Di sebuah ruang ICU rumah sakit, Alfarizy berdiri di samping Nuri. Ia terdiam menatap Nuri yang terbujur kaku dengan banyak darah yang memenuhi pakaiannya. Air mata keluar membasahi pipinya. Belum sempat ia mengetahui laki-laki mana yang dipilih oleh Nuri, ternyata Allah lebih sayang dirinya dengan mengambilnya secepat itu.
Mahesa dan Ratih menunggu di depan ruang ICU. Air mata Ratih belum juga kering, masih mengalir dengan derasnya.
“Nuri bangun! Jangan tinggalin aku. Kamu belum jawab pertanyaan aku waktu itu, Nuri … bangun, aku butuh kamu. Aku cinta sama kamu, Nuri …” ucap Alfarizy lembut, terus memanggil Nuri berharap dirinya akan bangun dan semua akan baik-baik saja. Alfarizy mulai terisak tanpa suara. Namun perempuan yang ada di hadapannya tak merespon. Tak bergerak sama sekali.
“Aku janji bakal bahagiain kamu kalau kita menikah nanti. Aku akan jadi imam yang baik untuk kamu, jadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Ayo bangun, Nuri …. Besok aku akan datang melamar kamu ke kedua orang tua kamu. Aku serius pengen nikah sama kamu. Bangun, Nuri … bangun!” teriak Alfarizy sambil mengguncang tubuh Nuri.
Sia-sia saja. Tubuh Nuri tetap bergeming di atas brankar rumah sakit. Tubuhnya dingin, bibirnya membiru, wajahnya pucat. Luka-luka di wajahnya sudah dibersihkan, hanya pakaiannya saja yang masih berlumuran darah. Air mata Alfarizy semakin menetes membasahi wajah perempuan di hadapannya. Dan tanpa ragu, kini ia merapatkan wajahnya, berusaha mencium keningnya. “Aku cinta kamu, Nuri ….”
Wajah Nuri tetap memancarkan aura kecantikan walaupun dipenuhi luka. Mata itu yang selalu meneduhkan siapa saja yang memandangnya. Bibirnya yang selalu mengagungkan asma Allah tidak akan lagi menyunggingkan senyum manisnya lagi. Hingga akhirnya Alfarizy sadar Nuri tidak akan pernah bangun dari tidur panjangnya.
“Al … Al … bangun, Al!” Sebuah suara dari Mahesa membangunkan Alfarizy yang sedang tertidur di bangku panjang depan ruang ICU. Karena kelelahan, tanpa sadar adiknya itu tertidur begitu saja.
Seketika Alfarizy terbangun dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya. “Astagfirullah …” ucapnya saat terbangun dari tidurnya. Beberapa kali mulutnya beristigfar. Ternyata tadi dirinya hanya bermimpi. Mimpi buruk yang sama sekali tak ingin terjadi.
“Kamu mimpi ya, Al?” tanya Mahesa saat melihat wajah Alfarizy yang pucat pasi.
Alfarizy mengusap wajahnya kasar. “Nggak papa, Mas,” katanya. ‘Alhamdulillah, ternyata itu hanya mimpi,’ gumamnya.
Beberapa saat, keluar seorang laki-laki tua berjas putih dari dalam ruang ICU. Alfarizy dan Mahesa bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan pasien di dalam, Dok?” tanya Alfarizy cemas.
Terlihat wajah lelah dari Dokter itu. “Alhamdulillah, kondisi pasien dalam keadaan stabil. Pasien sempat mengalami pendarahan akibat benturan di kepalanya namun kami berhasil menghentikan pendarahannya. Luka robek di tangan kanannya sudah kami jahit,” ujar Dokter itu sambil tersenyum.
“Alhamdulillah ya Allah,” ucap Alfarizy, Mahesa, dan Ratih berbarengan.
Alfarizy langsung bersujud di atas lantai rumah sakit, sujud syukur.
“Kapan kami bisa menjenguk pasien, Dok?” tanya Mahesa.
“Mungkin besok, setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan. Saat ini kita tinggal menunggu pasien sadar dulu,” kata Dokter memberi tahu. “Saya permisi dulu ya,” pamitnya.
“Terima kasih ya, Dok … terima kasih banyak,” ujar Alfarizy sambil menyalami tangan Dokter itu.
“Sama-sama, sudah menjadi kewajiban kami menolong pasien.” Setelah itu Dokter pun berlalu dari depan ruang ICU.
“Alhamdulillah, Mas ….” Saking senangnya tanpa sadar Alfarizy langsung memeluk sang kakak erat sambil berjingkrak-jingkrak.
Mahesa balas menepuk punggung adiknya. Sekarang ia tahu bagaimana perasaan adiknya yang sebenarnya terhadap gadis shalehah itu. Mahesa menyesali, kenapa mereka harus terjebak cinta segitiga. Kenapa mereka harus mencintai gadis yang sama. Namun itulah cinta, kita tidak akan pernah tau kemana hati itu akan berlabuh.
***
Sepulangnya dari rumah keluarga Pramoedya, Kiran langsung masuk kamar. Ia membanting pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan dentuman kencang.
“Aaahhh!!!” Kiran mengamuk sesampainya ia di dalam kamar. Semua pajangan yang ada di dalam kamarnya, ia lempar ke lantai hingga berserakan. Pajangan yang terbuat dari kaca malah hancur berkeping. Ia menghapus dengan kasar riasan di wajahnya.
“Mahesaaa!” pekik Kiran penuh kemarahan. Matanya merah akibat menahan kekesalannya sepanjang perjalanan tadi. Ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat ke arah cermin yang ada di dalam kamarnya. Saking kerasnya pukulan itu sehingga membuat kaca itu pecah dan menggoreskan luka di tangan kanannya.
“Astagfirullah … Kiran!” seru Erlyta begitu melihat darah mengucur deras dari punggung tangan anaknya itu. “Papih!” teriaknya lagi memanggil suaminya.
Dengan tergopoh-gopoh, laki-laki tua itu menghampiri istrinya di kamar anaknya. “Astagfirullah!” Wira pun memekik kaget melihat kondisi tangan anaknya.
“Cepet ambil kotak P3K, Mih!” seru Wira, ia menghampiri Kiran yang tengah duduk di lantai. Darah segar berceceran di lantai, seketika bau amis menyeruak di indera penciumannya. “Kiran … istigfar, Sayang,” ujarnya sambil mengusap rambut Kiran yang menutupi sebagian wajahnya. Netranya menangkap penampilan Kiran yang berantakan.
Kiran bergeming dari tempatnya duduk seakan ia tidak merasakan sakit di tangan kanannya. Matanya menerawang ke depan dengan tatapan kosong. “Kenapa hidup aku harus kaya gini, Pih? Kenapa Mahesa nggak bisa cinta sama aku kaya dia cinta sama kak Zetta?” gumamnya lirih. “Aku ini kurang apa, Pih? Aku juga cantik kaya kak Zetta, kan?” tanyanya lagi, ia memandang wajah sang Papih yang menyiratkan raut kekhawatiran terhadap dirinya.
“Kamu juga cantik seperti Zetta, Sayang. Walaupun Mahesa nggak nggak cinta sama kamu, tapi Papih yakin di luar sana masih banyak laki-laki lain yang cinta sama kamu setulus hati,” kata Wira menenangkan.
Darah terus menetes dari punggung tangan Kiran. “Tapi aku cintanya sama Mahesa, Pih ….” Tangis Kiran meraung-raung.
Erlyta masuk ke dalam kamar Kiran beserta Surti—asisten rumah tangga di rumahnya dengan menjinjing kotak P3K di tangannya.
“Ya Allah … Non Kiran kenapa, Non?” tanya perempuan tua itu dengan mata berkaca-kaca. Baru kali ini dirinya melihat anak majikannya sehancur itu.
“Tolong beresin pecahan kacanya ya, Bi,” pinta Wira.
Surti mengangguk dan mulai membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Erlyta membersihkan luka di tangan kanan Kiran dengan air hangat. Sebelumnya, ia telah mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun antiseptik sebelum mengobati lukanya. Hal itu bertujuan agar tidak ada kuman atau bakteri baru yang masuk ke dalam luka melalui tangannya. Kemudian ia membuka peralatan P3K-nya yang sudah ia bawa lalu mengeluarkan beberapa benda yang dibutuhkan. Karena luka di tangan Kiran masih mengeluarkan darah, ia menghentikan pendarahannya menggunakan kasa steril dengan menekan pada area luka. Kemudian ia membersihkan daerah sekitar luka menggunakan cairan fisiologis steril atau cairan infus. Ia juga dengan telaten membersihkan serpihan kaca yang masih menempel di tangan Kiran. Ternyata ilmu pengobatan pertama pada luka yang ia dapatkan saat masih duduk di bangku SMA sangat berguna dan ia masih mengingatnya hingga kini.
Sesekali Kiran meringis perih saat lukanya dibersihkan dengan cairan infus. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan sang papih.
Setelah selesai membersihkan lukanya, Erlyta langsung mengoleskan sebuah salep luka pada area luka. Tujuannya agar mempercepat kulit tangan Kiran menyatu kembali. Untungnya luka sobek di tangan Kiran tidak terlalu parah sehingga masih bisa ditangani tanpa bantuan seorang dokter.
Hal terakhir yang dilakukan Erlyta pada tangan Kiran adalah menutup luka menggunakan kasa steril untuk menghindari masuknya kuman pada luka.
“Sudah selesa,” kata Erlyta setelah menempelkan dua buah plester untuk merekatkan perban di tangan Kiran. “Mamih nggak mau ngeliat kamu melakukan hal bodoh kaya ini lagi ya, Sayang.” Ia mengecup kening Kiran dengan sayang.
***
Di sebuah perkampungan di kota Surakarta.
“Yah … kok perasaan Ibu dari kemarin ndak enak, ya?” Santi mengelus-elus dadanya yang berdetak kencang. Entah kenapa dari kemarin perasaannya tidak tenang, namun ia tidak tahu alasannya apa.
Surya yang sedang duduk di depan teras sambil menikmati semilir angin malam yang berhembus dengan ditemani secangkir kopi, menoleh ke arah istrinya yang terlihat gelisah. “Ndak usah berpikiran macam-macam, Bu. Mungkin itu hanya tipu daya setan untuk mengganggu kita aja. Banyakin istigfar Bu, biar hati tenang.”
“Astagfirullah …. Tapi ‘kok Ibu kepikiran Nuri ya, Yah. Udah beberapa hari Ibu ndak telepon dia. Apa dia baik-baik aja?” Santi ikut mendudukkan dirinya di samping sang suami.
“Besok aja kita telepon, Bu. Sekarang udah malam, kasian Nuri lagi istirahat mungkin.”
“Yowes … besok Ibu telepon Nuri, nanyain kabar dia. Mudah-mudahan dia baik-baik aja.” Santi kembali masuk ke dalam rumah untuk mengajari anak lanangnya mengaji.