Pagi-pagi sekali, Santi sudah menggenggam gawainya hendak menelpon Nuri di Jakarta. Entah kenapa dari kemarin memang perasaannya sudah tidak enak. Untuk memastikan bahwa Nuri baik-baik saja, maka dirinya harus menghubungi Nuri saat itu juga. Tak peduli walaupun hari masih sangat pagi.
Beberapa kali dicoba, gawai Nuri tidak juga dapat dihubungi. Hanya operator teleponnya yang terus-terusan menyahut di sana.
Santi pun melangkah terburu-buru ke luar rumah, menghampiri suaminya yang sedang menggelar terpal untuk menjemur gabah. Sepertinya hari itu akan bersinar terang, maka kesempatan yang bagus untuk menjemur gabah.
“Yah …” panggil Santi di depan teras, seketika membuat suaminya menoleh ke arahnya. “Gawai Nuri dari tadi ndak bisa dihubungi. Kenapa ya, Yah?” Perasaan semakin tidak karuan. Gelisah karena anak gadis yang sedang berada di kota orang tidak bisa dihubungi.
“Mungkin pagi-pagi gini belum diaktifin gawainya, Bu,” sahut Surya. Tangan tuanya yang masih kekar dan menonjolkan urat-urat kehidupan yang keras dengan telaten menghamparkan terpal satu persatu di depan rumahnya. Dari gabah-gabah itulah nantinya roda kehidupan mereka berputar. Ketika gabah sudah ditumbuk dengan lesung atau digiling, nanti bagian kulit padi terlepas dari isinya dan berubah menjadi butiran nasi, maka ia akan membawanya ke pengepul di pasar untuk dijual.
“Ibu coba telepon mbak yu aja, deh. Ibu ndak tenang kalau belum tau kabar Nuri, Yah.” Jari-jari tangan Santi yang mulai keriput menari-nari di atas ponselnya. Ia mencari nomer telepon sang kakak di phonebook-nya.
Beberapa menit, Santi menunggu kakaknya itu menjawab panggilan teleponnya. Panggilan telepon tersambung, tapi ternyata sang kakak tidak kunjung menjawab panggilannya.
“Astagfirullah ….” Santi mengusap dadanya.
“Ada apa, Bu?” tanya Surya khawatir melihat perubahan raut wajah istrinya.
“Ini sebenarnya ada apa ya, Yah? Perasaan Ibu semakin ndak enak, yo. Gawai Nuri ndak bisa dihubungi. Begitu juga dengan mbak yu. Iki odo opo toh, Yah?” Suara Santi tersendat, ia membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada anak gadisnya.
“Istigfar, Bu.”
“Wis … kalau sampai besok Nuri ndak bisa dihubungi, Ibu mau ke Jakarta nyusulin Nuri.” Santi melangkah masuk ke dalam rumah lagi. Ia akan menyiapkan keperluan anak lanangnya pergi ke sekolah pagi itu. Semalam Agil sudah merengek untuk dibelikan sepatu baru karena sepatu lamanya yang sudah ia pakai selama dua tahun jebol jahitannya.
“Bu, beliin sepatu baru. Sepatuku udah jebol,” rengek Agil kala itu. Kemarin lepas pulang sekolah, ia menenteng kedua sepatunya.
“Nanti ya, Le, kalau ayah udah berhasil jual berasnya bulan ini,” kata Santi memberi harapan.
“Bener ya, Bu. Aku malu, sepatuku paling juuueeelek di kelas.” Agil merengek lagi.
Santi mengangguk. “Iya, Le, sing sabar. Kalau Ibu ada duit, Ibu akan antar kamu ke toko sepatu sekarang juga!” Ia membelai kepala Agil dengan sayang.
Muka Agil cemberut, matanya memandang ke arah sepatu yang masih ditentengnya—sepatu yang selalu ia simpan di bawah ranjangnya. Sepatu butut kesayangannya karena ia sudah tidak punya sepatu lainnya.
***
Bude Yatni gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di dapur. Dirinya dihinggapi rasa bersalah karena dari tadi adiknya di kampung yaitu ibunya Nuri tidak henti-hentinya menelpon dirinya.
Melihat itu, Bi Tinah datang menghampiri. “Ada apa, Yat?”
Bude Yatni menunjukkan layar ponselnya yang dari tadi belum berhenti berdering, menampilkan nama Santi di layar ponselnya.
“Kenapa nggak diangkat, Yat?”
“Aku harus ngomong apa sama ibunya Nuri, Tin? Aku ndak mungkin ngomong sejujurnya kalau Nuri tertabrak motor dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Aku sendiri belum ngeliat Nuri di rumah sakit. Aku ndak mau bikin mereka khawatir, Tih. Aku harus gimana, ya?” Kening Bude Yatni berkerut, semakin menampilkan kerutan-kerutan di wajah tuanya.
“Seenggaknya kita sekarang udah agak tenang, Yat, karena udah tau keadaan Nuri gimana. Tadi kata Ratih, Nuri baik-baik aja, toh? Tinggal nunggu sadar aja. Kita doain mudah-mudahan Nuri cepet sadar, Yat.” Bi Tinah melangkah mendekati washtafle untuk mencuci sayuran yang akan dimasaknya.
“Yowis, nanti kita telepon Ratih lagi untuk menanyakan keadaan Nuri selanjutnya, ya. Untuk sekarang, aku belum mau angkat telepon dari ibunya Nuri dulu sampai aku bener-bener tau keadaan Nuri.” Bude Yatni menyimpan kembali ponselnya di saku baju daster yang dipakainya. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda—menyiapkan sarapan untuk keluarga Pramoedya. Setelah itu, ia pun harus membangunkan Non Riri untuk pergi ke sekolah.
***
Menjadi dokter bukanlah perjalanan yang mudah, banyak hal yang harus dilewati dan tantangannya pun tak hanya menguras pikiran namun juga emosi. Proses pendidikannya pun harus berjalan lebih lama dari profesi lain pada umumnya. Ketika dengan kuliah 4 tahun sudah bisa mendaftar untuk profesi selainnya, dibutuhkan 2-3 tahun tambahan bagi mahasiswa Kedokteran untuk bisa benar-benar mendapatkan gelar ‘dr’ di depan Namanya dan bisa menjalankan praktek sebagai seorang dokter.
Pagi itu, Alfarizy bersama teman-teman Koas-nya sedang briefing membahas apa saja yang akan dilakukannya di rumah sakit, mereka harus bagi-bagi tugas. Mereka berempat yang terdiri dari Alfarizy, Bayu, Ricky, dan juga Andreas. Kini tugas Alfarizy dan Bayu hanya mengecek kondisi pasien selama beberapa jam sekali sesuai arahan dokter di sana. Sedangkan tugas Ricky dan Andreas, membantu dokter di dalam ruangan. Seperti mencatat keluhan pasien, mengecek tensi darah, atau memeriksa detak jantung.
Karena wabah DBD sedang melanda, sehingga pihak rumah sakit di tempat Alfarizy melaksanakan Koas-nya sedikit agak kewalahan untuk menangani pasien yang membludak.
Jam makan siang, Alfarizy dan teman-teman lainnya sedang menikmati makan siang mereka di sebuah kantin yang berada di belakang rumah sakit. Ia merogoh ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan di sana. Sudah sesiang itu, tapi belum ada kabar apa-apa dari Ratih. Apakah Nuri belum juga sadar?
“Perasaan dari tadi lo liatin hape mulu, Al?” tanya Bayu sambil memasukan sesendok penuh soto ayam ke dalam mulutnya.
Alfarizy tergelak. “Lo merhatiin aja, Bay.”
“Gimana gue nggak merhatiin, ‘kan dari tadi gue bareng lo ngecek pasien.” Tangan Bayu refleks mengambil potongan jeruk limau yang sudah ia peras airnya untuk kuah soto, lalu melemparkannya ke arah Alfarizy yang masih memainkan ponselnya.
“Eits … nggak kena!” Alfarizy berhasil menghindar sambil terkikik.
“Nungguin apaan sih, Al?” tanya Ricky—temannya yang lain.
“Gue lagi nungguin telepon seseorang,” jawab Alfarizy. Ayam bakar yang sudah terhidang di depannya belum juga ia sentuh.
“Siapa? Lala?” celetuk Andreas sambil terkekeh. Sampai saat itu, teman-temannya masih saja suka membahas soal Lala.
“Kok Lala lagi yang dibawa-bawa sih?” Alfarizy memicingkan matanya tidak suka. “Gue ‘kan udah putus sama dia.”
“Berarti udah ada yang lain?” Ricky menaik turunkan kedua alisnya, menggoda.
Alfarizy tidak menjawab pertanyaan temannya itu. Ia hanya mengendikkan bahunya.
“Waaah, berarti beneran udah ada yang lain nih!” seru Bayu diiringi gelak tawa yang lainnya.
“Kenalin sama kita dong!” Andreas menimpali.
“Iya … ternyata anda playboy juga ya pak dokter,” celoteh Ricky, ia mengguncang lengan Alfarizy yang duduk di sampingnya.
“Lo pada kenapa, sih? Nggak ada yang penting lagi apa selain cengin gue?” Alfarizy melotot, ia memang tidak suka privasinya dicampuri orang lain.
“Kita heran aja, seorang Alfarizy Pramoedya yang sebentar lagi jadi seorang dokter, yang pacarannya cuma sekali, yang masih perjaka juga, ternyata sekarang cepet banget move on-nya dari Laura Anditha yang termasuk most wanted di kampus kita,” ujar Bayu menguak sebuah fakta tentang Alfarizy. Disaat teman laki-lakinya kebanyakan sudah tidak perjaka dengan entah bagaimana caranya, ia masih memegang teguh pendirian bahwa ia akan melepas keperjakaannya dengan cara yang halal—yang Allah ridhoi saat malam pertama ketika sudah menikah nanti.
“Harus kita apresiasi itu, Al.” Ricky tak henti-hentinya menertawakan Alfarizy sehingga bahunya naik turun. Ia geli.
Alfarizy bangkit dari duduknya. Dirinya sudah tidak berselera untuk makan siang bersama teman-teman sengkleknya. Tapi walaupun teman-temannya itu kadang suka meledek, ia akui kalau mereka itu teman yang sangat solid—yang akan dengan suka rela menyingsingkan lengan baju untuk membantu temannya kalau kesusahan. Ia merasa beruntung mempunyai teman-teman seperti mereka, walaupun mulut mereka seperti perempuan yang senang meledek.
“Eh Al, lo mau ke mana?” cegah Bayu.
“Ke roof top,” jawab Alfarizy singkat.
“Ayam bakar lo belum dimakan ini!” seru Andreas dengan suara agak kencang.
“Buat lo aja!” Alfarizy sudah berjalan menjauh dari kantin.
“Yaaah, dia ngambek,” ujar Ricky. “Gara-gara lo sih, Bay!” Tangannya melayang memukul lengan Bayu yang duduk di hadapannya.
“Lho, ‘kok gara-gara gue?” Bayu nyolot tidak terima disalahkan. “Gara-gara si Andreas ‘kan yang mula-mulain bahas soal Lala.” Bayu menunjuk Andreas yang duduk di sampingnya.
“Tapi ‘kan lo duluan yang bahas soal keperjakaannya. Makanya sekarang dia kabur ke roof top!” Andreas memicingkan matanya ke arah Bayu.
Mereka bertiga saling menyalahkan satu sama lain. Tidak ada yang mau mengakui kesalahan masing-masing. Semenit kemudian, tawa mereka pun meledak.