Sesuai dengan yang dijanjikan oleh Mamih dan Papihnya, malam itu Kiran beserta kedua orang tuanya akan berkunjung ke rumah keluarga Pramoedya—besan dari keluarga Aditama.
Malam itu akan menjadi hari yang bersejarah untuk Kiran. Ia akan memastikan penampilannya sesempurna mungkin untuk kunjungan mereka ke rumah keluarga Pramoedya. Kini, ia tengah berendam di air busa berparfum lembut. Mandinya begitu lama. Dirinya akan betah berlama-lama di dalam kamar mandi karena kamar mandi di dalam kamarnya di design ala Eropa. Lantai marmer yang mewah, lemari handuk dari kayu jati bergaya Eropa, wastafel dan cermin rias yang besar menghiasi di dalamnya. Ada juga rak kaca berisi aneka parfum mahal.
Kiran semakin menenggelamkan dirinya di bawah bathtub. Setelah dirasa cukup lama berendam, ia segera mengeringkan tubuhnya. Kini, ia tengah mematut diri di depan cermin besar yang terletak di sudut kamarnya. Ia sedang memerhatikan penampilannya yang sangat cantik malam itu. Tanpa mendatangkan make up artis untuk meng-make over wajahnya, Kiran sudah terbiasa memoles wajahnya. Sebenarnya tanpa polesan di wajahnya pun Kiran sudah cantik memesona.
Malam itu ia memakai dress lengan pendek hitam dengan kerah agak pendek untuk sedikit menonjolkan dadanya yg rata, hadiah dari seorang perancang saat ia sedang show. Keluaran Diane von Furstenberg. Panjang dress itu hanya sebatas lututnya sehingga menampilkan kakinya yang jenjang. Tak lupa selop cantik berwarna coklat pink dari Nine West menghiasi kakinya yang indah.
“Kamu cantik banget sih, Sayang!” seru Erlyta yang tiba-tiba sudah berada di kamar putrinya—menatap kagum ke arah anak gadisnya. Ia memakai gamis keluaran baru dari perancang lokal—Ivan Gunawan. Sepatu dari Prada membalut kakinya yang tertutup kaos kaki, dan tangannya menjinjing tas kecil keluaran Vuitton—pemberian dari Kiran di ulang tahunnya yang sudah mencapai kepala lima.
“Beneran cantik kan, Mih?” tanya Kiran memastikan, dirinya masih memerhatikan riasan di wajahnya. Malam ini keluarganya akan membicarakan masalah kelanjutan nasib Riri selanjutnya yang tanpa kehadiran Ibu. Mudah-mudahan saja Mahesa mau menerima dirinya untuk menggantikan mendiang kakaknya yang sudah tiada.
“Anak Mamih cantik, dong. Tapi—” Kalimat Erlyta menggantung.
“Tapi kenapa, Mih?” tanya Kiran.
“Tapi kamu akan jauh lebih cantik kalau rambut kamu ini tertutup hijab,” ujar Erlyta kemudian, ia mengusap rambut panjang Kiran yang tergerai indah.
“Kiran belum siap untuk itu, Mih,” sahut Kiran cepet. Walaupun sang Mamih dan Kakaknya—Zettaya memakai hijab, namun profesi Kiran sebagai model sangat tidak mungkin untuk dirinya memakai hijab. Ia sedang mencintai dunianya itu, maka ia belum mau melepaskannya.
“Iya, Mamih nggak maksa, kok. Mudah-mudahan suatu hari nanti hidayah itu akan datang sama kamu,” harap Erlyta. Selalu terselip di setiap doa-doanya yang menginginkan agar putri satu-satunya itu akan segera menjemput hidayahnya sendiri.
Kiran mencebikkan bibirnya. Padahal ia sedang tidak ingin membahas hal itu. Hal yang penting sekarang ini adalah acara berkunjung ke rumah Pramoedya berjalan lancar dan Mahesa menyetujui pernikahan mereka.
‘Semoga!’ batin Kiran berkecamuk.
“Kir …” panggil Wira sambil melongokkan sedikit kepalanya dari balik pintu kamar putrinya itu.
Kiran melirik ke arah sang Papih, “Iya, Pih.”
“Kamu udah siap belum?” tanya Wira di ambang pintu kamar.
“Udah, Pih,” sahut Kiran.
“Kalau gitu, ayo berangkat. Nanti kemalaman. Papih udah bilang pak Rizky kalau kita akan berkunjung malam ini,” ujar Wira memberi tahu.
“Iya, Pih.” Tiba-tiba jantung Kiran berdetak kencang. Ia meremas kedua tangannya gugup.
“Ayo kita turun. Jangan gugup ya, Kir. Mudah-mudahan keluarga Pramoedya menerima niat baik kita,” kata Erlyta mengusap punggung Kiran pelan.
Kiran segera menyambar tas tangan berwarna hitam keluaran Vuitton sebagai pelengkapnya. Kemudian ia keluar kamar dengan digandeng oleh Erlyta, menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Semakin mendekati mobil, jantungnya semakin cepat berdetak.
Malam itu, Wira menyetir mobilnya sendiri tanpa Pak Supri—supir keluarga Aditama. Erlyta duduk menemani suaminya di bangku depan, sedangkan Kiran duduk manis di bangku belakang sambil menyumbat telinganya dengan earphone wireless. Sebuah lagu milik Judika mengalun lembut di telinganya, menemaninya sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Pramoedya.
Perjalanan ditempuh dengan waktu 30 menit untuk sampai di sebuah rumah yang megah di daerah Kalibata. Rumah mewah itu terletak di ruas jalan buntu yang dihijaukan oleh rerumputan segar dan pohon-pohon rindang. Sebuah rumah besar yang menjulang di ujung jalan. Bercat putih dengan pilar besar, khas rumah-rumah gedongan. Sebagian pagarnya terbuat dari baja dan sangat tinggi menjulang, menutupi keindahan rumah mewah itu dari pandangan orang luar.
Wira membelokkan kemudinya memasuki gerbang besar di pintu masuk perumahan mewah itu. Tidak jauh dari gerbang utama, menjulang tinggi gerbang rumah keluarga Pramoedya. Lalu ia menekan klakson mobilnya agar dibukakan pintu. Seorang satpam langsung membuka pintu gerbang rumah itu. Wira membuka kaca mobilnya sedikit lalu mengulas senyum ke arah satpam tadi. Pak satpam langsung mempersilahkan mobil Mercedes Benz-nya untuk masuk karena sudah hafal dengan pemilik kendaraan itu.
“Malam, Pak Wira … Silahkan,” kata Pak satpam.
“Terima kasih ya, Pak,” sahut Wira, ia mengambil selembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya yang tergeletak di atas dashboard lalu menyerahkannya ke tangan satpam di rumah itu yang di ketahui bernama Pak Bejo. “Ini Pak, buat beli kopi. Biar nggak ngantuk,” lanjutnya sampil terkekeh kecil.
“Alhamdulillah …terima kasih banyak ya, Pak,” ucap Pak Bejo sambil menyunggingkan segaris senyum melengkung di bibirnya. Wira memang baik hati, itu menurutnya. Ia selalu memberikan uang kepada para pekerja di rumah itu ketika berkunjung walaupun hanya selembar uang berwarna merah yang katanya untuk beli kopi atau sebatang rokok.
Wira kembali melajukan mobilnya dan memarkirkannya di halaman, bersebelahan dengan mobil Mahesa.
Kiran segera menyimpan kembali earphone-nya ke dalam tas jinjing Vuitton miliknya. Mereka pun bergegas turun dan melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
Wira memencet bel di rumah besar itu.
“Assalamu’alaikum …. Assalamu’alaikum …. Assalamu’alaikum.” Suara bel mengalun nyaring di rumah itu.
Ratih tergopoh-gopoh menghampiri pintu untuk membukanya.
“Assalamu’alaikum …” ucap Erlyta ramah saat pintu rumah itu terbuka lebar.
“Wa’alaikumussalam … silahkan masuk, Bu, Pak, dan Non Kiran.” Ratih mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
Mereka melenggang masuk ke rumah itu dan mendudukkan dirinya di sofa panjang. Kiran duduk di samping Wira dan Erlyta duduk di samping kirinya.
“Ditunggu sebentar ya, tuan Rizky sedang bersiap,” kata Ratih sopan lalu ia pamit undur diri.
Erlyta mengedarkan pandangannya ke seantero ruang tamu tersebut. Ruang tamu itu tidak ada yang berubah, masih sama dengan terakhir kalinya ia mengunjungi rumah itu—di hari kematian putri sulungnya, Zettaya. Sudah 5 tahun yang lalu ternyata ia tidak berkunjung, namun keadaan rumah itu masih saja sama. Ruang tamu yang dipenuhi dengan perabotan spektakuler. Warna emas, putih, dan hitam mendominasi interiornya. Seluruh dinding dilapisi wallpaper yang kentara sangat mahal dan dilapisi kayu setinggi satu meter dari lantai. Seperangkat sofa berlapis kulit dengan kayu penyangga yang kokoh menjadi ratu di tengah. Meja bundar di depannya dilapisi kaca tebal dan dipenuhi oleh pajangan mewah dari kristal dan sebuah rak buku di pojok ruangan yang tersusun dengan apik.
Seketika mata Erlyta terpaku pada sebuah foto dengan figura yang sangat besar membingkai fotonya, menghiasi ruang tamu itu. Foto pernikahan Zettaya dan Mahesa masih terpajang di sana. Zettaya tersenyum sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan berwarna putih yang menutup tubuhnya dari atas kepala sampai ujung kaki, bersanding dengan Mahesa yang juga memakai baju pengantin berwarna putih. Matanya berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan laju air mata yang mulai menyeruak keluar. Pipinya pun basah oleh air mata.
“Mih ….” Kiran menggenggam tangan sang Mamih saat tahu ke arah mana pandangan sang Mamih.
Erlyta terhenyak, buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan selembar tisu yang disodorkan oleh Kiran.
“Jangan sedih lagi, Mih. Zettaya udah tenang di sana,” kata Wira, ia mengelap kaca mata yang tiba-tiba berembun. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama dengan istrinya. Kepergiaan anak kesayangannya membuat mereka sangat terpukul.
Tidak begitu lama, Rizky muncul di ruang tamu. “Assalamu’alaikum ….” Ia menghampiri Wira, memeluk dan menepuk punggungnya pelan. “Apa kabar Pak Wira?” sapanya.
“Wa’alaikumussalam. Seperti yang anda lihat Pak Rizky, kami sehat. Alhamdulillah …” sahut Wira sambil menyunggingkan seulas senyum.
“Alhamdulillah …” ucap Rizky, ia mendudukkan tubuhnya di hadapan mereka. “Halo, Bu Erlyta,” sapanya pada Erlyta sambil menelungkupkan tangannya di d**a.
“Halo, Pak Rizky.” Erlyta pun menelungkupkan kedua tangannya di d**a sambil mengangguk kecil. “Sudah lama ya kami tidak berkunjung ke sini,” ujarnya lagi.
“Iya, main-mainlah ke sini. Riri selalu menanyakan Oma dan Opa-nya.”
“Pasti kami akan sering-sering berkunjung ke sini kalau sedang tidak sibuk,” sahut Wira.
“Halo, Kiran,” sapa Rizky pada Kiran.
“Halo, Pah,” sahut Kiran. Ia memang sudah membiasakan dirinya memanggil Papah pada Rizky. “Mas Esa dan Al di mana, Pah?” Kiran celingukan.
“Mereka ada di kamarnya, sebentar lagi keluar.”
Sementara itu di dapur belakang, Bude Yatni sedang harap-harap cemas menantikan kedatangan keponakannya yang sudah hampir 1 jam belum juga kelihatan batang hidungnya. Tadi Nuri pergi ke mini market untuk membeli kecap inggris dan saos tiram. Lalu kenapa sampai sekarang ia belum juga kembali? Padahal jarak mini market di ujung jalan sana tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh selama 10 menit dengan berjalan kaki.
“Tinah, ‘kok perasaan aku nggak enak, ya,” keluh Bude Yatni. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba saja berdegup kencang tak karuan.
“Ada apa, Yat?” tanya Bi Tinah, ia sedang menata masakan di atas piring.
“Nuri ‘kok belum pulang juga, ya?”
“Eh iya, kemana Nuri ya? Keluarga Aditama udah datang, tapi dia belum pulang juga,” sahut Bi Tinah. “Gimana masakanku ini? Kurang bumbu jadinya,” keluhnya sambil merasakan masakannya yang terasa kurang pas di lidah akibat kehabisan kecap inggris dan saos tiram.
“Tih …” panggil Bi Tinah pada anaknya.
Ratih yang sedang duduk di kursi kayu yang ada di dapur sambil memainkan ponselnya, mendongakkan kepalanya. “Iya, Bu?”
“Coba susul Nuri di mini market. Takut ada apa-apa,” perintah sang Ibu.
Ratih mengangguk dan memasukkan ponselnya ke saku celananya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 malam saat ia melangkah keluar rumah untuk menyusul Nuri ke mini market.