Nuri’s POV
Aku telah jatuh cinta pada caramu melantunkan ayat-ayatNya
Aku telah jatuh cinta pada setiap tatapan matamu kala memandangku
Aku telah jatuh cinta pada setiap hembusan napasmu yang meluluhkan hatiku
Aku telah jatuh cinta pada caramu menjaga kehormatanku
Dan aku pun telah jatuh cinta pada caramu mencintaiku ….
Jodoh adalah salah satu rahasia Allah SWT yang menjadi pertanyaan besar bagi semua manusia. Jodoh merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT yang tertulis dalam lauhul mahfuz dan ditakdirkan dengan sebab-sebabnya.
Banyak orang yang menilai bahwa jodoh itu bisa dilihat dari kemiripan guratan wajah dan senyumannya. Namun bagiku konsep jodoh sangatlah sederhana; jodoh adalah cerminan diri sendiri. Wanita atau pria baik niscaya akan dipertemukan dengan yang baik pula, begitu pun sebaliknya.
Seperti firman Allah dalam surat An Nur ayat 26 bahwa wanita yang baik untuk laki-laki baik juga. Sedangkan wanita yang tidak baik, untuk laki-laki yang tidak baik juga. Oleh sebab itu kita harus mempunyai perilaku baik agar bisa berjodoh dengan laki-laki yang baik juga.
Hari ini entah kenapa tiba-tiba Mas Al mengajak aku pergi ke suatu tempat. Ia bilang ingin membicarakan hal penting denganku. Aku pun bersedia menerima ajakannya dengan syarat kami pergi dengan mengajak Riri agar setan tidak masuk diantara kami jika pergi berdua saja.
Mas Al pun setuju mengajak Riri pergi bersama kami. Setelah meminta ijin pada tuan Mahesa, Riri pun diperbolehkan ikut bersama kami. Dengan syarat kalau kami harus menjaganya baik-baik.
Laki-laki tampan itu mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumah. Sesekali aku melirik ke samping tempatnya mengemudi, entah kenapa Mas Al terlihat berkeringat. Padahal yang aku rasakan AC di dalam mobilnya sudah cukup membuat kami tidak kepanasan. Tapi kenapa wajahnya berkeringat seperti itu?
“Mas,” kataku membuyarkan konsentrasinya saat menyetir.
Laki-laki tampan itu pun menoleh sekilas ke arahku. “Iya, Nur ….”
“Mas Al ndak papa?” tanyaku sambil memerhatikan wajahnya yang terlihat sedikit gugup.
Mas Al terlihat gelagapan. “Eh, aku nggak papa, Nur. Emangnya kenapa?” Ia pun balik bertanya.
“Aku perhatiin muka Mas Al pucat dan keringetan gitu,” jawabku jujur.
Riri yang sedang duduk dipangkuanku pun ikut menoleh ke arah omnya. “Om ganteng sakit ya? Kita pulang aja kalau gitu,” tanyanya ikut memastikan.
Mas Al pun buru-buru menggelengkan kepalanya. “Om ganteng nggak papa kok, Ri,” sahutnya pada Riri. “Emang mukaku pucat ya, Nur?” tanyanya padaku. Ia langsung memerhatikan wajahnya lewat kaca spion yang terpasang di sebelah kanannya. “Ganteng kaya biasanya, ah,” katanya memuji diri sendiri.
Aku tergelak mendengar kenarsisan ucapannya. “Iya, Mas Al masih ganteng kaya biasa, kok,” ujarku yang membuatnya tersipu seketika. Tiba-tiba aku lihat wajahnya memerah.
Tidak lama, mobil yang dikendarai Mas Al memasuki kawasan TMII. Ternyata ia mengajak kami ke TMII karena ingin mengenalkanku pada miniatur Indonesia. Selama tinggal beberapa bulan di Jakarta aku memang belum pernah mengunjungi tempat rekreasi itu.
Setelah membeli karcis di gerbang utama, mobil Mas Al pun berjalan lambat menyusuri area TMII. Aku begitu takjub melihat beraneka ragam rumah adat yang ada di sana. Dari Sabang sampai Merauke, semuanya ada. Bahkan di dalam rumah adatnya pun berjejer dengan rapih patung manekin yang memakai baju adatnya.
“Nur, kita masuk ke Istana Anak ya,” kata Mas Al membuyarkan pandanganku yang tengah asik menikmati pemandangan di sekitar TMII.
“Eh iya, terserah Mas aja,” jawabku cepat.
Mas Al langsung membelokkan mobilnya menuju Istana Anak seperti yang dikatakannya tadi. Istana Anak adalah tempat bermain untuk anak-anak. Cocok sekali untuk Riri. Terdapat banyak permainan di dalamnya, ada yang berbayar dan ada juga yang gratis.
“Asiiik!!!” seru Riri kegirangan saat kami baru saja memasuki area Istana Anak. Ia langsung menarik-narik tanganku agar mengikuti arah langkahnya yang sedikit berlari.
“Sabar, Ri. Jangan Tarik-tarik tangan Kak Nuri, nanti Kak Nuri jatuh,” protes Mas Al, ia menarik tangan Riri sebelah kanan agar memperlambat langkahnya.
“Riri udah nggak sabar pengen main perosotan, Om,” ujarnya sambil jingkrak-jingkrak ria.
Sampai di tempat perosotan, Riri langsung mengantri agar bisa menaiki prosotan itu. Di sana ada banyak perosotan, tapi semuanya penuh oleh anak yang ingin bermain prosotan. Berhubung hari itu adalah weekend jadi TMII sangat ramai pengunjung.
“Duduk sini, Nur,” ajak Mas Al. Ia mengajakku duduk di sebuah bangku besi panjang tidak jauh dari tempat Riri bermain. Dari tempat kami duduk, kami bisa dengan mudah mengawasi Riri selama bermain prosotan.
Aku pun menurut. Aku duduk di sebelah Mas Al, namun tidak terlalu dekat dan tetap ada jarak di antara kami.
“Nur …” panggilnya lagi.
“Iya, Mas?”
“Aku—aku mau ….”
“Mau apa, Mas?” tanyaku tidak sabar. Aku rasa seharian ini tingkah laku Mas Al sungguh aneh. Sepertinya ada yang ingin ia sampaikan padaku namun ia urungkan sehingga membuatku semakin penasaran. Ada apakah gerangan?
“A—aku … ma—mau … minum,” ucapnya lirih.
Aku menghela napas panjang. “Masya Allah, jadi dari tadi Mas Al ingin minum, ya?”
Ia terkekeh. “Iya,” jawabnya polos.
“Yaudah, sebentar aku beli dulu, ya.” Aku pun bangkit dari dudukku lalu melangkah ke kedai penjual minuman. Aku membeli tiga botol air mineral untukku sendiri, Mas al, dan juga Riri. Aku tidak tahu kalau Mas Al akan mengajak kami ke tempat rekreasi seperti ini sehingga aku tidak mempersiapkan bekal makanan apapun.
“Ini, Mas.” Aku menyerahkan sebotol air mineral dingin ke arahnya. Ia pun menerima minuman itu dengan tangan bergetar.
“Makasih ya, Nur,” ucapnya. Ia pun meminum air itu hingga menyisakan sedikit di botol. Ia benar-benar kehausan, pikirku.
“Haus banget keliatannya, Mas,” cibirku sambil terkekeh pelan.
Ia pun tertawa kecil, menampilkan deretan giginya yang rapih dan bersih.
Pandanganku kembali aku tujukan pada Riri yang tengah bermain. Melihatnya tertawa sungguh membuat hatiku bahagia. Ah, aku jadi teringat akan adikku di kampung. Sejak kecil, adikku—Agil jarang sekali bermain di tempat rekreasi seperti ini. Selain faktor ekonomi yang kurang, tempat tinggalku memang sangat jauh dari tempat rekreasi. Maka dari itu, ia lebih sering bermain bersama teman-temannya—bermain petak umpet, pistol-pistolan yang terbuat dari bambu, atau bermain gundu. Aku berjanji, suatu hari nanti aku akan ajak Agil bermain sepuasnya ke tempat rekreasi seperti ini.
“Nur ….” Lagi-lagi Mas Al memanggilku sehingga aku menoleh padanya.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sambil memperhatikan wajahnya.
“Aku mau tanya.”
“Silahkan … tanya aja, Mas. Insya Allah aku jawab kalau bisa.”
“Bagaimana pandangan kamu tentang menikah muda?” tanyanya dengan tatapan serius. Manik mata coklatnya memandang lurus ke arahku.
Sejenak aku berpikir, kenapa tiba-tiba Mas Al menanyakan hal itu?
“Memangnya kenapa, Mas?” tanyaku penasaran.
“Eh … ehm ….” Ia pun gelagapan menjawab pertanyaanku.
“Siapa yang berniat menikah muda?”
“Aku ingin tau pendapat kamu tentang menikah muda, Nur. Misalkan nih … di usia kamu yang mau 20 tahun, apa kamu pernah berkeinginan untuk segera menikah?” tanyanya serius.
“Aku ndak pernah menentukan kapan aku harus menikah, Mas. Kalau memang sekarang ini aku menemukan laki-laki yang cocok untukku, kenapa ndak? Aku akan menyegerakan menikah kalau memang sudah tiba waktunya dengan laki-laki yang Allah pilihkan untukku,” jawabku jujur.
“Kalau pendapat kamu tentang pacaran dulu sebelum menikah itu gimana, Nur?”
Mataku melotot. Mas Al buru-bur meralat pertanyaannya barusan.
“Maksudku … menikah adalah menyatukan dua hati, dua pribadi yang mungkin bertolak belakang. Nah sebelum menikah ‘kan mungkin untuk sebagian orang lebih baik mengenal satu sama lain dulu dengan cara pacaran. Pacaran di sini bukan dalam arti negatif ya, Nur. Hanya untuk saling mengenal satu sama lain aja, jangan sampai setelah menikah kita baru tahu bagaimana sifat asli pasangan kita itu. Kamu nggak mau ‘kan kaya beli kucing dalam karung? Nggak tau isinya gimana?” bebernya panjang lebar.
“Mas, pacaran itu adalah perbuatan yang mendekati zina. Karena dengan berpacaran, berduaan dengan orang yang bukan muhrim adalah jalan setan untuk menggoda kita melakukan hal yang dilarang Allah. Lebih indah kalau kita pacaran dengan pasangan halal kita dalam artian pacaran setelah menikah. Kita mau berduaan di tempat gelap pun ndak akan ada yang melarang. Iya, toh?” jelasku.
“Jadi menurut kamu lebih baik menikah dini daripada berpacaran?” tanyanya menegaskan kata-kataku barusan.
Aku pun mengangguk mantap. “Lebih baik menyegerakan menikah kalau memang sudah menemukan pasangan yang baik, Mas.”
Semilir angin siang itu menyapa dengan lembut ketika kulihat Mas Al tengah terpekur menatap tanah di atas pijakan kakinya. Sejenak kami terdiam di bawah guguran daun, yang jatuh dari rimbunan pepohonan di atas tempat kami duduk.
“Nur, mungkin terlalu cepat untuk aku bilang ini ke kamu. Tapi ….” Ucapannya terpotong oleh kedatangan Riri yang meminta minum karena kehausan.
“Riri mau minum, Kak,” pintanya. Ia pun mendudukkan dirinya di tengah-tengah antara aku dan Mas Al.
“Ini, Sayang.” Aku memberikan Riri sebotol air yang masih tersegel.
Ternyata Riri kesusahan membuka botol air itu.
Aku pun tergelak karena lupa membukakan segel botolnya.
Setelah dirasa hausnya hilang, Riri pun kembali bermain saat dua teman barunya melambaikan tangan agar segera bergegas bermain bersama lagi.
“Oh iya, lanjutkan yang tadi, Mas,” ujarku sambil menoleh ke arahnya.
“Nur, sebenarnya ….”
“Iya, Mas. Kenapa?” tanyaku semakin penasaran. ‘Mas Al ini kenapa sih? Mau ngomong aja susahnya minta ampun,’ batinku.
“A—aku … sebenernya aku cinta sama kamu.”
Deg, tiba-tiba jantungku langsung berdegup kencang mendengar pernyataan Mas Al barusan. Aku kembali menunduk mencoba mencerna kata-katanya barusan. Aku memang sudah merasa kalau Mas Al menaruh hati padaku. Dari caranya memberi perhatian di setiap kesempatan, aku sudah tau akan hal itu. Insting kewanitaanku berkata bahwa Mas Al menyukaiku. Tapi aku tidak pernah menyangka akan terjadi secepat ini.
Aku memberanikan diri menatap wajahnya. Dalam matanya yang kini menatapku, kulihat sekilas ada keteguhan hati yang tidak akan pernah bisa kuingkari lagi. Ada cinta yang tulus tersirat di matanya untukku. Ah, Mas Al ….
“Mas, aku ….”
“Kamu nggak harus jawab sekarang, Nur. Aku akan setia menanti jawaban kamu. Asal kamu tau, aku memilihmu karena agamamu, karena ketaatanmu kepada Allah. Ana uhibbuka fillah, Nur. Aku mencintaimu karena Allah,” ujarnya dengan kesungguhan hati.
Tanpa bisa kucegah, air mataku turun deras membasahi pipiku. Betapa aku sangat bersyukur bahwa Allah mempertemukan aku dengan laki-laki sholeh seperti Mas Al. Ya, aku merasa menjadi wanita paling beruntung karena aku pun mengenal baik keluarganya.
“Kak Nuri kenapa? Kok Kak Nuri nangis? Om ganteng yang bikin Kak Nuri nangis ya?” Tiba-tiba Riri sudah berada di hadapanku dan ia melihat aku menangis. Aku buru-buru menghapus air mataku yang membasahi pipi dengan hijab yang kupakai.
“Kak Nuri ndak papa, Sayang. Tadi mata Kak Nuri kemasukan debu, jadinya kelilipan,” kataku berbohong, aku mengedip-ngedipkan kedua mataku agar Riri percaya bahwa aku bukanlah menangis, tapi kelilipan debu. Jahatnya aku membohongi gadis kecil itu. Ah biarlah, aku tidak mungkin bilang sejujurnya pada Riri bahwa aku menangis karena bahagia atas pernyataan om kesayangannya.
“Riri udah puas mainnya belum?” tanyaku. Aku usap keringat yang membanjiri wajah Riri dengan selembar tissue yang tersimpan di dalam tas selempangku. Tas itu pemberian Mas Al karena tas selempangku dijambret orang waktu itu.
“Udah, Kak. Riri udah capek,” jawabnya polos. “Kita pulang yuk, Kak. Riri ngantuk,” katanya lagi sambil menguap.
Aku segera menutup mulutnya saat ia menguap lebar. “Kalau menguap, ditutup ya Sayang. Nanti setannya masuk,” ujarku sambil membelai pipinya yang mulus.
“Yuk kita pulang,” ajak Mas Al.
Aku dan Mas Al segera menggamit tangan Riri dari sebelah kanan dan kiri. Mungkin orang yang melihat akan mengira bahwa kami adalah pasangan orang tua dan anaknya. Ah, biarlah orang berpikiran apa. Yang penting hari ini aku merasa sangat bahagia.
***