BAB 28 : MUNGKINKAH?

1264 Kata
Ratih sudah menunggu di depan mobil Alfarizy yang masih terparkir di depan rumah. Ia mengetuk-ngetukan kakinya ke tanah tak sabar, sambil menggigit kuku tangannya. Air matanya belum juga berhenti menetes, malah semakin deras mengalir. Ia ingin segera mengetahui kondisi teman yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Alfarizy keluar dari rumah dengan disusul Mahesa. “Ratih ikut?” tanya Mahesa sambil melirik Ratih yang sudah berdiri di samping mobil. Alfarizy mengangguk. “Ia Mas, siapa tau bisa bantu-bantu di sana. Kita butuh Ratih sebagai muhrimnya Nuri, kan.” Setelah itu Mahesa, Alfarizy, dan Ratih segera bergegas masuk mobil. Alfarizy duduk dibalik kemudi, Mahesa duduk di sampingnya, sedangkan Ratih duduk di bangku belakang. “Jadi kita mau nyari Nuri ke mana?” tanya Mahesa saat Alfarizy memutar stir mobilnya ke luar dari halaman rumahnya. Ia memasangkan seatbelt di tubuhnya. “Menurut tukang parkir mini market, katanya Nuri dibawa ke rumah sakit terdekat sini, Mas. Bener ‘kan, Tih?” Alfarizy melirik Ratih yang duduk di belakang lewat kaca depan. Ratih mengangguk. “Ia, Den.” “Berarti kita nyari ke Harapan Kita dulu, ya,” ujar Mahesa. “Iya, Mas. Kita coba ke sana dulu, mudah-mudahan Nuri ada di sana,” sahut Alfarizy, ia mempercepat laju kendaraannya dengan menginjak gas dalam-dalam. Mobil hitam itu melesat memecah kesunyian malam. Bunyi halilintar menggelegar di atas langit. Kilatannya tergambar terang menggores awan yang gelap. Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit saat mobil yang dikendarai Alfarizy sampai di halaman rumah sakit Harapan Kita. Mereka langsung melenggang masuk ke dalam rumah sakit, melangkah masuk menuju meja resepsionis. “Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita di balik meja resepsionis. Sebuah senyum tersungging di wajah cantiknya. “Malam, Sus. Saya mau menanyakan apa ada korban tabrak lari yang tadi dibawa ke sini?” tanya Mahesa. “Kira-kira kejadiannya jam tujuh, Sus.” Alfarizy menyambar, ia melirik jam dinding berwarna putih yang terpasang di samping meja resepsionis. “Ada, Pak,” jawab Suster itu singkat. “Boleh saya tau kamarnya di mana, Sus?” tanya Alfarizy lagi semangat, mereka telah menemukan keberadaan Nuri. “Sebentar saya lihat dulu, ya.” Suster itu langsung melihat layar komputernya, mencari data pasien yang menjadi korban tabrak lari tadi. “Maaf sebelumnya, Bapak ini siapanya korban ya?” “Kami—” ucapan Mahesa terpotong. “Saya calon suaminya, Sus,” jawab Alfarizy cepat. Mahesa mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan Alfarizy tadi yang mengaku-ngaku sebagai calon suami Nuri. “Oh … pasien sedang berada di ruang ICU lantai 3, Pak. Dari sini Bapak lurus, lalu belok kiri, nanti ada lift menuju lantai 3,” ujar Suster itu memberi tahu. “Ok, makasih banyak, Sus,” ucap Alfarizy, ia segera bergegas menuju lift yang akan membawa mereka ke ruangan ICU di lantai 3 dengan langkah panjang-panjang. Mahesa dan Ratih mengikutinya dari belakang. Bahkan Ratih sedikit kesulitan mengimbangi langkah Alfarizy dan Mahesa yang seperti setengah berlari bagi dirinya. Sesampainya di pintu lift, Alfarizy memencet tombol bergambar arah panah ke atas. Setelah menunggu beberapa menit, pintu lift belum juga terbuka. “Ah, sial! Kenapa lama banget pintunya kebuka,” umpatnya kesal, ia menendang pelan pintu lift di depannya. “Sabar, Al,” cegah Mahesa, ia memegang pundak Alfarizy. Tombol lift bergulir dari lantai 3, 2, 1, lalu pintu pun terbuka. Mereka segera melangkah masuk. Pintu lift tertutup, Alfarizy langsung memencet tombol tiga untuk sampai di tempat Nuri dirawat. Sesampainya di depan ruang ICU, ada seorang laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahunan sedang terduduk di bangku panjang yang berada di samping pintu. Mereka langsung menghampirinya. “Maaf permisi, apa di dalam sana itu perempuan korban tabrak lari di depan mini market XX?” tanya Mahesa memastikan. Laki-laki itu mendongakkan kepalanya, memandangi mereka satu persatu. “Lho, Mahesa? Lo ada di sini?” tanya laki-laki itu dengan mimik wajah terkejut. Ternyata ia mengenal Mahesa. “Reyvan, kok lo di sini?” Mahesa balik bertanya, heran. Laki-laki yang membawa Nuri ke rumah sakit ternyata Reyvan, teman sejawat Mahesa di kampus. Mereka mengajar di kampus yang sama, namun mengajar di jurusan yang berbeda. Mahesa mengajar di jurusan Kedokteran, sedangkan Reyvan mengajar di jurusan Psikologi. “Iya, gue yang bawa korban tabrak lari itu ke sini,’ ujar laki-laki yang bernama Reyvan itu. “Emangnya cewek itu siapa lo, Sa?” tanyanya penasaran. “Dia pengasuh anak gue, Rey,” jawab Mahesa. “Oh … gue bawa dia ke sini karena ini rumah sakit yang paling dekat dari tempat kejadian. Gue juga bingung mau menghubungi keluarganya ke mana, karena dia nggak bawa kartu identitas apapun. Kebetulan pas kejadian tabrak lari itu gue lagi ada di dalam mini market, jadi gue langsung bawa aja karena kalau nunggu ambulan datang pasti lama” jelas Reyvan. “Makasih banyak ya. Kalau nggak ada lo, mungkin Nuri bakal telat ditangani,” kata Mahesa. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi panjang bersama Reyvan. “Oh ya, kenalin … itu Alfarizy, adik gue.” Mahesa menunjuk ke arah Alfarizy yang tengah berdiri di depan pintu ICU. “Hai, Mas Rey …” sapa Alfarizy , ia menghampiri Reyvan dan menyalami laki-laki itu. “Makasih udah bawa Nuri ke sini.” “Sama-sama, Al,” ujar Reyvan pada Alfarizy. Kemudian pandangannya beralih pada Ratih yang dari tadi berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Niat hati ingin mengintip apa yang terjadi di dalam sana lewat celah-celah kaca yang gordennya tersibak sedikit, namun apa daya ia tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi di sana. “Dia—” Kata-kata Reyvan terjeda, ia tersenyum menggoda. Mahesa menangkap yang tidak beres dari senyum Reyvan itu. “Ngaco lo. Dia anak dari ART di rumah gue.” Mahesa menyikut perut Reyvan pelan hingga membuat temannya itu terkikik. Ternyata Reyvan berpikir kalau Ratih adalah calon ibu sambung Riri. “Yaudah deh, Sa … karena udah ada yang kenal sama cewek itu, gue balik dulu ya. Kasian Alia di rumah sendirian,” kata Reyvan, ia pun bangkit dari duduknya. “Ok deh, Bro. Hati-hati di jalan ya. Sekali lagi makasih banyak, salam untuk Alia.” Mahesa pun bangkit dari duduknya dan memeluk temannya itu sebagai tanda perpisahan dan menepuk punggungnya pelan. “Balik dulu ya, Al.” Reyvan melambaikan tangannya ke arah Alfarizy. “Iya, Mas. Hati-hati di jalan,” ucap Alfarizy, ia pun melambaikan tangannya. Sepeninggalan Reyvan, Alfarizy menghampiri kakaknya dan mendudukkan tubuhnya di samping Mahesa. Sudah hampir satu jam mereka di depan ruang ICU tapi belum ada satu pun dokter yang keluar dari dalam sana. Nuri masih dalam penanganan dokter. “Duduk sini, Tih. Kamu nggak pegel apa dari tadi berdiri di situ?” tanya Mahesa. “Nggak papa, Tuan, saya di sini aja. Saya belum tenang kalau belum tau keadaan Nuri di dalam sana,” sahut Ratih, raut wajahnya gelisah memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi nanti. Alfarizy merutuki kelambatan dokter dalam menangani Nuri di dalam sana. Andai saja ia adalah dokter di rumah sakit itu, tentu ia akan membantu dalam menangani Nuri. Sayangnya, ia melaksanakan Koas-nya di rumah sakit lain sehingga ia tidak berwenang untuk ikut membantu. Karena kesal, ia pun bangkit dari duduknya. Bertepatan dengan itu seorang dokter keluar dari ruangan mengerikan itu dengan peluh yang bercucuran memenuhi seluruh wajahnya dan tertunduk lesu. “Perempuan di dalam sana baik-baik aja kan, Dok? Dia nggak papa kan, Dok? Dokter jangan diem aja dong! Tolong jawab, Dok!” Alfarizy setengah berteriak memegangi baju dokter paruh baya itu. Dokter itu memandanginya dengan rasa iba. Ada rasa bersalah yang bercokol di hatinya. Rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasiennya. Ya Allah, mungkinkah??? Ia pun terduduk di lantai dingin rumah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN