Pukul sebelas siang setelah Mahesa menyelesaikan kelas mengajarnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ada sebuah panggilan dari sekolah Riri.
‘Ada apa, nih?’ pikirnya, seketika itu perasaannya tidak enak. Tanpa menunggu lama, pria itu menggeser tanda hijau di layar ponselnya untuk segera menerima panggilan telepon tersebut.
“Assalamu’alaikum …“ kata Mahesa saat ponsel sudah menempel di telinga kirinya.
“Wa’alaikumussalam. Maaf Pak Mahesa ….” Terdengar suara Sita di sebrang sana.
“Iya, Bu. Ada apa?” tanya Mahesa. Perasaannya semakin tidak enak karena suara wali kelas putrinya itu terdengar sedikit tegang.
“Maaf, Pak. Ada sedikit masalah di sekolah.”
“Apa Riri baik-baik saja, Bu?” tanya Mahesa khawatir.
“Riri baik-baik saja, Pak. Tapi—”
Perkataan wanita itu yang menggantung membuat Mahesa gregetan. “Ada apa sebenarnya, Bu?”
“Lebih baik Pak Mahesa segera ke sekolah. Nanti kita bicarakan saja di sini. Lagipula sudah waktunya anak-anak pulang, kan? Tapi Riri belum ada yang menjemput.”
Mahesa melirik jam yang bertengger di pergelangan tangannya sebelah kiri. “Lho, memangnya Riri belum pulang, Bu? Bukannya ada Nuri di sekolah?”
“Nuri siapa, Pak?”
“Maksud saya pengasuh Riri yang tadi datang bersama saya. Tadi dia menunggu sampai Riri pulang di kantin. Apa ada, Bu?”
“Tidak ada, Pak. Tidak ada Nuri di sekolah. Makanya saya menghubungi Bapak karena Riri belum dijemput. Sekalian saya mau membicarakan sesuatu. Saya tunggu di sekolah ya, Pak.”
“Baik Bu, kalau begitu. Saya langsung ke sana. Assalamu’alaikum.”
Tuuuttt
Mahesa mematikan sambungan teleponnya dan segera berkemas—merapihkan peralatan mengajarnya yang tergeletak di atas meja ke dalam tas dan merapihkan kembali mejanya sebelum ia meninggalkan ruangan itu.
‘Kemana gadis itu? Aku suruh dia menunggu Riri sampai pulang sekolah. Pergi kemana dia?’ gumamnya kesal sambil memijit pelipisnya.
Sampai di sekolah, pria itu langsung menuju ruang guru. Keadaan sekolah sudah sepi karena memang sudah waktunya anak-anak pulang.
Mahesa mengetuk pintu ruangan yang tadi pagi ia datangi. Ia melangkah masuk ke dalam setelah dipersilahkan masuk. Di dalam ruangan itu sudah ada putrinya, seorang temannya yang meringis kesakitan karena lututnya berdarah dengan di dampingi oleh ibu dari anak laki-laki itu, dan tentu saja kepala sekolah pun turut hadir.
Melihat putrinya duduk sambil menundukkan kepala seperti sedang ketakutan, Mahesa pun mendekatinya. “Ada apa ini, Bu?” tanyanya, kemudian ia mendudukkan tubuhnya dengan Riri yang berada di atas gendongannya. Riri memeluk Papapnya dengan erat, refleks tangan kanan Mahesa mengusap punggung Riri dengan lembut.
“Tolong ajari anak Bapak dengan baik!” seru Ibu anak laki-laki yang lututnya terluka itu dengan nada marah. Terdengar deru napasnya yang tidak beraturan, menggebu-gebu.
“Lho, memangnya ada apa ya?” tanya Mahesa bingung karena tiba-tiba si Ibu marah tanpa alasan yang jelas.
“Tenang dulu, Bu,” pinta Haryati—sang kepala sekolah. “Tolong Bu Sita, jelaskan kronologisnya,” katanya pada bawahannya itu.
Ibu Guru berpenampilan seksi itu menceritakan runtut cerita yang terjadi pada waktu istirahat tadi. Menurut penglihatannya, Riri mendorong anak laki-laki itu sehingga menyebabkan lututnya berdarah akibat terbentur lantai. Anak laki-laki yang diketahui bernama Bayu langsung menangis histeris sambil memanggil nama Ibunya. Saat ditanyakan apa yang terjadi, Riri diam saja. Ia tidak mau membuka mulutnya untuk sekedar menjelaskan duduk perkara kenapa ia sampai melakukan hal seperti itu pada temannya.
“Apakah anda tidak bisa mendidik putri anda dengan baik, ya? Sehingga anak sekecil itu sudah berani melukai temannya?” tanya si Ibu dengan tatapan mengejek, ia menatap Mahesa dalam-dalam.
Mahesa beristigfar dalam hati. Jangan sampai dirinya terpancing emosi. Ia harus menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin. Ia harus menanyakan kepada Riri kenapa dirinya sampai melakukan hal seperti itu.
“Riri pasti punya alasan kenapa dia melakukan seperti itu,” kata Mahesa dengan nada suara yang tetap tenang. Seisi ruangan pun setuju, mereka tidak boleh mengambil kesimpulan secara sepihak. Mereka harus mendengarkan pembelaan dari Riri.
“Alah, itu hanya pembelaan anda saja. Anda tidak terima anak anda disalahkan sehingga anda mencari pembenaran untuk anak anda. Anak saya tidak mungkin memulainya duluan. Pasti anak anda yang menyerang anak saya tiba-tiba,” kilah ibu tersebut. Ia menganggap anaknya adalah korban sehingga ia sendiri tidak mau anaknya sendiri disalahkan.
Mahesa kembali mendudukkan Riri di kursi, kemudian dia berjongkok menyejajari tinggi putrinya. Ia pandangi wajah putrinya yang tengah menunduk itu, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Riri, certain sama Papap apa yang terjadi? Papap nggak akan marah kalau Riri jujur,” kata Mahesa dengan suara lembut sambil menyibak rambut Riri yang sedikit menutupi wajahnya. “Papah percaya Riri pasti punya alasan kenapa mendorong teman Riri itu, kan?”
Riri mendongak, bibirnya melengkung ke bawah dan matanya mulai mengeluarkan air mata. “Bayu,” ujarnya sambil menunjuk anak laki-laki itu, tapi matanya tetap menatap wajah sang Papap. “Dia jahat! Dia bilang bunda Riri udah meninggal dan masuk neraka. Huaaaa ….” Tangis Riri pun akhirnya pecah. Ia masih ingat bagaimana temannya itu mengejek sang bunda yang sudah tenang di alam sana. Sungguh ia tidak terima sang bunda dikatai seperti itu. Maka secara refleks tangannya mendorong Bayu dari arah belakang sehingga anak laki-laki itu tersungkur ke lantai dan lututnya terluka.
Hati Mahesa pedih mendengar penuturan Riri. Ternyata putrinya itu melakukan hal tersebut karena membela diri—tidak terima dengan semua ucapan yang terlontar dari mulut temannya.
Setelah mendengar alasan kenapa putrinya melakukan hal itu, Mahesa pun bangkit dan menatap nyalang pada si Ibu yang mempunyai anak laki-laki bernama Bayu.
“Ibu dengar sendiri ‘kan kenapa anak saya mendorong anak Ibu?” tanya Mahesa ketus, “anak mana yang terima kalau ibunya diejek seperti itu? walaupun sang ibu sudah tidak ada lagi di dunia?” lanjutnya lagi masih berapi-api.
“Anak saya tidak mungkin mengejek anak anda. Saya mendidiknya dari kecil agar dia bisa menghargai orang lain, khususnya teman dia sendiri.” Ibu Bayu berteriak tidak terima. Ia yakin anaknya tidak mungkin melakukan itu karena Bayu adalah anak yang berkelakuan baik di rumah. Ternyata si Ibu itu lupa, anak yang berkelakuan baik di rumahnya belum tentu baik pula di luaran sana. Terkadang ada anak yang baik di rumah, ternyata ia melakukan hal-hal yang di luar kebiasaannya di rumah karena ia merasa tidak diawasi oleh orang tuanya.
“Bukankah seluruh sudut ruangan ini dipasang CCTV, Bu?” tanya Mahesa pada sang kepala sekolah.
“Betul, Pak. Kami memasang CCTV di seluruh sudut ruangan, kecuali di dalam toilet,” sahut Haryati memberitahu.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengecek rekaman CCTV untuk melihat siapa yang benar dan siapa yang salah di sini,” usul Mahesa.
Sang kepala sekolah itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju, kenapa dari tadi dirinya tidak terpikir ke sana.
Sita segera pergi ke ruang pengendali CCTV untuk meminta rekaman hari itu. Setelah rekaman CCTV tersimpan di ponselnya, ia segera kembali ke ruangannya.
“Ini rekaman di kelas hari ini, Bu.” Sita menyerahkan ponselnya yang berisi rekaman CCTV itu kepada atasannya.
Sang kepala sekolah langsung memutar rekaman di kelas Riri. di ponsel itu terekam ketika Sita keluar ruangan, lalu seorang laki-laki yang diketahui Bayu mendekati tempat duduk Riri. Di layar ponsel itu terlihat Bayu mengejek Riri lagi perihal bundanya yang sudah tiada. Bahkan Bayu mengajak teman-temannya untuk ikut mengejek Riri. Terlihat Riri diam walaupun diejek, tapi ketika Bayu dengan sengaja mencoret-coret buku tulis Riri yang ada di atas mejanya, dengan refleks Riri mendorong Bayu dari belakang ketika ia hendak kembali ke mejanya. Bayu terjatuh dan lututnya berdarah. Anak laki-laki itu pun menangis kencang.
“Ibu Ratih bisa lihat sendiri siapa yang memulai pertengkaran sehingga menyebabkan Riri mendorong Bayu, kan?” tanya Mahesa pada sang kepala sekolah, kemudian ia melirik ke arah Ibu Bayu dengan tatapan menghujam. “Walaupun Riri tumbuh tanpa kasih sayang ibunya, tapi Riri tidak pernah kekurangan kasih sayang. Saya telah mendidik Riri dengan baik. Riri tidak mungkin melukai temannya tanpa alasan tertentu. Buktinya kalian bisa lihat sendiri siapa yang salah dan siapa yang benar. Riri melakukan hal itu karena membela dirinya yang terus diejek oleh Bayu. Hal ini bukan terjadi sekali, kemarin pun Bayu mengejek Riri perihal bundanya dan membuat Riri tidak mau pergi ke sekolah tadi pagi.” Mahesa menarik napasnya panjang dan membuangnya kasar. “Kalau hal ini terus berulang, saya bisa menuntut Bayu untuk dikeluarkan dari sekolah ini,” katanya lagi. Ya, dia bisa melakukan hal tersebut karena sang Papah—Rizky Pramoedya adalah donatur terbesar di Yayasan yang menaungi sekolah itu.
“Jangan, Pak,” cegah Ibu Bayu, bagaimana pun juga ia harus menurunkan egonya. Jika Bayu sampai dikeluarkan dari sekolah itu, ia tidak tahu harus memasukkan Bayu ke sekolah mana lagi karena dari seantero Jakarta TK itu lah yang paling bagus dan bonafit. “Saya minta maaf karena kelakuan Bayu. Saya bisa pastikan hal ini tidak akan terulang lagi.” Ibu Bayu pun akhirnya meminta maaf dan menyuruh anaknya untuk meminta maaf pada Riri dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Case closed, masalah pun akhirnya selesai setelah Ibu Bayu meminta maaf.
Mahesa segera menggendong Riri menuju mobilnya yang terparkir di halaman sekolah. Ketika hendak membuka kunci mobil, terlihat mobil adiknya baru sampai di sekolah. Mahesa tercengang, ada apa adiknya itu ke sekolah Riri. Ternyata Nuri turun dari mobil Alfarizy.
Mahesa menatap sinis ke arah mereka. “Oh, jadi kamu habis pergi sama Al?” tanyanya pada Nuri, pelan tapi tajam.
“Eh, iya Tuan … maaf.” Nuri tertunduk, dirinya merasa bersalah karena pergi tanpa ijin.
“Ada apa, Kak?” tanya Alfarizy heran karena Mahesa bisa menyempatkan diri menjemput Riri di sekolah. Biasanya kakaknya yang seorang dosen itu jadwal mengajarnya sangat padat. Jangankan untuk menjemput Riri ke sekolah, sepertinya untuk makan siang pun ia tidak punya banyak waktu. Kalau bukan karena ada hal penting seperti tadi pagi, kakaknya itu tidak akan mungkin mendatangi sekolah putrinya. Lalu sekarang, apa yang terjadi?
“Kamu tanya aja ke dalam, apa yang terjadi hari ini sama Riri di sekolah,” kata Mahesa ketus. “Kamu,” ujarnya kemudian pada Nuri,” saya nyuruh kamu untuk menunggu Riri di sekolah sampai pulang, tapi kamu malah pergi sama Al.”
“Maaf, Tuan.” Hanya kata maaf yang sanggup keluar dari mulut Nuri, ia menunduk dalam.
Tanpa banyak berkata lagi, Mahesa segera duduk di balik kemudi setelah mendudukkan Riri di bangku penumpang dan memasangkan seat belt untuknya. Ia menancap gas dalam-dalam meninggalkan Alfarizy yang penuh dengan rasa keingintahuan dan Nuri yang dihinggapi rasa bersalah.