BAB 30 : MENUNGGU NURI

1447 Kata
Sinar matahari masuk melalui kaca jendela kamar rumah sakit yang gordennya terbuka sedikit. Bias cahayanya jatuh ke atas tempat tidur, menghangatkan ruangan yang semalam diguyur hujan deras. Alfarizy menggeliat di atas sofa, menetralkan bias cahaya yang masuk melalui retina matanya. Semalam Mahesa sudah kembali ke rumahnya setelah melihat Nuri dipindahkan ke ruang perawatan. Dirinya tidak mungkin meninggalkan Riri hanya berdua Papahnya di rumah utama. Maka tinggallah Alfarizy dan Ratih yang menunggui Nuri di rumah sakit. Kini, Nuri sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Alfarizy menempatkan Nuri di ruang VIP agar pelayanannya lebih maksimal. Dirinya ingin memberikan yang terbaik untuk Nuri agar Nuri segera pulih. Ia memilih menempatkan Nuri di ruang VIP pun alasannya agar menjaga privasi pasien dan orang yang menjenguk pasien. Semalam, Alfarizy tidur di sebuah sofa yang ada di dalam ruang VIP. Sedangkan Ratih tidur di kursi yang terletak di samping tempat tidur Nuri. “Ratih ….” Alfarizy membangunkan Ratih yang tertidur bertelungkup tangan di samping tempat Nuri berbaring. Perlahan Ratih membuka kedua matanya, ia menguap lebar-lebar namun segera menutup mulutnya saat melihat siapa yang berdiri di sampingnya. “Eh, Den Al,” katanya sambil merapihkan rambutnya yang berantakan. Alfarizy melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, sudah pukul lima pagi. “Aku mau shalat dulu ke mushalla. Setelah itu aku pulang ke rumah, aku ada Koas jam delapan,” ujarnya memberi tahu. “Kamu mau ikut pulang atau di sini aja?” tanyanya. Ratih Nampak berpikir hingga keningnya berkerut. “Aku di sini aja deh, Den … mau nunggu Nuri sampai sadar. Kasian Nuri kalau pas sadar nggak ada siapa-siapa di sini,” katanya, ia melirik Nuri prihatin. Alfarizy mengarahkan pandangannya ke arah Nuri yang masih terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Wajahnya pucat pasi dengan sebuah perban yang melingkar di kepalanya. Ia baru tersadar kalau Nuri tidak mengenakan hijab di kepalanya. Ternyata kemarin dokter terpaksa melepaskan hijabnya agar memudahkannya dalam mengecek luka di bagian kepalanya. Rambut hitam legam Nuri yang indah terpaksa terlihat oleh dirinya. Ah Nuri, betapa inginnya ia menggenggam tangan yang terkulai lemas di atas pembaringan itu—memberikan kekuatan kalau ia tidak sedang berjuang sendiri di sana. Nuri tetap cantik walaupun dengan banyak luka memar dan goresan di wajahnya. “Yaudah … aku pergi dulu ya, Tih. Tolong segera kabari aku kalau ada perkembangan sekecil apapun dari Nuri. Setelah menyelesaikan Koas, aku langsung ke sini lagi,” papar Alfarizy sebelum pergi. “Oh iya, jangan lupa sarapan ya. Kamu bawa uang nggak?” Ratih menggeleng lemah, sebenarnya ia malu untuk mengakui kalau ia sama sekali tidak membawa uang sepeser pun. “Saya lupa bawa dompet karena semalam buru-buru ikut ke rumah sakit, Den,” ungkapnya jujur. Alfarizy mengambil dompetnya yang tersimpan di belakang saku celananya. “Ini uang buat kamu sarapan di kantin, ya.” Ia mengeluarkan selembar uang berwarna merah dan memberikannya ke hadapan Ratih. Ratih mengulurkan tangannya untuk mengambil uang itu. “Makasih ya, Den.” “Aku pergi ya, Tih. Inget pesanku, segera kabari aku kalau ada perkembangan dari Nuri, sekecil apapun itu,” tegas Alfarizy lagi sebelum dirinya pergi dari sana. Andaikan hari ini dirinya tidak ada jadwal Koas, sudah pasti ia akan dengan senang hati menunggui Nuri di rumah sakit sampai tersadar. Ia ingin saat Nuri sadar, dirinyalah yang pertama kali ada di samping Nuri. Ah, ternyata ekspektasi tidak sesuai dengan realita. “Iya, Den,” sahut Ratih. “Saya akan segera mengabari Den Al kalau ada perkembangan dari Nuri. Sekecil apapun itu.” Ia mengacungkan ibu jari sebelah kanan ke arah Alfarizy. Alfarizy memandangi wajah Nuri yang terbaring lemah sekali lagi. Cantik! Hanya kata itu yang terbersit di pikirannya. Sebelum hatinya semakin berat untuk meninggalkan Nuri walaupun hanya beberapa jam saja, ia segera melangkah keluar ruangan dengan derap langkah yang menghentak-hentak di lantai rumah sakit. Sebelum pulang ke rumah, ia akan melaksanakan shalat shubuh terlebih dahulu di mushalla yang letaknya ada di basement rumah sakit tersebut. Sepeninggalan Alfarizy, Ratih kembali mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping ranjang Nuri. Ada sedikit rasa iri yang menggelayut di hatinya dengan perlakuan dan perhatian yang diberikan Alfarizy tadi terhadap Nuri. Ia sendiri bisa melihat bagaimana khawatirnya laki-laki itu kepada Nuri. Dirinya bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata Alfarizy mencintai Nuri. Ah, apa ada yang ia lewatkan di rumah besar itu? Kenapa ia sama sekali tidak sadar kalau ternyata Alfarizy menyimpan perasaan pada Nuri? Pikirannya berkelana ke rumah utama. Sepertinya Alfarizy memang sangat pintar menyimpan perasaan. Ia tidak menunjukkan perasaannya kepada Nuri secara berlebihan. Sehingga Ratih sendiri baru menyadari kalau laki-laki itu mencintai Nuri. Entah kapan dirinya akan dicintai sebesar itu oleh seorang laki-laki. Selama ini belum ada laki-laki yang serius terhadap dirinya. Tiba-tiba terlintas seseorang di pikirannya. Laki-laki itu bernama Beni, tukang sayur yang biasa lewat depan rumah. Laki-laki berusia dua puluh lima yang tiap pagi selalu menggodanya dengan melayangkan gombalan-gombalan garing tak jelas. Laki-laki yang selalu menyisir rambutnya ke belakang dan mengoleskan minyak rambut agar rambutnya itu selalu rapih walaupun terkena tiupan angin badai sekali pun. Seketika buluk kuduk Ratih berdiri, ia merinding membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti laki-laki itulah yang akan menjadi jodohnya. Ah, jangan sampai! Ratih segera mengusir pikiran itu dari kepalanya. Ratih segera bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi yang berada di ruangan itu. Ia ingin mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Beruntung di ruangan VIP disediakan dua buah mukena lengkap dengan sajadahnya yang tersimpan rapih di dalam nakas. Wangi harum semerbak menguar dari mukena itu. Ternyata mukena itu baru selesai dicuci. Ia pun melaksanakan shalat subuh pagi itu dengan khusyuk. Setelah mengucapkan salam, ia langsung menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit—memohon kesembuhan untuk Nuri. Selesai berdoa, Ratih menyimpan kembali mukenanya dengan rapih ke dalam nakas. Lalu ia duduk kembali di kursi samping Nuri berbaring. Ditatapnya lekat-lekat wajah Nuri yang masih betah memejamkan matanya. Diraihnya tangan kiri Nuri yang terpasang selang infus. Diusapnya perlahan tangan itu. “Nur, kok lama banget sih tidurnya?” tanya Ratih, ia berharap Nuri akan mendengar ucapannya. “Bangun, Nur. Aku kangen ngobrol-ngobrol lagi sama kamu. Ayo bangun, kita cerita-cerita lagi. Aku mau belajar lebih banyak lagi soal islam sama kamu. Aku kangen sama kamu, Nur.” Ratih bergumam lirih. Matanya berkaca-kaca. “Sampai kapan kamu mau tidur kaya gini?” lanjutnya, tetesan air mata bergulir turun dari pelupuk matanya, membasahi pipinya. Buru-buru ia ambil selembar tisu yang tergeletak di atas nakas samping brankar untuk menghapus air matanya. Tiba-tiba saja, bunyi nyaring di ponselnya terdengar memenuhi ruang kamar VIP. Ratih segera meraih ponselnya yang semalam ia biarkan saja tergeletak di atas meja di pojok ruangan. Ia melihat ada panggilan telepon dari nomer sang ibu. Semalam ia lupa memberi tahu ibunya tentang keadaan Nuri. Bisa dipastikan betapa cemasnya Bude Yatni saat ini memikirkan keadaan keponakannya itu. “Assalamu’alaikum, Bu …” ucap Ratih sambil bergegas melangkah keluar ruangan VIP. Ia menutup pintu itu pelan-pelan. “Ratih!” Suara melengking dari sang ibu memekakan telinganya. Ratih segera menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan ibunya. “Iya, Bu. Pelan-pelan suaranya, aku lagi di rumah sakit.” “Kamu ke mana aja? Kenapa nggak ngabarin Ibu?” “Maaf, Bu. Semalam aku ketiduran.” Ratih terkekeh. “Dasar! Kami di sini khawatir.” “Iya, Bu. Maaf.” “Gimana keadaan Nuri, Tih? Dia baik-baik aja, kan?” Suara Bude Yatni menyambar di ujung sana. “Alhamdulillah Nuri udah dipindahin ke ruang perawatan, Bude. Semalam Nuri dioperasi—” Belum sempat Ratih melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar teriakan lagi di ujung telepon. Ia mengusap-usap telinganya pengang, gendang telinganya seperti mau pecah. “Tenang, Bude. Ratih belum selesai cerita.” Ratih mencoba menenangkan Bude Yatni yang menangis tersedu. “Semalam dokter harus mengoperasi kepala Nuri untuk menghentikan pendarahannya, Bude. luka di tangan Nuri juga sudah dijahit. Alhamdulillah, dokter bilang keadaan Nuri sekarang stabil. Kita Cuma disuruh menunggu sampai Nuri sadar aja.” Ratih menjelaskan panjang lebar. Terdengar helaan napas lega di ujung telepon. “Bude pengen jenguk Nuri, Tih.” “Nanti aja kalau Nuri udah sadar ya, Bude. Doain aja biar Nuri cepet sadar, nanti aku kabarin Bude, kok.” “Yaudah, segera kabari Bude kalau Nuri udah sadar ya, Nduk.” Ratih mengangguk walaupun Bude Yatni tidak akan melihatnya. “Iya, Bude.” “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Ratih memencet tombol merah untuk mengakhiri panggilan telepon itu. Ia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan VIP. Hatinya bimbang, dari semalam ia belum mengisi perutnya. Sehingga pagi itu perutnya sudah keroncongan minta diisi. Kalau ia tinggalkan Nuri sebentar untuk sekedar mengisi perutnya di kantin, ia takut nanti Nuri tersadar dan tidak menemukan siapa-siapa di sampingnya. Kalau ia tetap berada di ruangan sampai Nuri sadar, ia juga belum tahu kapan Nuri sadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN