BAB 21 : PERNIKAHAN

1745 Kata
Setelah bertanya kepada wali kelas Riri apa yang terjadi hari itu, Nuri dan Alfarizy segera menyusul Mahesa pulang. Rasa bersalah yang mencokol di dalam hatinya, menyertai perasaan Nuri selama di perjalanan pulang. “Nur, maafin aku ya,” kata Alfarizy pelan. Ia melirik sekilas ke arah Nuri, terlihat gadis itu sedang memandang ke luar kaca sambil tangannya meremas ujung hijabnya. Nuri menoleh lalu tersenyum. “Ndak usah minta maaf, Mas. Toh, udah terjadi juga ya. Beruntung non Riri ndak apa-apa,” ujar Nuri. “Nanti aku bantu ngomong sama Mas Esa, kalau aku yang maksa kamu untuk ikut ke kampus tadi,” kata Alfarizy lagi. “Makasih, Mas.” Setibanya di rumah, Nuri langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan langkah yang tergesa-gesa. “Assalamu’alaikum,” ucap Nuri saat bertemu dengan sang Bude di ruang tamu. Sang Bude yang sedang menyapu ruangan seketika menoleh. “Wa’alaikumussalam. Nur, kenapa kamu ndak pulang bareng tuan Esa? Kenapa juga tuan Esa yang jemput Riri di sekolah?” Bude Yatni memberondongnya dengan beberapa pertanyaan. “A—anu Bude … ceritanya panjang. Nanti Nuri ceritakan ya, Bude. Sekarang Nuri mau lihat non Riri dulu,” sahut Nuri dengan nada suara pelan. “Yowis, non Riri ada di kamarnya.” Tanpa basa-basi lagi, Nuri segera melangkah menaiki anak tangga dengan langkah lebar-lebar. Setibanya di depan kamar sang anak asuh, ia menetralkan terlebih dahulu napasnya yang terengah. ‘Bismillah,’ ucapnya dalam hati. Ia takut ada Mahesa di dalam sana. Benar saja, ketika Nuri berhasil memutar kenop pintu kamar itu dengan tangan yang sedikit gemetar netranya menangkap punggung tegap Mahesa berada di dalam kamar. Hati Nuri mencelos, sungguh ia takut menghadapi kemarahan majikannya. Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, Nuri masuk ke dalam kamar itu perlahan. “Tuan, maafkan saya ….” Mahesa tersentak, tidak menyadari kedatangan Nuri yang tiba-tiba itu. Ia menoleh ke belakang lalu berdiri. Ditatapnya gadis yang tengah menunduk itu dengan tatapan setajam pedang yang bisa menciutkan hati siapapun yang melihatnya. “Kamu udah tau apa yang terjadi pada Riri di sekolah hari ini?” tanya Mahesa. Nuri mendongak lalu mengangguk kecil. “Sudah, Tuan. Saya minta maaf karena sudah meninggalkan Riri,” lirihnya, ia melirik ke arah Riri yang tengah tertidur. “Tadi kamu pergi kemana sama Al?” tanya Mahesa. Sebenarnya ada sedikit rasa cemburu di dalam hatinya saat tahu Nuri tengah pergi bersama adiknya. Entah kemana. “Saya ke kampus mas Al—” “Ngapain?” potong Mahesa cepat. “Kebetulan tadi pagi ada kajian di kampus mas Al. Penceramahnya ustadz Baharrudin. Mas Al mengajak saya untuk ikut ke kajian itu, Tuan.” Bibir Mahesa membentuk huruf "o" saat Nuri menceritakan alasannya. “Maaf, Tuan,” ulang Nuri meminta maaf. “Yaudah kamu istirahat aja sekarang. Riri baru aja tidur,” kata Mahesa. “Baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf.” Nuri menundukkan kepalanya lagi. Saat hendak pergi dari kamar Riri, tiba-tiba suara Mahesa menginterupsinya lagi. “Nur ….” Nuri membalikkan badan. “Iya, Tuan. Ada apa?” “Aku nggak suka kamu panggil tuan!” Sedetik kemudian Nuri bengong, jadi dia harus panggil apa? “Panggil saya Mas Esa, seperti kamu memanggil Alfarizy dengan sebutan Mas Al,” ujar Mahesa sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar putrinya, meninggalkan Nuri yang masih terpekur dengan ucapannya barusan. Setelah mencerna kata-kata Mahesa, Nuri segera menutup pintu kamar Riri dan beranjak ke rumah belakang. Mahesa mengarahkan kakinya menuju dapur. Tiba-tiba ia merasa tenggorokannya kering. Saat di dapur, ada Alfarizy di sana. Adiknya itu tengah menikmati segelas air putih dingin yang berasal dari dalam kulkas. “Mas,” panggil Alfarizy saat menyadari kakaknya itu masuk ke dapur. Kemudian ia menaruh gelas yang sudah kosong di atas meja. “Hemmm ….” “Mas nggak marahin Nuri, kan?” tanya Alfarizy, ia mendudukkan tubuhnya di kursi depan sang kakak. “Maksud kamu?” Kedua alis Mahesa bertaut. “Gara-gara Nuri tadi jalan sama aku. Kita nggak macam-macam kok, Mas. Aku cuma ngajakin Nuri ke kajian di kampus,” ujar Alfarizy. “Iya, Mas tau.” “Trus?” “Trus apa lagi?” Mahesa mendelik. “Mas nggak marahin Nuri karena ninggalin Riri di sekolah, kan?” Alfarizy mengulang pertanyaannya lagi. Mahesa menggeleng. “Kenapa emangnya? Kamu suka sama Nuri, ya?” tanyanya tepat sasaran, ia menatap wajah sang adik dengan serius. Alfarizy gelagapan, belum saatnya ada yang tahu tentang perasaannya kepada gadis shalehah itu. “Eh, kata siapa?” kilahnya, mencoba mengontrol nada suaranya “Nggak usah bohong. Mas tau kamu suka sama Nuri. Bukannya kamu masih menjalin hubungan dengan Lala?” Alfarizy mendengus. “Aku udah putus sama Lala, Mas.” “Kenapa? Bukannya kalian pacaranan udah lama?” “Kita nggak cocok, Mas.” Alfarizy beralasan. “Alasan klise, bilang nggak cocok setelah tiga tahun pacaran,” sahut Mahesa yang membuat Alfarizy menghela napas panjang. “Mas pikir kamu beneran serius sama Lala sampai ke pernikahan nanti, walaupun sebenernya Mas kurang setuju kamu punya istri yang sukanya mengumbar aurat kaya gitu,” lanjutnya. “Nah … itu salah satu alasan aku putus sama Lala, Mas,” ujar Alfarizy, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan ke belakang. “Salah satunya aku nggak suka dia yang suka pakai baju kurang bahan. Aku sukanya perempuan yang menutup auratnya dengan sempurna sehingga cuma aku yang nantinya liat aurat dia kalau kami udah menikah, Mas. Perempuan lemah lembut yang kalau dia bicara bisa bikin hati aku adem, kaya—" Alfarizy menggantung kalimatnya, sepertinya ia sadar bahwa ia telah keceplosan. Mulutnya yang tadi terbuka lebar, langsung ia tutup rapat-rapat. “Kaya siapa?” tanya Mahesa mendelik, “kaya Nuri, kan?” tanyanya lagi telak, lagi-lagi tepat sasaran. Sejenak, Alfarizy terdiam. Ia memikirkan apakah ini saatnya untuk berkata jujur pada sang kakak soal perasaannya pada gadis shalehah itu? “Mas … pernikahan itu menurut Mas kaya gimana sih?” tanya Alfarizy serius. Mahesa menatap lurus ke arah adiknya. “Kenapa kamu nanyain soal pernikahan?” “Hmmm, nggak papa sih. Aku cuma pengen tau aja pandangan Mas tentang pernikahan. Secara, Mas ‘kan udah pengalaman.” Alfarizy terkikik. “Menurut Mas, pernikahan adalah sesuatu hal yang sangat sakral. Pernikahan adalah mengikat dua orang yang berbeda karakter agar menyempurnakan pasangan lainnya. Kita harus menyegerakan menikah kalau memang sudah mampu dan siap,” papar Mahesa. Sebenarnya ia merasa heran kenapa tiba-tiba adiknya itu menanyakan soal pernikahan. Jangan-jangan …. “Mas … kalau aku ingin nikah sekarang-sekarang ini, gimana?” tanya Alfarizy ragu-ragu. Pertanyaan dari adiknya itu sontak membuat Mahesa yang sedang menikmati minuman di gelasnya tiba-tiba tersedak. Tuh kan, dugaan Mahesa benar. “Kamu serius?” Tanya Mahesa dengan tatapan menelisik, ia taruh gelas yang masih menempel di tangannya ke atas meja. Ditatapnya wajah sang adik lekat-lekat. Alfarizy mengangguk. “Ini ‘kan baru misalkan, Mas. Kalau misalkan aku ingin menikah dalam waktu dekat gimana?” Sejenak Mahesa nampak berpikir. “Ya, nggak apa-apa sih. Kamu ‘kan udah gede, udah bisa memutuskan mana yang baik untuk diri kamu sendiri,” katanya, “Tapi—” “Tapi apa, Mas?” Alfarizy buru-buru memotong. “Tapi kalau kamu menikah nanti sebelum kamu lulus kuliah dan punya pekerjaan, istri kamu mau kamu kasih makan apa?” Kini giliran Alfarizy yang nampak berpikir keras. Pertanyaan dari kakaknya itu benar, apa yang bisa diberikan dirinya jika menikah nanti sedangkan sekarang saja ia masih mendapatkan uang bulanan dari sang Ayah. Apa dia masih akan meminta uang pada Ayahnya walaupun sudah menikah nanti? Tentu Alfarizy merasa gengsi. Melihat adiknya terdiam, Mahesa berkata, “waktu nikah sama bundanya Riri ‘kan umur Mas dua puluh lima tahun, Mas juga udah bekerja walaupun waktu itu masih jadi asisten dosen karena Mas belum lulus kuliah. Setidaknya Mas udah punya penghasilan walaupun sedikit untuk menafkahi keluarga kecil kami.” “Jadi lebih baik aku menikah saat udah mapan gitu, Mas?” Alfarizy mencoba menyimpulkan. “Mas nggak bilang gitu ya. Mas ingin kamu memikirkan lagi soal pernikahan. Kamu harus tau apa aja kewajiban suami terhadap istrinya. Ya salah satunya adalah menafkahi lahir dan batinnya. Kamu akan berdosa kalau salah satu kebutuhan lahir batin istri kamu nggak terpenuhi, Al.” Tiba-tiba, Alfarizy merasakan pening di kepalanya. Ratusan kupu-kupu sepertinya berterbangan dari dalam kepalanya. Pada akhirnya, ia menyerah untuk memikirkan semuanya. Sebelum mengambil keputusan yang penting untuk hidupnya, ia memang harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang pernikahan. Ya, harus. *** Setelah pembicaraannya siang itu dengan sang kakak, Alfarizy jadi rajin membaca buku-buku tentang hukum pernikahan, menelaah hadits-hadits yang menyarankan untuk menikah secepatnya jika sudah siap, mendengarkan ceramah-ceramah mengenai kewajiban suami terhadap istrinya, atau bertanya langsung pada beberapa ustadz kenalannya. Selain sisi positif dari menikah muda, ternyata ada beberapa pendapat yang mengemukakan sisi negatif dari menikah muda itu sendiri. Salah satunya adalah pendapat tentang menikah lebih baik dilaksanakan jika sudah mapan agar membesarkan anak dalam keadaan berkecukupan. Alfarizy tidak setuju dengan pendapat itu, karena ia yakin bahwa Allah akan menjamin rezeki setiap orang yang ingin menyempurnakan separuh agamanya. Bukankah menikah termasuk ibadah kepada Allah? Bahkan ada yang berpendapat bahwa pernikahan itu tidak akan sesulit yang dibayangkan sebelumnya. Pernikahan akan membuka pintu rezeki itu sendiri. Sudah beberapa hari terakhir Alfarizy memikirkan soal pernikahan. Diusianya yang belum genap berusia dua puluh tiga tahun, memang belum dianjurkan untuk menikah. Apalagi dirinya memang belum bisa mencari uang sendiri, kuliah pun belum lulus. Tapi keinginannya untuk mempersunting Nuri begitulah kuat. Sungguh ia mencintai gadis shalehah itu karena Allah, karena ingin menyempurnakan separuh agamanya dengan cara menikah. Dan ia juga sangat yakin kalau Nuri adalah wanita yang tepat untuk ia jadikan istri. Sebelum gegabah mengambil keputusan untuk hidupnya, ia harus menyerahkan semuanya kepada Allah dengan cara rajin shalat istikharah. Ia laksanakan shalat istikharah secara rutin selama satu minggu lebih sampai ia mendapatkan petunjuk dari Allah. Kita sebagai umat muslim memang diwajibkan selalu melibatkan Allah dalam segala urusan kita. Hingga akhirnya sudah sebulan sejak percakapannya dengan sang kakak tentang pernikahan, ia bermimpi tentang Nuri yang tersenyum manis sambil menggenggam tangannya erat. Saat terjaga dari mimpinya, tubuh Alfarizy berkeringat membanjiri seluruh wajahnya. Ia ingat sekali dengan mimpinya itu. Ia tahu betul wajah siapa yang hadir di mimpinya. Ia menganggap kalau mimpi itu sebagai pertanda dari Allah, sebagai jawaban atas shalat istikharahnya yang selama satu minggu lebih ia kerjakan. Ia berkesimpulan bahwa Allah telah menunjukkan bahwa Nuri memang gadis yang tepat untuk dirinya. Ternyata mimpi itu memang petunjuk! Alfarizy kembali memejamkan kedua matanya dan tidur kembali dengan nyenyak, dengan senyum yang tersungging di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN