Gawai Nuri tiba-tiba berbunyi nyaring, memecah keheningan malam itu. Nuri yang saat itu sedang membaca Al-Qur’an segera menyelesaikan bacaannya.
“Shodaqllohul’adzim ...” Al-qur’an yang berada di genggamannya, ia simpan rapih kembali di atas meja. Ia segera menggeser tombol hijau saat tahu Ibunya yang tengah melakukan panggilan.
“Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumussalam, Nur.” Suara Santi menyahut di ujung telepon. “Kamu lagi apa?” tanyanya kemudian.
“Nuri baru selesai tilawah qur’an, Bu,” jawab Nuri, “ada apa Ibu telepon malam-malam?”
“Gini loh, Nur. Tadi siang pak Kades ke rumah.” Santi memulai percakapannya malam itu.
“Ada apa pak Kades ke rumah, Bu?” tanya Nuri heran, alisnya bertautan.
“Beliau—beliau ingin meminang kamu jadi istri untuk anaknya, Nur.”
Hening.
Pikiran Nuri langsung melayang ke masa lalu. Anak Pak Kades yang bernama Fikri adalah teman masa kecilnya. Mereka sudah lama berteman. Bahkan Nuri sudah menganggap Fikri seperti kakaknya sendiri. Namun setelah mereka beranjak remaja, Ibu Fikri melarang anaknya untuk bergaul dengan Nuri. Alasannya hanya karena mereka beda kasta katanya. Fikri yang termasuk keluarga terpandang di kampungnya, dianggap tidak selevel dengan Nuri yang hanya anak dari seorang petani. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba Pak Kades menginginkan ia menjadi menantunya?
“Nur.” Panggilan Santi membuyarkan lamunan Nuri. “Kamu masih di situ kan, Nur?”
“Eh iya, Bu. Nuri masih di sini.”
“Kamu terima atau nggak pinangan dari pak Kades, Nur? Ibu dan ayah merasa ndak enak menolak lamarannya. Tapi semua keputusan tetap ada di tanganmu karena nanti kamu yang akan menjalani semuanya. Kamu harus ngasih kepastian, Nur. Bukannya kamu dan Fikri udah saling kenal lama, toh? Apa lagi yang bikin hatimu bimbang, Nur?” desak Santi. “Kita juga tau keluarganya seperti apa. Fikri juga sekarang lagi pendidikan di Cairo, kan? Insya Allah agamanya bagus.”
“Bu … Ibu tau sendiri ‘kan gimana ibu Fikri dari dulu ndak suka sama aku,” keluh Nuri, ia menghela napasnya berat, ia belum memberi tahu soal pernyataan cinta Alfarizy waktu itu.
“Iya Ibu tau, Nduk. Tapi sekarang mereka sendiri yang meminang kamu, lho. Mungkin sekarang ibunya udah sadar kalau ternyata kamu ini gadis yang baik, pantas untuk anaknya.”
“Pantas gimana, Bu? Aku iki ‘kan cuma lulusan SMA aja, sedangkan Fikri lagi kuliah di Cairo, toh? Ndak selevel lho aku sama dia.”
“Jadi gimana? Apa kamu ndak mau dipikirin dulu lamarannya, Nur?” Ibu sih terserah kamu aja, kamu yang akan menjalaninya, toh.”
Nuri menghela napas panjang lagi. “Bu, sebenarnya ada hal penting yang belum Nuri sampaikan sama Ibu.”
“Apa itu, Nduk?”
“Sebenernya … ada yang udah melamar Nuri juga, Bu,” ucap Nuri, ia menggigiti bibir bawahnya. Ia harus bercerita pada Ibunya saat itu juga, agar beban di pikirannya berkurang. Setidaknya sang Ibu akan memberi masukan tentang siapa yang harus dirinya pilih.
“Siapa, Nur?” Terdengar suara Santi kaget di sebrang sana.
“Anak majikan tempat Nuri bekerja di sini, Bu.”
Santi tidak menyahut segera. Ia terdiam sesaat. “Kamu ndak macem-macem ‘kan, Nur?”
“Macem-macem gimana maksudnya, Bu?” tanya Nuri tidak mengerti, keningnya mengernyit.
“Maksud Ibu, ‘kok bisa anak majikan kamu iki melamar kamu? Kamu ndak diapa-apain, kan?”
“Astagfirullah, Bu. Nuri ndak pernah macem-macem. Mas Al juga orangnya baik, Bu, sopan lagi. Ndak pernah bersikap kurang ajar sama Nuri selama Nuri bekerja di sini,” bela Nuri cepat. Memang seperti itulah sosok Alfarizy yang dikenalnya.
“Oh, jadi namanya Al.”
“Nggih, Bu. Alfarizy namanya. Nuri biasa panggil mas Al.”
“Tapi Ibu kok ngerasa aneh, Nur—"
“Aneh gimana, Bu?” potong Nuri cepat.
“Yo aneh, ada majikan yang melamar pembantunya. Apalagi dia anak ibu kota dan kamu anak desa!”
“Ibu, jangan berpikiran buruk dulu. Nuri kenal mas Al gimana orangnya dan Nuri juga tau keluarganya seperti apa. Mereka nerima Nuri dengan baik di sini. Ndak ada tuh derajat antara pembantu sama majikannya di sini.”
“Yowis, kayanya kamu suka juga sama mas Al-mu itu. Mudah-mudahan ini cuma perasaan Ibu aja yang merasa aneh. Terus kamu terima lamarannya, Nur?”
Nuri tersipu malu mendengar perkataan Ibunya barusan. Mungkin benar yang dikatakan Santi bahwa ia pun mencintai Mas Al-nya. Beruntung Ibunya melakukan panggilan suara, jadi tidak ada yang melihat muka Nuri semerah tomat saat itu. “Nuri belum jawab lamarannya, Bu,” jawabnya lirih.
“Kenapa? Kamu bilang tadi Al itu laki-laki yang baik dan sopan. Apa dia jarang ibadahnya?”
“Insya Allah mas Al laki-laki yang rajin ibadahnya, Bu. Dia selalu ikut kajian kalau sedang waktu senggang. Kemarin Nuri diajak ke kampusnya untuk hadir di kajiannya ustadz Baharuddin yang suka ada di tivi itu, lho, Bu.”
“Oh ya? Bagus itu. Lalu apa yang bikin kamu belum menerima lamarannya?”
“Nuri masih bingung, Bu. Sebenarnya Nuri belum mau menikah. Nuri masih ingin mengejar cita-cita sebagai seorang dokter, seperti harapan Ibu dan Ayah.”
“Nur ….” Terdengar suara Santi serius. “Menikah itu bukan berarti kamu ndak bisa mengejar cita-cita kamu lagi. Kalau ada laki-laki sholeh yang meminang kamu, kamu mau nunggu apa lagi, Nur? Umur kamu udah mau dua puluh. Waktu Ibu nikah sama ayahmu, malah umur Ibu masih delapan belas tahun. Kamu tau Sumanti, kan? Diumurnya yang sama kaya kamu, anaknya udah dua.” Terdengar Santi terkekeh di sebrang sana.
Nuri menarik napas panjang. “Nuri bingung, Bu,” katanya lirih.
“Ndak usah bingung ya, Nduk. Jalan keluarnya adalah kamu minta petunjuk sama Allah dengan shalat istikharah. Mudah-mudahan Allah segera memberi jalan keluar untuk kamu. Ibu tau Satrio laki-laki seperti apa. Kamu juga tau Alfarizy laki-laki seperti apa. Jadi alangkah baiknya kamu melibatkan Allah dalam masalah ini ya, Nur. Jangan salah ambil keputusan. Minta petunjuk sama Gusti Allah.” Ibunya menyarankan.
“Nggih, Bu. Nanti Nuri akan shalat istikharah.”
“Kamu harus segera beri jawaban ya, Nduk!” kata Santi singkat tapi tegas.
“Insyallah, Bu.”
“Yowis, sekarang kamu istirahat ya. Jaga kesehatan ya, Nduk. Jangan tidur malam-malam.”
Nuri menoleh ke arah jam yang terpasang di kamarnya, tidak terasa sudah pukul sembilan malam. Itu berarti Ibunya menelpon sudah hampir satu jam lamanya. “Nggih, Bu. Setelah ini Nuri akan langsung tidur. Ibu juga jaga kesehatan, ya. Jangan kerja yang berat-berat. Assalamu’alaikum ….”
“Wa’alaikumussalam ….” sahut Santi di ujung telepon.
Panggilan telepon pun terputus, Nuri kembali menyimpan gawainya. Pikirannya saat itu benar-benar kalut. Ia beranjak ke luar kamar menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamarnya. Ia mengambil wudhu dan menunaikan shalat istikharah dua raka’at. Mudah-mudahan Allah segera memberikan jawaban atas kegundahan hati yang sedang dialaminya saat itu.
Hujan yang mengguyur kota Jakarta sejak Magrib tadi tak juga reda bahkan semakin kencang. Nuri segera menutup jendela kamarnya saat angin kencang berhembus masuk ke dalam kamarnya. Sebelum tidur, ia memastikan sekali lagi jendela dan pintu kamarnya terkunci. Ia menengok jam dinding satu-satunya yang terpajang di kamar, jam 10.00 malam. Ia segera naik ke atas ranjang dan merapatkan selimutnya saat hawa dingin mulai menyergap tubuhnya akibat hujan yang belum juga reda.