Ratih berjalan menyebrangi jalan raya yang tidak terlalu ramai. Mini market yang ditujunya itu ada di sebrang jalan. Netranya menangkap ada lembaran koran di depan mini market, seperti menutupi sesuatu di jalanan beraspal. Semakin mendekati mini market, tercetak jelas apa yang menempel di koran tersebut—cairan berwarna merah. Iseng, ia menghampiri juru parkir yang sedang duduk di sebuah motor yang terparkir di samping pintu masuk mini market sambil meyulut rokoknya.
“Permisi, Pak.”
Si Bapak juru parkir menengok ke arah Ratih. “Iya … ada apa, Neng?”
“Maaf, Pak. Tadi ada kecelakaan, ya?” tanya Ratih sambil melirik lembaran koran di depan mini market.
“Iya, Neng. Tadi ada yang ketabrak motor.”
“Innalillahi ….” Seketika lutut Ratih bergetar, perasaannya langsung tidak enak. “Perempuan atau laki-laki, Pak?” tanyanya memastikan.
“Cewek, Neng. Pake kerudung. Mana masih muda lagi, kasian,” ujar Bapak itu sambil menggelengkan kepalanya.
“Kronologi ceritanya gimana, Pak?” tanya Ratih penasaran, jantungnya dag-dig-dug tidak karuan. Ia takut kalau perempuan yang tertabrak itu adalah Nuri. ‘Ya Allah … mudah-mudahan bukan Nuri,’ gumamnya dalam hati.
“Cewek tadi mau nyebrang dari sana, kayanya mau ke mini market, Neng.” Si Bapak mulai bercerita.
Ratih mendengarkan dengan seksama.
“Trus dari arah sana ada motor kenceng,” ujar si Bapak melanjutkan ceritanya sambil menunjuk ke arah datangnya sebuah sepeda motor, “kayanya motor itu nggak liat ada yang mau menyebrang karena emang di sana kurang pencahayaan. Akhirnya motor itu nabrak cewek tadi sampai badan si cewek terpental di depan mini market ini,” jelasnya lagi.
“Bapak tau ciri-ciri cewek yang ketabrak?”
Si Bapak mengangguk. “Ceweknya pake kerudung putih, gamis hitam dan pakai jaket warna abu-abu kalau nggak salah.”
Ratih mengingat-ingat pakaian yang dipakai Nuri. Deg! Astagfirullah. Ia menutup mulutnya tak percaya. Seketika Ratih langsung terjatuh ke jalanan aspal sambil bercucuran air mata. Ia ingat kalau tadi Nuri memakai pakaian seperti yang disebutkan oleh Bapak itu.
“Astagfirullah, Neng. Kenapa?” Si Bapak membantu Ratih berdiri dan mendudukkannya di sebuah kursi plastik yang berada di depan mini market, tempat biasanya ia duduk menunggui motor-motor yang terparkir.
“Itu temen saya, Pak,” gumam Ratih lirih. “Saya ke sini mau nyari dia. Udah sekitar satu jam ia belum pulang juga dari mini market. Ternyata—" Ratih tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
“Ya Allah ….”
“Yang nabraknya tanggung jawab, Pak?”
“Boro-boro, Neng. Dia malah kabur setelah nabrak! Ada warga yang ngejar, tapi dia berhasil lolos.”
“Sekarang korbannya di bawa ke rumah sakit mana ya, Pak?”
“Bapak kurang tau, Neng. Rumah sakit yang dekat sini hanya rumah sakit Harapan Kita. Kayaknya dibawa ke sana, deh,” kata si Bapak memberi tahu.
Setelah kekuatannya kembali, Ratih segera merogoh ponselnya yang terselip di saku celananya. Ia akan menghubungi Ibunya.
Panggilan pun tersambung.
“Ratih! Kamu kemana aja, sih? Kok lama? Kamu udah ketemu Nuri, kan?” Pertanyaan dari Ibunya di ujung telepon sana memberondong di telinga Ratih.
“Nu—nuri … Nuri .…” Kalimat Ratih patah-patah.
“Nuri? Nuri kenapa, Tih?”
“Nuri … kecelakaan, Bu. Dia tertabrak motor,” ujar Ratih sambil sesegukan.
“Innalillahi ….” Terdengar pekikan yang keluar dari mulut Ibunya.
“Halo, Tih ….” Suara Bude Yatni menyambar di ujung sana.
“Iya, Bude ….”
“Nuri kenapa, Tih?” tanya Bude Yatni tak sabaran.
“Nuri, ketabrak motor, Bude.”
“Innalillahi ….” Hanya kata itu juga yang sanggup keluar dari mulut Bude Yatni.
Terdengar suara riuh di ujung telepon. Ratih segera mematikan sambungan teleponnya, ia harus pulang dulu ke rumah dan memberi tahu kejadian sebenarnya.
“Makasih ya, Pak. Saya pamit pulang dulu,” kata Ratih sambil beranjak dari duduknya.
“Kamu nggak papa, Neng?” tanya Bapak itu khawatir.
“Nggak papa, Pak. Saya harus memberi tahu orang rumah.” Ratih bergegas melangkahkan kakinya tergesa-gesa, menyebrangi jalan dan berjalan menyusuri jalanan komplek menuju rumah keluarga Pramoedya. Sesekali air matanya turun lagi, ia pun segera menyekanya dengan baju yang ia pakai.
‘Innalillahi, Nuri. Mudah-mudahan kamu baik-baik aja,’ doanya dalam hati.
***
Terjadi keriuhan di dalam dapur. Bude Yatni sesegukkan dalam pelukan Bi Tinah.
“Ya Allah, Nuri …” ujar Bude Yatni.
Bi Tinah mengelus punggung Bude Yatni perlahan, mencoba menenangkannya. “Ya sabar ya, Yat. Mudah-mudahan Nuri nggak kenapa-napa.”
Alfarizy turun dari kamarnya di lantai atas, berjalan gontai menuju ruang tamu. Sebelum ke ruang tamu, ia harus melewati dapur terlebih dahulu. Di balik tembok dapur, samar-samar ia mendengar suara tangisan Bude Yatni. Penasaran, ia pun membelokkan kakinya memasuki dapur.
“Bi Yatni … Bi Tinah … ada apa ini?” tanyanya heran melihat dua asisten rumah tangganya itu berpelukan sambil menangis.
Bi Tinah melerai pelukan mereka. “Nu—Nuri, Den Al ….”
Alfarizy mengernyit. “Kenapa dengan Nuri?”
“Nu—Nuri … kecelakaan,” ujar Bi Tinah.
Bude Yatni masih sesegukan, sesekali mengelap matanya dengan selembar tisu yang tergeletak di atas meja dapur.
“Hah? Kecelakaan?” tanya Alfarizy tak percaya. “Kok bisa?”
Bi Tinah menggeleng lemah. “Nggak tau gimana ceritanya, Den. Tadi Bibi nyuruh Nuri ke mini market, tapi udah sejam belum pulang juga. Kami khawatir jadi nyuruh Ratih nyusulin. Barusan Ratih telepon, katanya Nuri ketabrak motor, Den,” jelas Bi Tinah lirih.
“Sekarang Ratihnya mana, Bi?”
“Belum pulang, Den.”
Selang beberapa menit, Ratih masuk ke dapur lewat pintu belakang karena di ruang tamu sedang ada keluarga Aditama.
“Bu ….” Wajah Ratih bercucuran air mata.
Bi Tinah langsung menghampiri anaknya dan memapahnya duduk di kursi. Ia mengambilkan segelas air untuk menenangkan anaknya yang terlihat pucat pasi. “Minum dulu, Tih.”
“Ratih, kamu lihat Nuri tertabrak?” tanya Alfarizy saat dirasa Ratih sudah mulai tenang.
Ratih menggeleng lemah. “Nggak, Den. Tadi tukang parkir yang bilang kalau ada perempuan yang ketabrak, dan ciri-ciri baju yang dipakainya sama kaya baju yang dipakai Nuri tadi.”
“Ya Allah, Nuri!” pekik Bude Yatni lagi.
Bi Tinah langsung menghampiri untuk menenangkannya. “Istigfar, Yat.”
“Kamu tau ke mana Nuri dibawa?” tanya Alfarizy lagi.
“Kata tukang parkir, mungkin Nuri dibawa ke rumah sakit terdekat sini, Den … yaitu Harapan Kita.”
“Yaudah, saya mau nyari Nuri,” ujar Alfarizy, ia hendak pergi namun segera dicegah oleh Bude Yatni.
“Den Al … Bibi ikut, ya,” pinta Bude Yatni, ia beranjak dari duduknya.
“Nggak usah, Bi,” cegah Alfarizy. “Bibi di sini aja, ya. Nanti kalau ada apa-apa, aku kabarin.”
“Kalau gitu, saya aja yang ikut ya, Den,” pinta Ratih, ia khawatir dengan keadaan Nuri.
Alfarizy terlihat menimbang permintaan Ratih untuk ikut. “Yaudah, ayo … aku ambil kunci mobil dulu.” Alfarizy setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia menyambar kunci mobil dan jaket yang tergantung di dalam lemari pakaiannya lalu bergegas turun. Melewati ruang tamu, ia pun pamit pada Papah dan Kakaknya yang sedang menemani keluarga Aditama.
“Halo Om … Tante … Kiran,” sapa Alfarizy.
“Halo Al …” balas keluarga Aditama berbarengan.
“Kamu mau ke mana, Al?” tanya Mahesa, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri adiknya. Adiknya itu sudah memakai jaket dan kunci mobil berada di tangannya jadi sudah bisa dipastikan kalau ia mau pergi.
“Aku pergi dulu ya Mas … Pah …” ujar Alfarizy.
Mahesa menangkap ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa, Al?”
Alfarizy menarik tangan Mahesa untuk sedikit menjauh dari sana. “Nuri kecelakaan, Mas. Aku mau lihat Nuri di rumah sakit,” bisiknya tepat di depan telinga Mahesa.
“Apa?” pekik Mahesa.
Seketika semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arah mereka.
“Ada apa, Al … Esa?” tanya Rizky penasaran, ia pun bangkit dari duduknya—menghampiri kedua anaknya.
“Nuri kecelakaan, Pah,” jawab Alfarizy pelan. “Dia ketabrak motor.”
“Innalillahi,” ucap Rizky.
“Ada apa Pak Rizky? Apa ada masalah?” tanya Wira penasaran.
Rizky menoleh. “Nggak ada apa-apa, Pak Wira. Cuma ada sedikit musibah, pengasuh Riri kecelakaan,” ujarnya.
“Innalillahi …” ucap Wira dan Erlyta bersamaan.
“Kak Nuri ….” Riri yang duduk dipangkuan Kiran pun bangkit dan berjalan ke arah Papapnya.
“Papap, Kak Nuri nggak papa, kan?” Tanya Riri sambil menangis.
Mahesa menyejajarkan tubuhnya dengan Riri. “Kita doain aja semoga kak Nuri nggak papa ya, Sayang.” Ia mengusap pipi Riri dan mengecup keningnya.
“Aku pergi dulu ya, Pah. Mau lihat Nuri di rumah sakit,” pamit Alfarizy, ia menyalami tangan Papahnya. “Om, Tante … maaf ya, aku pergi dulu,” pamitnya pada Wira dan Erlyta.
“Iya, Al. Hati-hati, ya,” kata Erlyta.
Alfarizy melangkahkan kaki hendak keluar rumah, namun panggilan Mahesa menginterupsinya.
“Tunggu, Al,” cegah Mahesa, “Mas juga ikut.”
Alfarizy menghentikan langkahnya dan memutar badannya. “Ayo, Mas.”
“Pah … aku ikut Al, ya,” kata Mahesa pada Papahnya. Ia berbalik menghadap keluarga Aditama. “Mah … Pah … Esa pamit dulu, ya,” ujarnya pada Wira dan Erlyta yang ia sebut dengan Mama dan Papah.
“Papap, Riri mau ikut,” rengek Riri pada Papapnya.
“Riri tunggu di rumah sama kakek, ya. Anak kecil nggak boleh masuk rumah sakit,” kata Mahesa mencoba memberi pengertian pada sang putri.
Riri mengangguk patuh. “Bilang kak Nuri, Riri doain biar kak Nuri cepet pulang ya, Pap.”
Mahesa mengangguk kecil sambil mengusap rambut panjang putrinya. “Iya, sayang.”
“Eh, Kak Esa … kok malah pergi sih?” Kiran bangkit, ia tidak bisa terima kalau Mahesa pergi untuk melihat pengasuh itu.
“Maaf ya, Kir. Aku mau nemenin Al ke rumah sakit,” ujar Mahesa.
“Tapi kan—" Kiran tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Mahesa sudah menyusul Alfarizy ke luar rumah. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Percuma malam itu ia sudah berdandan habis-habisan, memaksimalkan penampilannya untuk bertemu dengan Mahesa. Orang yang dimaksud malah pergi meninggalkannya demi pengasuh kampungan itu. Sebenarnya siapa sih gadis itu? Kenapa Mahesa dan Alfarizy begitu peduli pada dirinya? Ia tidak terima, sungguh tidak bisa ia terima! Ini adalah penghinaan bagi dirinya. Mahesa telah merendahkan harga dirinya sebagai wanita. Ia bertekad akan membalas rasa sakit di hatinya. Suatu hari nanti.
Acara makan malam dua keluarga itu pun berantakan. Keluarga Aditama pulang ke rumahnya—tidak melanjutkan acara makan malam mereka. Rizky pun meminta maaf pada besannya atas kejadian malam itu.