tapi teriakan itu terus terpenjara dalam penjara hatinya. Ia tidak boleh berputus asa seperti itu. Masih ada Allah SWT yang akan menolongnya keluar dari masalah itu. Sesungguhnya Allah tidak akan membebani hambanya melampaui batas kemampuannya.
Kreeek!
Terdengar bunyi pintu dibuka. Nuri menoleh ke arah pintu. Sang bude yang masuk ke dalam kamarnya sambil membawakan segelas air.
Nuri bangkit dari tidurnya, lalu duduk di tepi ranjang.
“Ini … minum dulu, Nur.” Bude Yatni menyodorkan gelas yang tadi dibawanya.
Nuri menerima gelas itu dan meminumnya dalam tiga kali tegukan. Lalu ia taruh gelas itu di atas meja yang ada bingkai foto di atasnya.
“Kamu kenapa, Nduk?” tanya Bude Yatni karena masih melihat mendung menggelayuti wajah keponakannya.
Nuri menghela napas panjang lalu membuangnya perlahan. “Tadi … kakek ke sini, Bude,” katanya lirih.
“Apa?” Seketika mata sang bude membeliak. “Jadi tadi kakekmu ke sini, Nur?” tanyanya sambil memelototkan matanya tidak percaya. Ia segera mendudukkan tubuhnya di samping Nuri.
Nuri mengangguk sambil meremas ujung hijabnya. Lalu dari mulut kecilnya, ia menceritakan sedetil-detilnya kejadian tadi siang ketika sang kakek dan laki-laki yang akan dinikahkan dengan dirinya menyambangi kediaman Pramoedya.
“Wong gendeng kakekmu itu! Masa iya dia tega ngejual cucunya sendiri demi uang yang ditawarkan oleh si Herman itu,” cicit bude Yatni berapi-api, ia sangat tahu bagaimana watak Herman.
“Nuri ndak tau harus gimana kalau nanti kakek ke sini lagi, Bude,” gumam Nuri.
“Wes, mboten nopo-nopo. Biar nanti Bude yang yang bicara dengan kakekmu kalau ia ke sini lagi!” seru Bude Yatni.
Hening.
Nuri larut dengan pikirannya lagi.
“Udah Nur, ndak usah dipikirin lagi. Kamu aman di sini. Insya Allah, tuan Rizky juga ndak akan diam aja kalo kakekmu ke sini lagi,” kata Bude Yatni dengan logat Jawanya yang kental, menenangkan keponakannya yang tengah terlihat mendung yang menggelayut di wajahnya.
Nuri menoleh lalu tersenyum, senyum yang dipaksakan. Sungguh, hatinya belum tenang saat itu.
***
Setelah beberapa lama menenangkan pikirannya dan melaksanakan shalat Ashar, Nuri beranjak dari kamarnya menuju rumah utama. Kegiatan sore hari Riri—anak asuhnya adalah mandi. Apalagi seharian tadi Riri sudah berada di luar rumah untuk bermain di play ground yang ada di sebuah Mall itu.
Nuri menaiki anak tangga menuju kamar Riri.
Ceklek
Dibukanya pintu itu secara pelan. Ternyata ada Mahesa di dalam kamar Riri.
“Tuan,” sapa Nuri sekenanya.
“Eh, Nur …” balas Mahesa sambil melirik pengasuh anaknya yang masih mematung di ambang pintu. “Riri masih tidur,” ujarnya lalu memandangi wajah damai putri semata wayangnya yang masih memejamkan matanya. “Kecapean kayanya,” katanya lagi sambil tertawa kecil.
“Yaudah Tuan, saya permisi dulu kalau gitu ….”
Ketika hendak menutup pintu itu kambali, suara Mahesa menginterupsinya.
“Tunggu, Nur ….” Mahesa beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati Nuri.
“Iya, Tuan ….” Nuri sedikit mundur saat Mahesa hendak menutup pintu itu dari luar.
“Ada yang ingin saya tanyakan,” kata Mahesa sambil memperhatikan wajah Nuri. ‘Cantik,’ gumamnya dalam hati. Gadis yang ada di hadapannya kini benar-benar mempunyai wajah cantik walaupun tanpa sapuan make up sekalipun.
“Ada apa, Tuan?” tanya Nuri heran.
“Apa benar kamu akan segera menikah?” tanya Mahesa hati-hati.
Wajah Nuri yang tadi sudah sempat melupakan kejadian itu, kini berubah mendung lagi.
“Eh, maaf. Apa saya salah bicara ya?” ujar Mahesa saat melihat perubahan raut wajah gadis di hadapannya itu.
Nuri buru-buru menggeleng. “Ndak apa-apa, Tuan. Sebenarnya kedatangan kakek tadi ke sini adalah untuk menyuruh saya pulang dan menikahkan saya dengan tuan Herman,” jawab Nuri lirih.
“Benarkah?” Mahesa pun tidak percaya dengan penuturan sang pengasuh anaknya.
Nuri hanya mengangguk.
“Emangnya Herman itu siapa, Nur?”
“Juragan tanah di kampung saya, Tuan. Mungkin karena itu kakek ingin menikahkan saya dengannya, padahal istri tuan Herman sudah ada tiga,” jawab Nuri sambil mengacungkan tangan kanannya membentuk angka tiga.
“Trus … kamu mau menikah dengan laki-laki itu?” tanya Mahesa lagi penasaran. Mahesa sendiri heran, Kenapa dirinya ingin tahu lebih banyak lagi tentang gadis itu.
Nuri menggeleng. “Kalau saya mau dinikahkan dengannya, ndak mungkin saya masih ada di sini sekarang, Tuan,” jawab Nuri.
Mahesa menghela napas, ada kelegaan di dalam hatinya setelah mendengar penuturan Nuri. “Syukurlah …” ucapnya pelan.
“Bersyukur kenapa, Tuan?” tanya Nuri polos. Rupanya tadi ia mendengar Tuannya itu saat mengucapkan syukur.
“Eh—anu … maksudnya … kalau kamu nggak jadi nikah, saya nggak harus repot nyari pengasuh untuk Riri lagi,” kilah Mahesa terbata, kemudian ia menggaruk tengkuknya yang pastinya tidak gatal. Membuang kecanggungan yang tercipta di antara mereka.
“Wah, kalian ngapain di sini?” Tiba-tiba sebuah suara milik Alfarizy menginterupsi mereka berdua sehingga membuat Mahesa dan Nuri menoleh bersamaan ke arah suara.
“Eh, Mas Al …” kata Nuri kikuk.
“Hayooo … kalian ngapain di sini berduaan?” tanya Alfarizy sambil menaik turunkan kedua alisnya bersamaan.
“Cuma ngobrol,” jawab Mahesa sekenanya. Memang betul mereka hanya mengobrol tadi.
“Inget lho, kalau kalian berduaan yang ketiganya adalah setan,” kata Alfarizy sambil tertawa renyah, mencoba menggoda sang kakak yang memasang wajah datar.
“Iya, dan kamu adalah setannya!” seru Mahesa sambil berlalu dan melangkah menuruni anak tangga.
Nuri terkekeh mendengar perdebatan kecil kedua kakak beradik itu.
“Lho, kok jadi aku setannya?” tanya Alfarizy bingung. Dia yang awalnya ingin menggoda sang kakak, kenapa sekarang jadi dirinya yang merasa terpojok.
“Karena Mas Al adalah orang ketiganya, toh,” sahut Nuri sambil terkekeh. Ia membuka kembali pintu kamar Riri untuk memeriksa apakah Riri sudah bangun atau belum.
“Eh … mana bisa aku yang jadi setannya, Nur!” tampik Alfarizy. Sayangnya, Nuri sudah menutup pintu itu kembali rapat-rapat, meninggalkan Alfarizy yang masih tidak terima dikatai dirinya setan. Hihihi ….