“Bukan cuma mas Al yang lamar Nuri, Bude,” papar Nuri, ia memelankan suaranya.
“Ada laki-laki lain lagi, Nur?” Pupil mata Bude Yatni membesar. Siapa lagi laki-laki yang melamar keponakannya itu?
“Fikri … anak pak Kades, Bude. Ibu tadi telepon ngasih tau itu."
Bude Yatni semakin membelalakkan matanya tak percaya. Fikri yang kini sedang menempuh pendidikan di Cairo, Mesir dan anak dari petinggi di kampungnya itu melamar gadis sederhana seperti Nuri. Sangat sulit dipercaya apalagi dirinya ingat bagaimana mereka memperlakukan Nuri waktu itu. Nuri dilarang bergaul dengan anaknya hanya karena beda kasta, menurutnya.
Tanpa disadari oleh mereka, sepasang mata milik Alfarizy sedang memperhatikan mereka berdua. Ia segera membalikkan badannya dan berlalu dengan cepat karena tidak kuasa mendengar kelanjutan percakapan diantara mereka. Sambil mengusap wajahnya kasar dengan hati yang hancur, Alfarizy berjalan lunglai menuju kamarnya di lantai atas. Pupuslah sudah harapannya untuk bisa meraih cinta Nuri dan bersanding dengan gadis shalehah itu. Ternyata selain dirinya, ada juga yang melamar Nuri. Apakah Nuri menerima lamaran laki-laki itu?
Alfarizy membiarkan persoalan itu menggelayuti benaknya sepanjang sore. Ia memikirkan siapakah laki-laki yang akan dipilih Nuri. Apakah dirinya? Atau laki-laki itu? Atau jangan-jangan Nuri sudah punya pilihan lain? Terkadang ia ingin berhenti untuk memikirkan hal itu, tetapi tak tahu kenapa otaknya memaksa ia untuk terus memikirkannya. Ia mencoba berdamai dengan pikirannya sendiri. Maka ia memilih untuk mendiamkannya. Berharap; barangkali Nuri akan memilihnya.
Alfarizy memasuki kamarnya. Ia merebahkan tubuh penatnya di sofa yang ada di pojokan kamarnya, mengistirahatkan ego yang mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Terdengar ketukan mencecar di balik pintu kamarnya. Alfarizy mendengus kesal. Ia ingin pura-pura tidak ada, tetapi ia tak bisa menghindar lagi karena beberapa saat kemudian seseorang menerobos masuk begitu saja tanpa dipersilahkan masuk. Ia menyesali kebodohannya karena tidak mengunci pintu kamarnya—ia benar-benar sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
“Al ….” Mahesa sudah berdiri di hadapan adiknya yang masih merebahkan tubuhnya di sofa.
Alfarizy tidak menyahut, tatapannya lurus memandang langit-langit kamarnya.
“Al ….” Mahesa mengguncang tubuh adiknya, khawatir melihat kondisi Alfarizy yang tidak seperti biasanya itu.
Alfarizy melirik sekilas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kamu kenapa sih, Al?”
Alfarizy masih diam seribu bahasa.
“Pasti masalah percintaan, nih!” tebak Mahesa, ia memaksa Alfarizy menggeser tubuhnya agar ia bisa ikut duduk di sofa itu.
Dengan terpaksa, Alfarizy bangun dari posisi berbaringnya dengan dengusan kasar.
“Cerita sama Mas, kamu kenapa?”
Alfarizy masih enggan untuk berbicara apalagi menceritakan hal yang menggelayut dipikirannya. “I’m ok, Mas,” sahutnya singkat.
Mahesa memerhatikan wajah adiknya yang kuyu. “I think, you have a big problem. Tell me … apa karena Lala?”
Alfarizy mendengus kasar. “Semua ini bukan karena Lala, Mas. Aku sama Lala udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Jadi?”
“Ini semua karena—”
Ucapan Alfarizy terpotong karena tiba-tiba saja sang Papah sudah berada di ambang pintu kamar Alfarizy. Mengalihkan atensi mereka.
“Kalian berdua ternyata di sini. Papah cari kalian, nggak taunya ada di sini,” ujar Rizky, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mahesa tersenyum kikuk. “Ada apa, Pah?”
“Tadi pak Wira telepon, beliau mengabarkan bahwa mereka akan ke sini sekarang,” ucap Rizky memberitahu. “Ayo, kalian siap-siap!”
“Baik, Pah,” sahut Mahesa, sedangkan Alfarizy hanya diam saja.
Rizky pun menghilang dari ambang pintu kamar anak bungsunya.
“Ayo Al, siap-siap. Kita sambut opa dan omanya Riri,” ajak Mahesa sambil menarik tangan adiknya sebelah kanan agar berdiri dari duduknya.
“Males ah, Mas,” kata Alfarizy, “aku nggak ikut, ya. Aku nggak enak badan,” ujarnya beralasan.
Mahesa langsung menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Alfarizy, merasakan panas tubuhnya. “Nggak panas, kok,” sahutnya.
“Emangnya kalau nggak enak badan harus disertai panas, Mas? Ya, nggak lah!” decak Alfarizy.
Mahesa terkekeh. “Iya deh Pak dokter, kamu yang paling tau soal itu,” balasnya. “Ayo … cepetan siap-siap, ah. Nggak enak sama pak Wira, mereka itu ‘kan bagian dari keluarga kita juga.” Kini Mahesa menarik kedua tangan Alfarizy untuk bangun.
Dengan terpaksa Alfarizy beranjak dari duduknya dan berjalan lunglai menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
“Setelah siap-siap, cepetan turun ya, Al,” teriak Mahesa dari balik pintu saat Alfarizy sudah masuk ke kamar mandi.
***
Terjadi kesibukan di dalam rumah besar Pramoedya. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan jamuan akan kedatangan keluarga besan dari keluarga itu. Kabar yang mendadak, membuat para asisten rumah tangga mau tidak mau segera mempersiapkan semuanya.
“Ini ada acara apa toh, Bude?” tanya Nuri bingung saat Bude Yatni dan Bi Tinah tengah sibuk memasak di dapur, memasak jamuan istimewa. Sesekali dirinya ikut membantu mereka menyiapkan makan malam yang lain dari biasanya. Lain dari biasanya karena makan malam itu menghidangkan banyak makanan.
“Keluarga besan tuan Rizky akan berkunjung malam ini, Nur.” Bi Tinah menyahut, tangannya masih sibuk membalikkan ayam yang sedang digorengnya di dalam kuali. Sesekali tangan tuanya merasakan panas akibat cipratan minyak dari ayam yang digorengnya itu.
“Oh …” ujar Nuri singkat. “Berarti yang akan berkunjung itu nenek dan kakeknya Riri dari pihak bundanya ya, Bi?” tanya Nuri lagi.
“Iya, Nur.” Kali ini Bude Yatni yang menyahut.
Nuri mengangguk-anggukan kepalanya paham.
“Nur …” panggil Bi Tinah.
Nuri menoleh. “Iya, Bi?”
“Tolong kamu pergi ke mini market di ujung jalan, belikan kecap inggris dan saos tiram. Persediaan habis ternyata,” kata Bi Tinah lagi. Ia merasakan masakannya kurang bumbu karena kecap inggris dan saos tiramnya habis. Sambil menggoreng ayam, tangannya pun sambil memasak capcay ternyata.
“Baik, Bi,” kata Nuri patuh. Ia segera mencuci tangannya di washtafle lalu mengeringkannya segera dengan lap yang tergantung di samping washtafle.
“Ini uangnya, Nur.” Bi Tinah menyerahkan selembar uang berwarna biru itu ke tangan Nuri yang segera diambilnya. “Cepetan ya, Nur,” ujarnya lagi.
Nuri mengangguk dan bergegas pergi. Saat hendak menuju ruang tamu, dirinya berpapasan denga Alfarizy yang sudah siap dengan kemeja navy yang dipadupadankan dengan celana levis biru muda. Rambutnya yang masih basah menambah rasa segar di wajahnya.
“Eh, Mas Al …” sapa Nuri, senyum tipis tersungging di wajahnya yang cantik.
“Hai, Nur.” Sapaan Alfarizy terkesan dingin, ia segera ngeloyor pergi dari hadapan Nuri.
Nuri mengernyitkan keningnya, bingung. Kedua alisnya hampir bertautan. Tidak biasanya laki-laki itu bersikap dingin seperti itu kepadanya. Apalagi atas pernyataan cintanya kemarin, tadi pagi ia masih merasakan kegombalan laki-laki itu. Lalu sekarang, ada apakah gerangan yang membuat Alfarizy bersikap dingin seperti itu?
Tanpa mau berpikir macam-macam lagi, Nuri segera mengenyahkan pikiran buruk dari benaknya dan segera melangkah keluar rumah. Mini market di ujung jalan yang jaraknya tidak terlalu jauh, ia tempuh dengan berjalan kaki. Paling lama ia akan sampai di mini market tersebut dalam waktu 10 menit. Agar Bi Tinah tidak terlalu lama menunggu, maka ia mempercepat langkahnya dengan setengah berlari. Hijab panjangnya sesekali melambai di udara karena tertiup angin malam yang berhembus kencang. Ia merapatkan jaket yang dipakainya saat hawa dingin menusuk tulangnya.
Saat mini market di ujung jalan sudah berada tepat di depan matanya, Nuri semakin mempercepat jalannya. Tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah motor berwarna hitam melaju dengan kencangnya. Suara decit rem memenuhi udara. Disusul bunyi tabrakan keras diikuti pekikan. Motor itu menabrak tubuh Nuri hingga tubuhnya terlempar beberapa meter dan berdebum mencium tanah. Darah memercik ke mana-mana. Ia hanya sanggup meneriakkan asma Allah saat tubuhnya dihantam benda berat itu. Seketika pandangannya mengabur dan tak lagi mendengar seruan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
“Astagfirullah!”
“Innalillahi!”
“Bawa ke rumah sakit, cepat!”
“Ya Allah … darahnya banyak banget!”
“Cepat, telepon ambulan!”
“Ada apa, sih? Ada yang ketabrak ya?”
“Motornya tuh yang salah, udah malam begini masih kebut-kebutan!”
“Motor yang nabraknya kabur.”
“Kasian banget cewek itu.”
“Ada yang kenal sama cewek ini nggak?”
“Mana ambulannya? lama banget datangnya ….”