BAB 16 : YUK, BERHIJAB!

1396 Kata
Setelah kedatangan sang kakek tadi siang, pikiran Nuri berkelana kemana-mana. Ia duduk termenung, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu yang panjang dengan ukiran yang apik. Malam itu ia sedang menikmati bintang yang bertaburan di langit. Kepalanya menengadah ke atas, ia tidak pernah bosan memandangi langit hitam. Bintang mengerlip dengan indah ditemani sang rembulan. Hawa dingin menyelimuti malam itu. Sesekali kedua tangannya berpelukan. Tapi ia tidak berniat untuk beranjak dari sana. Ia tidak ingin melewatkan momen indah seperti itu. Gadis itu selalu menghabiskan malam di taman belakang setelah pekerjaannya selesai. Taman belakang yang dipenuhi dengan berbagai jenis bunga, sangat indah dipandang mata walaupun pada malam hari. Lampu-lampu taman menerangi malam yang gelap gulita. Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang mendekatinya. “Nur ….” Nuri menoleh. Ratih berjalan mendekatinya. “Ada apa, Tih?” Ratih menjatuhkan tubuhnya di samping Nuri. “Kamu lagi ngapain?” “Lagi liatin bintang,” kata Nuri sambil menengadahkan kepalanya ke langit. “Aku denger keributan tadi siang antara kamu dan kakekmu, Nur.” Ratih memulai obrolannya malam itu. “Kamu beneran mau menikah dengan laki-laki tua itu, Nur?” tanyanya lagi hati-hati. Diliriknya gadis yang duduk di sampingnya itu, Nuri masih betah memandang langit yang bertaburkan bintang. “Aku belum mau menikah, Tih. Apalagi dengan laki-laki yang sepantasnya jadi ayahku.” Nuri menghela napas berat, terlihat mendung menggelayut di wajahnya. “Eh … kita nggak usah bahas itu, deh. Nggak penting juga, kan,” ujar Ratih mencoba mengalihkan pembicaraan. Nuri tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Ratih berpikir sejenak, kira-kira topik apa yang akan dibahas dengannya. Lalu seperti ada lampu menyala di kepalanya, sebuah pertanyaan muncul. “Nur, sejak kapan kamu berhijab gini?” tanyanya, ia ikut-ikutan menengadahkan kepalanya ke langit. “Sejak aku mulai baligh, Tih. Sejak aku mulai mendapatkan haid pertama, waktu umur 12 tahun. Kenapa kamu nanya gitu?” Nuri masih betah memandangi langit malam. “Nggak papa. Cuma pengen tau aja. Sekarang ini kan banyak anggapan orang kalau dengan memakai hijab kita jadi tidak bebas berekspresi.” Nuri menatap Ratih lalu menggelengkan kepala, ia tidak setuju dengan pernyataan Ratih barusan. “Ndak banyak orang yang paham dengan kasih sayang yang diberikan Islam pada muslimah. Biasanya mereka hanya paham kalau hijab adalah suatu pengekangan dan ketidakadilan seperti yang kamu bilang tadi. Dalam aturan berpakaian contohnya, mereka hanya paham kalau dengan mereka berhijab, itu berarti mereka tidak bebas berekspresi. Hijab pun dianggapnya sebuah penjara bagi muslimah. Padahal diwajibkannya berhijab itu untuk melindungi harga diri wanita mengingat wanita adalah sosok yang berbeda dengan laki-laki. Wanita memiliki sesuatu yang berharga yang tidak dimiliki laki-laki. Sekarang aku tanya, kalau kamu liat laki-laki bertelanjang d**a dan hanya memakai celana pendek lewat di depan kamu, gimana reaksi kamu?” tanyanya dengan mimik wajah serius Ratih berpikir sejenak, sebagian rambut panjangnya menari-nari ditiup terpaan angin yang berhembus malam itu. “Kalau aku liat cowok kaya gitu sih biasa aja reaksinya. Nggak aneh kali litany!” “Nah sekarang pertanyaannya dibalik, menurut kamu gimana reaksi laki-laki kalau lihat kamu lewat dengan pakaian sedikit terbuka dengan d**a yang—” “Aku nggak pernah berpakaian kaya gitu!” potong Ratih cepat. Walaupun ia belum berhijab, tapi pakaiannya tidak pernah seseksi itu. “Ini misalkan lho, Tih,” ujar Nuri tergelak, “yaudah jangan kamu, deh. Gimana reaksi laki-laki kalau liat seorang gadis berpakaian seksi lewat depan matanya? Menurut kamu gimana?” Untuk pertanyaan itu, Ratih tidak perlu berpikir. “Pasti bakal heboh, Nur. Mata cowok ‘kan suka jelalatan kalau liat cewek seksi. Pasti langsung digodain, tuh,” sahutnya mantap. “Nah bener banget. Apalagi kalau gadis itu sengaja lewat di depan laki-laki itu dengan lemah gemulai seperti peragawati. Berjalan meliuk-liuk, sengaja menggoda. Ini yang aku bilang tadi, wanita memiliki sesuatu yang berharga yaitu aurat. Saking menariknya ndak jarang laki-laki mabuk kepayang dibuatnya. Psikologi Alan Barbara bahkan menyatakan, kontes ratu kecantikan sedunia dilihat oleh laki-laki, tapi kontes laki-laki ganteng sedunia ndak ada yang lihat,” kata Nuri menggebu, ia menarik napas panjang. “Coba kenapa hal itu bisa terjadi?” “Ya … karena tubuh wanita itu indah untuk dilihat, Nur. Wanita itu punya lekuk tubuh yang berbeda dengan laki-laki. Tubuh laki-laki ‘kan datar, sedangkan wanita banyak tonjolannya.” Ratih terkikik. Nuri tergelak. “Betul. Karena wanita memiliki daya tarik aurat bahkan di seluruh tubuhnya sementara laki-laki hanya di sebagian kecil saja dan itu pun dipastikan kurang menarik bagi wanita. Aurat wanita seperti benda yang teramat berharga yang jadi incaran banyak orang. Karena itu Islam begitu melindungi wanita dengan hijabnya agar sesuatu yang berharga itu tidak lenyap dan dirusak oleh tangan-tangan jahil yang ndak bertanggung jawab.” Nuri tersenyum, senyumnya manis sekali. Ratih merasa nyaman berdiskusi seperti itu dengan Nuri. Walaupun Nuri umurnya satu tahun dibawahnya, tapi pemahamannya tentang Islam sangat luas. “Kalau kamu punya barang paling berharga, di mana kamu bakal nyimpan barang itu?” tanya Nuri kemudian, ternyata ia belum mau menyudahi diskusinya malam itu walaupun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Aku bakal nyimpen barang itu di tempat yang tersembunyi jadi orang lain nggak bisa mengambilnya. Pokoknya tempat yang sulit dijangkau orang deh!” “Kalau gitu menurut kamu, apa yang paling berharga bagi kaum wanita?” Ratih berpikir lama, sepertinya ia sangat sulit menjawab pertanyaan tersebut. “Bukankah keperawanan wanita itu yang paling berharga bagi dirinya?” tanya Nuri. “Iya … bener, bener banget! keperawanan itu yang paling penting buat aku.” “Jadi … apakah sesuatu yang amat berharga itu boleh dipertontonkan di muka umum?” “Ya Allah ….” Ratih berderai air mata. Sungguh, ternyata Islam itu sangat memperhatikan kaum wanita. Ia menyesal kenapa baru sekarang ia sadar bahwa sesungguhnya hijab itu melindungi harga diri wanita bukan untuk mengekang kebebasan berekspresi. Dari Nuri lah ia yakin untuk melangkah maju. ‘Mulai besok, aku akan berhijab!’ tekad Ratih, ia berhambur ke pelukan Nuri. *** Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Pagi buta itu lembab dan basah. Sepertinya semalam kota Jakarta diguyur hujan lebat. Aroma tanah yang basah masih terasa di penciuman. Nuri keluar dari kamarnya hendak ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia akan melaksanakan shalat tahajjud seperti biasanya. Ia menutup mata dan merentangkan kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam, udara sejuk langsung masuk ke paru-paru. Nuri menapaki kaki ke arah kamar mandi. Selesai berwudhu, ia kembali ke kamarnya. “Lho, Ratih … ada apa?” tanya Nuri kaget karena Ratih sudah bertengger di kamarnya. Ratih merebahkan tubuhnya di atas ranjang Nuri, gadis itu kelihatan pucat. Sepertinya ia kurang tidur. Semalam mereka mengobrol di taman belakang sampai hampir tengah malam. “Semalam aku susah tidur, Nur,” keluhnya, sesekali ia menguap. “Emangnya kenapa kamu susah tidur?” Nuri membuka hijabnya setelah memastikan pintu kamarnya tertutup rapat. Rambut hitam legam Nuri yang tebal dan lurus, sangat indah tergerai. “Aku kepikiran kata-kata kamu semalam.” “Lho, kata-kata aku yang mana?” tanya Nuri, ia mendudukkan tubuhnya di samping Ratih yang masih berbaring. Ia khawatir ada kata-kata dari mulutnya yang membuat Ratih sakit hati. “Kata-kata kamu soal berhijab, Nur.” Ratih menatap langit-langit kamar Nuri. “Oh ….” Nuri bernapas lega. “Aku kira ada kata-kata aku yang menyinggung hati kamu, Tih.” Ratih terdiam, ia memejamkan matanya. Ia merasa nyaman berada di kamar Nuri, walaupun luas kamarnya sama dengan kamar miliknya. Tapi Nuri selalu menjaga kebersihan dan kerapihan kamarnya sehingga siapa pun akan betah berlama-lama tinggal di kamarnya. “Wis, aku mau shalat dulu ya,” ujar Nuri, ia beranjak mendekati lemari dan mengambil mukenanya dari dalam sana. Setelah selesai melaksanakan shalat tahajud, Nuri melirik Ratih yang tidak bersuara lagi. Matanya terpejam, mungkin ia sudah menggapai alam mimpi. Nuri melipat kembali mukenanya dan mengambil Al-qur’an yang tergeletak di atas meja. Ia akan taddarusan sampai subuh menjelang. Jam yang terpajang di dalam kamar Nuri menunjukkan pukul 04.35, sebentar lagi waktu adzan Shubuh menjelang. Ia masih duduk bersimpuh di atas sejadah. Setelah adzan selesai dikumandangkan, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi—memohon pertolongan dari Allah atas segala kepelikan hidup yang tengah dijalaninya. Salah satu waktu mustajab untuk berdoa selain di sepertiga malam adalah setelah adzan dan iqamah, jadi ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu baik untuk berdoa. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk meminta yakni berdoa sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: "Dan Rabbmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (Q.S Al-Mu'min: 60) ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN