BAB 17 : RIRI TIDAK MAU SEKOLAH

2322 Kata
“Nur ...” panggil Alfarizy sambil melongokkan kepalanya dari balik tembok dapur. Nuri yang akan membuatkan s**u untuk anak asuhnya menengok sekilas ke arah sumber suara. “Eh, Mas Al ...” katanya sambil mengambil termos air panas yang tergeletak di meja. “Nur,” panggil Alfarizy lagi karena Nuri masih asik membuat s**u, “aku mau ngomong sebentar,” ucapnya lagi. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepada Nuri pagi itu. “Iya. Sebentar ya, Mas,” kata Nuri sambil menuangkan air panas dari termos ke dalam gelas lalu menambahkan air dingin agar s**u yang ia buat tidak terlalu panas. "Aku bikin s**u dulu untuk Riri." Setelah selesai, ia menghampiri Alfarizy yang masih menunggunya dengan sabar di luar dapur. “Ada apa, Mas?” tanya Nuri, ia melepas apron yang terpasang di leher dan pinggangnya. Alfarizy menyerahkan sebuah brosur bertuliskan ‘Bratayudha University’ pada Nuri. Nuri mengernyitkan keningnya bingung. “Ini apa, Mas?” tanyanya tidak mengerti. Kenapa Alfarizy memberinya brosur perkuliahan? “Itu brosur kampus aku, Nur …” jawab Alfarizy sambil memperhatikan wajah Nuri yang semakin hari semakin memancarkan aura kecantikannya. ‘Ya Allah, jika gadis yang ada di depan ku ini adalah jodohku, maka dekatkanlah kami. Jika ternyata dia bukan jodohku, maka tetap jodohkanlah aku dengannya ya Allah!’ doa Alfarizy dalam hati yang terkesan memaksa. Entah kenapa ia sudah terpikat dengan sejuta pesona yang Nuri pancarkan. “Iya maksud aku, ini untuk apa Mas?” tanya Nuri lagi. “Kampus aku udah mulai penerimaan mahasiswa baru bulan depan, Nur,” Alfarizy menjelaskan, “kamu ada rencana untuk kuliah tahun ini nggak?” tanyanya lagi. Buru-buru Nuri menggeleng. “Uang dari mana, Mas? Kuliah ‘kan butuh biaya besar. Aku harus kerja keras dulu ngumpulin uangnya buat kuliah,” sahut Nuri sambil menunduk sedih. Ia memainkan ujung hijab yang dipakainya. Melihat Nuri jadi sedih, membuat Alfarizy tidak enak hati. Ia berniat untuk membantu Nuri kuliah lewat jalur beasiswa. Dari pola berpikir Nuri, ia tahu bahwa Nuri adalah gadis yang cerdas. Siapa tahu keberuntungan tengah memihaknya sehingga ia bisa kuliah dengan jalur prestasi yang dibiayai oleh pemerintah. “Kalau kamu kuliah pake beasiswa, kamu mau ‘kan, Nur?” tanya Alfarizy lagi. “Emangnya bisa, Mas?” Nuri balik bertanya. Terlihat binar kebahagiaan terpancar dari mata Nuri. Alfarizy mengangguk. “Biasanya di kampus aku bisa ngajuin beasiswa untuk mahasiswa berprestasi, Nur. Siapa tau kamu bisa lolos lewat jalur prestasi,” kata Alfarizy memberikan secercah harapan. "Kalau lolos, apa bisa kuliah gratis sampai wisuda, Mas?" tanya Nuri memastikan. Alfarizy tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan Nuri. “Boleh deh Mas, aku mau coba,” sahut Nuri bersemangat, “ta—tapi aku harus ijin sama tuan Rizky dulu ya, Mas. Mudah-mudahan tuan mengijinkan,” katanya kemudian. “Iya, nanti aku bantu cari-cari info soal beasiswanya ya,” ujar Alfarizy dengan senyum termanisnya. "Kalau lolos, kamu bisa kuliah gratis. Tapi saat wisuda tetap dikenakan biaya untuk perayaannya." “Nggak papa, Mas. Kalau untuk biaya wisuda aja, insyallah aku sanggup. Syukron ya, Mas,” ujar Nuri. Ia masih tidak menyangka Allah mempertemukan dirinya dengan keluarga sebaik keluarga Pramoedya. Ia sangat bersyukur sekali. “Emangnya kalau kuliah, kamu mau ambil jurusan apa Nur?” tanya Alfarizy. “Insyallah kedokteran, Mas. Aku ingin jadi dokter anak,” jawab Nuri. Sejak kecil cita-citanya memang ingin menjadi dokter. Sewaktu kecil ia selalu bermain dokter-dokteran dengan teman seumurannya. Temannya jadi pasien, dan ia yang jadi dokternya. Dengan alat yang seadanya—sendok yang diikat dengan tali rapia yang menggantung di lehernya, ia berpura-pura memeriksa pasien seolah-olah sendok itu adalah stetoskop. Maklumlah, orang tuanya jarang sekali membelikan ia mainan karena keuangan keluarganya yang sulit. Sehingga sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana apa adanya. Jika anak-anak seumurannya akan merengek minta mainan, Nuri tidak pernah melakukan itu. Ia tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya dengan meminta ini itu. “Wah kebetulan banget! Nanti kamu bisa pake buku-buku kedokteran bekas aku,” sahut Alfarizy. Ia memang tipikal mahasiswa yang rajin membeli buku kuliah dan buku-buku itu masih tersimpan rapi di rak buku dalam kamarnya. “Alhamdulillah, mudah-mudahan Allah mudahkan ya Mas. Makasih banyak atas bantuannya.” Mata Nuri mulai berkaca-kaca. “Sama-sama, Nur.” Alfarizy menatap Nuri penuh damba. ‘Ya Allah, gemes banget aku sama dia,’’ jeritnya dalam hati. ‘Astagfirullah.’ Sedetik kemudian Alfarizy tersentak. Ia segera sadar dan mengalihkan pandangannya dari Nuri. Lama-lama menatap wajah Nuri membuat pikiran laki-lakinya menjadi under control. “Yaudah Nur, kamu lanjutin kerjaan kamu. Aku mau siap-siap ke kampus dulu, sekalian mau nyari info beasiswa buat kamu.” “Makasih banyak ya, Mas.” Nuri menampilkan senyum termanisnya. “Sama-sama,” sahut Alfarizy sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya. Selepas kepergian Alfarizy, Nuri mengambil gelas s**u yang sudah selesai ia buat untuk segera ia bawa ke ruang makan. Setelah itu, ia pun berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Riri. Kegiatan rutinnya di pagi hari untuk membangunkan Riri bersiap pergi ke sekolah. Ceklek Nuri membuka pintu kamar bergambar barbie dengan perlahan. Ia terhenyak, karena sudah ada Mahesa di sana. “Maaf Tuan, saya telat bangunin Riri ya?” tanyanya tidak enak hati karena ia kelamaan ngobrol dengan Alfarizy sehingga telat membangunkan Riri pagi ini. “Eh, Nur ….” Mahesa melirik Nuri yang masih mematung di depan pintu. “Kamu nggak telat, masih jam setengah tujuh. Tadi kebetulan aku bangun cepet dan berniat mau bangunin Riri,” katanya lagi. Ia tengah duduk di tepi ranjang menunggu anaknya bangun. Tidak berapa lama, mata Riri mengerjap. Ia melihat di kamarnya sudah ada papap dan pengasuhnya. “Papap,” ucap Riri. Ia bangkit dari tidurnya dan mengucek matanya pelan. “Pagi, sayang.” Mahesa mengecup pipi putrinya kanan dan kiri bergantian dengan gemas. “Gimana tidurnya?” tanyanya lagi sambil merapihkan rambut Riri yang berantakan. “Riri masih ngantuk!” keluh Riri. Ia hendak merebahkan lagi tubuhnya dan menarik selimut. “Eh,” cegah Mahesa, “masa mau tidur lagi? Nanti Riri kesiangan ke sekolah, lho.” “Riri males pergi ke sekolah!” seru Riri, kedua tangannya bersidekap di atas d**a. “Lho, kenapa?” tanya Mahesa heran. Tidak biasanya putrinya itu malas pergi ke sekolah. Biasanya tiap pagi Riri selalu pergi ke sekolah dengan semangat yang membara. Mahesa melirik Nuri. Dari tatapan matanya ia meminta jawaban kenapa pagi itu Riri malas pergi ke sekolah. Nuri menggelengkan kepalanya pelan tanda ia tidak tahu kenapa Riri seperti itu. Mahesa menatap wajah putrinya lagi yang masih belum mau memberitahu alasannya. Nuri mendekati Mahesa. “Maaf Tuan, biar saya saja yang membujuk Riri pergi ke sekolah,” ujarnya sopan. “Yaudah … tolong kamu bujuk Riri ya, Nur,” kata Mahesa. Ia mengecup kening Riri sekilas lalu beranjak dari kamar putrinya dan melangkah keluar kamar. “Baik, Tuan.” Nuri mengangguk sambil membungkukkan tubuhnya. Setelah Mahesa keluar dari kamar Riri, Nuri berjalan mendekat ke ranjang Riri dan duduk di sampingnya. Nuri mengusap pipi Riri dengan sayang. “Anak cantik kenapa hari ini nggak mau ke sekolah?” “Riri males ketemu Bayu,” ujar Riri dengan mata yang berkaca-kaca. “Memangnya kenapa dengan Bayu?” tanya Nuri dengan harapan Riri mau terbuka padanya. Riri menunduk, ia sudah mulai terisak. Kejadian kemarin siang di sekolahnya masih membekas  sekali di ingatannya. Bagaimana kemarin Bayu dan teman-temannya yang lain mengejeknya karena ia tidak punya seorang mama. Flashback on “Riri jelek … Riri jelek … Riri jelek …” ejek Bayu—teman sekelas Riri di TK. Ia memprovokasi teman-temannya yang lain agar ikut mengejek Riri dengan suka cita. Riri yang saat itu tengah menyantap makan siangnya, menatap nyalang sambil berkaca pinggang. Makan siang yang belum dihabiskannya, ia taruh begitu saja di atas meja. “Bayu lebih jelek!” Riri balas mengejek temannya itu sambil menghentakkan kakinya. Bayu dan teman-temannya yang bergabung dengan komplotannya tertawa terbahak-bahak. “Temen-temen, kita sih enak ya masih punya mama. Kalo mau bobo ada yang bacain dongeng. Kasian deh Riri udah nggak punya mama!” seru Bayu lagi mengejek. Sontak teman-temannya tertawa semakin kencang lagi. Riri mengepalkan kedua tangannya. Kalau sudah diejek soal bundanya, Riri tidak bisa membalas apa-apa lagi karena memang kenyataannya ia sudah tidak mempunyai seorang Ibu lagi. Flashback off   “Jadi gara-gara itu Riri males pergi ke sekolah?” tanya Nuri sambil membelai rambut panjang Riri yang berada dalam pelukannya. Riri mengangguk. “Bayu jahat. Riri benci Bayu!” ucapnya penuh emosi dan air mata yang mulai meluncur bebas dari pipi kecilnya. “Kalau hari ini Riri ndak sekolah, itu malah bikin Bayu dan teman-teman yang mengejek Riri kemarin tambah seneng. Mereka seneng karena bisa bikin Riri sedih. Kalau mereka mengejek Riri lagi, Riri nggak boleh marah. Biarin aja. Lama-lama mereka pasti kesal dan bosen sendiri,” kata Nuri menasehati dengan penuh kelembutan. “Jadi kalo ada yang ngejek Riri, harus Riri biarin aja?” tanya Riri memastikan. Nuri mengangguk. “Iya. Riri doain aja biar yang ngejek Riri cepet Allah sadarkan.” “Kalo gitu, Riri mau sekolah. Riri nggak mau bikin Bayu seneng gara-gara hari ini Riri nggak masuk sekolah!” seru Riri bersemangat, ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Nuri tersenyum senang karena membujuk Riri ternyata sangatlah mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan. *** “Waaahhh, anak Papap udah cantik nih!” seru Mahesa saat melihat Riri sedang sarapan di ruang makan—lengkap dengan seragam sekolahnya. Ternyata Nuri berhasil membujuk Riri agar mau pergi ke sekolah. “Iya dong!” seru Riri sambil mengunyah nasi yang sudah berada di dalam mulutnya. “Gitu dong, sayang. Riri nggak boleh males pergi ke sekolah,” kata Mahesa sambil mengusap kepala Riri dengan lembut. “Siapa yang males pergi ke sekolah?” Tiba-tiba Rizky datang dan mendudukkan dirinya di kursi, bergabung dengan anak dan cucunya. “Ada yang tadi tiba-tiba nggak mau sekolah, Kek,” kata Mahesa menggoda putrinya. “Lho, kenapa tadi Riri nggak mau ke sekolah?” tanya Rizky heran. Tumben sekali cucu satu-satunya itu malas pergi ke sekolah. “Kakek mau tau aja, atau mau tau banget?” canda Riri yang membuat sang kakek tertawa. “Kakek mau tau banget, deh …” kata Rizky sambil terkekeh. “Aku males sama temen-temen!” Riri memulai ceritanya. “Mereka ngatain aku nggak punya bunda,” katanya sambil memonyongkan bibirnya. Deg! Hati Mahesa sakit anaknya dikatai seperti itu. Sejurus kemudian, dirinya sudah mengirimkan pesan singkat ke bagian administrasi—mengabarkan bahwa dirinya akan telat datang ke kampus dan menyuruh bagian administrasi untuk memberikan tugas kepada kelas yang akan diajarnya di jam 08.00 nanti. Dirinya akan pergi ke sekolah Riri untuk membicarakan hal yang terjadi pada putrinya. Jika dibiarkan, ia takut hal itu akan terulang lagi dikemudian hari. “Nur …” panggil Mahesa pada Nuri yang sedang menyuapi putrinya. Nuri menoleh. “Iya, Tuan.” “Temani saya ke sekolah Riri hari ini ya,” kata Mahesa. Bukan karena takut dirinya minta ditemani Nuri, ia hanya ingin menghindari wali kelas Riri yang bernama Bu Riska. Dirinya malas meladeni guru genit itu. “I—iya, baik Tuan.” Nuri pun mengangguk patuh. Setelah selesai sarapan, Mahesa mengapit tangan Riri menuju mobil. “Maaf Tuan, saya ambil tas dulu ya,” kata Nuri, tidak mungkin dirinya bepergian tanpa tas selempangnya walaupun hanya berisi dompet yang isinya tidak seberapa. Tapi dengan uang di dalam dompetnya itu, ia bisa berjaga-jaga jika nanti Mahesa menyuruhnya pulang naik kendaraan umum. Setidaknya ia membawa uang untuk membayar ongkos. “Yaudah …” ujar Mahesa, ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesinnya terlebih dahulu sambil menunggu Nuri kembali. Nuri segera berlari kecil menuju kamarnya di belakang, mengambil tas, kemudian segera keluar rumah. “Ada apa, Nur?” tanya sang bude saat berpapasan dengan keponakannya di taman belakang yang menghubungkan rumah utama dengan rumah belakang. Ternyata pagi itu sang bude sedang menyiram tanaman. Ia heran melihat Nuri berjalan tergesa-gesa. “Eh, Bude … Nuri mau menemani tuan Esa ke sekolah Riri,” sahutnya. “Ada apa tuan Esa ke sekolah Riri?” tanya bude Yatni heran, biasanya majikannya itu jarang sekali menyambangi sekolah anaknya jika bukan karena hal yang penting. “Hari ini Riri ngambek ndak mau pergi ke sekolah karena kemarin katanya diejek oleh teman-temannya, Bude.” “Jadi hari ini non Riri ndak pergi ke sekolah?” tanya bude Yatni lagi, ia mematikan keran air untuk menyiram tanaman. “Alhamdulillah, setelah dibujuk akhirnya non Riri mau pergi ke sekolah juga, Bude ….” “Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, Nduk.” “Yaudah … Nuri pamit dulu ya, Bude. Ndak enak ditungguin tuan Esa di mobil,” pamit Nuri, ia mencium tangan kanan budenya. ”Hati-hati ya, Nur …” pesan sang bude. Nuri mengangguk lalu sedikit berlari menuju mobil. “Maaf lama, Tuan …” kata Nuri sambil mengatur deru napasnya yang sedikit terengah akibat berlari, tidak ingin sang tuan menunggu lama. “Nggak papa, Nur.” Nuri masuk ke dalam mobil dan mendudukkan dirinya di bangku belakang untuk menemani Riri yang juga duduk di belakang. “Saya ini bukan supir, lho,” seloroh Mahesa sambil melirik Nuri yang sudah duduk manis di jok belakang. “Eh,” Nuri gelagapan, dirinya tidak enak kalau harus duduk berduaan dengan Mahesa di bangku depan. Karena Mahesa belum juga menjalankan mobilnya, akhirnya mau tidak mau Nuri pindah duduk ke bangku depan. “Maaf, Nur ….” Mahesa mendekat setelah Nuri duduk di bangku depan. Ia mengambil seat belt di samping Nuri lalu mengaitkannya. “Astagfirullah,” kata Nuri lirih saat dirinya berjarak dekat sekali dengan wajah Mahesa saat tuannya itu memasangkan seat belt untuknya. Ia tidak menyangka Mahesa akan memasangkan seat belt itu lagi untuk dirinya, seperti kejadian waktu mereka pergi bertiga ke Mall tempo hari. Kenapa juga dirinya harus lupa memakai seat belt itu sendiri? Nuri hanya bisa terus beristigfar dalam hati. Setelah memasangkan seat belt untuk Nuri, Mahesa segera menjalankan mesin beroda empat itu keluar dari pekarangan rumah menuju sekolahan Riri yang berjarak 7 kilometer.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN