Suara gelas dan sendok yang saling beradu terdengar berdenting di dapur. Saling menyahut dengan rintik hujan yang perlahan menitik di atas genting.
Nuri berdiri termangu. Melarutkan butiran gula yang dicampur dengan teh di dalam segelas air mendidih. Udara saat itu berbeda dengan hari biasanya. Hujan yang mengguyur dari semalam masih meninggalkan hawa dingin di pagi hari. Segelas teh hangat setidaknya bisa menemani pagi hari yang terasa dingin itu.
Alfarizy melangkahkan kaki ke dapur tanpa ragu-ragu. Ia mendapati Nuri sedang melamun di sana. Kemudian ia mendudukkan dirinya begitu saja di salah satu kursi yang ada di dapur sambil mengamati Nuri yang sibuk mengaduk teh hangat dengan tatapan kosong.
Dapur yang ada di rumah besar itu ada dua, dapur kotor dan dapur bersih. Dapur kotor letaknya dibelakang, berdekatan dengan taman belakang. Dapur itu digunakan untuk memasak, sedangkan dapur bersih berfungsi sebagai ruang makan. Dapur bersih itu didesain seperti dapur modern yang terbuat dari lantai keramik dengan peralatan dapur yang super lengkap. Siapa pun orangnya akan betah memasak di sana.
“Aku sekalian dong, Nur,” kata Alfarizy sambil duduk di kursi menyangga dagu.
Kedatangan Alfarizy yang tiba-tiba dan suara menggema di dapur membuat Nuri tergagap. Dia menoleh dengan tatapan ragu-ragu. “Eh, Mas Al. Sejak kapan ada di situ?”
Alfarizy tertawa kecil. “Dari tadi aku di sini liatin kamu lagi ngaduk-ngaduk teh itu terus.”
Nuri tertawa masam, malu kegiatan melamunnya diperhatikan orang lain. “Mas Al mau teh juga?” tanyanya kikuk.
Alfarizy mengangguk sambil tersenyum. Kepolosan Nuri selalu membuatnya gemas sendiri. “Jangan terlalu manis ya, Nur. Minum teh pahit sambil liatin kamu aja tehnya bisa berasa manis soalnya,” ujarnya sambil terkekeh.
Seketika wajah Nuri berubah menjadi merah. Ia tersipu atas gombalan receh yang dilontarkan Alfarizy barusan. Entah sejak kapan laki-laki yang ada di hadapannya itu jadi pintar menggombal.
Nuri cepat-cepat mengambil gelas lain dan membuat segelas teh lagi. Aroma harum daun teh melati menyeruak di dapur yang luas itu. Wangi teh menguar bersamaan dengan bau tanah yang masih terguyur rintik hujan sisa semalam, serta dedaunan yang masih setengah basah.
“Ini tehnya Mas Al … silahkan,” kata Nuri. Ia menyodorkan segelas teh yang masih mengepulkan uap panas kepada laki-laki di hadapannya.
Alfarizy mengambil teh itu dengan tangan kanan lalu menyeruputnya perlahan agar panas teh itu tidak membakar lidahnya. “Makasih ya, Nur. Manisnya pas,” ujarnya, ia mengerling.
“Sama-sama, Mas.” Nuri tersenyum, manis sekali.
Hening.
Selanjutnya, Nuri terdiam mengamati busa yang mengambang di teh panasnya yang ia aduk terlalu lama. Menyusuri pikiran yang tiba-tiba merayap di benaknya lagi—tentang pernyataan cinta Alfarizy, pun tentang lamaran Pak Kades itu.
“Nur ….” Panggilan Alfarizy membuyarkan lamunannya.
“Eh, iya Mas ….”
“Kok ngelamun terus, sih?” tanya Alfarizy sambil memerhatikan wajah Nuri. “Kamu kepikiran soal kemarin ya?” lanjutnya lagi. Ia jadi merasa bersalah, pasti gara-gara pernyataan cintanya kemarin Nuri jadi sering melamun pagi itu.
“Eh … ndak ‘kok, Mas,” kilah Nuri cepat. “Aku ndak lagi ngelamun.”
“Itu buktinya, teh kamu sampai berbusa gitu karena diaduk terus.”
Nuri tergelak tidak bisa menyangkal lagi. Ia kembali menundukkan kepalanya, menatap tehnya lagi.
“Nur … kalau kamu belum bisa ngasih jawaban sekarang, aku mau nunggu sampai kamu siap. Setelah omongan aku kemarin, aku harap hubungan kita bisa kaya dulu. Aku ingin kamu nggak merasa canggung sama aku, ya,” pinta Alfarizy.
Nuri mendongak. “Iya, Mas. Maaf ya, aku belum bisa kasih jawabannya dalam waktu dekat ini.”
Alfarizy mengangguk sambil tersenyum. “Nggak papa, Nur. I will wait for you as long as possible.”
“Suwun, Mas.”
Tiba-tiba Mahesa datang menghampiri. “Kalian … ngapain di sini berduaan?” tanyanya curiga. Ia melihat Alfarizy sedang memandangi Nuri yang tertunduk dengan dua gelas teh di hadapan mereka.
Alfarizy yang sedang memandangi Nuri, menoleh seketika. “Eh, Mas Esa. Belum berangkat ke kampus, Mas?” tanyanya kikuk. Tangannya refleks menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mahesa memicingkan kedua matanya. “Kamu lupa ya kalau hari ini adalah hari minggu?”
Alfarizy melongo, ia benar-benar lupa kalau hari itu adalah minggu. Mana mungkin kampus buka di hari minggu kecuali kelas karyawan? Dan Mahesa tidak mengajar di kelas karyawan kecuali ada teman sejawatnya yang berhalangan hadir, makai a akan menggantikannya.
“Iya, sekarang hari minggu ya?” Alfarizy terkikik.
Mahesa mendudukkan tubuhnya sembarang, berdekatan dengan Alfarizy. “Nur, tolong buatkan saya kopi ya,” pintanya pada Nuri.
Nuri mengangguk lalu beranjak untuk membuatkan kopi permintaan Mahesa. Ia mengambil cangkir lalu menyeduhkan air panas setengah cangkir lalu memasukkan sesendok kopi dan sesendok the gula. Keluarga Pramoedya memang tidak suka minuman yang terlalu manis.
“Silahkan, Mas,” kata Nuri sambil menyerahkan secangkir kopi yang sudah diseduhnya. Sesuai permintaan Mahesa kemarin kalau ia ingin dipanggil “Mas” juga seperti Alfarizy.
“Mas?” Alfarizy memicingkan kedua matanya, menatap Nuri dan Mahesa bergantian. “Wah kayanya aku ketinggalan berita, nih,” ujarnya kemudian.
“Berita apa?” tanya Mahesa cuek sambil menyeruput perlahan kopinya yang masih panas.
“Sejak kapan Nuri panggil Mas Esa dengan sebutan Mas? Biasanya ‘kan tuan,” tanya Alfarizy curiga.
Nuri salah tingkah mendengar pertanyaan Alfarizy. Sedangkan Mahesa dengan santainya menyeruput kopi hitam itu sambil mengendikkan bahunya tidak peduli.
“Saya permisi dulu,” pamit Nuri, ia segera berlalu menuju kamar Riri. Ia sengaja menghindari pertanyaan dari laki-laki yang sudah berhasil membuat hatinya ketar-ketir.
“Mas …” panggil Alfarizy pada kakaknya yang masih menikmati kopi hitam buatan Nuri.
“Hmmm ….”
“Sejak kapan Nuri panggil dengan sebutan Mas?” desak Alfarizy lagi. Dirinya tidak akan merasa puas sebelum rasa penasarannya terpuaskan oleh jawaban Mahesa.
Mahesa menengok. “Memangnya kenapa?”
“Nggak papa, sih—”
“Yaudah kalau nggak papa,” potong Mahesa cepat, ia menyeruput kopinya lagi.
“Tapi aneh aja—”
“Aneh apanya?” potong Mahesa lagi.
“Aneh kalau Nuri manggil Mas Esa dengan sebutan Mas,” sahut Alfarizy.
“Aneh kenapa sih, Al?” tanya Mahesa sedikit kesal. Kenapa juga adiknya itu harus terus mempermasalahkan panggilan baru Nuri untuk dirinya.
“Nggak ada hubungan apa-apa antara kalian, kan?”
Pertanyaan dari adiknya itu membuat Mahesa tersedak kopinya sendiri. “Maksud kamu?” Ia menetralkan suaranya.
“Ya … siapa tau aja Nuri manggil Mas Esa dengan sebutan Mas karena Mas Esa sendiri yang nyuruh.” Alfarizy ngeloyor pergi.
Mahesa melongo. Jangan-jangan, Alfarizy mencium gelagat yang coba ia sembunyikan? Mahesa jadi merasa tidak enak hati karena ia tahu bahwa adiknya itu menyukai Nuri. Sama seperti dirinya.
***
Menjelang sore saat matahari mulai tenggelam dan langit memperlihatkan warna kemerahan di ufuk barat. Dahan-dahan pohon mangga yang menjulang tinggi di halaman belakang bergerak pelan diembus angin. Menjatuhkan daun-daun yang berguguran di rerumputan.
Nuri duduk termenung di taman belakang sambil menengadahkan wajahnya menatap langit. Hatinya sedang gundah. Pernyataan cinta Alfarizy benar-benar membuatnya bimbang walaupun sebenarnya ia juga mempunyai rasa suka terhadap laki-laki tampan itu. Namun ia merasa tidak pantas untuk mendampingi seorang Alfarizy. Ia tak bisa menampik bahwa keluarga Pramoedya adalah keluarga terpandang yang hidupnya serba berkecukupan.
“Nur,” panggil Bude Yatni, ia mendudukkan tubuhnya di samping Nuri.
Nuri terhenyak dan menoleh seketika. “Eh … iya, Bude.”
“Kamu kenapa, Nduk? Ada yang kamu pikirkan, ya?” tebak Bude Yatni sambil mengelus punggung Nuri.
Nuri menunduk ke bawah sambil menggelengkan kepalanya, memperhatikan tanah yang sedang dipijaknya.
“Kenapa, Nduk?” desak Bude Yatni lagi. “Seharian ini Bude perhatiin kamu banyak ngelamunnya.”
“Bude ….“
“Kenapa, Nur?”
“Mas Al—”
“Mas Al kenapa?” potong Bude Yatni tak sabar.
“Mas Al … bilang cinta ke Nuri,” gumam Nuri lirih, namun pendengaran Bude Yatni yang masih jelas menangkap kata-kata keponakannya barusan.
Bude Yatni membelalakkan matanya tidak percaya. “Beneran, Nur?” tanyanya tak percaya.
Nuri tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Trus kamu terima, Nur?”
“Nuri bingung, Bude.”
“Bingung kenapa, Nduk?”
“Nuri ngerasa ndak pantes untuk mendampingi mas Al.” Nuri menunduk dalam. Ternyata ia tahu diri, dicintai oleh laki-laki tampan nan kaya raya tidak membuatnya langsung menerima pinangan itu begitu saja.
“Sekarang gimana perasaan kamu sama den Al, Nur?”
Tak ada yang keluar dari mulut Nuri untuk menjawab pertanyaan dari sang Bude. Ia malu mengakui bahwa ia pun memiliki rasa yang sama.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut Bude Yatni. “Ibumu udah tahu soal ini, Nduk?”
Nuri hanya mengangguk.
“Trus apa kata beliau?”
“Ibu … nyerahin semua sama Nuri, Bude. Tapi ….”
“Tapi kenapa?”
“Ada yang lamar Nuri lagi selain mas Al, Bude.”
“Siapa lagi, Nur?” tanya Bude Yatni, pupil matanya membesar.
Tanpa disadari oleh Nuri dan Budenya, di balik jendela ruang keluarga yang terhubung langsung ke taman belakang, telah berdiri seseorang yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Sepasang mata dengan tatapan yang sulit diartikan nampak terpancar dari wajah laki-laki itu.