BAB 19 : JILBAB SEKSI

2590 Kata
Alfarizy dan Nuri tiba di kampus lima menit sebelum acara kajian dimulai. Mereka langsung terburu-buru ke tampat acara, yaitu aula Masjid Al-Khohinur yang berada di belakang gedung kampus dekat fakultas kedokteran. Saat melewati ruang laboratorium tempat praktek mahasiswa kedokteran, tiba-tiba mereka berpapasan dengan Laura Anditha—mantan pacar Alfarizy beserta para genk-nya yang terdiri dari tiga orang. “Ngapain cewek kampung ini ada di sini?” tanya Lala sambil berkaca pinggang, sewot. Dirinya masih ingat bagaimana waktu itu Alfarizy memutuskan dirinya hanya karena gadis kampung yang ada di hadapannya sekarang. Ia dan teman-temannya terlihat mengejek penampilan Nuri yang memakai baju serba tertutup yang menurutnya bikin gerah. “Namanya Nuri, bukan gadis kampung! Dia mau ikut acara kajian,” kata Alfarizy ketus, sebenarnya untuk saat itu ia tidak ingin ribut dengan mantannya dan juga ia ingin perpisahannya dengan Lala secara baik-baik saja sehingga walaupun mereka sudah putus tapi mereka bisa berteman dan tetap menjalin hubungan baik. Bagaimana pun juga gadis cantik nan seksi yang ada di hadapannya kini pernah menjadi bagian terindah dan mengisi kekosongan hatinya selama tiga tahun. “Siapa yang undang dia? Dia ‘kan bukan mahasiswi sini,” kata Lala masih dengan nada bicara sewot. “Gue yang ajak Nuri ke acara kajian. Kenapa? Apa ada masalah? Lo nggak suka? Urusan lo apa larang-larang Nuri ke sini?” tanya Alfarizy, matanya sedikit melotot. “Lagian acara kajian hari ini tuh terbuka untuk umum, bukan cuma untuk kalangan mahasiswa kampus ini aja,” lanjutnya tidak kalah sewot. “Mas Al … aku pulang aja, ya,” kata Nuri tidak enak hati, hari masih pagi tapi sang anak majikan sudah ribut karena dirinya. “Nggak papa, Nur. Yang harusnya nggak pantes berada di kampus ini tuh dia,” ujar Alfarizy sambil memperhatikan penampilan Lala dari atas sampai bawah. “Kok hobi banget pake baju serba kurang bahan kaya gitu,” ucapnya kemudian, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Karena merasa terhina, Lala segera mengajak teman-temannya untuk pergi setelah mengeluarkan kata ancaman. “Awas lo ya,” ujarnya marah sambil menunjuk ke arah Nuri, “gue bakal bikin perhitungan sama lo!” serunya lagi lalu menarik teman-temannya untuk menjauh. “Udah Nur, nggak usah dipikirin. Sakit jiwa tuh cewek,” kata Alfarizy kesal. Heran, kenapa dulu dirinya bisa berpacaran dengan gadis seperti Lala. Cantik sih, tapi kecantikannya itu tidak dibarengi dengan attitude yang baik. Nuri hanya tersenyum, ia pun tidak ingin memikirkan ancaman Lala barusan. “Ayo, Nur … kajiannya udah mulai kayanya,” kata Alfarizy. Ingin sekali ia menggandeng tangan Nuri, namun apa daya tangan tak sampai. Nuri dan Alfarizy kembali melanjutkan langkah mereka menuju aula masjid yang sudah dipenuhi oleh para mahasiswa dan juga masyarakat sekitar yang ingin mengikuti acara kajian pagi itu. Kabarnya acara kajian yang bertemakan ‘Jilbab Seksi’ akan diisi oleh ustadz kondang yang sudah sering wara-wiri di TV. “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabbarrakaatuh … puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kita Kesehatan dan kekuatan untuk bisa menghadiri acara kajian hari ini.Tidak lupa shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarganya, para sahabatnya, sampai kepada kita selaku umatnya. Aamiin ….” Seorang mahasiswa yang ditunjuk sebagai MC acara itu memulai acara pembukaannya. Nuri dan Alfarizy segera duduk di tempat yang telah disediakan. Tentunya akhwat dan ikhwan tempatnya terpisah. Akhwat sebelah kanan dan ikhwan sebelah kiri dekat dengan pintu keluar masuk aula. “Banyak sekali saudara muslim kita yang salah dalam mengartikan kehidupannya. Jaman serba modern seperti sekarang ini bukan hanya merusak akhlak para remaja, namun juga merusak pola pikir remaja itu sendiri. Arah yang baik dan buruk tidak terlihat ketika kesenangan duniawi ada di depan mata. Hal yang dapat merusak para remaja, dianggap modern sebagai perkembangan jaman. Tapi hal yang benar dianggap ketinggalan jaman,” kata MC itu lagi sambil menarik napasnya, “Tanpa buang-buang waktu lagi, marilah kita sambit eh sambut—” Kontan kata-katanya yang salah itu mengundang gelak tawa orang-orang yang hadir di sana. “Marilah kita sambut pengisi acara kajian pagi ini … Ustadz Baharrudin,” ujarnya melanjutkan yang segera disambut suara riuh dari para jam’ah, yang memang sudah tidak sabar mendengarkan ceramah dari ustadz kondang itu. Ustadz Baharrudin pun muncul dari belakang panggung lalu naik ke atas panggung dengan disertai tepuk tangan para jama’ah. “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabbarrakaatuh ….” Ustadz Baharrudin menyapa para jama’ah. “Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabbarrakaatuh …” teriak para jama’ah. “Jama’aaaahhhh ….” “Heeeiii ….” “Oh … jama’ah,” “Heeeiii ….” “Alhamdu—” “Lillah …” lanjut para jama’ah yang sudah hapal dengan gaya khas ustadz kondang itu jika menyapa para jama’ahnya. “Sudah cukup lama saya memperhatikan perkembangan jaman gaya berpakaian saudari kita sesama muslim yang semakin jauh dari syariat Islam. Kita memang harus mengikuti perkembangan jaman, namun jangan jadikan jaman yang seperti ini membuat kita terjerumus ke dalam hal yang sesat. Dengan banyaknya gaya berpakaian orang barat masuk ke negeri kita yang mayoritasnya beragama muslim, banyak sekali sekarang para saudari sesama muslim yang jauh dari syariat Islam. Padahal sejatinya jilbab itu melindungi kaum wanita dari godaan lelaki hidung belang di luar sana. Laki-laki di luar sana lho ya … insya Allah di majelis ta’lim ini tidak ada laki-laki yang seperti itu,” kata Ustadz Baharuddin terkekeh. “Bahkan sekarang televisi pun dengan bebas mempertontonkan aurat wanita secara terang-terangan untuk mendongkrak rating acara mereka. Betul tidak?” lanjutnya. “Betul!!!” jawab para jama’ah kompak. “Sering sekali saya mendapatkan ujaran ketidaksukaan saat pertama kali saya mengisi kajian seperti ini. Kebanyakan saudari kita sesama muslim tidak terima saat saya mengingatkannya tentang kewajiban berjilbab. Ada yang bilang: Ini ‘kan badan saya sendiri, urusan saya sendiri, kenapa ustadz yang ngurusin? Astagfirullah ….” Ustadz Baharrudin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Mungkin saudara Muslimah kita lupa bahwa Islam datang untuk menyatukan hati yang bercerai berai sehingga kita sesama muslim itu termasuk satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan Rasulullah sendiri sampai mengibaratkan kaum sesama muslim seperti suatu rumah yang satu sama lainnya harus saling menguatkan. Rasulullah juga mengibaratkan kaum sesama muslim sebagai satu tubuh yang jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit maka yang lain ikut merasakan demamnya. Kita sebagai sesama muslim harus saling merasakan suka dan duka dalam mengarungi perjuangan hidup ini. Rasulullah pernah bersabda dalam HR. Muslim bahwa bukan termasuk golonganku orang yang tidak peduli dengan nasib sesama (muslim). Selain itu dalam HR. Bukhari juga dijelaskan bahwa tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaramu sebagaimana kamu mencintai diri sendiri,” katanya lagi berapi-api. Nuri menyimak apa yang dipaparkan ustadz tersebut dengan khusyuk. Apa yang disampaikan oleh ustadz Baharrudin sangat mengena sekali di hatinya. Ia pun ingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 110 bahwa kita harus menjadi umat yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kita juga dikatakan umat terbaik yang salah satu cirinya adalah menyeru pada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (nahi munkar). Jika saling menyeru pada kebaikan ini sudah hilang maka predikat umat terbaik pun dengan sendirinya hilang dari kita. Ustadz Baharrudin melanjutkan ceramahnya. “Allah berfirman dalam surat Al-‘Ashr, sesungguhnya manusia akan selalu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman yang beramal shalih, yaitu mereka yang saling berwasiat pada kebaikan dan kesabaran. Karena sungguh rugi orang yang dalam hidupnya tidak pernah berwasiat atau menerima wasiat kebaikan. Termasuk yang rugi pula orang yang tidak mempedulikan wasiat kebaikan. Lebih rugi lagi mereka yang menganggap wasiat kebaikan sebagai sebuah penghalang bagi aktivitas duniawinya.” Sedang asik menyimak pemaparan tersebut, tiba-tiba ponsel Nuri bergetar.Ada sebuah pesan masuk dari Alfarizy. Sekilas ia menoleh ke arah Alfarizy yang duduk di sebrang sana. Alfarizy menunjuk ke arah ponselnya agar ia segera membaca isi pesan yang dikirimkan padanya. Alfarizy: Gimana kajiannya? Bagus nggak? Nuri: Bagus banget, Mas. Temanya cocok dengan apa yang terjadi sekarang. Alfarizy: Baguslah kalau kamu suka, Nur. Nuri: Makasih Mas Al, udah ajak aku ke kajian hari ini. Alhamdulillah ilmu aku bertambah. Alfarizy: Alhamdulillah. Sama-sama, Nur. Nanti kalau ada kajian lagi, aku kabari kamu. Nuri: Nggih, Mas. Sekarang kita dengerin ceramah lagi ya! Setelah itu Nuri memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya dan menyimak kembali ceramah ustadz Baharrudin yang semakin menarik untuk disimak. “Sekarang ana tanya, siapa di sini yang tau apa itu dayuts?” Ustadz Baharrudin bertanya pada para jama’ah yang kebanyakan para pemuda-pemudi dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Para jama’ah tampak berpikir dan berbisik dengan teman yang duduk di sebelahnya—menanyakan apa yang ditanyakan oleh ustadz tadi. Nuri mengangkat tangannya, tanda bahwa dia mengetahui apa itu dayuts. “Ya, ukhti! Silahkan ….” Nuri berdiri dari duduknya. “Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakaatuh … terima kasih atas kesempatannya, Ustadz. Sepengetahuan saya, dayuts itu seseorang yang tidak memiliki rasa cemburu saat ia melihat hal buruk di depan matanya, dia bersikap cuek, dan seolah tidak tahu menahu dan masa bodo,” jawab Nuri lantang, dirinya memang sudah paham dengan yang dimaksud dayuts. “Bisa tolong berikan contohnya, ukhti?” tanya ustadz Baharrudin lagi pada Nuri. “Contohnya adalah para lelaki baik seorang suami atau seorang bapak yang tidak keberatan ketika ada tamu laki-laki yang bukan mahramnya bertamu ke rumahnya di saat ia ada atau tidak berada di rumah. Seolah ia tidak peduli jika laki-laki lain menemui istri atau anak perempuannya.” “Betul sekali. Siapa namamu, Nak?” tanya ustadz Baharrudin kagum, jarang sekali ada gadis seumurannya yang paham apa itu dayuts. “Nama saya Nuri, Ustadz.” Nuri kembali duduk di kursinya. Dari jauh terlihat Alfarizy tersenyum penuh kebanggaan dengan jawaban Nuri tadi. Ia semakin terpesona dengan kecerdasan gadis shalehah itu. “Jawaban anti betul sekali. Allah SWT sangat murka kepada laki-laki yang bersikap dayuts ini karena itu sama saja ia ikut berperan terhadap maraknya perceraian di Indonesia yang disebabkan istrinya berselingkuh, khususnya perselingkuhan yang terjadi di dalam rumah. Selain terjadinya perceraian tadi, para laki-laki yang bersikap dayuts ini juga ikut mendukung situasi terjadinya perilaku seks pra-nikah yang dilakukan anak-anak perempuan mereka yang masih remaja yang terjadi di dalam rumah mereka sendiri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Surabaya oleh Dr Biran Affandi dan Dr Dalanan, rumah adalah tempat yang banyak dilakukannya hubungan seks pra-nikah. Munculnya para dayuts bisa disebabkan oleh beberapa kondisi, contohnya seperti yang banyak terjadi di kota-kota besar seperti di Jakarta, adalah suami atau bapak mengizinkan seorang laki-laki yang bukan mahram masuk ke dalam rumahnya untuk membetulkan listrik, AC dan peralatan lainnya yang rusak, memasang instalasi baru, peralatan baru atau kepentingan lainnya sementara mereka sendiri sedang tidak berada di dalam rumah dan di rumahnya hanya ada istri atau anak-anak perempuan mereka, tidak melarang istrinya keluar rumah tanpa seizin suaminya, membiarkan istri dan anak-anak perempuannya mempertontonkan auratnya di depan orang lain yang bukan mahram, mengizinkan laki-laki lain yang bukan mahram bekerja dan bebas beraktivitas di dalam rumahnya, dan membiarkan teman laki-laki dari anak perempuannya untuk datang ke rumah di saat bapaknya tidak berada di rumah dengan alasan mengerjakan tugas sekolah.” Ustadz Baharrudin menarik napas sejenak sebelum melanjutkan ceramahnya. “Wajarlah kalau suatu saat kita melihat ada orang yang sedang berjalan di pinggir jurang kemudian kita ingatkan ia agar menjauh dari tepian jurang itu karena ditakutkan akan jatuh ke dalamnya. Apalagi kalau sudah jatuh, maka siapa pun orangnya akan terpanggil untuk menolongnya. Jadi kalau kita melihat saudara sesama muslim yang masih belum menutup auratnya atau yang sudah menutup aurat tapi masih berpakaian seksi dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, lebih baik kalau kita sesama muslim mengingatkan orang tersebut agar tidak tersesat lebih jauh lagi.” Setelah itu, ustadz Baharrudin memberikan kesempatan kepada para jama’ah yang hadir pagi itu untuk bertanya. Seorang pemuda berperawakan tinggi dan kurus juga sepasang kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya mengangkat tangan tinggi-tinggi hendak menanyakan sesuatu. “Iya … silahkan, Akhi!” Ustadz Baharrudin mempersilahkan pemuda itu untuk bertanya. Si pemuda itu berdiri. “Assalamua’alaikum, Ustadz … saya mau bertanya, bagaimana menyikapi para muslimah yang sudah berhijab tapi senangnya memakai jilbab gaul yang serba ketat? Sekarang ini banyak sekali yang seperti itu. Saat kita ingatkan untuk berpakaian sesuai syari’at Islam, jawabannya malah ah bodo amat, bagi gua yang penting hati bersih. Atau ada juga yang menjawab, kok gue jadi serba salah? udah berhijab masih juga diomelin. Bagaimana jika seperti itu, Ustadz? Terima kasih banyak Ustadz, mohon pencerahannya …” kata pemuda itu sambil kembali duduk di kursinya. “Pertanyaan yang bagus sekali. Hati itu adalah cerminan diri kita. Orang yang bersih hatinya bisa dilihat dari perilaku orang itu sendiri. Semua yang dikerjakannya dan diucapkannya akan mencerminkan hatinya. Kalau kelakuannya buruk, berarti hatinya kotor. Lihat botol air minum ini!” Ustadz Baharrudin mengacungkan botol air mineral tinggi-tinggi ke udara agar para jamaah dapat melihatnya. “Hati itu seperti botol ini. Kalau kita isi dengan air bersih, maka ia akan mengeluarkan air yang putih dan bersih. Tidak mungkin botol yang kita isi air putih lalu keluar air warna-warni. Begitu pun dengan hati yang kotor, maka bisa dilihat dari perilaku dirinya. Sangat sulit menilai kebersihan hati sementara hatinya kotor. Ingat! Jilbab itu bukan kerudung, tapi kerudung adalah bagian dari jilbab. Pengertian jilbab itu sendiri adalah pakaian yang menutup seluruh tubuhnya selain yang diperbolehkan untuk nampak yaitu wajah dan telapak tangan. Rasulullah Saw bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Muslim: ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya, (1) kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang, ialah penguasa yang zhalim, (2) Wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta. Golongan orang tersebut tidak akan masuk ke dalam surga, bahkan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat sangat panjang. Masya Allah, apakah kalian tidak takut akan ancaman Allah tersebut? Jadi cara berpakaian yang serba ketat walaupun ia memakai jilbab, masih dikatakan salah secara syariat Islam. Syarat jilbab yang sesuai syariat Islam itu di antaranya pakaian yang longgar. Baju yang tipis apalagi ketat akan menggambarkan bentuk tubuh pemakainya. Pakaian yang seperti itu dikatakan berpakaian tapi telanjang.” Tidak terasa sudah 2 jam ustadz Baharrudin memberikan ceramahnya pagi itu. Para jama’ah sangat puas dengan pemaparan yang telah disampaikan ustadz kondang tadi. Sebagian para mahasiswi atau masyarakat sekitar yang hadir dan masih memakai hijab tapi masih jauh dari syariat Islam, merasa tersentil dengan ceramah tadi dan dalam hatinya ingin memperbaiki diri agar berpenampilan lebih baik lagi sebelum ajal menjemput mereka. “Bagus banget ceramah ustadz Baharrudin ya, Mas. Dulu aku cuma bisa liat beliau di tivi. Ndak nyangka hari ini bisa ketemu dan dengerin ceramah beliau secara live,” kata Nuri antusias. Alfarizy yang duduk di balik kemudi terkekeh. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Riri, sudah beberapa kali Nuri mengatakan kekagumannya terhadap ustadz Baharrudin. “Ya, baguslah Nur kalau kamu suka ceramah tadi. Ceramah ustadz Baharrudin benar-benar tepat sasaran dengan apa yang menimpa para muslimah sekarang ini. Mereka berhijab tapi berpakaian jauh sekali dari syari’at Islam. Nggak kaya kamu, Nur,” kata Alfarizy sambil melirik gadis yang duduk di sampingnya. Sontak, membuat Nuri menoleh. “Nggak kaya aku gimana maksudnya, Mas?” tanya Nuri karena Alfarizy tidak melanjutkan kalimatnya. “Ya … nggak kaya kamu, udah cantik, baik, sopan, dan shalehah lagi,” sahut Alfarizy tanpa berani memandang wajah Nuri dan memusatkan pandangannya ke depan jalan, “tipe idaman para laki-laki, khususnya aku,” gumamnya lagi pelan namun bisa didengar jelas oleh Nuri. Mendengar pernyataan Alfarizy barusan membuat Nuri tersipu, wajahnya bersemu kemerahan. Ia segera mengalihkan pandangan ke luar jendela di sebelah kirinya sebelum Alfarizy menyadari bahwa wajahnya merah seperti tomat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN