Alfarizy menyampirkan tasnya di bahu. Ia berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah sakit menuju mobilnya. Tadi siang ia sudah menelpon Ratih, menanyakan kabar Nuri. Ingin sekali rasanya ia langsung meluncur ke rumah sakit tempat Nuri dirawat saat tahu pujaan hatinya itu telah siuman. Namun ia tidak bisa begitu saja meninggalkan Koas-nya. Berharap waktu akan cepat berputar, di mana ia telah menyelesaikan Koas-nya hari itu.
“Al ….” Sebuah suara menginterupsi langkah Alfarizy. Ia pun menengok ke arah suara.
“Ada apa?” tanya Alfarizy.
“Mau kemana lo?” tanya Bayu, ia masih memakai jas rumah sakit dan menenteng stetoskop di tangan kanannya.
“Pulang, lah. Kan shift gue udah selesai,” kata Alfarizy sambil melanjutkan langkahnya.
“Buru-buru banget sih lo, mau ke mana?” tanya Bayu, ia menyejajarkan langkahnya dengan sahabatnya itu. “Kita nongkrong dulu di café biasa, yuk! Ngelepas penat, nih!” Ia merentangkan tangannya ke atas sambil menggelengkan kepalanya ke depan dan belakang.
“Sorry ya, gue ada urusan yang urgent banget!” Alfarizy semakin mempercepat langkahnya, meninggalkan Bayu yang keheranan.
Saat sudah sampai di parkiran, Alfarizy mencari kunci mobilnya. Ia tidak menemukan kunci mobilnya di dalam saku celananya. Lalu ia membuka ritsleting tasnya dan membongkarnya, mengeluarkan seluruh isi tasnya. Tapi kunci mobilnya tetap tidak ia temukan di sana.
Sesaat kemudian Alfarizy pun tersadar. “Astagfirullah.” Ia menepuk jidatnya sendiri. Dirinya baru ingat kalau tadi siang Ricky meminjam mobilnya untuk ke mini market sebentar.
Dengan kesal, ia merogoh ponselnya yang tersimpan di saku celananya. Mencari nama Ricky yang tersimpan di phonebook-nya. Telepon pun tersambung.
“Ric ….”
Terdengar suara Ricky menyahut di ujung telepon. “Ada apa, Al?”
“Gue mau balik, nih!” Alfarizy menghentak-hentakkan kakinya pelan, tak sabar ingin segera menemui Nuri di rumah sakit.
“Iya … terus?”
“Kunci mobil gue, k*****t!” seru Alfarizy kesal, tanpa sadar ia menendang sebuah kaleng yang tergeletak di tanah. Kaleng itu meluncur mulus mengenai body mobil lain sehingga alarm mobil tersebut berbunyi.
“Ah, s**t!” pekik Alfarizy saat alarm mobil itu berbunyi dengan nyaringnya.
Tak lama, muncul seorang satpam rumah sakit.
“Sore, Mas Al ….”
Alfarizy kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Maaf Pak, tadi nggak sengaja mobilnya ke pegang. Jadi alarm-nya bunyi, deh!”
“Iya Mas Al, nggak papa.” Pak Satpam yang ternyata sudah memegang kunci mobil itu pun mematikan alarm mobilnya. Ternyata mobil yang berbunyi itu milik salah satu Dewan Direksi di rumah sakit tersebut.
Setelah alarm mobilnya berhenti berbunyi, Pak Satpam tadi pamit untuk kembali berjaga di depan pintu rumah sakit. “Kalau gitu, saya permisi ya Mas.”
“Iya, Pak. Silahkan … maaf sekali lagi, Pak.”
Alfarizy kembali menunggu Ricky yang tak kunjung juga datang. Ketika hendak menelpon lagi temannya itu, orang yang ditunggu pun muncul bersama geng kampretnya.
“Lama banget sih lo!” sungut Alfarizy.
Ricky nyengir. “Sorry Mas Bro, tadi gue beres-beres dulu. Sekalian pulang juga, kan,” katanya beralasan.
Alfarizy buru-buru menyambar kunci mobil yang masih berada di tangan Ricky, yang memang belum Ricky sodorkan pada Alfarizy.
“Wih, sabar dong Mas Bro,” cibir Bayu. “Buru-buru amat sih, Al.”
“Iya. Lo mau ke mana sih, Bro?” tanya Andreas menimpali.
“Gue ada urusan penting yang nggak bakal dimengerti oleh para makhluk halus kaya kalian.” Alfarizy bergegas menuju mobilnya. Tanpa diminta, Ricky langsung membuka pintu sebelah kiri dan duduk di samping Alfarizy yang memegang kemudi. Sedangkan Bayu dan Andreas memasuki mobilnya masing-masing.
Kening Alfarizy berkerut. “Lo mau ngapain?” tanyanya sambil memasang seatbelt di pinggangnya.
“Gue numpang ya. Lo ‘kan tau gue nggak bawa mobil, Al,” pinta Ricky dengan wajah memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di d**a.
“Gue nggak balik ke rumah. Jadi arahnya nggak sejalan ke rumah lo.”
“Emang lo mau ke mana?”
“Gue mau ke rumah sakit Harapan Kita.”
“Ngapain?” Ricky dibuatnya penasaran.
“Mau nengokin seseorang,” jawab Alfarizy singkat. “Udah sana turun, ikut Bayu atau Andreas aja.”
Ricky jadi semakin dibuatnya penasaran sama tingkah Alfarizy hari itu. Mungkin kalau hanya menengok seseorang yang biasa saja, tidak akan membuat sahabatnya itu tergesa-gesa dan gelisah seperti seharian itu. Pasti seseorang yang akan ditemui oleh Alfarizy di rumah sakit Harapan Kita adalah someone special. Demi membuktikan rasa penasarannya, makai a pun akan ikut dengan Alfarizy ke rumah sakit.
“Ok, gue akan ikut lo ke rumah sakit,” putus Ricky.
“Ngapain?” Kedua alis Alfarizy saling bertaut.
“Buat nemenin lo ke rumah sakit, Bro.”
Alfarizy menggeser badannya menghadap laki-laki k*****t yang sedang duduk manis di sampingnya. “Eh, gue nggak minta ditemenin sama cunguk kayak lo, ya.” Alfarizy mendorong tubuh Ricky agar segera keluar dari mobilnya. Tapi sayangnya Ricky sudah memasang seatbelt di pinggangnya sambil menampilkan cengir khasnya.
Alfarizy mendengus kesal. Percuma dia berdebat dengan sahabatnya yang satu itu—yang kepalanya seperti batu. Itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Maka ia pun langsung tancap gas dalam-dalam dengan diiringi tawa kemenangan dari sahabat kampretnya itu.
***
Suara derap langkah dari kaki Alfarizy yang diikuti oleh Ricky terdengar menghentak-hentak di lantai rumah sakit Harapan Kita yang terbuat dari marmer. Mereka melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawa mereka ke kamar Nuri yang letaknya ada di lantai 4, para penghuni kamar VIP.
“Sial! Lama banget lift-nya,” umpat Alfarizy sambil menunggu lift. Ia terus menekan tombol naik dengan tidak sabar, seolah apa yang ia lakukan itu akan mempercepat terbukanya lift itu.
“Sabar dong, Al … ntar juga kebuka lift-nya,” kata Ricky heran, heran karena sahabatnya itu terlihat sudah tidak sabar untuk bertemu seseorang.
Lima menit kemudian, pintu lift pun terbuka. Alfarizy langsung melangkah masuk ke dalam lift, memencet angkat 4 setelah pintu lift tertutup kembali. Lift pun meluncur ke atas.
Kini mereka sudah berada di lantai 4. Alfarizy langsung bergegas ke kamar Nuri yang letaknya ada di ujung lorong itu. Tanpa berlari, Ricky segera menyusul sahabatnya. Mereka tiba di depan kamar Nuri beberapa saat kemudian. Secara perlahan, Alfarizy membuka kenop pintu kamar Nuri di rawat. Seperkian detik ia terhentak kaget karena ternyata di dalam sana sudah ada Mahesa. Kakaknya itu sedang berbincang dengan Nuri sambil sesekali melemparkan candaan sehingga membuat Nuri tertawa. Untuk sebentar saja, Alfarizy dihinggapi rasa cemburu terhadap kedekatan mereka.
Mendengar ada yang datang, Mahesa menoleh.
“Assalamu’alaikum ….” Alfarizy melangkah masuk ke kamar itu dengan diikuti oleh Ricky di belakang.
“Wa’alaikumussalam …” sahut orang-orang yang ada di dalam kamar. Ada Mahesa, Ratih, dan juga Nuri yang masih terbaring dengan lemah di atas brankar. Nuri dan Ratih pun ikut menoleh ke arah suara.
“Eh, Al …” kata Mahesa. “Eh ada Ricky juga.”
“Halo, Mas Esa.” Ricky menghampiri Mahesa dan menyalaminya. Pandangannya lalu tertuju pada gadis manis berkuncir dua yang sedang berdiri di samping seorang gadis yang tengah berbaring. Gadis manis berkuncir dua itu berhasil mencuri perhatiannya. Wajahnya yang polos tanpa sapuan make-up sungguh memesona. Setelah itu, ia akan menanyakan siapakah gadis berkuncir dua itu kepada Alfarizy.
Alfarizy berdiam diri sesaat menatap Nuri. Diam-diam ia merasa lega melihat gadis pujaannya sudah siuman.
Ricky menggoyangkan tangan Alfarizy untuk menyadarkannya dari kebisuan di kamar tersebut.
“Mas … ngapain di sini?” tanya Alfarizy dengan polosnya.
“Jengukin Nuri lah. Kamu pikir Mas mau ngapain lagi ke sini,” kata Mahesa sambil tertawa kecil.
Alfarizy mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Di meja samping tempat Nuri berbaring sudah ada dua buah keranjang berisi buah-buahan. Bisa dipastikan kalau itu adalah pemberian dari kakaknya. Ia merutuki kebodohannya. Karena terburu-buru ingin segera bertemu dengan Nuri, ia sampai lupa membawa makanan untuknya.
“Hai, Nur ….” Alfarizy mendekati brankar Nuri. Dipandanginya wajah Nuri yang masih terlihat pucat.
“Hai, Mas Al ….” Suara Nuri terdengar lirih. Ia mencoba menampilkan garis melengkung di wajahnya yang pucat pasi.
“Halo, Nuri ….” Ricky menyembulkan kepalanya dari balik badan Alfarizy sambil ikut-ikutan menyapa.
“Halo juga, Mas,” balas Nuri sambil tersenyum kecil.
“Maaf ya, Nur … aku nggak bawa apa-apa buat kamu. Tadi aku keburu-buru pengen liat keadaan kamu di sini.” Alfarizy kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Nuri melemparkan senyuman lebarnya. “Nggak papa, Mas. Mas Al mau jengukin aku aja, aku udah seneng,” tutur Nuri jujur.
Seketika wajah Alfarizy merona merah, ia senang mendengar ucapan Nuri barusan.
Melihat perubahan wajah dari sahabatnya, Ricky pun sudah bisa menebak bagaimana posisi gadis yang tengah berbaring itu di hati sahabatnya.
“Ehm ….” Ricky pun iseng berdehem ketika pandangan Alfarizy tak putus menatap Nuri. Ia menyikut pelan perut Alfarizy. “Kok mukanya jadi merah gitu, Al?”
“Eh … nggak, nggak papa, kok.” Alfarizy jadi salah tingkah. “Gimana keadaan kamu sekarang, Nur?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
“Alhamdulillah udah lebih baik, Mas,” jawab Nuri, ia mencoba meraih gelas yang ada di sampingnya. Tiba-tiba saja kerongkongannya butuh siraman air.
Melihat itu, Alfarizy buru-buru mengambilkannya untuk Nuri. “Kamu haus, ya?” Ia menyodorkan gelas berisi air mineral yang sudah terdapat sedotan di dalamnya kepada Nuri.
Nuri terkekeh. “Iya, Mas. Aku haus.” Saat ia akan mengambil gelas itu dari tangan Alfarizy, laki-laki itu malah menyodorkannya ke depan mulut Nuri sehingga ia minum dengan gelas yang dipegangi oleh Alfarizy. “Makasih, Mas.” Wajah Nuri jadi merona mendapat perlakuan seperti itu.
Mahesa bangkit dari duduknya, lebih baik ia pergi dari ruangan itu karena sudah ada Alfarizy yang menemani Nuri. Hatinya sedikit menanas melihat sikap Alfarizy yang begitu perhatian pada Nuri.
“Al … Mas pulang dulu, ya. Tadi pulang dari kampus, Mas langsung ke sini. Kasian Riri di rumah,” ujar Mahesa berbohong. Padahal Riri sedang berada di rumah Oma Opa-nya.
“Oh … nggak mau pulang bareng sama aku aja nanti, Mas?” tanya Alfarizy, menoleh ke arah kakaknya.
“Kamu ‘kan baru datang. Mas udah lama di sini. Sebentar lagi jam kunjungan dokter, jadi kamu bisa nanya-nanya tentang kondisi Nuri juga, kan,” tutur Mahesa.
“Oh, yaudah … Mas hati-hati pulangnya, ya,” kata Alfarizy sambil menepuk pundak sang kakak.
“Nur … saya pulang dulu, ya,” kata Mahesa pada Nuri. “Cepet sembuh ya, Riri udah kangen sama kamu. Dia ngerengek terus minta datang ke sini. Sayangnya anak kecil nggak boleh masuk sini, kan.”
“Iya, Mas. Salam ya untuk Riri. Saya juga kangen sama Riri,” balas Nuri lirih.
Setelah berpamitan pada semua orang yang ada di dalam ruangan, Mahesa pun bergegas keluar ruangan.
Setelah kepergian Mahesa, hening tercipta di dalam ruangan itu.
“Den Al, saya permisi dulu mau ke kantin ya … mumpung Nuri udah ada yang nemenin. Dari tadi siang saya belum makan,” ujar Ratih jujur sambil terkekeh, menampulkan deretan giginya yang bergingsul.
“Ya Allah, Tih. Jadi dari tadi kamu nahan lapar ya?” tanya Nuri. “Maaf ya, Tih. Gara-gara aku kamu jadi—” Ucapan Nuri terpotong.
“Nggak, Nur. Aku emang baru lapernya sekarang, kok,” potong Ratih. “Aku ke kantin sebentar ya. Kamu mau aku beliin sesuatu?” tanyanya lagi.
Nuri buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Tih. Aku nggak mau apa-apa.”
“Den Al mau aku beliin sesuatu?” tanya Ratih pada Alfarizy.
Alfarizy menggeleng. “Nggak usah, Tih.”
“Yaudah … aku tinggal dulu ya, Nur,” ujar Ratih, ia beranjak dari duduknya. “Den Al, titip Nuri dulu sebentar, ya,” katanya pada Alfarizy.
“Iya, Tih … aku bakal jagain Nuri di sini,” sahut Alfarizy.
Ratih pun melangkah ke luar kamar.
“Eh, tunggu …” cegah Ricky, “aku ikut kamu ke kantin, ya. Aku juga laper,” tuturnya. Kemudian ia mengedipkan sebelah matanya pada Alfarizy sebagai tanda bahwa dirinya memberikan waktu kepada sahabatnya itu untuk berbincang lebih privasi dengan Nuri. “Al … gue ke kantin, ya,” pamitnya kemudian pada Alfarizy.
Ratih hanya tersenyum sebagai tanda mengiyakan, ia melanjutkan langkahnya ke luar kamar itu.
“Dah, Nuri ….” Ricky melambaikan tangannya pada Nuri disertai kikikan panjang.
“Temen Mas Al lucu, ya.” Nuri tertawa kecil. Dengan refleks, ia menggerakan tangan kanannya yang terdapat bekas luka jahitan sehingga membuatnya meringis kesakitan.
“Awww ….” Nuri mengaduh.
Alfarizy bangkit dari duduknya. “Kenapa, Nur?” Refleks tangannya memegang tangan Nuri. Kulit tangan Alfarizy dan Nuri pun bersentuhan. “Astagfirullah ….” Alfarizy segera menarik tangannya jauh-jauh dari tangan Nuri. “Maaf ya, Nur. Aku nggak sengaja,” tuturnya salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bersentuhan dengan Nuri untuk pertama kalinya ternyata membuat dadanya berdegup sangat kencang. Ia seperti tersetrum aliran listrik.
Nuri tertawa kecil. “Iya Mas, nggak papa,” ucapnya, ia maklum kalau laki-laki di sampingnya itu tidak sengaja menyentuhnya dan memang tidak berniat kurang ajar terhadap dirinya.
Seketika, suasana di ruangan itu pun menjadi canggung. Tak ada yang bersuara untuk memecah kesunyian.