BAB 31 : SIUMAN

1402 Kata
Gadis dengan pakaian serba putih berselubung selimut tebal bercorak garis-garis itu terbaring di brankar beroda. Posisi tubuhnya empat puluh lima derajat, kepala bersangga bantal tipis, dan kedua matanya menatap hampa pada dinding di hadapannya yang nyaris sama kosongnya. Rambut panjang hitam legamnya tergerai begitu saja, agak kusut, menyebar di atas bantal. Di dalam ruangan kamar itu, hanya ada televisi yang tidak dihidupkan, sebuah sofa Panjang dengan meja di depannya, sebuah nakas di samping brankar, dan juga sebuah kulkas di pojok ruangan dekat pintu kamar mandi. Tembok polos putih bersih membentang dari sisi jendela hingga pintu masuk. Ruang VIP yang memberi privasi untuk kenyamanan si pasien dari pengunjung yang datang membesuk. Selang infus dari botol berisi cairan bening masih terhubung ke pembuluh darah di pangkal pergelangan tangannya. Menetes teratur, seperti embun yang menetes dari pucuk dedaunan, menyuplai energi dan vitamin ke dalam tubuhnya yang mengalir bersama aliran darah. Tampak pula balutan perban menutupi kepalanya dan tangan kanan bekas jahitan pun sudah tertutup perban. Ternyata tabrakan itu cukup kencang, membuatnya banyak kehilangan darah yang mengalir deras dari tubuhnya. Sudah beberapa menit yang lalu Nuri membuka matanya. Yang pertama kali ia tangkap adalah ruangan kosong serba putih. Tidak ada siapa-siapa yang menemaninya. Ia heran kenapa sekarang ia berada di dalam ruangan rumah sakit dengan sebuah selang tertancap di pergelangan kirinya. Ia meringis kesakitan saat tanpa sengaja menggeser tubuhnya sedikit dan mengenai tangan kanannya yang terluka. Ia melirik ke sebelah kanan, lengannya itu tertutup perban. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Pikiran Nuri berkelana di saat Bi Tinah menyuruhnya membeli sesuatu ke mini market di ujung jalan. Saat hendak menyebrang, ia sudah melirik kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang melintas. Namun entah kenapa dari arah berlawanan sebuah sepeda motor melaju kencang. Tanpa bisa ia hindari lagi, motor itu menabrak dirinya. Yang ia ingat setelah itu adalah tubuhnya dihantam benda berat, terjatuh di atas tanah, dan seketika pandangannya berubah menjadi gelap. Setelah itu ia sudah tidak ingat apa-apa lagi sampai akhirnya pagi itu ia terbangun di ruangan rumah sakit. Nuri sedikit menoleh saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Ratih menghampirinya dengan binar kebahagiaan yang memancar di wajahnya. Matanya pun sampai berkaca-kaca menahan haru. “Ya Allah … Nuri, kamu udah sadar?” Ratih bergegas menghampirinya dan dengan refleks memeluk tubuh Nuri sehingga membuatnya sedikit meringis kesakitan. “Eh, maaf … aku nggak sengaja,” ucapnya dan menjauh dari ranjang Nuri. “Ndak papa, Tih,” kata Nuri meringis. “Maaf ya, Nur … tadi aku ke kantin sebentar, dari semalam aku belum makan.” Ratih cengengesan, ia mendudukkan tubuhnya di kursi samping ranjang Nuri. Ternyata saat jam menunjukkan pukul 7 pagi, perutnya sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemo masal minta segera diisi. Maka ia pun mau tak mau meninggalkan Nuri untuk sarapan dulu. “Jadi dari semalam kamu nungguin aku di sini ya, Tih? Ya Allah ….” Ratih mengangguk. “Iya, Nur. Sama den Al dan tuan Esa juga. Tapi tuan Esa semalam pamit pulang, nggak bisa ninggalin non Riri lama-lama. Jadinya yang nginep di sini aku sama den Al, tapi tadi den Al pamit pulang. Katanya mau Koas. Tapi nanti den Al balik lagi ke sini kalau udah selesai Koas-nya,” katanya memberi tahu. “Aku jadi ngerepotin semuanya ya, Tih. Sampun, ya….” Nuri bergumam lirih, ia menundukkan wajahnya. “Ya Allah, Nur. Kita semua ngekhawatirin kamu. Udah sewajarnya kalau kita saling menjaga. Kita ‘kan keluarga.” Nuri menatap wajah Ratih dengan mata berkaca-kaca. “Suwun ya, Tih. Aku bener-bener beruntung dipertemukan dengan kalian.” Nuri meraih tangan Ratih dan menggenggamnya erat. Garis melengkung tergambar di wajahnya yang ayu. “Aku jadi sedih, kan.” Ratih beranjak dari duduknya hendak memeluk Nuri, namun niatnya itu ia urungkan karena takut akan membuat Nuri meringis kesakitan lagi. Seketika, Nuri teringat sesuatu. “Astagfirullah!” Mata Nuri terbelalak. Ia memegangi kepalanya yang terbalut perban tanpa ada sehelai hijab yang menutupi kepala dan rambutnya. “Kenapa, Nur?” Ratih terlihat panik karena tiba-tiba saja Nuri memekik. “Hijab aku mana, Tih?” Nuri terlihat panik. Belum pernah ia tampil tanpa hijab yang menutupi kepalanya di depan orang lain, apalagi tempat umum seperti itu. “Hijab kamu penuh darah, Nur. Jadi mungkin udah dibuang. Kepala kamu juga semalam abis dioperasi, Nur. Jadi emang nggak memungkinkan kamu pakai hijab dulu.” Ratih memberi pengertian. “Jadi kemarin mas Al dan mas Esa—” Nuri tidak melanjutkan ucapannya. “Iya, Nur … dengan terpaksa den Al lihat kamu tanpa hijab.” “Astagfirullah ….” “Tapi cuma den Al aja kok, Nur. Semalam sebelum kamu dipindahin ke ruang ini, tuan Mahesa udah pamit pulang. Jadi dia nggak lihat kamu tanpa hijab.” Ratih berusaha menenangkan Nuri yang sepertinya terguncang. Ratih jadi sedikit tahu bagaimana pentingnya hijab untuk Nuri. Kapankah dirinya bisa siap untuk berhijab seperti Nuri? “Tih, tolong cariin aku hijab. Aku nggak mungkin kaya gini, Tih.” Ratih berpikir sejenak. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ia beranjak dari duduknya lalu mengambil mukena yang tadi ia pakai untuk shalat di dalam nakas. “Pakai ini dulu ya, Nur. Nanti kalau aku pulang, aku bawain hijab kamu.” Nuri menganggukkan kepalanya pelan. Dengan hati-hati Ratih membantu memasangkan mukena itu di kepala Nuri yang terbalut perban. Nuri bisa bernapas lega sekarang, karena tidak aka nada lagi yang melihatnya tanpa hijab. “Alhamdulillah … pasien sudah sadar, ya.” Seorang laki-laki berjas putih dengan sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya sambil membawa kertas berisi catatan kondisi pasien, tiba-tiba saja sudah berada di ruangan itu tanpa mereka sadari. Di samping dokter, berdiri seorang suster yang membawa sebuah nampan berisi makanan. Ternyata dokter dan suster itu sedang melakukan kunjungan terhadap pasien. “Selamat pagi.” Suster itu menaruh nampan yang ia bawa di atas nakas. “Eh, Dokter.” Ratih berdiri dari duduknya. “Selamat pagi, Dok, Sus.” “Pagi, Dok,” ujar Nuri, tersenyum manis ke arah laki-laki paruh baya itu. “Pagi juga,” kata dokter itu. Name tag bertuliskan dr. Liam, menggantung di baju bagian atas sebelah kanan. “Sejak kapan pasien sadar?” tanya dr. Liam pada Ratih. “Belum lama, Dok. Tadi aku tinggal ke kantin, pas balik ke sini Nuri udah sadar.” “Oh, begitu … saya cek dulu kondisi pasiennya, ya.” dr. Liam menghampiri Nuri, namun seketika wajah Nuri memucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Ada apa?” tanya dr. Liam heran, keningnya bertautan. Ratih mengerti apa yang menjadi ketakutan Nuri. Dirinya tidak mau disentuh oleh seseorang yang bukan muhrimnya. “Maaf, Dok. Boleh nggak kalau suster Anne aja yang memeriksa Nuri?” Ratih melirik name tag yang terpasang di baju suster itu. “Kenapa memangnya?” tanya dr. Liam lagi. “Maaf, Dok. Bukan muhrim.” Ratih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Oh,” sahut dr. Liam singkat. Kalau masalah keyakinan, ia tidak bisa mengelaknya. “Yaudah, Sus. Tolong periksa pasien, ya.” “Baik, Dok.” Suster Anne menghampiri Nuri untuk memeriksanya. Giliran dr. Liam yang mencatat. “Mbak Nuri, sekarang apa yang dirasakan?” tanya Suster Anne. “Pusing, Sus. Tangan aku juga sakit.” Nuri memegangi tangannya yang terbalut perban. “Wajar kalau Mbak Nuri masih pusing. Semalam Mbak Nuri habis dioperasi. Terjadi pendarahan di kepala, tapi sekarang udah nggak apa-apa, kok.” Suster Anne memeriksa mata Nuri dengan senter yang dibawanya di dalam saku baju putihnya. “Gimana, Sus?” tanya dr. Liam. “Matanya normal, Dok,” kata Suster Anne memberi tahu. “Syukur alhamdulillah … agar luka di kepala dan tangannya cepat kering, jangan banyak gerak dulu, ya,” pesan dr. Liam sambil tersenyum ramah, deretan giginya terlihat rapih dan bersih. Nuri mengangguk paham. “Baik, Dok.” “Oh iya Dok, kapan Nuri bisa pulang?” tanya Ratih. “Mungkin dua sampai tiga hari ke depan. Kita lihat dulu perkembangannya, ya.” “Baik, Dok. Terima kasih banyak.” “Kalau gitu, kami pamit dulu ya. Nanti siang kami akan memeriksa Nuri lagi. Jangan lupa obatnya di minum dan sarapannya dihabiskan, ya.” dr. Liam dan Suster Anne pun berlalu dari ruangan VIP itu. “Tuh, kamu denger ‘kan, Nur. Harus dihabisin sarapannya, ya.” Ratih mengambil semangkuk bubur di atas nampan. “Aku suapin ya?” Ia pun menyendokkan sesendok bubur ke dalam mulut Nuri. “Habisin ya, biar nggak mubazir. Karena orang yang suka buang-buang makanan itu temennya setan.” ia terkikik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN