BAB 18 : SEKOLAH RIRI

2239 Kata
Mobil yang dikendarai Mahesa tiba di depan sekolah Riri. Mereka segera keluar dari mobil. Mahesa menggendong Riri, sedangkan Nuri membawakan tas dorongnya. Mereka langsung menuju ruang guru. “Eh, Pak Mahesa …” sapa Sita—wali kelas Riri saat berpapasan dengan mereka di lorong sekolah yang menghubungkan halaman depan dengan ruang guru. Rupanya sang wali kelas itu baru juga tiba di sekolah dan hendak menuju ruangannya. “Bu Sita, kebetulan saya ingin berbicara dengan anda,” kata Mahesa berusaha bersikap ramah walaupun sebenarnya hatinya kebat-kebit mengetahui fakta bahwa kemarin anaknya menjadi korban pembulian hingga tidak mau pergi ke sekolah. “Oh boleh, Pak.” Wali kelas Riri itu menampilkan senyum terbaiknya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah lama tidak berkunjung ke sekolah itu. “Mari kita bicara di ruangan saya, Pak.” Sita berjalan mendahului untuk menunjukkan di mana ruangannya berada. Pinggulnya sengaja ia goyang-goyangkan sedikit sexy saat berjalan untuk menarik perhatian laki-laki yang berjalan di belakangnya. Mahesa dan Nuri mengekori dari belakang. “Silahkan masuk, Pak.” Sita mempersilahkan Mahesa masuk. “Nuri, kamu ikut masuk ya.” Mahesa yang masih menggendong Riri masuk ke ruangan itu terlebih dahulu dan mendudukkan dirinya di hadapan sang wali kelas. Nuri pun ikut serta masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan tubuhnya di samping Mahesa dengan jarak yang tidak terlalu dekat. ‘Ngapain sih pengasuh Riri pake ikut masuk segala,’ gerutu Sita dalam hati. Ia ingin dirinya dan Mahesa saja yang berada di ruangan itu, bersama Riri juga tentunya. “Ada apa ya Pak, pagi-pagi datang menemui saya?” tanya Sita memulai obrolannya pagi itu. Ia penasaran ada apa gerangan sampai Ayah dari murid didiknya sengaja datang untuk menemuinya. “Begini lho, Bu Sita … saya ingin membicarakan soal pembulian yang terjadi pada Riri kemarin,” ujar Mahesa mengutarakan maksud dan tujuan dirinya datang ke sekolah. “Benarkah Riri mengalami pembulian kemarin?” tanya Sita tidak percaya. Pasalnya ia tidak tahu menahu soal pembulian tersebut. “Benar, Bu. Riri sendiri yang cerita tadi pagi. Bahkan ia sempat tidak mau pergi ke sekolah karena takut diejek teman-temannya lagi,” beber Mahesa. Sita terlihat kaget, kenapa ia sampai tidak mengetahui hal tersebut. “Siapa pelakunya, Pak? Nanti akan saya beri hukuman.” “Saya tidak akan memberitahu siapa anak yang sudah membully Riri, Bu. Yang saya inginkan adalah tolong Bu Sita memberitahu anak-anak untuk tidak mengejek temannya lagi. Bukan hanya kepada Riri, tapi kepada temannya yang lain juga. Jangan sampai hal ini terulang lagi karena akan memberikan dampak negatif untuk korban yang terkena pembulian itu sendiri. Contohnya Riri sampai tidak mau masuk sekolah,” jelas Mahesa. “Maaf saya ingin menambahkan ….” Nuri yang dari tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara sehingga membuat Mahesa dan Sita menoleh ke arahnya. Setelah dipersilahkan, ia melanjutkan ucapannya. “Bullying yang berulang dapat menyebabkan menurunnya rasa percaya diri dan depresi bagi korbannya. Sedangkan untuk pelaku berisiko mengalami masalah psikologis jangka panjang. Gangguan tersebut bisa terbawa hingga dewasa jika tidak ditangani dengan tepat. Pelaku pembulian dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak bahagia. Mereka pun cenderung tidak bisa mengendalikan emosinya, sehingga ia akan kesulitan membangun hubungan sosial dengan orang di sekitarnya. Pelaku pembulian akan beranggapan bahwa mereka berkuasa. Jika dibiarkan dan tidak ditangani dengan segera, tindakan bullying ini dapat berubah menjadi kekerasan terhadap anak dan termasuk perilaku kriminal,” papar Nuri, ia hanya menjabarkan apa yang diketahuinya bahwa dampak negatif bullying bukan hanya dapat terjadi pada korban saja, tapi juga bagi sang pelaku pembulian itu sendiri. Wali kelas Riri itu menganggukkan kepala. “Baik, Pak. Saya akan terus mengingatkan hal ini kepada anak-anak. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah lalai mengawasi anak-anak sehingga kejadian itu menimpa Riri,” ujar Sita penuh penyesalan. Hancur sudah reputasinya di hadapan Mahesa karena ia tidak bisa mengawasi murid-muridnya sendiri. Bagaimana Mahesa akan bersimpati padanya jika begitu. “Yasudah kalau begitu, kami pamit dulu, Bu.” Mahesa beranjak dari duduknya, masih menggendong Riri yang sepertinya enggan untuk diturunkan. “Tidak minum dulu, Pak?” Sita menawarkan. Mahesa buru-buru menggeleng. “Tidak usah, Bu. Saya harus segera ke kampus. Bukankah Bu Sita juga harus mengajar, kan?” Mahesa balik bertanya. Sita gelagapan. “Eh, iya betul … saya juga harus segera ke kelas karena sebentar lagi bel masuk berbunyi,” katanya salah tingkah. “Mungkin lain waktu kita bisa berbincang lagi sambil minum ya, Pak,” lanjutnya masih berharap Mahesa akan menerima tawarannya itu. Mahesa hanya tersenyum kecut. “Insya Allah. Kami permisi, Bu.” “Eh, Pak Mahesa tunggu …” cegah Sita saat Mahesa hedak membuka pintu ruangan itu. “Biar Riri bersama saya ke kelasnya,” tawarnya. “Tidak apa-apa, Bu. Biar saya yang mengantar Riri sampai kelasnya,” tolak Mahesa, ia membuka kenop pintu dengan bantuan Nuri karena tangannya sibuk menggendong Riri. Mahesa dan Nuri berjalan menuju kelas Riri. Sita segera mengambil peralatan mengajarnya dan menyusul mereka. Begitu tiba di kelas, Mahesa menurunkan Riri. “Riri jangan takut lagi ya, teman-teman Riri nggak akan nakal lagi sama Riri,” katanya pada putrinya. Riri mengangguk kecil, menyalami tangan Papapnya, lalu beralih mencium tangan Nuri. Setelah itu ia melangkah menuju tempat duduknya. Mahesa mengamati putrinya sejenak. Riri sudah asik bersapa ria dengan teman di samping dan di depan tempatnya duduk. Mahesa lega karena Riri tidak minder atas pembulian yang menimpanya kemarin. Mahesa berbalik menghadap Nuri. “Nur, apa kamu nggak keberatan kalau menunggu Riri di sekolah sampai Riri pulang nanti?” tanyanya. “Ndak apa-apa, Tuan. Saya akan menunggu Riri di sini sampai pulang sekolah,” sahut Nuri. Sebenarnya Mahesa merasa tidak enak menyuruh Nuri untuk menunggu Riri hingga pulang sekolah karena biasanya Nuri hanya mengantar Riri dan nanti akan datang lagi ke sekolah untuk menjemputnya. “Yaudah kalau gitu, kamu bisa menunggu Riri di kantin sambil makan atau minum biar kamu nggak bosan,” kata Mahesa, ia mengeluarkan uang berwarna merah dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Nuri. “Ini untuk kamu, Nur.” “Eh, untuk apa Tuan?” tanya Nuri bingung. “Untuk kamu makan di kantin sambil nunggu Riri. Ayo ambil ….” “Eh, ndak usah Tuan. Saya ada uang, kok,” tolak Nuri. “Nggak papa. Ambil aja.” “Eh, iya. Makasih, Tuan.” “Saya tinggal ya, Nur.” Nuri hanya mengangguk. Mahesa berjalan dengan gagahnya keluar dari sekolah itu sedangkan Nuri melangkahkan kakinya menuju kantin yang letaknya di belakang, setelah bertanya kepada satpam di sekolah itu di mana kantinnya. Ia menghampiri tukang penjual jus. “Bu, jus alpukatnya satu ya,” katanya pada Ibu penjual jus. “Baik, Neng. Ditunggu ya,” jawab Ibu itu. Dengan cekatan, si ibu mengambil sebuah alpukat yang sudah matang, membelahnya menjadi dua bagian, mengeluarkan bijinya yang besar, lalu mengeruk daging alpukat yang ternyata dagingnya tebal. Ia memasukkan daging alpukat itu ke dalam blender, menambahkan gula dan juga memasukkan krimer kental manis agar rasa jus itu lezat. Beberapa menit kemudian jus itu sudah ia berikan pada Nuri. “Berapa harganya, Bu?” tanya Nuri. “Lima belas ribu aja, Neng,” jawab si ibu penjual jus. Nuri menyerahkan uang berwarna merah pemberian Mahesa tadi pada Ibu penjual jus itu. “Wah, nggak ada uang pas aja Neng?” tanya si ibu, “Ibu nggak ada kembaliannya. Maklum masih pagi, jadi belum ada penglaris,” katanya sambil terkekeh, tangannya sibuk membersihkan meja jualan yang tadi terkena tumpahan jus saat menuangkan jus itu ke dalam gelas. Nuri membuka tas selempangnya untuk mengambil uang di dompetnya. Beruntung tadi ia tidak lupa membawa tasnya itu. Ia ingat, ada beberapa lembar uang di dalam dompetnya. “Ini Bu, uangnya.” Nuri menyerahkan uang berwarna biru kepada si ibu. “Ambil aja kembaliannya, Bu. Itung-itung buat penglaris hari ini,” katanya kemudian. “Wah, alhamdulillah ….” Si ibu mengucap syukur berkali-kali, matanya berkaca-kaca. “Makasih banyak ya, Neng. Mudah-mudahan rejeki Neng dilancarkan Gusti Allah,” katanya lagi dengan wajah berbinar. “Aamiin … terima kasih doanya ya, Bu.” Nuri tersenyum ramah ke arah si ibu penjual jus, lalu beranjak dari hadapan si ibu dan mendudukkan dirinya di sudut kantin. Sambil menikmati kesegaran jus alpukat yang dipesannya tadi, ia mengeluarkan sebuah Al-Qur’an kecil dari dalam tas selempangnya. Ia akan bertilawah sebentar sambil menunggu Riri pulang sekolah, itu lebih baik daripada dirinya harus melamun tidak karuan. Nuri membuka Al-Qur’annya, bacaan sehari-harinya sudah sampai di surat An-Nur ayat 31. Ia sudah berulang kali mengkhatamkan bacaan Al-Qur’annya. Setelah membaca tulisan Arabnya, ia membaca kembali terjemahan bahasa Indonesia dari ayat tersebut. Ayat itu menjelaskan bahwa para perempuan beriman harus menjaga pandangannya, memelihara k*********a, dan tidak memperlihatkan auratnya, kecuali yang biasa terlihat. Para perempuan beriman pun harus menutup kepalanya dengan hijab sampai menutupi dadanya. Setelah ditelaah lagi terjemahan ayat Al-Qur’an itu, Nuri bersyukur bahwasanya dirinya telah mulai menutup aurat dengan rapat sejak dirinya akil baligh, yaitu di usia dua belas tahunan. Sebenarnya sang ibu—Santi sudah membiasakan dirinya memakai hijab sedari kecil, sehingga di saat usianya remaja Nuri tidak lagi merasa berat untuk dirinya menutup aurat rapat-rapat. Sedang asik membaca lebih dalam lagi terjemahan ayat Al-Qur’an itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia segera merogoh ponsel dalam tas selempangnya untuk melihat siapakah gerangan yeng tengah menelponnya. Ternyata ada panggilan masuk dari Alfarizy. “Assalamu’alaikum, Mas Al ….” Suara Nuri terdengar sangat merdu untuk Alfarizy, seperti angin surga di padang pasir yang gersang. “Wa’alaikumussalam, Nur,” sahut Alfarizy dari sebrang. “Kamu lagi apa?” tanyanya kemudian. “Aku lagi di kantin, Mas. Nungguin Riri pulang sekolah.” “Kan masih lama, Nur. Kenapa kamu nggak pulang dulu aja?” Nuri melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya, jam baru saja menunjukkan pukul delapan tepat. Itu artinya masih ada tiga jam lagi sampai Riri pulang sekolah nanti. “Ndak apa-apa, Mas. Aku di sini aja sampai Riri pulang.” “Aku temenin kalau gitu ya, Nur.” “Eh, ndak—” Tut … tut … tut Telepon langsung dimatikan secara sepihak oleh Alfarizy tanpa mendengar penolakan Nuri terlebih dahulu. Selang lima belas menit kemudian, Alfarizy benar-benar menyusul Nuri di kantin sekolah Riri. “Nur …” panggil sebuah suara yang sudah Nuri kenal—suara anak majikannya, Alfarizy Pramoedya. Nuri menoleh. “Ya Allah, Mas Al … ngapain pake nyusulin aku segala ke sini?” tanyanya heran, laki-laki di hadapannya ini seperti tidak ada kerjaan lain sampai harus menemaninya di kantin. Alfarizy nyengir kuda, menampilkan deretan giginya yang putih, bersih, dan rapih. Mirip iklan pasta gigi yang sering berseliweran di TV. “Aku nggak ada kerjaan. Mau ke kampus, tapi nanti siang. Di rumah juga bosen sendirian,” kilahnya kemudian. Grek … grek … grek Tidak berapa lama, ponsel di saku celana Alfarizy bergetar. Ada panggilan masuk dari teman kampusnya. “Sebentar ya, Nur. Aku angkat telepon dulu,” kata Alfarizy sambil sedikit menjauh dari tempat Nuri duduk. Nuri hanya mengangguk mempersilahkan. “Halo, assalamu’alaikum …” kata Alfarizy mengawali pembicaraan mereka di telepon. “….” “Kapan?” “….” “Astagfirullah, gue lupa!” seru Alfarizy, terlihat ia menepuk jidatnya sendiri. “….” “Ok deh, gue meluncur sekarang ya. Thanks udah diingetin.” Alfarizy menutup panggilan telepon itu tanpa mengucapkan salam penutup, lalu segera memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula—saku celananya. “Nur ….” “Iya, Mas?” “Di kampus ada kajian jam sembilan.” Alfarizy melirik jam Casio-nya di pergelangan tangan kirinya, sudah jam 08.30—masih ada waktu 30 menit lagi sebelum kajian itu dimulai. “Aku lupa lagi! Padahal temanya bagus banget hari ini.” “Oh, yaudah Mas Al pergi aja ke kampus. Aku ndak papa nunggu Riri di sini sendirian, kok,” kata Nuri, ia tidak enak kalau Alfarizy harus meninggalkan kajian di kampusnya demi menemani dirinya di kantin. Alfarizy berpikir sejenak, sebenarnya ia pun tidak rela kalau harus meninggalkan pujaan hatinya itu di sana sendirian. Sebuah ide cemerlang muncul di benaknya. “Gimana kalau kamu ikut aku aja ke kampus?” “Eh—” “Maksudnya ikut kajian di kampus aku. Kajiannya terbuka untuk umum dan temanya bagus, lho. Tentang jilbab seksi!” seru Alfarizy semangat. “Hmm, apa nggak apa-apa kalau aku ikut kajian itu, Mas? Aku ‘kan bukan mahasiswa di sana.” “Aku ‘kan udah bilang kalau kajiannya untuk umum, cuma tempatnya di aula masjid kampus aku. Jadi nggak papa kalau kamu ikut,” tutur Alfarizy menjelaskan. “Apa ndak apa-apa ninggalin Riri di sekolah, Mas?” tanya Nuri lagi, ia takut Riri akan mengalami hal yang buruk lagi seperti kemarin. Ia takut disalahkan oleh Mahesa karena Mahesa telah menyuruh Nuri menunggui putrinya itu di sekolah. “Nggak papa, ‘kan Riri di sekolah. Nggak mungkinlah Riri berkeliaran kemana-mana. Lagian kajian biasanya cuma satu atau dua jam, nanti kita jemput Riri lagi di sekolah,” kata Alfarizy meyakinkan Nuri. “Kamu tau nggak ustadz Baharrudin?” tanyanya kemudian. “Tau, Mas. Yang suka ceramah juga di tivi, toh?” Alfarizy mengangguk. “Nah, beliau yang akan mengisi kajian pagi ini.” “Wah, mau banget ngeliat ustadz Baharuddin langsung.” “Yaudah ayo ikut!” “Tapi—” Belum sempat Nuri melanjutkan kalimatnya, Alfarizy sudah memotong terlebih dahulu. “Kamu ini banyak tapinya, Nur. Ayo, kajian sebentar lagi dimulai.” Alfarizy beranjak dari duduknya. Mau tidak mau, Nuri pun bangkit dan mengikuti Alfarizy dari belakang menuju parkiran mobil. Selama perjalanan, perasaan Nuri tidak enak. Ia segera tepiskan perasaan itu. Mudah-mudahan bukan firasat buruk yang akan menimpa dirinya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN